Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
77


__ADS_3

" Sialan, kenapa hidup kita jadi seperti ini, mas kenapa kamu hanya diam saja. Bukankah kamu memiliki saham di perusahaan itu, setidaknya itu bisa kamu pertahankan. Putri mu itu benar benar keterlaluan. kamu bahkan tidak memiliki apa apa sekarang, bagaimana kita bisa bertahan hidup kedepannya. "ujar velly jengkel.


" Itu benar dad, selama ini daddy yang membesarkan perusahaan, jadi ara tidak bisa berbuat seperti itu kepada daddy. "


" Itu benar, biar mamah yang menemuinya . "


Velly bergegas keluar dari rumah nya, ya setelah merka diusir oleh ara, kini mereka tinggal di rumah Velly, meski tidak sebesar rumah ara, namun rumah nya ini juga termasuk mewah, karena rumah ini juga pemberian dari fernady.


Saat Velly membuka pintu, pandangannya mengarah kepada dua petugas kepolisian yang sudah berdiri di depan pintu..


" Ada keperluan apa ya pak datang kerumah saya? " Tanya Velly penasaran.


" Apa ibu yang bernama Velly renita? "


" Ya sendiri "


" Kalau begitu silahkan ikut kami kekantor, ibu kami tahan atas kasus pembunuhan berencana terhadap ibu inggit 20 tahun yang lalu. "


Bagai di sabar petir, kaki nya langsung lemas, 20 tahun sudah berlalu , dia kira kejadian itu tidak akan pernah terungkap sampai selamanya,siapa yang diam diam menyeliki kasus ini lagi geram Velly.


" Kalian salah menuduh orang, saya tidak pernah melakukannya. "


Keributan di luar membuat fernady dan Luna keluar. Mereka juga terkejut melihat ada dua polisi wanita yang sedang mengintrogasi istrinya.


" Ada apa ini, kenapa ada polisi disini? " Tanya fernady? "


" Begini pak, saudara Velly di laporkan atas tuduhan pembunuhan berencana terjadap saudara inggit dua puluh tahun yang lalu. "


Fernady memandang istrinya dengan tatapan rumit,


"Siapa yang melaporkannya? "


" Saudari sofian. Sekarang tolong kerja samanya, jika ingin membela diri sebaiknya datang kantor saja. "Kedua polisi itu lamgsung membawa Velly ke mobil tak lupa mereka memborgol kedua tangan nya.


" Pah kita harus bebasin mama, mamah nggak mungkin melakukan itu, itu pasti pasti fitnah " Cecar Luna yang menangis meminta agar fernady membebaskan mamahnya.


Disisi lain, max kini berada di kantornya, badannya yang kian hari makin lemas membuat tubuhnya tak bisa bekerja dengan serius.


Tok


Tok


Tok


" Masuk "


" Tuan, ada yang ingin saya bicarakan. " Nadanya sedikit bergetar, dia yakin setelah ini kepalanya akan terpisah dari leher nya akibat kecerobohannya.


" Katakan saja, apa yang kamu takuti, bahkan saya tidak punya tenaga untuk memghukummu saat ini. " Ujar max dengan lemah.


" Begini tuan, sebenarnya tuan tidak mengidap penyakit leukimia. Tuan hanya menderita tuak lambung kronis. Maaf kan saya tuan, semua ini kecorobohan saya. " Ujar Jack dengan menunduk takut.

__ADS_1


Max terdiam cukup lama, mencerna perkataan Jack, seraya tidak puas dia berkata kembali.


" Ulangi! "


Jack merasa jika max sudah marah, padahal max hanya ingin mendengar sekali lagi karena ia ingin meyakinkan dirinya. Namun siapa sangka Jack malah berpikir sebaliknya. dia bersiap siap mengambil ancang acang untuk berlari. Namun sebelum berlari dia meletakkan semuah map hasil pemeriksaan max yang sebelumnya sempat tertukar dengar orang lain. Saat berada di Koridor rumah sakit hasil pemeriksaan max tertukar dengan seorang wanita, wanita itu tidak sengaja menyenggol lengan Jack sehingga membuat map yang ditangannya terjatuh , sementara wanita itu jatuh pinsan. Namun dengan cepat Jack menangkap tubuh wanita itu,  map di tangan Jack dan wanita itu terjatuh dan tertukar.


" Tuan, silahkan  baca sendiri, saya akan pergi menjalani hukuman saya " Seperti angin topan, Jack meleset pegi di bawa hembusan angin dan menghilang.


Max merasa bingung dengan kelakuan asisten nya, namun dia tidak peduli, tangannya langsung membuka map itu, dan matanya melotot tajam ketika melihat hasil yang terpangpang di depan matanya. Seakan masi belum puas, dia menghubungi rumah sakit yang terakhir memeriksanya. Dia juga bertanya tentang  darah yang  beberapa kali sempat keluar dari hudungnya. Setelah mendapatkan jawaban yang di tunggunya, senyum merekah kembali di bibirnya. Bahkan tubuh yang sebelumnya lemas kini menghilang begitu saja, serasa kekuatannya kembali sepenuhnya.


Karena Jack telah menghilang, max dengan cepat mengabari sekretarisnya.


" Batalkan semua rapat hari ini, aku akan pulang lebih awal. "


bagaimana bisa dia menunda lagi, malam pertama yang seharusnya dia lakukan seminggu yang lalu kini tertunda karena dia tidak mau membiarkan istrinya akan sendirian merawat anaknya kelak.


