
“Selamat—Anu… menjelang pagi, Komandan Mavin dan Wakil Komandan Harnan.”
Keberadaan sebiji prajurit ini sungguh di luar perkiraan keduanya. Mavin dan Harnan bingung harus memberi alasan apa padanya. Kalau sampai ketahuan pihak militer markas, bisa gawat.
Bohong? Sogok? Atau dibikin koma saja?
Tidak, tidak…. Ide terakhir itu terlalu berisiko.
Si prajurit tak sengaja melihat ada kaki dan bagian tubuh seseorang tengah berdiri di belakang mereka. Dia jadi penasaran, siapa orang yang sedang bersama dua tokoh penting ini.
“Maaf kalau saya lancang, tapi yang di belakang itu sia—.”
Harnan mengeluarkan karung dari penyimpanan sistem miliknya.
“E— Hm!”
Tak peduli dengan rontaan Astan, Harnan langsung memasukan Astan ke dalam karung, lalu membawanya kabur menuju ujung koridor, tempat kamar yang masih kosong berada.
Si prajurit beberapa kali mengedipkan mata, menatap heran perilaku sang wakil komandan yang terbilang aneh. Bahkan Mavin pun juga ikut tercengang melihatnya. Tidak biasanya Harnan berperilaku begitu kalau sedang panik.
Dan sopankah membawa manusia ke dalam karung hidup-hidup? Lama-lama berbakat juga Harnan jadi psikopat.
Tak ingin menyia-nyiakan ‘jasa mulia’ wakilnya, Mavin mencoba tuk mencari alasan.
“Eee…. Itu tadi manekin buat majang seragam jenderal Pasukan Orbit terdahulu. Biar bisa dikenang….” Mavin langsung mengalihkan topik. “Ka-kau sendiri sedang apa di Sektor Industri?”
“Oh, saya sedang tugas berpatroli.”
Mavin menunduk, sekilas menyentil jidatnya sendiri. Kenapa dia bisa lupa soal ini?!
Setiap hari dan setiap waktu, akan disebar banyak prajurit Pangkat Perunggu sampai Perak untuk berpatroli secara bergantian di seluruh sektor Markas Grup Ribelo-II, tak terkecuali. Bahkan Sektor Industri yang minim akan keberadaan militer pun bakal tetap ada prajurit yang berpatroli.
Syukurlah, cuma ketemu sebiji prajurit ini doang.
Prajurit itu menggaruk pipinya canggung. “Saya kira tadi itu siapa. Kalau begitu, saya permisi dulu, Komandan. Mau balik patroli lagi.”
“Oh. Silakan, silakan.”
Si prajurit segera berbalik, berjalan keluar dari koridor Jalur 3.
Setelah dipastikan tidak ada prajurit lain di sepanjang koridor ini, Mavin segera pergi menyusul Harnan ke ujung koridor.
Saat tiba di kamar yang sudah terbuka, terlihat Astan dan Harnan sedang beradu argumen.
__ADS_1
Pasti soal masalah karung tadi.
“Seharusnya, kau tidak perlu membawaku pakai karung segala!” omel Astan tak terima. “Kau kira aku cewek loli pakai dikarungin segala?!”
“Ish! Jijik aku membayangkan situ jadi cewek loli. Mati ajalah aku, gantung diri di satelit operator!” balas omel Harnan. “Kalau kagak dikarungin kayak tadi, bakal ketahuan kalau kau itu orang, pemburu, bukan prajurit militer!”
“Ya, kan masih bisa bilang kalau aku ini buruh di sektor ini!”
“Tetap ketahuan! Dia punya Sistem AutoTerra, Jamaludin…!”
“Udah! Udah!”
Mavin menggetok kepala Harnan dan Astan sehingga keduanya mengaduh, mulai merasakan adanya benjolan di kepala mereka.
“Kalian ini…. Udah pada aman, malah berantem.” Mavin mulai bicara pada Astan. “Astan, ini kamarmu untuk sementara.”
Astan melihat sekeliling. Kamar ini terbilang kecil dengan satu tempat tidur dekat jendela, kamar mandi, dan toilet sendiri. Memang tak begitu luas, setidaknya kamar ini masih bersih walau cukup lama tak dihuni. Tidak masalah bagi Astan tidur di tempat seperti ini. Tidur dimana pun, jadi.
“Sementara ini, kau tidur di kamar buruh sampai kau dipertemukan dengan ketua tim yang akan menjalankan misi bersamamu nanti,” lanjut Mavin memberitahu, “Maaf, kalau agak sempit.”
“Tak masalah. Aku sudah terbiasa tidur dimana saja.”
“Ya, sudah. Kami harus pergi,” ucap Mavin, “Kalau untuk makanan, nanti bakal dikirim rutin oleh robot pembantu. Jadi, kau tidak perlu susah-susah keluar lagi.”
Komandan dan wakil komandan itu keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Astan seorang diri.
Keduanya berjalan melewati lorong Jalur 3. Selama berjalan, Harnan tengah memikirkan sesuatu tentang keadaan Astan yang kelihatannya kurang sehat.
