
"Hai Arsal kau sangat tampan"
"'Sama sepertiku"
"Bodoh tentu kau ayahnya" Rutuk Ara
"Aku merindukan rutukanmu honey"
Max membelai pelan Arsal dengan sayang seraya memeluk tubuh sang istri.
"Jangan lagi membuatku takut ra"
"Aku janji" Ujar ara lalu mengecup pelan rahang tegas max.
"Baiklah, suasana makin intim. Lebih baik kami keluar" Ujar Erlangga
"Ya, entahlah aku merindukan kekasihku" Ucap sofian menimpali.
"Ayo kita keluar" Ajak Erlangga dan mereka pun keluar dari ruangan ara,namun..
"Max ingat diantara kalian ada seorang bayi, tolong ingat itu" Ucap Erlangga mengintip dari sela pintu ruangan.
"Pasti" Ucap max dengan kekehannya.
"Daddy!" Peringat ara dengan wajah merona dan akhirnya ia tersenyum simpul.
"Enjoy max " Ucap marcel dengan tawa yang tak lagi terbendung dan ia pun menutup pintu itu.
"Baiklah kita sendiri"
"Sendiri? Lalu aku dan Arsal apa?" Ujar max merajuk.
"Oh ya, maafkan aku"
"Kau harus mencukur bulu disekitar rahangmu max aku tak suka. "
"Kenapa?"
"Tak terurus, seperti orang yang kekurangan uang"
"Hei, ini akan terlihat lebih dewasa"
"Kau mau dikatai sebagai ayah atau pamanku?"
"Maksudmu?"
"Kau lupa istrimu berumur 22 tahun Max sedangkan umurmu sudah 29 tahun?"
"Kau menghinaku?"
"Aku hanya bertanya, apa kau mau dikatai sebagai ayahku?"
"Baiklah, aku kalah"
"Nice"
"Akan kubersihkan"
"Bagus"
"Kau tak mau memberikannya asi?"
"Kau berupaya mencari kesempatan Mr. Max walker? Ingatkah dirimu istrimu ini baru saja bangun dari koma?"
"Aku sama sekali tidak berpikir kearah situ ra"
"Serius?"
"Ya"
"Menarik" Ujar ara.
Ara pun melepas dua kancing atas seragam pasien nya lalu mulai
memberi asinya pada Arsal ,Terlihat bayi itu dengan lahap menyusu pada buah dada ara dan itu membuat ara terkekeh geli.
"Kenapa?"
"Menggelikan, tapi menyenangkan" Ucap ara polos.
"Dia tersenyum"
"Apa perawat disini memberikannya asi?"
"Aku tak tau"
"Kenapa tak tau?"
"Sebenarnya aku baru menengoknya.hari ini"
Max seraya membelai pelan pipi gembul Arsal.
"Apa!"
"Maaf"
"Jadi selama ini kau belum menemuinya?"
"Iya"
"Ya Tuhan Daddy macam apa kau"
__ADS_1
"Aku terlalu fokus pada keadaanmu"
"Bodoh!"
"Sekali lagi maafkan aku"
"Ya tak apa, lagi pula sekarang aku sudah disini" Ujar ara seraya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Aku mencintaimu jadi tolong jangan.pernah membuatku menangis lagi"
"'Ayolah, itu hanya tangisan, aku sering menangis"
"Tangisan itu ketiga kalinya aku keluarkan
Selama hidupku. "
"Tidak mungkin"
"Pertama aku menangis saat kedua orang tuaku meninggal. Kedua. Saat kamu meninggal di kobaran api itu. Terakhir saat kamu koma dan dinyatakan meninggal. "
"Kau serius?"
"Ya, dan rasa takut itu kembali datang saat aku melihatmu tadi"
Ara melirik kearah max dan membelai pelan rahang tegas pria nya.
"Aku tak akan pergi, percayalah. Lagi pula kau belum menepati janjimu untuk membawaku belanja"
"Tentu, setelah kita pulang kau bisa membeli apapun yang kau mau"
"Dan aku tak sabar untuk itu"
Max mencium kening ara dan kembali membelai Arsal
"Max "
"Hem"
"Kau merindukanku?"
"Tentu" Max menegakkan tubuhnya dan menghadap kearah sang istri. Hal tak terduga pun terjadi dengan cepat ara mendaratkan bibirnya pada bibir max,Pria itu menaikkan satu alisnya sedikit terkejut dengan apa yang terjadi. Ara sedikit menyesapnya memainkan bibir max. dan jujur jiwa laki-laki max dengan
tidak sopannya datang, namun pria itu cukup sadar dengan apa yang terjadi ia hanya menikmati apapun yang dilakukan istri kecilnya.
Ara melepas pungutan itu dan menatap max dengan tatapan sayu nya.
"Aku mencintaimu"
"'Aku juga'
Max kembali mendekatkan wajahnya pada sang istri, ara pun memejamkan matanya namun suara tangisan bayi membuyarkan
"Ck, dia mengganggu"
"Semua sudah lengkap"
"Ya"
Tiga hari sudah terhitung semenjak sadarnya ara,semua orang berkumpul untuk melihat Arsal, disaat itu datanglah Ryan dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Max"
Max yang merasa namanya dipanggil pun menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah Ryan
"Ada apa?"
