AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 27 : Masalah Score


__ADS_3

“Akhirnya ketemu juga kau, Pecundang….”


Ketiga pemburu itu masih anteng-anteng berdiri di hadapan Astan, Arni, dan Grim yang masih duduk-duduk di tengah hutan. Grim nampak menunduk, wajahnya pucat ketika harus berhadapan dengan ketiga pemburu ini.


Astan dan Arni sendiri merasa pernah melihat wajah tiga orang ini. Sontak Arni berbisik pada Astan.


“Bang, bukannya mereka tiga pemburu yang mencari pemburu lain gara-gara merebut banyak Score mereka? Yang kita lagi sembunyi di semak-semak?”


“Itu mereka…?” tanya Astan baru sadar.


“Iya.” Sesaat Arni melirik Grim yang masih murung. “Nampaknya yang mereka cari itu Grim, deh.”


Astan juga sempat melihat wajah Grim. Tidak seperti tadi yang terlihat masih ramah walau sungkan terhadap mereka berdua, kini dia malah terlihat takut-takut akan kedatangan tiga orang ini.


“Kita apakan orang yang sudah merebut banyak Score dari buruan kita, Miza?” tanya salah satu pemburu.


Pemburu lainnya juga baru saja menghapus panel sistemnya. “Dia sekarang udah naik level. Baru misah dari Squad kita, udah naik level 15. Sekarang udah level 20 aja. Cepet bener panennya.”


“Beneran?! Woi, Empang! Kau curi juga Score buruan dari pemburu lain? Dari dua pemburu cemen itukah…?”


“Hah?”


Arni nampak tak terima dikata begitu, sedangkan Astan masih datar memperhatikan kelakuan mereka.


Astan lihat dulu, mau apa mereka nantinya.


“Tenang, tenang…. Rizu, Panka.” Sang pemimpin bernama Miza itu kembali memberi seringai remeh. “Biarpun dia naik level sedikit, masih belum bisa menandingi kita yang sudah Pangkat Perunggu. Dia masih Pangkat Besi, kok. Sama seperti dua pemburu di sana itu.”


“Tunggu dulu.” Rizu nampak memperhatikan Astan. “Dia Astan, kan? Badut Guild kita?”


“Badut…?” Astan menaikan sebelah alis, lalu bergumam sendiri, “Manusia gua mana yang ngasih aku gelar Badut Guild?”


Ketiga kembali saling mengobrol, lebih tepatnya meremehkan Squad milik Astan.


“Ooo…. Orang aneh yang katanya lebih kuat dari pangkatnya sekarang?” tanya Miza, bersedekap. “Enggak kelihatan, tuh. Emang beneran, ya?”


“Tahu. Malah keliatan kayak gembel.”


Mereka malah menertawakan Astan begitu saja seakan-akan ledekan itu merupakan lelucon paling lucu.

__ADS_1


“Ish! Kali—.”


Astan mencegat Arni. Pria itu memberi aba-aba Arni untuk tetap diam, membiarkan sejauh mana mereka terus mengoceh.


Panka kelihatan memeriksa kembali panel sistem. “Oh! Oh! Aku baru mengintip isi penyimpanan mereka. Mereka panen banyak setelah misi berburu Mutant Frog.”


“Kenapa kalian—.”


Tentu Arni terkejut ketika menyadari penyimpanan mereka bisa diintip oleh Panka. Padahal, pemburu tidak akan bisa melihat penyimpanan sistem dari pemburu lain karena itu merupakan data pribadi.


Astan pun berbisik, “Aku malas mengecek data mereka. Tapi sepertinya, orang itu punya Kemampuan Utama Hack.”


Arni pun mengangguk paham. Seingatnya, Hack merupakan salah satu Kemampuan Utama yang paling meresahkan. Selain bisa mengintip hal-hal pribadi dari sistem milik orang, Hack juga mampu menghilangkan fungsi dari persenjataan pemburu lain.