“Komandan Mavin, kau tetap yakin untuk melibatkan Astan dalam misi?” tanya Harnan menyakinkan sekali lagi. “Bukan masalah tak mempercayainya. Tapi, dia nampaknya kurang sehat.”
Mavin menoleh sesaat ke Harnan. “Dia bukannya tidak sehat.”
Mata hijau terang Mavin menatap lurus pada jalan keluar dari Jalur 3 menuju area luas Sektor Industri. Pandangannya menerawang akan sesuatu, memperkirakan kondisi Astan yang memang terlihat lesu.
Ada apa gerangan? Mavin pun tak tahu.
Tapi, hanya satu kemungkinan yang bisa ditebak Mavin soal kondisi Astan.
“Dia hanya banyak pikiran.”
….
Segera Astan mengunci pintu agar tidak sembarang orang masuk. Bagaimana pun, ia tetap harus bisa bersembunyi di sini sampai mendapat kabar selanjutnya. Jangan sampai ketahuan pihak militer kalau dia merupakan orang luar, apalagi berprofesi sebagai pemburu Pangkat Besi.
__ADS_1
“Haaah….”
Astan menghela nafas, membanting tubuhnya di permukaan kasur ranjang. Mata heterokrom Astan menatap plafon kamar, tampilannya cukup berbeda dari plafon di kabin kapal karena warnanya nampak buram.
Sejak misi yang dijalankan bersama Arni dan Grim, Astan jadi lebih loyo, tidak bersemangat. Semua itu karena pikirannya selalu diganggu oleh halusinasi aneh. Terkadang ada obyek menyerupai panel glitch yang cukup mengganggu arah pandangnya.
[Anda menda— Mi—….]
Seperti yang ini. Dipikirkan sedikit saja, panel glitch itu muncul. Padahal, panel itu bukan panel Sistem AutoTerra yang bermasalah. Ada sesuatu tersembunyi di dalam diri Astan, tapi Astan sama sekali tidak tahu apa itu. Ada berbagai memori yang hendak meledak dalam pikirannya, tapi Astan tak yakin benarkah itu suatu memori atau hanya ilusi belaka.
“Astaga….”
Astan menggosok kasar wajahnya, makin pusing dengan pikirannya sendiri. Dengan ini, dia berharap bisa menyelesaikan misi secara lancar, pulang hidup-hidup, dan dapat menggapai kunci dari segala misteri yang masih terkunci rapat dalam dirinya.
“Semoga saja misi ini berhasil dijalankan.”
Astan meregangkan tubuh. Rasanya kaku dan capek setelah melakukan perjalanan dari kapal Guild kemari, dan datang secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pihak militer lain.
“Aaah…! Malasnya…! Kalau bisa, aku pengen tidur saja sampai bengek!”
...~*~*~*~...
Ruangan gelap, sunyi, dan sepi. Perkakas dan perabotan berupa barang-barang keperluan penelitian berserakan dimana-mana. Tabung-tabung penampung bahan penelitian di setiap sudut pecah, meja-kursi tergeletak di sembarang tempat, berbagai mesin canggih mati dan hanya mengeluarkan sedikit percikan-percikan listrik.
Tembok-tembok pembatas area serta yang ada di sepanjang koridor kotor oleh bercak-bercak merah. Darah, tulang, dan potongan daging busuk mengering di sepanjang jalan. Nampak sekali kalau semua tempat yang ada di sini sudah sangat lama tak terurus.
Bukan berarti tak ada tanda-tanda kehidupan. Lebih tepatnya, ada berbagai objek yang keadaannya saja membingungkan, bentuknya pun aneh-aneh.
Semua objek itu ada menyarangi setiap tempat-area yang ada di sini. Masih bertahan, diam di setiap sudut dengan berbagai posisi, wujud, bentuk, sifat. Mereka takkan pernah bergerak sampai ada tanda-tanda kehidupan lain menyusup kemari lagi, menjadikan para penyusup itu sebagai satu-satunya harapan mereka untuk tetap bertahan lebih lama.
Dari semua objek yang terdiam di posisi masing-masing dalam gelapnya ruangan, hanya ada satu yang wujudnya hampir tak nampak.
Bayangan, mendominasi dengan kegelapan di sini. Duduk bersender sambil menenggelamkan bentuk wajahnya di lutut. Dia terus bertahan dalam posisi seperti itu, pikirannya juga menerawang kemana-mana tak karuan. Bahasa tubuh yang dibentuknya nampak seperti seseorang tengah menunggu kedatangan orang lain untuk menjemputnya.
“Dia… akan kembali, kan…?”
Dia berbisik sendiri, seakan-akan ada orang lain yang dapat mendengar ucapannya dalam kekosongan ini.
“Dia… akan datang sebentar lagi kemari, bukan…?”
Terus berbisik dengan kalimat yang hampir sama. Namun, dirinya sendiri membalas dengan nada suara yang jauh berbeda dari sebelumnya. Wajah mendongak, kedua mata kuning terang yang sempat melotot mulai melengkung, menandakan rasa suka citanya.
“Iya…. Bajingan itu akan datang kemari menjemput kita…!”
__ADS_1
...~*~*~*~...