Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
81


__ADS_3

"Max "


Pria yang dipanggil namanya pun menolehkan sedikit kepalanya menatap


Ryan dibelakangnya.


"Untunglah marcel berhasil menyadarkanmu"


"Aku terlalu fokus pada ara"


"Ya, tapi jangan pikirkan. Karena sekarang kau sudah disini, putramu pasti akan sangat bahagia sekarang"


Max mengulas senyum tipis, ia mengangkat tanganya, membelai lembut kaca inkubator yang membatasi dirinya dengan anaknya.


"Kau ingin menggendongnya?"


"Apa boleh?"


"Tentu, kondisinya sudah sangat baik sekarang. Jadi dia bisa keluar dari sini dan ditempatkan ketempat bayi biasa"


"Bagus"


"Jadi apa kau mau menggendongnya?"


"Tentu"


Max menjawab pertanyaan Ryan dengan senyum yang mengembang, ia bahagia karena bisa menyentuh buah hatinya.


Ryan berjalan melewati max membuka kaca inkubator dan mengeluarkan bayi mungil yang terlihat masih asik tertidur.


Ryan menyerahkan bayi itu pada Max dan pria itu pun menyambutnya. Max dengan hati-hati membawa bay Itu dalam gendongannya sesekali ia membelai pelan pipi gembulnya.


"Dia tampan"


"Aku tau, dia putraku"


"Oh, akhirnya jiwa sombongmu keluar max"


"Biarkan"


"Dan jujur aku lebih suka kau seperti ini"


"Apa dia bisa dibawa keluar?"


"Biar bagaimana pun dia terlahir prematur jadi belum saatnya dia keluar dari lingkungan rumah sakit max,  Tapi itu hanya sebentar, kita tinggal menunggu kestabilan kondisinya dan apabila itu baik, maka dia bisa pergi


dari sini"


"Aku akan menunggu"


"Baiklah, aku harus memeriksa ara"


"Ya, tolong awasi dia"


"Pasti max" Ryan menepuk bahu max kemudian ia pun pergi.


Max masih setia menatap putra kecilnya yang begitu menggemaskan, bayi itu menggeliat pelan, dan max pun mengayun-ayunkan tubuhnya pelan. Max melihat bayi itu seperti


mengulas senyum untuknya dan jujur ia begitu bahagia melihatnya. la pun


mengecup pelan dahi bayi itu.


"Daddy sangat menyayangimu"


"Dan Daddy yakin Mommy mu akan sadar dan menggendongmu, sama seperti yang dlakukan daddy sekarang,  kau harus sabar baby boy"


Sekitar satu jam max bersama dengan bayi nya, pria itu sangat terhibur dengan ekpresi polos yang ditunjukkan bayi mungil yang tertidur dalam dekapannya. Sadar waktu sudah berjalan lama, ia pun akhirnya menurunkan tubuh mungil itu kembali dalam inkubator.


"Daddy akan kembali lagi"


Dan terakhir ia pun mencium bayi nya kembali. Max membalikkan tubuhnya menghadap pintu keluar dan memegang knop pintu lalu mendorongnya pelan.


Max berjalan dengan perlahan menuju ruangan ara, ia menghela napasnya lembut saat memegang knop pintu dan perlahan pintu itu pun terbuka. Didalam ruangan terlihat Marcel sedang duduk di sofa sembari


memainkan ponsel ditangannya.


Marcel melirik sekilas dari ujung matanya dan terlihatlah max diambang pintu.


"Bagaimana?"


"Dia tampan"


"Sayang ayahnya bodoh"


"Ya aku tau" Balas max pelan lalu duduk disamping Marcel.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya


Max tanpa menoleh pada marcel .


"Ryan bilang kondisinya masih sama"


"Sampai kapan ini berakhir ?"


"Max ,jika kau bertanya hal itu padaku aku tak tau jawabannya"


Hening, max sama sekali tak berniat untuk menjawab ucapan Marcel. Namun tiba-tiba Marcel menepuk bahu max.


"Max!"


"Apa?" Tanya max


"Kau harus kuat max "


"Aku sudah berusaha"


Saat mereka sedang asyik mengobrol pintu terbuka menunjukkan kedatangan Jack, menyadari ada hal penting yang mungkin akan di bicarakan, marcel pun memilih untuk keluar.


" Aku akan menunggu di luar dengan yang lain. "


" Baiklah, terimakasih. " Ujar max.


"Aku sudah menangani beberapa buntut masalah atas perbuatan Rafael dua minggu lalu" Ujar jack membuka suara.


