
Seluruh staf yang bekerja di ruang komando sontak terkejut melihat kedatangan Mavin secara tiba-tiba di sana. Sang komandan panik, nafas tak teratur, dan keringat dingin sedikit membasahi dahinya. Di belakang Mavin, Harnan baru saja tiba menyusulnya, ikut masuk ke dalam ruang komando.
“Segera sambungkan komunikasi dengan Tim Aravan071! Ini darurat!” perintah Mavin tegas ketika sampai di meja tengah ruang komando.
Beberapa staf segera melakukan apa yang diperintahkan Mavin lewat masing-masing komputer mereka. Namun, salah satu staf menyampaikan kabar tak mengenakan.
“Maaf, Komandan. Kami beberapa kali berusaha menyambungkan komunikasi dengan Tim Aravan071. Namun tidak berhasil karena kendala jarak dan tidak adanya teknologi perantara sinyal.”
Mavin menggosok kasar wajahnya. Mereka sama sekali tidak bisa menghubungi tim tersebut, padahal ini situasi darurat. Mereka juga tidak akan mendapat kabar apa-apa dari tim, membuat Mavin jadi semakin khawatir.
“Sialan….”
Kalau sudah begini, hanya doa yang bisa membantu tim tersebut. Mavin hanya berharap, semoga mereka selamat.
...~*~*~*~...
Mayat Lavisto dan Irawan baru saja ditemukan oleh Kelompok Edrick di salah satu ruang penyimpanan data. Tubuh mereka sudah terbujur kaku, sama sekali tidak dirasakan adanya denyut nadi. Zirah yang mereka kenakan rusak, bahkan helm mereka pun telah lepas.
“Benar seperti dugaan.” Bery bersedekap. “Mereka mati seperti Kelompok Wakil Wirma, bahkan keduanya mati lebih dulu.”
“Tidak ada semacam flashdisk data atau apa pun yang sengaja mereka keluarkan dari penyimpanan sistem?” tanya Astan serius. “Aku heran. Yang kita temukan hanya mayat mereka berdua. Kemana Tenma?”
Edrick dan Bery baru menyadari kalau keberadaan Tenma sama sekali tidak ditemukan dekat Lavisto dan Irawan. Apakah rekan mereka yang satu itu selamat atau mati di tempat yang lain?
Baru saja mereka memikirkan kejanggalan itu, seseorang baru saja keluar dari sebuah ruangan dekat ruang penyimpanan. Orang itu memakai zirah yang sama dengan mereka. Tentu saja dia adalah rekan satu tim mereka.
Ketiganya bernafas lega ketika menyadari orang tersebut adalah Tenma yang masih hidup. Syukurlah, dia selamat dan tidak ikut mati bersama kedua rekannya.
“Tenma, kau masih hidup?” tanya Bery senang.
Tenma sama sekali tak menjawab. Justru yang selanjutnya terjadi sangatlah tak terduga.
Sosok Tenma melesat cepat ke arah Bery, melempar tubuhnya keluar dari ruang penyimpanan dengan sangat keras hingga menghancurkan tembok, tembus menuju ruangan lain.
__ADS_1
“Tenma, apa yang—.”
Belum sempat Edrick bicara, Tenma melesat lagi ke arah Bery terlempar, menembus tembok hancur tersebut.
“Apa yang terjadi di sini?!” jerit Astan tak percaya.
“Kita harus menyusul mereka!”
Astan dan Edrick keluar dari ruang penyimpanan. Mereka sempat mengecek lubang besar tembok yang dihancurkan Tenma menggunakan lemparan tubuh Bery. Rupanya, tembok tersebut terhubung dengan bagian plafon sebuah ruang komando. Ruang komando itu terlihat sangat luas, penerangannya pun juga stabil menandakan kalau energi Inti Kapal disalurkan secara maksimal ke sana.
“Aku jadi bingung dengan desain arsitektur kapal ini,” sindir Astan spontan.
“Bery!”
Keduanya syok melihat Bery sudah tewas seketika di lantai kebiruan itu dengan perut hancur akibat kena injak sedemikian keras, bahkan zirahnya yang sangat kuat pun tidak bisa menahan serangan sefatal itu.
Edrick dan Astan segera terjun ke ruangan itu, mendarat tepat di samping tubuh mati Bery. Lagi-lagi keduanya dibuat tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Keberadaan Tenma yang masih hidup sudah hampir membuat mereka lega. Namun tak disangka, rekan satu tim sendiri sampai berbuat sebengis ini.
Membunuh rekan sendiri dengan cara yang sangat mengerikan.
