Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
60


__ADS_3

Semenjak kejadian di kantor max waktu itu, ara selalu menghindar dari max, setiap harinya ara selalu pulang tepat waktu agar tidak bertemu dengan max, ara membuat dirinya sesibuk mungkin agar tidak ada cela buat max mendekatinya.


" Ara, kenapa kamu terlihat panik. Apa ada yang ingin berbuat jahat sama kamu? "  Dari kejauhan marcel sudah melihat ara berjalan dengan tergesa gesa kearah mobil marcel.


" Aku tidak apa apa, hanya tidak ingin bertemu dengan max saja. " ungkap ara sedikit tidak nyaman.


" Oh, kenapa kamu menghindar? apa perlu aku peringatkan dia kembali untuk tidak mengganggu kamu lagi? "


" Tidak perlu, aku hanya malas jika harus berurusan dengan nya. Marcel kamu tau kan , dari awal akun sudah tidak ingin mengenalnya lagi. "


" Aku tau. Tapi tidak ada gunanya kamu bermain kucing kucingan begini, kalian satu kantor, seperti apapun caramu buat menghindar, tetap saja nanti akan bertemu. apa nggak sebaiknya jika kamu keluar dari kantor . dengan begitu, kesempatan kalian untuk bertemu akan semakin kecil. "


" Aku juga sedang memikirkannya, hanya saja biaya denda nya lumayan besar. "


" Kalau masalah biaya, kamu jangan khawatir, aku akan bantu. " ujar marcel dengan tulus.


" Ck.. bukan begitu, aku hanya menyayangkan  jika harus keluar uang banyak. " kata ara dengan malu malu.


Marcel yang melihat tingkah ara pun tersenyum tipis, andai ara tau kalau perasaan nya kepada ara sangat besar. Entah sapai kapan ara akan membuka hatinya buat Marcel.


Sementara  diruangan max, beni akhirnya menjadi pelampiasan kekesalan max. Saat max ingin mendekati ara, beni selalu saja datang dengan sejuta pekerjaan yang mengharuskan nya untuk tidak bisa bertemu dengan ara.


" Beni... "


" Iya tuan "


" Cari tau tentang kediaman ara dan juga pria itu. "


" Pria siapa maksud tuan? " ujar beni dengan takut takut.


" Pria yang bersama dengan wanitaku, memangnya ada berapa pria yang dekat dengannya? " Ujar max yang sudah meninggikan suaranya.


" Tapi untuk apa tuan? "


" Untuk menenggelamkan mu kelaut. ya tentu saja aku akan pergi kerumahnya, memangnya untuk apalagi " Max selalu geram dibuat kelakuan asistennya ini, entah sampai kapan max harus bersabar menghadapi adik dari Jack asisten utamanya.


' iyakan saja lah, biarkan dia berbicara semaunya.' batin beni. kemudian dia berkata.


" Baik tuan.


Sepulang dari kantor, max langsung menuju ketempat ara tinggal. Hari semakin dingin sepertinya salju akan turun. Namun tidak membuat semangat max berkurang. Disisnilah dia sekarang berada.

__ADS_1


Ting... Ting.. Be rumah ara berbunyi , namun tidak ada tanda  tanda orang akan membukaax pun kembali menekan bel untuk yang kesekian kalinya. Namun tetap saja tidak ada pergerakan.


Sementara ara yang baru saja selesai mandi mendengar bel berbunyi. Ara menyerngitkan alisnya.


'  siapa yang bertamu kerumahku, aku bahkan baru hari ini menempati rumah ini, apa jangan jangan Marcel, karena hanya dia yang tau alamat rumah ini. '


Ara memang memutuskan untuk membeli rumah, karena sekarang ara akan tinggal dengan erlangga.


Selesai mengenakan bajunya, ara berjalan menuju pintu luar untuk membuka pintu. namun berapa terkejutnya dia saat yang muncul dihadapannya adalah pria yang berapa hari ini selalu di hindarinya. Ara dengan cepat menutup pintunya, tapi terlambat dengan kecepatan max yang sudah mengetahuinya. Max memblokir pintu dengan salah satu kakinya.


" Untuk apa kamu datang kesini, pergi dari sini. "


" Ara, aku tidak akan pergi, tolong berikan aku kesempatan. Maafkan aku. "


" Aku tidak mau bertemu dengan mu pergi dari sini." ara dengan sekuat tenaganya menginjak kaki max yang menahan pintu, sehingga max menarik kakinya secara reflek, melihat itu, ara langsung menutup pintunya.


" Ara, aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan maaf dari kamu. Aku akan menunggu kamu disini sampai kamu keluar dan mau berbicara dengan ku. "


Ara tidak peduli dengan teriakan max dari luar. Dia lebih memilih untuk menemui erlangga dikamar.


Ara membuka pintu dan melihat erlangga sedang tidur. Ara menghampiri ranjang erlangga dan duduk di atasnya.


" Dasar anak durhaka. Andai benar dia datang, aku dengan senang hati membiarkan nya untuk memarahimu. " Erlangga melemparkan bantal kearah ara.