"Sebutkan"


"Kita berurusan dengan polisi atas kejadian dua minggu lalu karena berakibat banyak korban. Dan kerusakan beberapa kendaraan kita"


"Apa Regnarok diketahui oleh pihak pemerintah? "


"Aku memberi alasan jika ini semua hanya sebuah motif penculikan tidak ada kaitannya dengan dunia hitammu"

__ADS_1


"Lalu apa polisi percaya?"


"Aku memberi bukti dengan keadaan ara sekarang"


"Nice"


"Untung aku bisa mengelak dari intrograsi dari polisi kalau tidak mungkin Regnarok bisa terancam"


"Berapa banyak anggota yang mati?"


"15 orang max" dan Rafael Jasadnya sudah dikirim ke rumah ibunya"


"Jujur, sebenarnya aku ingin menemui Rafael dan berbicara empat mata, aku ingin menjalin


hubungan baik dengannya,dan memberitahu tentang ara kepadanya. kembali  Tapi sesuatu dalam hatiku bergemuruh saat melihatnya menyakiti ara, Dan aku tak terima itu semua"


"Semua itu karena dendam max"


"Ya" Ujar max lemas.


Beberapa jam kemudian samar-samar terdengar suara tangisan bayi dari ruang inkubator, Max langsung berdiri dari duduknya dan mulai panik serta menajamkan


pendengarannya.


"Max ada apa?"


"Aku mendengar tangisan bayi"


"Kau yakin? Aku tak mendengarnya"


"Tolong jaga ara dulu aku takut dia bayiku"


"Baiklah"


Max langsung keluar dari pintu dan berjalan beberapa langkah memasuki kamar inkubator dan disana sudah ada Ryan dan beberapa perawat dengan raut wajah khawatir.


"Max " Sapa Ryan saat menyadari keberadaan Arthur diruangan itu.


"'Apa yang terjadi Ryan?" Tanya max mendekati Ryan dan menatap bayinya


yang tengah menangis.


"Dia dari tadi menangis terus Max, kami sudah berusaha menenangkannya. Tapi hasilnya nihil, aku sudah memeriksa keadaannya dan semuanya normal."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Aku juga tak tau, selama dua minggu ini ia hanya menangis sebentar lalu perawat akan menenangkannya dan ia akan segera diam, tapi sekarang entahlah max dia tak mau tenang"


"Biarkan aku menggendongnya"


"Kau yakin?"


"Ya"


Perawat yang menggendong bayi itu pun menyerahkannya pada max  dan dengan sigap pria itu menerima bayi nya dalam dekapan hangatnya.


Max sedikit mengayunkan tubuhnya berupaya menenangkan bayi itu dan tak lama bayi itu pun berhenti menengis.


"Dia berhenti"


Max hanya mengulas senyum menanggapi ucapan Ryan, dan ia pun menatap lekat bayi nya.


"Aku tau"


"Kalian keluarlah dulu" Perintah Ryan pada perawat didalam ruangan itu.


"Aku rasa aku akan segera memindahkan ara dan dia ke New York segera, apa akan membahayakan mereka?"


"Kalau bayi nya sudah bisa dipindahkan tapi tetap dalam pengawasanku. Tapi kalau ara aku kurang yakin jika harus dipindahkan


Max"


"Baiklah, kurasa harus menunggu lagi"


"Bersabarlah, semua pasti akan segera membaik"


"Ya"


"Aku akan keluar kalau begitu" Ryan menatap max , dan pria itu menganggukan kepalanya sebagai jawaban, Ryan pun melenggang pergi


dari ruangan itu.


"Kau merindukanku?"


"Tapi aku baru sebentar meninggalkanmu" Ucap max memainkan tangan kecil bayi nya.


Max membelai perlahan bayi kecil itu yang mengulas senyum tipis menambah kegemasan max.


Tak lama dering ponsel menganggu kedamaian max, pria itu pun menurunkan perlahan tubuh bayi kecilnya didalam kaca inkubator dan segera meraih ponsel disaku


celananya.


"Beni" Gumam max setelah melihat si penelpon.


Max menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di telinga


"Boss"


"Ya, ben"


"Kami sudah sampai, apa kami langsung kesana atau bagaimana boss?"


"Kau sampai dimana?"


"Kami di lobby Boss"


"Tunggu, aku kesana"


"Baik"


Max mematikan sambungan teleponnya dan ia pun membelai pipi gembul bayi kecilnya.