Mereka mungkin harus berhati-hati dengan komplotan pemburu yang satu ini, apalagi komplotan ini semuanya berpangkat Perunggu.


“Kemampuan Hack mempunyai peluang besar untuk merebut hasil buruan kita dari penyimpanan sistem,” lanjut Astan, “Jadi, berhati-hatilah.”


Arni jadi dibuat makin panik dengan satu fakta ini. Tapi, dia lebih memilih untuk tetap diam dan mengamati.


“Pantas saja si Empang ini cepet naik level. Banyak panen rupanya mereka.”


“Hasil buruan kalian lumayan, apalagi kristal biru bakal sangat mahal kalau dijual. Jadi, bisa serahkan semua itu pada kami? Itupun jika kalian ingin selamat,” ancam Miza.


“Lagipula, Empang itu udah banyak mencuri Score dari kami,” timpal Rizu sambil menunjuk Grim. “Sudah saatnya ia membayar dengan hasil buruan yang kalian punya.”


Grim masih tertunduk, diam tak bicara sepatah kata pun. Arni menggigit bibirnya, sudah muak dengan sikap mereka bertiga, tapi tetap dia tahan karena sadar diri bahwa dia tidak bisa melawan mereka dengan pangkat dan level serendah sekarang. Sedangkan Astan masih bermuka datar, sama sekali tak nampak ekspresi apapun di wajah dengan luka di mata kiri itu.


“Heh.”


Satu suara singkat dari mulut Astan disertai seringai menjengkelkan sudah membuat Miza, Rizu, dan Panka naik pitam. Mereka pikir, bisa-bisanya seorang pemburu Pangkat Besi bernada remeh seperti itu.


“Kalian menyebut diri kalian sebagai pemburu berpangkat Perunggu? Yang benar saja…?”


Astan memutar dan melambung-lambungkan belati patahnya beberapa kali dengan santai.


“Pemburu mana yang berniat mengambil hasil buruan orang lain? Itu namanya menjarah, bukan berburu? Jadi, kalian-kalian ini….” Astan menunjuk menggunakan patahan belati. “Tidak pantas disebut pemburu, cocoknya disebut penjarah. Bukankah menjarah milik orang lain itu merupakan perbuatan pengecut?”


“Kalau mau cepat naik level, cepet dapat duit, ya rajin berburu ‘lah. Gitu aja kok males,” cibir Astan lagi.

__ADS_1


“Memangnya kenapa, hah?! Kami di sini sama sekali tidak bermaksud menjarah.” Panka menunjuk Grim. “Kami menuntut ganti rugi dari hasil Score Bonus yang telah orang sinting ini curi.”


“Sudah kubilang dari awal, aku tidak bermaksud mencuri Score kalian!”


Mereka terkejut mendengar Grim baru saja berteriak, tidak biasanya mereka melihat Grim berteriak sekeras ini.


Tiga orang pemburu ini awalnya merupakan rekan satu Squad Grim sebelum bertemu dengan Astan dan Arni. Dia keluar karena terus dirundung, dikata kalau ia mencuri banyak Score mereka. Padahal, semua Score Bonus yang didapat Grim itu memang karena efek Martial Tipe-1 miliknya aktif tak menentu, sehingga musuh-musuh dari Tingkat Easy dengan Status Kesehatan yang masih banyak pun sudah bisa dibunuh dalam waktu sekejap, apalagi dia menggunakan Shotgun yang dikenal sebagai salah satu senjata dengan daya serang tinggi.


“Sudah cukup dengan semua ini!” tegas Grim. “Kalian semua jangan bawa-bawa Ketua Astan dan Arni dalam masalah kita! Kalau kalian ingin aku ganti rugi Score Bonus yang telah kudapatkan dari kalian, ambil saja semua hasil buruanku ini! Kalian bisa mendapatkan hasil buruanku yang lain dari misi-misi selanjutnya untuk melunasi kesalahanku!”


