
“Astaga!”
Edrick terkejut, begitu pula dengan anggota lainnya. Mereka baru menyadari jika di sekitar gerbang dan koridor terdapat potongan tubuh dan buraian daging busuk berserakan. Yang lebih mengejutkannya lagi, potong-potongan itu sebagiannya masih memakai zirah yang sama dengan milik mereka.
“Mereka… anggota tim lain…?”
“Mungkin mereka ini tim yang dulu pernah dikirimkan kemari sebelum tim kita.”
“Oh, yang katanya hilang kontak selama seminggu itu? Kok bisa jadi begini…?”
“Berarti, terbilang masih baru….”
Mereka syok menyadari rekan-rekan satu batalion berakhir mengenaskan seperti ini di dalam sebuah bangkai kapal. Sayangnya, beberapa anggota yang merasa agak mual harus tetap menahannya karena masih memakai zirah lengkap dengan helm dan alat bantu nafas.
Astan pun terkejut ketika melihat beberapa potongan bangkai itu, nampak sangat menjijikan. Dia tak percaya, makhluk macam apa yang bisa menyerang makhluk lain sebegitu bengisnya. Selama Astan menjadi pemburu, hampir tidak pernah ia melihat ada pemburu yang mati dengan cara mengerikan seperti ini di tangan monster.
Mungkin sebabnya karena Astan jarang ambil misi. Kalau ambil misi pun, selalu ia lakukan sendiri dan bisa ia atasi.
“Di sekitar sini juga ada jejeran pintu yang sudah sepenuhnya terbuka.”
Mereka juga menyadari di sepanjang koridor terdapat jejeran pintu yang terhubung dengan beberapa ruangan lain nampak terbuka semua.
“Apa kita periksa dulu?” tanya salah satu prajurit.
Edrick bertanya pada Wirma, “Bagaimana?”
Wirma pun mengecek radarnya. “Aman. Tidak ada objek mencurigakan di sekitar sini.”
“Oke. Tapi, tetap waspada,” peringat Edrick pada para anggota tim.
Beberapa di antaranya bergerak memasuki ruangan yang berbeda-beda, termasuk Astan dan Sadin.
Astan memasuki sebuah ruangan yang nampak seperti kamar kabin. Mungkin jejeran ruangan di sepanjang koridor ini merupakan kabin-kabin untuk para awaknya, pikir Astan.
Senter zirah memberi pencahayaan sesuai arah pandang Astan, gelap dan sepi, menelusuri setiap sudut ruangan. Terlihat sangat berantakan, perabotannya sudah rusak, dan kain-kain berserakan disertai bercak darah.
Baru kali ini Astan dihadapkan dengan situasi yang mirip dengan film-film horror-scifi.
Astan menulusuri seluruh ruangan, tak menemukan apapun yang mencurigakan. Sampai ketika dia berjongkok, menemukan sebuah lubang di samping lemari.
Lubang itu nampak kecil untuk seorang manusia bisa masuk. Dia mencoba agak menungging, menyinari lubang itu dengan senter, berusaha mencari tahu terhubung kemana arah lubang ini. Namun, sesuatu di balik lubang itu tidak begitu jelas terlihat, tetap gelap walau disinari senter bahkan dengan fitur penglihatan malam.
“Aneh….”
Astan pun berdiri, merasa percuma mencari tahu tentang lubang itu. Kemudian, ia kembali menelusuri ruangan.
Pria itu mencoba mengintip di bawah ranjang. Matanya membelalak menemukan kepala manusia membusuk, melotot dengan mulut menganga tepat di hadapan Astan.
__ADS_1
Spontan Astan berdiri, langsung menginjak ranjang tersebut sampai hancur saking kagetnya. Akibatnya, suara dari hancurnya ranjang itu terdengar jelas, membuat mereka kaget pula.
“Apa itu?!” ucap Wirma spontan.
“Eh, bonyok! Bonyok! Eh, bonyok! Aw!”
Wirma memukul bahu Edrick saat mendengar sang ketua masih saja susah menghilangkan kebiasaan latahnya.
“Sudah kubilang, jangan latah…!” bisik Wirma jengkel.
“Ya, maaf. Susah ngilangin kebiasaan dari kecil,” balas bisik Edrick. “Lagian, itu tadi suara apa? Bukan apa-apa, kan?”
“Dari radar sih enggak keliatan apa-apa.” Wirma sempat mengecek radarnya yang masih kosong.
Beberapa anggota yang sempat menulusuri ruangan lain segera keluar, bersiap dengan senjata masing-masing, membidik ke arah satu-satunya ruangan tempat asal suara keluar.
Mereka heran ketika yang keluar merupakan sosok Astan, masih lengkap dengan zirahnya sambil membawa sesuatu di tangan.
“Maaf, ngagetin. Aku kaget sama ini tadi.”
Semuanya langsung jijik saat Astan memperlihatkan potongan kepala busuk sudah remuk akibat kena himpit ranjang yang Astan injak.
“Ish, Astan! Apa-apaan kau ini…?!”
“Kau bikin kami semua hampir jantungan, tahu?!”
“Udah, udah…. Kalian jangan pada ribut begitu.” Wirma berusaha menengahi. “Kau juga, Astan. Jangan bikin kami kaget dengan hal-hal tidak penting seperti itu.”