"Daddy pergi sebentar kau disini jangan menangis okey .Aku akan segera kembali, tidak lama"


Max pun menengakkan tubuhnya dan melangkah keluar dari pintu ruang


inkubator. Max berjalan menuju lantai dasar, memang ruangan ara berada dilantai dua jadi max menuju lift untuk mengantarkannya ke lantai dasar.


Setelah sampai di lobby max mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya,


Max berjalan menuju seorang pria  yang terlihat khawatir didepan meja resepsionis.

__ADS_1


"Dad" Panggil max seraya menepuk pelan lengan fernady


"Max"


"Bagaimana putriku?" Tanya fernady panik.


"Daddy bisa melihatnya sendiri"


"Baik"


Max menggiring mertuanya menuju


lift, didalam lift hanya ada keheningan


diantara mereka. Hanya ada raut wajah


cemas yang ditunjukkan oleh fernady dan juga  Setelah lift berhenti mereka keluar


dan tak lama seorang perawat berlari


menghampiri max.


"Tuan' Ucap si perawat dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Ada apa?"


"Bayi nya"


"'Ada apa dengan bayi ku?"


"Dia kembali menangis dan sekarang tubuhnya panas"


"Apa!"


"Kami sudah berusaha menenangkan nya, tapi kami tak bisa."


"Aku akan kesana"


Perawat itu menganggukan kepalanya sebagai jawaban, max menghadap kearah orang fernady.


"Kau tolong antarkan mertuaku ke ruangan istriku" Ucap max melirik sebentar kearah si perawat.


"Baik"


"Daddy akan diantarkan oleh dia keruangan ara"


"Tapi cucuku?"


"Aku akan menenangkannya terlebih dahulu"


"Ya sudah" Ucap fernady lemas.


"Kalau begitu kami pergi dulu max" Ucap fernady.


Max menganggukan kepalanya dan mertuanya pun pergi menjauh memasuki ruangan ara, max sendiri langsung mengambil langkah cepat memasuki ruangan bayi nya.


"Ada apa denganmu baby boy?"


Max memasuki ruangan inkubator dengan cepat, pria itu panik saat perawat memberitahunya tentang keadaan putra kecilnya. Didalam sudah ada Ryan yang menggendong bayi itu. Max segera mendekati Ryan dan melihat dengan jelas ekpresi bayi nya.


"Dia sakit?"


"Suhu tubuhnya meningkat drastis Max"


"Apa dia salah obat atau bagaimana?"


"Aku sudah memeriksa obatnya dan semuanya baik"


"Lalu dia kenapa?"


"Coba kau gendong dulu, barangkali dia akan berhenti menangis"


"Kemarikan"


Ryan menmberikan bayi itu dengan perlahan pada Max. Max meraihnya dengan hati-hati ia pun memeriksa tubuh bayi nya dan memang panas dari sebelumnya.


"Apa yang harus kita lakukan Ryan?"


"Kami akan memberikannya obat"


Max menganggukan kepalanya menjawab ucapan Ryan, dan tak lama terdengar dering ponsel dari saku celana max.


Max menahan bayi itu dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya


meraih ponsel dan memeriksa si penelpon, marcel.


"Ya, ada apa marcel?"


"Max !" Ucap marcel dengan nada panik.


"Ada apa? Kenapa nada suaramu terdengar panik?"


" Ara"


"Ada apa dengan ara?"


"Dia ..." Marcel menjeda ucapannya dan terdengarlah tangisan seseorang diseberang sana,max semakin kalut.


" MARCEL!"


"Lebih baik kau segera kesini max"


Max langsung bergegas keruangan Ara dengan menggendong bayi kecilnya yang terus menangis, suara tangisan orang terdengar dari luar ruangan ara, max segera


membuka pintu ruangan dengan kasar dan pandangan yang pertama ia lihat adalah tubuh istrinya yang bersih dari alat medis yang menopang hidupnya selama dua minggu ini.


Kaki max melemas, ia berjalan dengan gontai mendekati brangkar sang istri dan menatapnya lekat, wajah yang begitu ia cintai terlihat pucat pasih dan max semakin panik, ia menyerahkan bayi nya pada marcel


dan menjalankan kakinya perlahan mendekati  ara.


Max menatap lekat pada wajah pucat sang istri, max menelan salivanya kasar berusaha


mengenyahkan pikiran buruk yang menghinggapi pikirannya. Matanya


beralih menatap marcel


.


"Max "


"Ada apa dengannya ?Kenapa alat medisnya di lepas?" Ucap max dengan bergetar.

__ADS_1


__ADS_2