"Ada berita bagus untukmu"
"Katakan"
"Ara dan Arsal bisa pulang hari ini"
"Kau yakin?"
"Ya"
"Baiklah terimakasih"
"Sama-sama, kalau begitu aku akan.urus keperluan kalian"
"Oke"
Ryan melenggang menjahui max.sedangkan pria itu meraih ponsel di saku celananya dan menghubungi beni.
"Ben"
"Ya tuan?"
"Kirimkan jet pribadiku"
"Boss akan pulang?"
"Ya"
"Baik, segera saya siapkan"
" Di tunggu"
Max langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali duduk disamping sang istri seraya membelai pelan pipi putranya.
"Ada apa?" Tanya ara pelan sembari menyerahkan Arsal pada Erlangga.
__ADS_1
Max mengulas senyum dan meraih tangan kanan ara.
"Kita akan pulang"
"Sekarang?"
"Ya, kita tunggu Jet milikku terlebih dahulu"
"Akhirnya aku bisa keluar dari sini"
"Ya"
"Kalian akan ikut pulang bersama kan?"
"Pasti dong kan kita mau main-main dulu sama Arsal, iya kan sayang?" Ucap marcel semangat dengan senyum yang mengembang.
Marcel danax sudah berdamai dengan perasaan mereka. Mereka memutuskan untuk menjadi sahabat dan bersama sama menjaga ara. Dan max mempercayainya.
"Bagus, tidak apa kan jika mereka ikut?" Bisik ara pelan.
"Sure, tenang saja"
"Terimakasih"
"Your welcome honey"
"Marcel bantu siapkan aku membereskan semuanya" Titah max tak terbantahkan.
"'Sure"
Max dan marcel membereskan semua barang-barang ara termasuk dengan barang Arsal.
beberapa jam kemudian semuanya sudah siap, ara pun sudah berganti pakaian. Kedua orang tua ara pun ikut tersenyum dengan keadaan putrinya yang terlihat bahagia dengan hidupnya bersama max, walaupun
awalnya mereka pikir ara akan tersiksa hidup bersama dengan max. tapi nyatanya putrinya terlihat menyunggingkan senyum manis
dibibirnya saat bersama dengan max.
Tak lama suara derap kaki seseorang mendekati ruangan ara dan seketika pintu terbuka menampilkan Jack.
"Boss"
Max bangkit dari duduknya dan mendekati Jack.
"Sudah sampai?"
"Ya boss"
Max membalikkan tubuhnya menghadap ara dan orang tuanya bergantian.
"Jet nya sudah datang" Lapor max
Mereka pun bersiap lalu keluar bersama menaiki mobil terlebih dahulu dan mobil itu pun melaju ke tempat jet itu berada yakni di tempat beni.
Setelah mobil sampai,max menuntun ara menuruni mobil dan memapah tubuh sang istri menaiki jet pribadinya sedangkan Arsal masih didalam gendongan Grandpa nya.
"'Aku ingin bicara dulu pada mereka diluar"
"Lama?"
"Tidak, sebentar"
"Oke"
Max membalikkan tubuhnya menghadap Jack.
"Siapkan mesin jet nya"
"Aku yang jadi pilotnya?"
"Ya"
"What!!"
"Diamlah"
Jack mengerucutkan bibirnya kesal sedangkan arahanya terkekeh geli melihat dua sahabat sekaligus atasan dan asisten nya itu.
Max turun terlebih dahulu dan menghampiri beni, Setelah sampai dihadapan beni, max
mengulurkan tangannya disambut cepat oleh beni.
"Thanks kau sudah menolongku"
"Tidak masalah tuan"
"Sekali lagi aku sangat berterimakasih"
"Itu tidak seberapa dibanding pertolonganmu padaku selama ini tuan"
"Baiklah, aku pamit"
"Ya, hati-hati dan selamat atas kelahiran putramu"
Max menyunggingkan senyum tipis dibibirnya dan kembali mengulurkan tangannya lalu disambut oleh beni. Jack dan beni adalah. Sahabatnya. Max yang menolong mereka saat tak ada orang yang peduli dengan dua bersaudara itu.max sangat menyayangi keduanya.
Setelah itu max kembali kedalam jet pribadinya sebelum keruang pribadi, Max terlebih dahulu melihat kearah kemudi.
"Sudah?"
"Ya" Jawab Jack dan marcel bersama.
__ADS_1
"Bagus"
Max membalikkan tubuhnya dan berjalan kebagian tengah jet itu yang berbentuk sebuah ruangan dengan beberapa kursi mewah dan meja yang tersedia disana, dan dibelakang adalah tempat istirahat untuk max didalam sana sudah ada ranjang queen size dengan berbagai keperluan max termasuk walk in closet mini. Max menjalankan kakinya kearah ruang tengah mendapati kedua orang tua ara dan sofian yang tengah menikmati hidangan yang disiapkan oleh bodyguard nya.