
“ASTAGA, YA TUHAN! BIDIKANMU BUSUK SEKALE, SAYANG!!!” teriak Astan meledek.
Arni yang kupingnya mulai panas menyahut, “Bukannya disemangati, ditolongin, malah diledek?! Tega amat jadi laki!”
“Yeee…. Siapa suruh pakai senjata kayak begituan? Udah aku peringatkan beberapa kali, kan, kan?”
Astan menaikan kedua kakinya selonjoran di atas paha Gardin. Gardin pun sontak kaget dengan keberadaan kaki Astan yang tidak pada tempatnya.
“Pak.” Gardin menunjuk-nunjuk kaki Astan. “Kakinya, Pak. Kaki.”
Astan mulai ngemil kembali. “Pijitin.”
“Lah? Kok saya yang pijitin?” ucap Gardin tak terima. “Saya yang capek abis latihan, kok situ yang minta dipijitin kaki?”
“Hei, aku ini lebih senior darimu. Jadi, pijitin aja. Kalau kagak, beneran aku jadi’in perkedel kau.”
Karena tak ingin ribut, Gardin pun terpaksa memijit kaki Astan dengan muka bete.
Sambil kakinya dipijat, Astan kembali berteriak pada Arni, “Ayo! Semangat, Arni! Biar bisa jadi pemburu handal kayak Veena Maimunoh!”
“Veena Muskarov! Isssh!!!”
Astan hanya terkekeh melihat kekesalan Arni yang dianggap lucu.
Di tengah lapangan sana, Wooden Doll masih nampak diam, tak hancur terkena tembak sama sekali. Arni pun kembali menarik pelatuknya, tapi yang ada cuma suara ‘cklak-cklek’ lagi.
“Lho?” Arni berusaha menggoyang-goyangkan senapannya. “Ini beneran rusak, toh?”
“Belum dikokang lagi, kali,” ucap Astan.
“Lah, lupa. Woalah…! Ribet amat, sih….”
Gadis berjaket hijau itu mulai berusaha mengokang senapannya kembali. Kemudian membidik lagi Wooden Doll.
Tembak.
Gagal.
Tembak.
Meleset.
Tembak lagi.
Malah hampir mengenai Astan dan Gardin.
Tuh, kan. Melesetnya jauh sekali.
Kedua laki-laki itu tentu saja kaget ketika ada peluru Sniper Rifle melesat tepat di antara mereka berdua. Astan melotot, sedangkan Gardin sudah syok berat dengan nafas terengah-engah seakan-akan berpikir mungkin saja saat-saat terakhirnya tinggal sebentar lagi.
“Buset, jauh bener melesetnya.” Lalu Astan kembali berteriak, “Hei, Arni! Bidikannya meleset jauh bener…! Kami hampir mati, ini!”
“Ya-ya maaf,” ucap Arni grogi. “Aku kesulitan menahan senapannya pas lagi ditembakan. Malah ukurannya berat lagi.”
Astan memutar bola matanya. Kalau Arni begini terus, kapan ada kemajuannya? Bahkan mungkin latihan ini tidak akan bisa selesai dalam sehari.
“Coba ambil posisi tiarap untuk menembaknya.”
Arni sempat agak bingung dengan saran Astan, tapi ia memutuskan untuk mengikuti. Biarpun pria itu selalu meledeknya, Astan masih tetap punya niatan untuk membantunya naik pangkat.
Arni mulai mengambil posisi tiarap, lalu kembali mengokang senjata. Ketika ia mulai membidik, Arni merasa bahwa bidikannya kali ini sudah tepat di kepala sang boneka. Saat sudah dirasa pada posisi bidikan yang pas, pelatuk pun ditarik dan peluru Sniper Rifle melesat kencang mengenai tepat pada kepala boneka kayu sampai pecah.
“Be-berhasil?” ucap Arni tak percaya.
Astan dan Gardin yang melihatnya dari kejauhan tersenyum, turut senang dengan keberhasilan kecil itu.
“Suatu kemajuan yang bagus, Neng Arni!” puji Gardin.
“Bagus, Arn!” puji Astan pula. “Sekarang, musuh akan bertambah dua, dan keduanya akan mulai bergerak pelan mengincarmu.”
Benar kata Astan. Tak berapa lama setelah boneka pertama berhasil ditembak, dua boneka lainnya muncul dari obyek hologram menjadi lebih nyata. Keduanya nampak berjalan pelan menghampiri Arni.
Arni yang masih dalam posisi tiarap mulai gugup. “Se-sekarang gimana?”