“Sekali lagi, maaf.” Tanpa dosa, Astan membuang potongan kepala itu ke belakang. “Tadi itu aku kaget. Kayaknya, itu kepala termasuk salah satu anggota tim terdahulu. Busuknya enggak gitu kering-kering amat.”
“Bisa jadi, sih.” Sadin membenarkan. “Kayaknya, di sepanjang koridor sini, tim terdahulu banyak yang tewas. Kira-kira, apa yang bikin mereka mati di sini?”
Tenma yang merupakan prajurit tak banyak bicara mulai menyahut, “Tadi aku menemukan satu lubang kecil di ruangan yang kuperiksa.”
“Iya, sama. Aku juga.”
“Aku juga nemuin lubang yang sama.”
“Aku juga,” ucap Astan juga, mengikuti ucapan para prajurit lain. “Tadi nemuin lubang di dalam ruangan yang kuperiksa. Tapi, terlalu kecil dan gelap sangat. Bahkan senter ini dan fitur penglihatan gelap pun tidak bisa membantu melihat kegelapan di sana.”
“Kira-kira, lubang apa itu, ya?” Salah satu prajurit menggosok tengkuknya.
Para anggota tentu penasaran dengan lubang macam apa yang selalu ditemukan di setiap ruangan yang mereka periksa, lubang yang cukup kecil dan sangat gelap. Tidak mungkin itu merupakan lubang tembus untuk manusia, dan tidak mungkin ada pula hewan pengerat di dalam sebuah kapal luar angkasa.
“Gimana, Ketua?” Astan menoleh pada Edrick. “Ini… perlu diperiksa lubang-lubang yang kami temukan, atau lewati aja?”
“Terlalu kecil dan gelap, kan?” tanya balik Edrick, memastikan. “Sepertinya, kita perlu fokus saja dengan rencana awal kita. Nanti jadi sia-sia pula kalau kita memeriksa lubang-lubang itu satu-satu.”
__ADS_1
Beberapa anggota mengangguk, mengikuti saja apa saran dari sang ketua.
Edrick melenyapkan senjatanya ke dalam penyimpanan sistem, mulai mendekat, memegang sebelah bagian tuas pada gerbang di hadapan mereka agar bisa ia putar.
“Tiga orang bantu aku memutar sebelahnya,” perintah Edrick.
Tiga prajurit mendekat, mulai memegang bagian gagang tuas di sebelahnya.
“Kau yakin, sendirian saja memutar di bagian sana, sedangkan sebelahnya tiga orang membantu? Agak kurang seimbang jadinya,” tanya Wirma.
“Tenang. Aku Pangkat Emas. Tenagaku setara dengan tiga prajurit Pangkat Perak.”
Wirma hanya diam, mengiyakan saja. Pandangan matanya kembali fokus pada radar yang ia bawa. Mata Wirma sedikit membelalak saat menemukan beberapa titik misterius ditemukan berada tepat di balik gerbang.
“Satu, dua—.”
“Tunggu! Tunggu! Tunggu!”
Edrick dan ketiga prajurit diam saat Wirma memberi peringatan.
“Ada apa, Wakil Ketua? Ada sesuatu yang mencurigakan kau temukan?” tanya Edrick penasaran.
“Iya….” Wirma memperlihatkan radarnya pada Edrick. “Di balik gerbang ini, ada banyak objek mencurigakan terdeteksi.”
Edrick ikut melihat apa yang terdeteksi pada radar. Dia cukup terkejut, menyadari jika memang terlihat banyak titik biru di sembarang tempat ditemukan di balik gerbang yang hendak mereka buka.
“Masih titik biru, berarti masih aman, kan? Cuma objek misterius tak terdeteksi,” ucap Edrick tenang.
“Iya, aku tahu. Cuma, ada baiknya kita perlu waspada. Terkadang titik-titik biru ini bisa jadi merah, tergantung objek seperti apa yang kita temukan. Bisa jadi ‘kan, monster atau… semacamnya.”
Edrick mengangguk dengan tanggapan Wirma. “Okelah.” Ia langsung memberi perintah, “Semuanya, selagi aku dan tiga prajurit lain membuka gerbang ini, kalian bersiap di posisi kalian. Tetap waspada, berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan mendatangi kita.”
Semuanya mengangguk, mulai mengambil posisi masing-masing, bersiap untuk membidik. Dua anggota menghadap ke belakang, berjaga-jaga kalau ada yang tiba-tiba menyerang dari belakang, sedangkan sisanya bersiap di depan gerbang, di antaranya juga ada yang sempat menoleh ke atas dan ke bawah.
“Oke, siap?”
Tiga prajurit mengangguk, siap membantu Edrick memutar tuas gerbang.
“Satu, dua, tiga!”
Mereka berempat memutar tuas. Tuasnya cukup keras bahkan untuk prajurit berpangkat Emas seperti Edrick, jadi mereka harus memutarnya sekuat tenaga. Setelah tuas berhasil diputar sepenuhnya, mereka masih perlu menggeser gerbang hingga benar-benar terbuka.
Gerbang pun digeser sampai terbuka. Kini mulai terlihat sebuah area luas yang sangat gelap. Beberapa prajurit mengarahkan senter zirah mereka. Mereka kembali dikejutkan dengan apa yang ditemukan di depan sana.
“I-ini….”
...~*~*~*~...
__ADS_1