Edrick agak kena mental. Dia merupakan pemimpin dari tim ini, bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada rekan-rekan. Kematian yang membuat seluruh anggota timnya mati mengenaskan sungguh membuatnya terpukul. Ditambah lagi, satu tim mereka malah bertindak sejahat ini.
Astan memperhatikan postur kaku Edrick. Walau terhalang helm, Astan bisa mengerti kalau sang ketua merasa sangat terpukul atas apa yang terjadi sekarang. Walau sudah beberapa kali berusaha menahan rasa syok selama menjalankan misi di kapal terkutuk ini agar bisa tetap fokus, tetap saja rasa bersalah dan takut terus menghantui.
Dalam situasi sesunyi ini di dalam sebuah ruang komando, Astan dapat merasakan kehadiran seseorang jauh di belakang mereka. Astan menoleh, membelalak saat menyadari sesuatu melesat ke arah Edrick.
“Edrick! Awas!”
Karena terlalu banyak pikiran negatif, Edrick jadi tidak fokus, tidak menyadari bahwa ada serangan dadakan. Beruntung Astan sigap melindungi sang ketua, mengeluarkan senapan serbu dari penyimpanan sistem, memukul benda melesat yang merupakan bongkahan mesin itu kembali ke asal menggunakan senapan.
Dari kejauhan, hampir saja lesatan mesin itu mengenai sang pelempar kalau saja ia tidak gesit menghindarinya.
“Ergh! Apa yang kau lakukan, Tenma?! Kenapa kau berani membunuh Bery, rekanmu sendiri?! Kau juga ingin membunuh Ketua?!”
__ADS_1
Saat berteriak tegas, Astan baru menyadari semua kejanggalan yang terjadi selama mereka berpencar. Tenma berani membunuh Bery, itu berarti ada kemungkinan jika Tenma juga terlibat dalam kematian rekan-rekannya.
Astan menodongkan moncong senapannya ke arah Tenma yang masih berdiri di jarak jauh, bertanya dengan nada suara tenang tapi mengintimidasi, “Katakan, kau yang membunuh rekan-rekan kelompokmu dan Kelompok Wakil Wirma, bukan?”
Edrick memandang Astan tak percaya. Orang ini tiba-tiba sembarangan menuduh rekan sendiri sebagai pembunuh.
“Astan—.”
Astan mengangkat satu tangan di hadapan Edrick, meminta sang ketua untuk diam. “Kau perlu menenangkan pikiranmu dulu, Ketua. Kematian rekan-rekan kita sudah cukup membuatmu terpukul. Tapi, cobalah sedikit lagi untuk fokus. Orang seperti dia harus dihadapi dengan pikiran dingin.”
Di balik helm, kedua mata heterokrom Astan semakin menyipit tajam saat memperhatikan sosok Tenma. “Aku juga tidak mau sembarangan memfitnah orang, itu bukan gayaku. Tapi ketika melihat Bery dibunuh sekeji itu, aku jadi berasumsi kalau kemungkinan besar kau juga yang membunuh rekan-rekan tim lainnya, Tenma.”
Masih berdiri jauh di hadapan mereka, Tenma bersedekap dengan tenang seakan-akan apa yang selama ini ia lalui di sini bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
“Jika iya, kau mau membunuhku juga?”
Gigi-gigi Astan bergemeretak, tapi emosi masih berusaha ia tahan. Yang dilakukan Tenma sudah melampaui batas, tidak manusiawi. Lantas, apa tujuannya membunuh mereka semua? Untuk apa ia bergabung dalam misi kalau ujung-ujungnya cuma menghabisi teman-teman satu tim?
“Apa yang kau pikirkan, Tenma? Apa tujuanmu membunuh mereka semua? Kau tidak akan mendapatkan apa pun setelah membunuh mereka.”
“Kau salah.”
Astan dan Edrick diam, mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan Tenma.
“Keputusan untuk berpencar sangatlah bagus, Ketua Edrick,” sindir Tenma. “Sehingga hal itu dapat memudahkanku untuk menghabisi orang-orang yang kemungkinan besar akan memojokanku. Dan dengan cara itu pula aku mendapatkan sesuatu yang menarik.”
Dua benda kecil muncul di tangan Tenma setelah dikeluarkan dari penyimpanan sistem. Astan dan Edrick dibuat terkejut. Kedua benda tersebut merupakan flashdisk milik Kelompok Wirma dan Tenma sendiri.
“Ini cukup untuk membatalkan persidangan BioEmerald. Tapi, tujuanku yang sebenarnya bukanlah ini.”
Tenma kembali menyimpan dua flashdisk itu ke penyimpanan sistem. Satu tangannya terulur, meminta sesuatu dari mereka berdua.
“Serahkan Chip Sistem Re:Set padaku.”
__ADS_1
...~*~*~*~...