“Ya tembak lagi. Masa kau ajak kencan?!” seru Astan keras.
Buru-buru Arni mengisi amunisinya, mengokang, lalu kembali membidik dalam posisi tiarap yang sama. Dalam dua kali tembak, dua boneka langsung bisa dikalahkan.
“Yey! Aku berhasil lagi!” teriak Arni kegirangan.
“Hati-hati! Jangan senang dulu!” peringat Astan. “Setiap kali kau berhasil mengalahkan Wooden Doll, maka akan muncul Wooden Doll lagi dalam jumlah lebih banyak dan gerakan mereka bakal lebih cepat.”
Dengan pedenya, Arni hanya membalas peringatan Astan dengan acungan jempol.
__ADS_1
Astan hanya menghela nafas. Ia sedikit lega, setidaknya gadis itu sudah mulai paham cara main seorang pemburu.
Dari yang Astan amati beberapa menit ini, Arni sudah mulai handal menggunakan Sniper Rifle walau harus menembak dalam posisi tiarap agar tepat sasaran. Karena bosan, Astan pun memperhatikan Gardin yang masih duduk di sampingnya sambil lanjut meminum isotonik.
“Hei, Bung.”
“Hm?” Gardin menoleh pada Astan sambil menutup botol minuman.
Astan memutuskan untuk mengajak Gardin bicara karena merasa bosan melihat latihan Arni yang begitu-begitu mulu.
“Kau pernah dengar rumor tentang asal-usul Sistem AutoTerra?”
Gardin mengernyit bingung. “Pernah dengar, cuma… agak lupa, sih. Memangnya kenapa?”
Astan menegakan posisi duduk. “Cuma pengen cari topik obrolan aja, sih. Suntuk lihat kecebong belajar nembak.”
Gardin hanya menatap datar Astan sebagai respon. Emang enggak ada akhlak makhluk bernama Astan Pradipta Cornell ini kalau ngeledekin orang.
Astan mulai bercerita, “Dulu sekitar 500 tahun lalu, banyak orang bilang kalau Sistem AutoTerra merupakan adaptasi dari sebuah artefak peninggalan alien. Entah alien jenis mana, yang pasti AutoTerra bukan asli buatan manusia.”
“Selama 500 tahun eksistensinya, AutoTerra menjadi sistem sempurna untuk berbagai perantara, bahkan sampai sekarang pun AutoTerra menjadi sistem yang sangat membantu untuk makin memajukan makhluk hidup.”
“Seiring berjalannya waktu, tidak ditemukan siapa yang benar-benar telah mengadaptasi AutoTerra dari artefak alien dan mengembangkannya sampai bisa digunakan oleh kita. Artefak alien-nya sendiri juga sampai sekarang tak pernah ditemukan, hanya sebatas rumor dari mulut ke mulut. Tapi para ilmuan meyakini bahwa rumor itu terdengar masuk akal.”
“Menurutmu bagaimana, Gardin? Apakah asal-usul sebenarnya AutoTerra perlu dipertanyakan?”
Mendengar semua penjelasan dan pertanyaan terakhir Astan membuat Gardin sempat dilanda bingung. Tatapan kedua mata heterokrom yang nampak bersinar tajam itu benar-benar hampir membuat Gardin mematung tegang.
Entah aura macam apa yang dimiliki Astan, Gardin merasa bahwa setiap kalimat yang dikatakan Astan terkesan ambigu.
Gardin pun berusaha tersenyum tuk melenyapkan kecanggungan dalam dirinya.
“Entahlah, Bung…. Sebenarnya, orang kecil seperti kita tidak patut mempertanyakan hal itu.”
Tatapan tajam Astan kini sedikit membelalak karena keterkejutan, menyadari bahwa yang dikatakan Gardin ada benarnya.
Kemudian, tatapan mata Astan pun kembali beralih pada Arni yang masih saja menembak musuh dalam posisi tiarap. Sesekali gadis itu nampak meregangkan tubuhnya, lalu kembali tiarap demi menembak beberapa boneka kayu hidup.
“Yang berhak mencari tahu adalah orang-orang paling berpengaruh di seluruh galaksi, seperti kelompok ilmuan yang kau maksud,” jawab Gardin tenang, “Untuk sekarang, kita tinggal menikmati fasilitas yang disediakan oleh sistem. Bisa meningkatkan kemampuan kita, mampu menyimpan berbagai macam barang tanpa batas. Bukankah itu suatu kelebihan yang sangat menguntungkan bagi suatu teknologi?”