Ara tidak kaget dengan perkataan erlangga. sebaliknya dia sangat tenang dan berpura pura marah.


" Aku kira papah akan terus bersandiwara seperti ini untuk selamanya. "


" Kamu senang liat papah gila beneran haaa" Erlangga menjewer telinga ara dengan sedikit kuat sehingga membuat ara meringis.


" Aduh pah, hentikan, ini sangat sakit, ara sudah tidak anak kecil lagi. " Umpat nya dengan cemberut.


" Bagi papah kamu tetap seperti anak kecil tidak akan pernah berubah. " Ujar erlangga melepas tangannya dari telinga ara.


" Sejak kapan kamu tau kalau papah gak beneran gila haa? "


" Sejak pertama aku bertemu papah dirumah. Awalnya aku percaya,  tapi setelah setelah aku menatap mata papah, tidak ada sama sekali tanda kekosongan . Orang depresi itu matanya pasti kosong, tidak memiliki harapan. Sementara papah, matanya penuh dengan kehidupan. Hehehe. "


" Kamu memang anak papah yang paling pintar. "


" Tapi bagaimana bisa selama ini Clara menganggap papah gila, bukankah dokter jiga mengatakan hal yang sama juga? "

__ADS_1


" Panjang ceritanya , papah mengkonsumsi obat ini, ini obat untuk membuat seseorang menjadi berhalusinasi, jadi dokter pasti akan mengatakan hal yang sama. "


" Tapi apa gak berbahaya papah selama ini mengkonsumsi obat ini? " tanya ara cemas.


" Jika di gunakan dalam dalam jangka lama pasti akan berbahaya. namun sekarang papah tidak akan menggunakannya lagi. "


" Baiklah, sekarang papah istirahat. Karena besok pagi, papah masi punya utang untuk menceritakan semua yang telah terjadi. "


" Baiklah, papah juga menunggu mu untuk bercerita semuanya besok. "


Sementara max di luar masi setia menunggu ara keluar.  Seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan salju. Seakan saljunya pun mengerti   dengan suasana hati max yang saat ini benar benar hancur.


Ara melihat  max yang sudah diselimuti salju, namun hatinya benar benar tidak tergerak untuk keluar. Lebih baik seperti ini, dengan begitu dia akan menyerah dengan sendirinya. Ara ingin berbalik menuju kamarnya. Namun pa dengannya tiba tiba melihat max tejatuh dan pingsan.


Ara dengan cepat berlari keluar untuk menolongnya. Ara membawa max untuk masuk kedalam , dengan bantuan sekuriti, akhirnya max berhasil di letakkan diatas sofa.


Sembari menunggu dokter keluarga ara datang, ara menyiapkan teh hangat buat max.


Tak lama dokter pun datang, dan memeriksa keadaan nya. Untungnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter pun akhirnya meninggalkan rumah ara dengan meresepkan beberapa obat.


"Euhgg." Max sepertinya sudah pulih, dia membuka matanya secara perlahan, dan orang pertama yang dia lihat adalah wanita yang sangat dicintainya, wanita yang sudah dia kecewakan.


" Kamu sudah sadar?, sebaiknya cepat minum teh hangat ini, lalu pergi dari rumah ini, rumahku bukan untuk tepat penampungan. "


"Ara, untuk yang terakhir kalinya, biarkan aku menjelaskan semuanya dulu. "


" Baiklah, aku akan mendengarkannya, tapi bukan untuk maksud lain, ini agar kamu cepat meninggalkan rumah ini. " Kata ara dengan dingin.


Max meneguk  air liurnya, hatinya sudah pasrah entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun dia tidak akan menyerah.


" Aku minta maaf atas semuanya. Jujur aku tidak berniat.... "


" Aku bisa memaafkan mu, tapi tidak bisa menghilangkan lukanya. "


Max menerima perkataan ara, dia mengerti memang tidak segampang itu bisa memaafkanku, meski di maafkan, luka itu pasti masi membekas. Max mengeluarkan air matanya, dialah penyebab luka itu, dialah penyebabnya.


" Aku memang menyuruh Jack untuk membakar penjara waktu itu, tapi dengan rencana lain, aku akan mengeluarkan om erlangga secara diam diam dari dalam saat penjara terbakar, dan mengganti om erlangga dengan orang lain di dalam, sehingga semua orang mengira  om erlangga sudah meninggal. Aku bahkan sudah melupakan jika memang om erlangga pelakunya, aku sudah ingin berdamai dengan keadaan. Itu semua karena aku mencintai kamu, aku gak mau kehilangan kamu. tapi rencanaku gagal karena rizal membakar terlebih dahulu penjara itu. Ara, aku berani bersumpah, bukan aku yang membakar penjara itu, tapi rizal. Sepupu aku. Kamu hanya mendengar sebagian percakapan aku dengan Jack waktu itu, makanya kamu salah paham. "


Ara menggelengkan kepanya dan berkata.


" Semuanya sudah menjadi masalalu, hubungan kita hanya masalalu. Meski kamu berusaha memperbaikinya, masa lalu tetaplah masa lalu. Itu tidak akan pernah bisa berubah. "

__ADS_1


__ADS_2