Sekarang dia tidak akan  melewatkan nya lagi. Sama halnya seperti jack yang menghilang bagai ditelan bumi, max juga mengilang secepat kilat.


Setiba dirumah max melihat istrinya yang sedang bersantai di tepi kolam renang. dengan penuh semangat dia mengangkat tubuh istrinya dengan ala bridal style memasuki rumah tampa peduli teriakan ara.


" Max apa yang kamu lakukan, turunkan aku, keadaan kamu lagi lemah, cepat turunkan."


" Sayang, hari ini aku sengaja pulang dari kantor, aku sedang bahagia sekarang " Ujar max yang langsung menidurkan ara di tempat tidur. "


" Bahagia  kenapa? Apa penyakit kamu bisa di sembuhkan?"


" Lebih dari itu sayang,aku tidak sakit ,ada kesalahan kemarin."  Ujar max yang membuka jas nya "


" Maksudnya bagaimana? " Ujar ara bingung.


" Apa yang kamu lakukan disiang bolong begini max?" Ujar ara dengan pipi merona.


" Apa lagi yang akan dilakukan suami istri saat berduaan dikamar seperti ini."


" Jadi kamu sengaja pulang dari kantor hanya untuk ini?" Tanya ara tak habis pikir.


" Sayang,kamu kira selama berapa  hari ini aku tidak tersiksa menahannya, tiap hari tidur bersama tapi tidak bisa menyentuhmu. Rasanya sangat frustasi.sekarang akun sudah cukup menahannya. " Ujar max yang langsung mencium bibir ara.


Ara tentu saja sangat bahagia. Apalagi jika ternyata suaminya tidak sakit. Ini suatu kejutan buatnya. Sehingga dia dengan senang menyambut ciuman itu.


Max mencium dahi sang istri dengan lembut.


Ciuman itu turun ke arah kelopak mata sang istri dan turun lagi pada pipi gadis itu yang merona. Sampai berhenti pada pelabuhan pucuk ranum yang seolah menjadi candu.


meraup benda kenyal semerah delima itu. Diandra membuka kedua bibirnya, membiarkan sang suami mengabsen setiap inci rongga mulutnya. Keduanya berpagutan cukup lama, saling menukar rasa dengan


suasana yang kian memanas.


Tangan pria itu mulai bergerak nakal, memegang anggota tubuh sang istri yang menjadi favoritnya. Katakan jika kamu merasa sakit, Sayang."


Ara hanyamengangguk pasrah. Setelah itu, max mulai memasukan pusakanya ke dalam

__ADS_1


mahkota sang istri yang masih rapat. Pria itu melakukannya dengan hati-hati karena takut sang istri terluka. Namun, tetap saja suatu hal yang pertama kali dilakukan tidak akan


semulus yang sudah terbiasa.


Ara mencengkram sprei saat merasakan sesuatu menusuk salah satu bagian tubuhnya. Max menautkan jemari mereka


dan kembali memberikan rangsangan agar sang istri tidak merasa tegang.


Dorongan itu semakin kuat. hingga benteng besar yang menjadi pertahanan sebuah mahkota hancur. Sebuah perisai telah menemukan pelabuhan tempatnya bersemayam.


"Sakit?" tanya max setelah merasakan pusakanya menghancurkan karang besar yang


menjadi benteng pertahanan sang Istri.


Ara hanya terdiam dengan senyum yang mengembang.


Max mengusap air mata yang menggenang pada sudut mata sang istri. Setelah itu, ia mengecup lembut pucuk ranum yang telah menjadi candu baginya.


Max dengan nada lembut berkata.


"Maaf kalau ini terasa sakit. Aku akan membawamu ke atas puncak kenikmatan. I love you, my wife," ucap max dengan  air mata haru.


Ara kembali mengembangkan senyuman dengan wajah merona.  Ini pertama kalinya max  mengucapkan kata itu.


"Sayang, kenapa kamu menangis? "


" Tidak apa apa . Aku sayang sama kamu." Ara  mengalungkan tangan pada leher suaminya, keduanya menatap dengan dalam, menyatukan raga yang diiringi dengan rasa.


"Sayang." ucap max dengan Suara sensual.


Suasana kamar  itu kian memanas.  Ara benar-benar dibuat memanas, tatkala kedua insan saling bertukar peluh, beriringan dengan erangan dan lenguhan kenikmatan


yang kian membuncah.


Ara selalu merasa melayang oleh setiap sentuhan yang suaminya berikan. Max memperlakukannya dengan lembut dan hati-hati, ia tak ingin sang istri terluka sedikitpun.


" Max ," panggil ara dengan suara terengah-engah karena suaminya semakin mempercepat ritme permainan yang sudah berjalan beberapa menit.


"Terimakasih, Sayang," ucapnya sambil menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajah merona istrinya.


Ara hanya tersenyum seraya menempelkan wajah pada dada bidang suaminya yang masih polos.


"Apa tadi terasa sakit? Apa permainanku terlalu kasar?" tanya mAx yang membuat ara


langsung menengadahkan wajah ke arahnya.


"Awalnya sakit tapi ..." Ara  tersenyum getir.


"Aku paham. Mari kita ulangi lagi."


Max kembali menindih tubuh sang istri

__ADS_1


"Max !" pekik ara ketika kembali mendapatkan serangan.


Max   benar-benar sepeti gagak haus yang melihat telaga, ia menumpahkan gelora yang selama ini ditahannya.


__ADS_2