Astan tersenyum simpul ketika mendengarnya, mengangguk sependapat.
“Ya, ya…. Kau benar.” Astan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tidak seharusnya orang-orang kecil seperti kita mempertanyakan itu, kan? Aish…! Gara-gara teringat topik tren di internet yang membahas teori-teori konspirasi AutoTerra, jadi bikin aku berpikiran yang tidak-tidak.”
Gardin tertawa canggung, “Haha…. Ya, kelompok teori konspirasi di internet memang cenderung menggiring opini masyarakat untuk mempercayainya. Topik yang mereka bahas kadang terdengar meyakinkan dan logis.”
Gardin mengecek jam tangannya. Sudah cukup lama ia berada di sini untuk latihan sampai akhirnya berhasil mencapai Pangkat Kayu. Istirahat di sini sambil melihat Arni latihan dan kadang mengobrol dengan Astan dirasa sudah cukup. Sudah saatnya untuk pulang.
“Kurasa sudah waktunya untuk kembali ke kabin.” Gardin pun mulai beranjak dari bangku.
“Kapan kau mulai ambil misi pertama?” tanya Astan.
“Besok, mungkin.”
Astan hanya membalas dengan anggukan, lalu kembali fokus mengawasi Arni.
Setelah berpamitan, Gardin berjalan menuju gerbang lapangan. Selama perjalanan, Gardin masih terbayang-bayang dengan nada bicara dan tatapan tajam Astan saat membahas topik tentang Sistem AutoTerra. Dan ketika ia berpendapat, raut wajah aneh itu langsung tergantikan dengan sikap santai seperti sebelumnya.
Orang-orang di Guild Thornic beranggapan kalau Astan adalah seorang pemburu aneh di Guild tersebut. Mungkin benar dengan anggapan mereka.
Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Astan yang membuat Gardin hampir ketakutan ketika melihat kilat matanya.
Sepeninggal Gardin dari lapangan latihan, Astan nampak mulai bosan. Memperhatikan Arni berlatih menembak dengan posisi begitu-begitu mulu membuat Astan mengantuk.
“Hoaam….”
Sesaat ia mengecek jam di ponselnya, sudah menunjukan pukul 13.05.
“Kalau kayak gini mulu, bakal lama ini. Tidur aja kali, ya.”
Astan pun mengambil posisi tidur dengan duduk bersender di bangku dan kepala agak mendongak ke atas.
….
Tiga jam lebih berlalu, Astan masih tertidur lelap di bangku pinggir lapangan dengan kepala mendongak ke atas dan mulut menganga, mengeluarkan beberapa tetes saliva saking nyenyaknya tidur.
Namun, acara tidurnya langsung disudahi oleh hantaman keras satu boneka kayu yang dilempar dari tengah lapangan ke pinggir bangku Astan.
“Eh, monyet! Eh, monyet! Gempa!!! Lah, tunggu dulu.” Ketika bangun, Astan langsung menyeka ilernya. “Mana ada gempa di dalam kapal antariksa? Kecuali kalau ketabrak meteor, sih. Tapi, kayaknya enggak mungkin, deh. Eh?”
Astan baru menyadari kalau ada satu boneka kayu hancur remuk di samping bangkunya.
“Woalah…. Ini ‘toh yang bikin aku bangun. Terus, yang bikin nih benda jadi kayak begini sia— Waduh.”
__ADS_1
Astan tercengang seketika ketika melihat sesuatu yang hebat terjadi di tengah lapangan.
Di sana terlihat Arni begitu cepat menembak beberapa Wooden Doll yang sekarang jumlahnya sudah semakin banyak dan gerakan mereka pun semakin lincah. Tapi, entah mengapa ekspresi Arni yang sekarang terlihat begitu marah akan sesuatu.
Tiga Wooden Doll berhasil tumbang. Kini Arni perlu mengisi amunisi, tetapi satu Wooden Doll tiba-tiba menyerangnya dari belakang.
[Mengaktifkan Sistem Pembaca Refleks Saraf]
[Invisible Type-1 : Aktif]
Tubuh Arni langsung menghilang. Sang boneka berusaha mencari keberadaan Arni yang tak nampak dimana-mana. Tanpa boneka itu sadari, Arni sudah muncul berjongkok di belakangnya dengan moncong senapan ditempelkan di antara pantat Wooden Doll.
Saat Wooden Doll menoleh, Arni menyeringai disertai amarah.
“Rasakan ini, pantat kuda!”
