Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
79


__ADS_3

Max memang sering berurusan dengan darah, tapi entah mengapa untuk kali ini ia begitu sangat sesak menyadari darah itu.


Max menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, memori otaknya memutar kembali kejadian tak mengenakan itu, andai ia tak mengejar rafael istrinya pasti akan selamat. Dan max begitu sangat membenci


Rafael.


"Apa bedebah itu sudah mati?" Tanya Max dingin.


"Ya, aku sudah memastikannya max "


Max menghela napasnya, ia gugup dan semoga istrinya tidak papa. Max mengingat semua kenangan manisnya dengan sang istri dan tentunya saat mengetahui kabar kehamilan ara,  max menyenderkan tubuhnya ke dinding dingin rumah sakit, ia tidak


mempercayai dokter disana oleh sebabi tu dia menghubungi Ryan.


"Max ?"


Max  tak menjawab ucapan jack , jack kesal karena max  mengabaikanya, ia pun mendorong pelan tubuh max tapi tubuh itu


dengan mudahnya oleng. Jack melebarkan matanya kaget dan dengan cepat menarik kembali tubuh max.


"Max! "


Tak ada jawaban yang jack dapatkan dari max , pria itu hanya diam dan seakan asik dengan dunianya sendiri. la tak memperdulikan


sekitarnya, ia begitu sangat nyaman dengan posisi diamnya.


Max menutup matanya, pria itu menengadahkan kepalanya menatap langit putih rumah sakit.


"Seumur hidup aku tak pernah berdoa padamu Tuhan, aku selalu percaya bahwa aku bisa melalui semua masalah atas diriku sendiri bukan karena mu, aku tau aku terlalu


sombong dengan kekuatanku dan mungkin sekarang kau menghukumku. Tapi bolehkah aku meminta satu  hal padanmu Tuhan ... Aku ingin istriku kembali seperti semula, dia


adalah jiwaku dan aku tak bisa hidup tanpanya. Kau telah mengambil orang


tuaku lalu bisakah kau kembalikan Istriku?" Batin max memohon.


tatapan sayu nya. Pria itu seakan lupa ia adalah seorang kepala Mafia, max sekarang adalah seorang suami yang khawatir dengan keadaan istrinya, sangat miris jack melihatnya.


"Dia akan selamat"


Max hanya diam, ia tak memperdulikan jack. Pria itu mengingat masa-masa kehamilan


istrinya, masa indahnya dengan sang istri dan masa diawal pernikahan mereka.


Tak lama Dokter Ryan keluar, max langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana?"


"Ada kabar baik dan kabar buruk Max "


"Katakan kabar baiknya"


"Bayi nya selamat, walaupun dia lahir prematur karena belum waktunya tapi


dia sehat, istrimu pandai menjaganya. Kita hanya perlu menempatkannya di incubator beberapa waktu kedepan"


Max yang mendengarnya langsung mengulas senyum, bayi nya sehat dan ia bahagia. Jack langsung memeluk sahabatnya erat.


"'Selamat max kau seorang ayah sekarang"


"Thanks Jack "


Maxmelepas pelukannya, ia langsung menghadap Dokter Ryan.


"Kabar buruknya?"

__ADS_1


"Nyonya ara "


"Bagaimana dengannya?"


"Kondisinya memburuk max dia drop dan sayangnya ia kritis akibat kekurangan darah, tapi kami akan mencoba untuk melakukan yang terbaik"


"Kenapa tidak transfusi darah?"


"Kami sudah mencobanya max,  sekarang kita berharap agar nyonya ara cepat pulih"


Tiba-tiba seorang perawat datang dengan tergesa dari dalam ruang perawatan ara.


"Dokter, kondisi pasien memburuk"


Wajah max seketika berubah, pria itu langsung menunjukkan raut wajah khawatirnya.


"Ryan!"


"Tenanglah, aku akan periksa dulu"


Dokter Ryan langsung bergegas memasuki ruangan itu, sementara max tak bisa berdiri dengan tenang. Pria itu berjalan mondar mandir memasukkan satu tanganya .


"Dia akan baik percayalah max"


"Tapi kapan jack?!"


"Tenanglah"


Tak lama Dokter Ryan keluar dari dalam ruangan, pria berjas putih itu menatap max dengan tatapan penyesalan.


"Ryan bagaiman?" Tanya max tegas.


"Kondisinya memburuk max"


"Apa!"


"****!"


Max  membalikkan tubuhnya menghadap dinding dan memukul dinding itu bertubi-tubi.


"Sial! Sialan kau rafael!  Membusuklah di neraka!"


"Max tenanglah" Jack menahan tangan max yang kembali melayang ke dinding meskipun tangan itu sudah berdarah.