“Kapan, hah…?” Miza memutar-mutar pistolnya. “Kapan kau bisa melunasinya dengan hasil buruan dari misi-misi berikutnya? Hasil buruanmu yang sekarang pun bahkan tak cukup untuk mengganti Score-Score yang telah kau curi. Mending bayar dengan hasil buruan kalian semua saja, biar masalah ini enggak jadi lebih panjang.”


“Yang makin memperbesar masalah ini kalian, otak tungau!” hina Astan pula. “Cuma sekedar Score, apa masalahnya? Pirang juga sudah mengakui bahwa dia tidak bermaksud untuk mencuri Score kalian. Oh, oh! Atau…. Sebenarnya kalian itu jauh lebih lemah dari si pirang. Makanya, Score kalian secara tidak langsung banyak ‘dicuri’.”


Ketiganya emosi, terutama Miza yang nampak menggertakan giginya penuh amarah. Orang bernama Astan ini benar-benar sangat meresahkan kalau sudah menghina orang lain.


“Omong kosong.” Rizu kembali menimpali. “Mana ada pemburu Pangkat Besi bisa menyaingi kekuatan pemburu Pangkat Perunggu seperti kami? Kami sudah mengurangi banyak Status Kesehatan dari semua musuh Tingkat Easy, dan dia cuma tinggal sekali tembak untuk membunuh mereka, otomatis dia dapat Score Bonus lebih banyak. Justru orang inilah yang pantas disebut pengecut!”


“Halah~ Basi!” Astan mengibaskan tangan. “Apa alasan kayak begitu cukup untuk membenarkan penjarahan? Kalau iya, sekolah kalian selama 12 tahun pasti cuma bolak-balik doang.”


Astan pun bersedekap tangan, menatap heran pada ketiga pemburu itu dan juga Grim bergantian.


“Emang kenapa sih kalian membesar-besarkan masalah Score dan Score Bonus ini?” tanya Astan heran. “Ngebet banget ya pengen naik level?”


“Hei! Kami ini beda dari kau yang malas naik level,” tunjuk Rizu pada Astan. “Keinginan kami adalah untuk menjadi pemburu terbaik! Bisa memiliki pangkat dan level tertinggi merupakan suatu kehormatan besar bagi setiap pemburu dari berbagai Guild.”


Rizu kembali melanjutkan dengan pedenya, “Kami bakal diberi gelar pahlawan terhormat. Menjadi yang paling terkuat adalah keinginan kami. Kami juga bisa mendapatkan apa saja yang kami inginkan jika sudah berpangkat Kristal di level puncak. Kami bisa mendapatkan harta, kehormatan, banjiran pujian, dan lebih banyak wanita yang bisa kami jadikan Harem. Itu semua merupakan gaya hidup yang akhir-akhir ini populer di kalangan pem—Agh!!!”


Miza dan Panka syok, Astan dan Grim tercengang. Intinya semua pria di sana terkejut ketika menyadari sosok Arni sudah ada di belakang Rizu, memukulnya sekeras mungkin menggunakan senapan sampai mental mengenai pohon.


Nampak Arni berdiri menunduk di posisi itu dengan nafas terengah-engah dan amarah menggebu-gebu. Kedua tangannya nampak gemetaran memegang senapan runduk, bukan karena takut, tapi itu bentuk reaksi dari kegeregetannya.


“Serendah itukah kau memandang para perempuan…?”


Nada bicara Arni bergetar, menekan amarah. Dan saat Arni mengangkat wajah, nampak seringai lebar mengerikan disertai kilatan tajam dari tatapan penuh rasa jijiknya.


“AKAN KUHANCURKAN BELALAIMU MENGGUNAKAN SNIPER RIFLE INI!!!”


Seketika semua pria yang ada di sana langsung pucat pasi.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2