Arni menembak pantat Wooden Doll. Bukannya hancur, boneka itu malah melesat tinggi ke atas, menabrak atap lapangan hingga hancur, lalu remah-remahnya berjatuhan ke tengah lapangan.
Astan menyaksikan aksi itu dengan kedua mata menyipit. Tak menyangka kalau gadis selemah Arni bisa seganas itu mengalahkan musuh-musuhnya.
“Selera Arni unik juga dalam mengalahkan musuh,” komentar Astan. “Tapi… apa sebabnya? Kayaknya enggak mungkin deh Arni bisa sekuat ini.”
Setelah semua Wooden Doll telah dihancurkan dan tidak ada lagi Wooden Doll yang muncul, Arni terduduk di tengah lapangan karena kelelahan. Notifikasi sistem milik Arni pun muncul.
[Misi Berhasil!]
[B]
[Score : 5.100]
[Selamat! Anda naik level 5]
[Selamat! Anda naik Pangkat Kayu Level 1]
[Sekarang, Anda bisa menjalankan misi. Di mulai dari misi Tingkat D]
“AAAAAAAHHH!!! AKU BERHASIL, KAMPRET!!!”
Arni berteriak keras hingga suaranya menggema di seisi lapangan indoor kapal, merasa lega karena latihan kali ini sudah berakhir.
Astan pun berlari kecil menghampiri Arni di tengah lapangan. Ia tersenyum, menunjukan rasa kekaguman atas keberhasilan yang telah dicapai si gadis pecinta warna hijau itu.
“Bagus, Arni. Selamat, kau berhasil mencapai Pangkat Kayu.”
Tangan kanan Astan diulurkan demi membantu Arni berdiri. Tanpa sungkan, Arni menyambut uluran tangan itu dan mulai berdiri.
“Tapi, aku heran….” Pandangan Astan terarah pada boneka-boneka kayu yang jumlahnya cukup banyak, nampak hancur beratakan. “Di awal kau nampak payah latihannya. Di akhir, kok bisa— Wadaw?!”
Belum sempat selesai bicara, Astan terkejut ketika melihat ada dua pemuda sudah tergeletak di tengah lapangan, agak jauh dari posisi mereka saat ini. Ketika Astan hampiri, kedua pemuda itu sudah tak sadarkan diri dengan muka bonyok biru-biru dimana-mana, sebagian gigi mereka pun pada keropos.
“Lho, lho, lho? Ada dua biji laki di sini?” tunjuk-tunjuk Astan. “Kok bisa babak belur begini? Emang tadi beneran ada gempa kapal akibat benturan meteor, yak?”
Arni nampak diam berpikir sejenak, lalu tersenyum. Namun, senyumnya terkesan aneh di mata Astan.
“Bisa jadi…,” jawab Arni seadanya, masih disertai senyum.
Bahkan nada bicara gadis itu terdengar mencurigakan.
Astan menyipitkan mata, menatap lekat-lekat Arni.
Arni balas tersenyum.
Masih ditatap dengan tatapan sipit oleh Astan.
Arni tetap tersenyum.
Hmm…. Mencurigakan. Smell something fishy, Astan mencium bau ikan di sini.
“Aaa…. Ya, sudahlah. Ya, sudahlah….”
Arni langsung mendorong tubuh besar Astan menuju gerbang lapangan, dan pria itu tetap menatapnya dengan mata menyipit.
“Karena aku sudah selesai latihannya. Jadi, bagaimana kalau kita pulang saja?” tawar Arni dengan nada ceria.
“Aku belum selesai ngomo—.”
“Ah! Gini aja. Kita makan malam sama-sama di kafetaria. Oh! Oh! Ajak juga Bang Suda. Iya! Jemput Bang Suda dulu di tempat kerja, baru kita bisa makan sama-sama. Tapi, bayarnya pakai duitmu saja ya, Bang….”
Walau Astan masih menaruh curiga pada Arni, dia tetap mengikuti saran Arni untuk pergi makan malam bersama. Tapi pengecualian untuk mentraktir Arni dan Suda. Bisa selamat tinggal isi dompet Astan nanti.
Setelah Astan dan Arni keluar dari gerbang lapangan, salah satu pemuda sadar dengan kepala pening dan pandangan kabur. Tubuhnya gemetaran saat berusaha bangun, serta terasa lemas. Sempat terdengar gumamannya sesaat walau sangat pelan.
“Dasar… cewek ngeselin….”
__ADS_1
Dan pemuda itu pun kembali pingsan.
...~*~*~*~...