
“I-ini… apa…?” tanya Ranka heran.
Astan memutar bola mata. “Suatu portal. Grim yang menemukannya di balik semak-semak hutan. Masih belum jelas portal jenis apa ini, tapi yang pasti bukan portal Dungeon karena ukurannya terlalu kecil.”
“Sistemnya sulit dideteksi oleh Sistem AutoTerra, tapi efeknya bisa dibaca. Semua efek yang diberikan merupakan efek untuk meningkatkan dan menyempurnakan kemampuan serta kekuatan musuh. Oleh sebab itu, kami kesulitan menyelesaikan misi walau misi ini Tingkat D. Rasanya seperti menyelesaikan misi Tingkat C dan B dengan peringkat kami sekarang gara-gara portal ini.”
“Jadi, portal kecil ini mampu meningkatkan kekuatan dan kemampuan musuh?” tanya Tessa memastikan.
“Kami belum pernah mendapat laporan seperti ini sebelumnya dari pemburu lain.” Kemudian Ranka menoleh ke Tessa. “Kau sendiri pernah?”
Tessa menggeleng dengan ekspresi wajah berpikir. Dia benar-benar bingung dengan laporan ini. Pihak Guild sama sekali tidak memberitahukan masalah ini. Apakah mungkin portal tersebut memang baru kali ini muncul?
“Jadi, kalian juga tidak tahu?” Astan menghapus panelnya. “Enggak apa-apa. Cuma kasih tahu itu aja, sih. Kami cuma pengen masalah ini dilaporkan ke pihak Guild biar bisa ditindaklanjuti. Biar bisa juga ngasih peringatan ke pemburu lain kalau yang kayak begini bisa mengganggu aktivitas berburu.”
Tessa mengangguk. “Oke, oke. Pasti akan kusampaikan ke Ketua atau Wakil Ketua. Tapi sebelumnya, bisakah kau mentransfer informasi yang kau dapat tentang portal itu ke database kami?”
“Tentu.”
Setelah selesai mentransfer data dan tidak ada hal lain lagi yang perlu diurus. Astan, Grim, dan Arni berpamitan pergi dari meja resepsionis.
Sepeninggalnya mereka bertiga, Tessa nampak dengan seksama memperhatikan ringkasan informasi dan gambar portal misterius tersebut. Memang benar, portal itu bukanlah portal Dungeon seperti biasanya. Terlalu kecil untuk dimasuki rombongan orang, malah ukurannya sama seperti lubang sarang hewan pengerat.
“Tessa, kau baik-baik saja?” tanya Ranka cemas.
Ranka jadi mencemaskan keadaan Tessa. Selama berhari-hari, pekerjaan Tessa jadi semakin padat. Beberapa kali juga wanita itu berusaha bersikap sabar dan sopan ketika berhadapan dengan para pemburu dengan sikap yang macam-macam. Rasanya, Tessa nampak jarang istirahat, bahkan Ranka bisa melihat jelas kantung matanya.
Sontak Tessa agak kaget saat ditanya Ranka. “A-aku baik-baik saja. Aku hanya penasaran portal jenis apa ini. Selama aku bekerja di Guild, aku belum pernah mendapat laporan tentang kemunculan portal seperti ini. Menurutmu, apa Guild lain pernah menemukan portal ini?”
Ranka sempat berpikir. “Kalau Guild-Guild besar sepertinya pernah menemukan portal ini. Ah, sudahlah….” Ranka mengibaskan tangan. “Jangan terlalu dipikirkan hal itu. Mending kau balik ke kabin dan istirahat saja dulu, Tes. Sudah jam malam ini. Masalah ini biar besok saja dilaporin ke Ketua atau Wakil. Matamu itu udah macam abis kena pukul preman.”
Karena komen Ranka, buru-buru Tessa memandang pantulan wajahnya di cermin kecil yang ia keluarkan dari saku rok. Memang benar, matanya terlihat begitu lelah dan samar-samar terlihat sepasang lingkaran berwarna gelap.
“Ya sudah, Tes. Aku mau siap-siap balik ke kabin dulu. Kau juga musti segera balik. Atau, mau pulang bareng?” tawar Ranka harap-harap cemas.
Tessa menggeleng pelan. “Kau saja dulu. Nanti aku nyusul.”
Ranka hanya mengangguk lesu sebagai balasan dan berjalan memasuki ruangan di belakang meja resepsionis.