"Dia harus sadar jack! Dia harus sadar!" Teriak max histeris.


"Max Dia juga berjuang antara hidup dan mati didalam! Kuatkan dirimu! Kau harus yakin nyonya ara kuat melewati masa kritisnya!"


"Lalu bagaimana denganku! Bagaimana dengan bayinya!"


"Max!"


"Dia tak bisa meninggalkanku jack! Tidak bisa!"  Tubuh max meluruh dilantai dingin rumah sakit. Max terduduk lemas pria itu memeluk kedua lututnya dan menangkup wajahnya disana.


"Dia harus sadar secepatnya!" Gumam max.


"Max nyonya ara harus harus segera dipindahkan"


"Siapkan saja ruang VVIP disini" Ujar Jack


"Baik"


Jack berusaha menenangkan max,tapi pria itu masih dalam posisi yang sama.


Tak lama brangkar ara dipindahkan menuju ruang VVIP dirumah sakit itu. Pun dengan bayinya,

__ADS_1


bayi ara dipindahkan keruang incubator disana.


"Mereka sudah dipindahkan, ayo kita lihat max"


Max hanya diam, Jack pun memapah tubuh max dan berjalan beriringan menuju ruangan ara.


Jack membuka ruangan itu dan max secara perlahan mendekati brangkar nya. Wanita itu terlihat pucat dengan berbagai alat medis


yang terpasang ditubuhnya. Max semakin nyeri melihat itu semua. la mendudukan tubuhnya disamping brangkar sang istri, membelai lembut surai nya lalu turun membelai wajah pucat sang istri.


"Hai Bangunlah, kau tidak merindukanku?"


"Sayang , aku disini menunggumu membuka mata seperti kebiasaan kita saat pagi Ku mohon bukalah matamu honey"


Max tak kuat menahan sesak di dadanya pria itu mendekati wajah sang istri dan menumpukkan dahinya di dahi ara.


"Aku mencintaimu, bukalah matamu.Kau harus bangun, ingatlah janjimu Kau tak bisa meninggalkanku!"


Jack yang melihat sahabatnya yang kuat kini rapuh pun ikut sedih dengan takdir max, baru beberapa bulan mereka bahagia atas kehamilan Ara Kini haruskahax sesakit ini?


2 minggu kemudian...


Sudah dua minggu ara terbaring dibrangkar rumah sakit, wanita itu seakan enggan untuk membuka matanya walaupun hanya untuk


menatap sekelilingnya. Sementara max, pria itu seakan tak terurus bahkan tumbuh bulu halus disekitar rahang tegasnya, selama ini max selalu merawat tubuhnya tapi sekarang


pria itu seakan melupakan semuanya.


Max masih saja duduk disamping brangkar ara menatap wanita itu berharap dia lah orang pertama  Yang dilihat sang istri setelah dia sadar. Max bahkan enggan untuk


meninggalkan kursinya. Sementara ditempat lain, Jack baru sampai setelah 2 minggu dia mengurus keperluan Regnarok setelah kejadiandengan rafae, ia pergi meninggalkan


Maxdan menitipkan sahabatnya itu pada Ryan. jack  yakin lambat laun Max akan segera sadar.


Jack memasuki ruang incubator untuk menengok ponakan kecilnya. Disana ia melihat Dokter Ryan Yang sedang memeriksa kondisi ponakannya.


"Bagaimana keadaannya Ryan?"


"Dia baik, tapi sayang selama dua minggu ini dia belum sama sekali ditengok ayahnya" Ucap Ryan menunduk.


"Apa!"


"Kau pikir keadaan max akan membaik dengan sendirinya?"


"Memangnya max ?"


"Dia semakin memburuk jack dia hanya minum tidak makan. Aku memberikannya buah tapi dia hanya memakannya sedikit lalu sudah. Dan asal kau tau, pria itu telah berubah. Lihatlah keadaanya sekarang dia


sangat miris dia hanya fokus pada Ara."


"Jadi selama dua minggu ini dia sama sekali belum menengok anaknya sendiri?"


"Ya"


"Dasar bodoh!"


"Lalu bagaimana keadaan Ara ?"


"Dia mulai memberikan respon atas pengobatan yang kita berikan tapi dia tetap dalam keadaan koma'


"Aku akan lihat max terlebih dahulu"


"Ya, sadarkan dia Jack Dia tampak seperti orang bodoh yang hanya terdiam menatap Ara dengan tatapan kosongnya"


"Ya aku akan sadarkan dia tapi tunggu dulu"

__ADS_1


Jackberlutut dan menatap bayi mungil dihadapanya.


"Hai, ini uncle jack. Dan aku akan membuat daddy mu yang bodoh itu sadar"


__ADS_2