Lagi-lagi Ranka gagal PDKT dengan Tessa. Sudah beberapa kali Ranka mengajak wanita itu untuk sekedar pulang sama-sama ke kabin, makan sama-sama, atau jalan-jalan bareng, tapi tetap saja hasilnya ditolak.
Saat melihat Ranka berjalan lesu menuju ruang loker, salah satu rekan staf kapal yang tengah bersih-bersih sambil ditemani robot pembersih kecil bersiul ke Ranka. Sontak pemuda itu menoleh dengan tatapan datar.
“Apa?” sahut Ranka bete.
Sang staf berbisik dari jauh, “Ditolak, ya?”
“Ish! Nih anak mau aku sambit pakai laci loker, yak?!”
“Ehehehe….”
Sang staf buru-buru kabur sambil cekikikan sebelum Ranka mengambil ancang-ancang hendak menghajarnya. Si robot kecil yang tak tahu apa-apa cuma bisa ikut kabur menyusul rekannya.
“Dasar, demen banget lihat temen tersiksa,” ucap Ranka suntuk sambil mengacak-acak rambut hitamnya, kemudian masuk ke ruang loker.
...~*~*~*~...
Ketika baru saja keluar dari lobi, Astan, Grim, dan Arni sama-sama jalan melewati koridor kapal antariksa. Di jam segini, terlihat cukup banyak penghuni kapal berlalu-lalang karena kebetulan ini jam pulang kerja, banyak orang perlu kembali ke kabin masing-masing untuk beristirahat dan mempersiapkan diri tuk bekerja keesokan hari.
__ADS_1
“Jadi, kau ke Dek Medis dulu tuk berobat, Bang?” tanya Arni, masih jalan bersama kedua pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.
Astan menggosok dada telanjangnya. “Ya, gimana lagi? Aku musti melakukan pemeriksaan pada luka-luka di tubuhku sebelum efek pil penyembuhnya berkurang.”
“Emang apa sebabnya kau tadi bisa terluka? Bukankah kau masih bisa mengaktifkan Shield?”
Pertanyaan Grim sontak membuat Astan termenung. Dia teringat akan sebab mengapa ia gagal fokus. Ketika Astan kehilangan fokus, sistemnya juga tiba-tiba mengalami mati total, tidak aktif. Terbukti saat sistem milik Arni dan Grim masih bisa memberi peringatan, sistemnya sama sekali tidak ikut merespon.
Ditambah lagi, Grim memberitahu bahwa Sistem AutoTerra miliknya mendeteksi bahwa data statistik Astan tiba-tiba saja tidak stabil setelah ia kehilangan Assault Rifle.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada dirinya?
“Kembalilah….”
Dan kenapa rintihan-rintihan itu mulai mengganggu pikirannya?
“Ah, sudahlah. Mungkin karena aku sudah mulai kelelahan. Kau tahu, aku berperan sebagai umpan tadi. Banyak sekali monster yang kuhadapi, makanya aku cepat lelah,” ucap Astan santai.
Memang masuk akal alasan yang diberikan Astan. Tapi Grim yakin, ada sesuatu yang lebih tidak beres lagi pada diri Astan.
Ya, mungkin saat ini Astan tidak mau cerita. Apalagi Grim baru kenal dengan Astan, tidak seharusnya Grim mengurusi urusan orang lain.
Dan soal Arni, Grim pikir gadis itu masih belum tahu apa-apa tentang dunia perburuan. Bisa dilihat dari raut wajah Arni yang mudah saja mempercayai perkataan Astan. Dia masih sangat baru sebagai pemburu, jadi wajar saja.
“Ya sudah, kalau begitu. Kau istirahat saja sehabis berobat ke Dek Medis,” kata Arni perhatian, “Soal berburu bersama, kapan-kapan saja kita lakukan.”
“Ayolah, kau tidak perlu mencemaskanku begitu.”
“Kau ini…! Kau sudah kuanggap seperti abangku sendiri, tahu?! Tentu saja aku cemas.”
“Oke, oke. Terima kasih atas perhatianmu, Manis. Aku harus segera pergi ke Dek Medis. Kau juga harus segera pulang ke kabin, nanti abangmu makin khawatir.” Lalu Astan beralih pandang ke Grim. “Kau sendiri mau kemana sekarang?”
“Kabinmu ada dimana, Mas?” tanya Arni disertai senyum tipis.
Grim hampir salah tingkah gara-gara senyum itu, Arni terlalu manis di pandangannya.
“E-anu….” Grim mengelus belakang kepalanya, sedikit grogi. “Di Jalur 5, dekat kafetaria.”
“Hah? Jalur 5?”
Grim dan Arni menatap heras Astan ketika ia terdengar hampir berteriak karena terkejut.
Menyadari keterkejutan Astan, Arni pun menjawab dengan ceria, “Oh! Kebetulan sekali…! Bang Astan juga tinggal di kabin Jalur 5.”
“O-oh, sungguh?” tanya Grim terkejut pula.
“Nomor kabinmu berapa?”
“117.”
“Woah…! Punya Bang Astan 115. Berarti kalian tetanggaan, dong.”
“Wah…. Iya. Hehe….” Grim tertawa canggung. “Kok aku baru sadar, ya? Soalnya, kabin di urutan nomor begitu jarang—.”
Ucapan Grim langsung terhenti saat dirasa ada aura-aura mencekam di sekitar Astan, pandangannya menimbulkan kilatan tajam, mirip seperti Bos gim yang hendak mengeluarkan kemampuan Ultimate untuk menghabisi sang pahlawan.
“E-eh…. Aku balik dulu, dah. Aku baru ingat musti memperbaiki toilet yang tersumbat. Senang bisa satu Squad dengan kalian. Dah!!!”
__ADS_1
Grim buru-buru ngacir ke belokan koridor meninggalkan mereka berdua, bahkan ia sempat menabrak salah satu robot pembersih yang lewat.
Melihat reaksi ketakutan Grim, Arni pun memandang Astan sambil berkacak pinggang.
“Apa?” tanya singkat Astan saat ditatap begitu.
“Kau menakutinya, Bang.”
“Menakuti apa? Orang katanya dia lagi buru-buru.”
“Ck, ck, ck….” Arni berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau sudah kembali ke kabin, sapa dia. Kasih dia sesuatu ‘kek, biar bisa menjalin tali silaturahmi antar tetangga yang baik.”
Setelah memberi nasihat itu, Arni segera pergi melewati belokan koridor, mendahului Astan yang tengah memasang muka suntuk.
“Kasih sesuatu biar bisa menjalin tali silaturahmi, katanya,” cibir Astan sambil bersedekap.
...~*~*~*~...
Jam sudah semakin larut di Kapal Antariksa Thornic 035. Koridor dengan jejeran kabin bernomor di Jalur 5 juga saat ini tengah sepi, tak ada siapa-siapa lagi yang lewat.
Di depan pintu kabin nomor 117, terdengar suara bel pintu berbunyi sesering mungkin secara membabi buta.
“Iya, sebentar!”
Sang penghuni yang saat ini memakai setelan baju tidur warna merah muda dengan motif kucing-kucing imut langsung membukakan pintu. Tapi anehnya, tidak terlihat siapa-siapa di depan pintunya, bahkan di sepanjang koridor kabin.
“Hmm…. Aneh. Tidak ada siapa-siapa di luar. Siapa sih yang iseng main bunyi’in bel? Eh?”
Baru saja Grim hendak kembali masuk dan menutup pintu, tapi niatnya tertahan ketika menemukan sebuah kotak berwarna cerah.
“Kotak dari siapa ini?”
Grim juga menemukan sebuah kartu elektrik bertulis pesan sang pengirim.
“Tertanda, ‘Dari Astan, rekan seperjuangan’, katanya. Oh! Ketua Astan, rupanya. Memang dia mau ngasih apa dari dalam kotak ini.”
Grim pun membuka kotak itu. Tak disangka-sangka dari dalam kotak keluar sebuah sarung tinju melesat kencang menggunakan per ke arah wajah Grim. Akibat itu, wajah Grim berhasil kena tinju, kacamatanya pecah, dan saat bersamaan pula benda tersebut juga hancur akibat Bug Martial/Shield milik Grim tetap aktif.
Tentu saja Astan mengirimkan kotak tersebut bermaksud untuk mengerjai Grim.
“Aduh! Hahaha….” Grim tertawa sambil menggosok hidung mancungnya. “Bermaksud untuk menjalin silaturahmi antar tetangga, ya…?”
Untung Grim anaknya baek….
...~*~*~*~...
[Sekarang : Arc 1]
[Judul : Pemburu]
[Bagian Chapters : 1-33 Chapie]
[Status : Selesai]
[Selanjutnya : Arc 2]
__ADS_1
[Status : Memuat....]
...~*~*~*~...