
Di jam pagi itu juga, setelah sarapan, Astan menemani Arni menuju resepsionis Guild untuk mengambil beberapa keperluan sebagai pemburu baru. Kemarin tidak sempat mengambil karena Arni ada janji untuk membantu temannya.
Tessa menaruh sebuah Sniper Rifle model sederhana, sebotol kecil pil penyembuh, dan amunisi di atas meja, menyerahkan semua barang itu pada Arni.
“Nah…. Ini semua merupakan modal awal untuk menjadi pemburu,” jelas Tessa, “Memang terbatas. Tapi tak apa, kan?”
“Tidak apa, Kak. Ini sudah cukup.”
Arni mengambil senapan itu, menyentuh dan memperhatikan modelnya yang masih sangat sederhana.
“Wah…! Inikah senjataku?” ucap Arni tercengang. “Tapi, kok berat?”
“Sniper Rifle memang berat, sayang…,” ucap Astan dengan nada agak jengkel. “Lagipula kenapa sih nekat pilih-pilih Sniper? Kagak ada senjata lain, nape? Untuk bocah sepertimu, cocoknya senjata pertama itu pistol. PI-ES-TOOOL!!!”
“Ya, elah…. Aku pilih Sniper Rifle karena aku pengen jadi seperti idolaku, Veena Muskarov!” tegas Arni.
“Hilih~ Mau kayak Veena Musmampus ‘kek, Veena Munaroh ‘kek, Veena Mukabengek ‘kek, yang pasti Sniper Rifle itu enggak cocok buatmu, Jubaedah…!”
Awalnya Astan tidak tertarik dengan si Veena Muskarov itu, tapi ujung-ujungnya dia malah tanya ke Tessa.
“Eh, emang siapa sih Veena Mukherjie itu?”
“Veena Muskarov….”
“I-iya, siapalah itu.” Astan melet-meletin lidahnya sendiri macam kadal. “Lidah lokal, nih. Susah sebut nama kek begituan.”
“Haaah….” Tessa memutar bola matanya. Susah juga hadepin cowok udik macam Astan.
Resepsionis berambut cokelat kepang itu membuka data pada komputer hologramnya, memperlihatkan info dan foto seorang wanita bermantel perak, kulit putih porselain, dan rambut pirang panjang memegang senapan runduk putih gading dengan posisi membidik.
“Veena Muskarov itu merupakan salah satu pemburu elit yang sangat ahli dalam menggunakan senjata jenis senapan runduk. Dia itu merupakan pemburu Pangkat Emas, dan sekarang sudah mencapai level 81. Sangat terkenal di kalangan para pemburu antariksa,” jelas Tessa panjang lebar, “Dia dulu memulai debutnya sebagai pemburu di Guild IvoryClaws sejak usia 18 tahun. Beberapa kali pindah Guild sampai akhirnya dia bertahan di Guild Northfangs hingga sekarang.”
Tessa kembali melanjutkan, “Selain terkenal karena keahlian berburunya seperti Assassin, dia juga memiliki paras yang sangat cantik, menawan bak boneka dengan bentuk tubuh aduhai…. Siapa saja pasti akan terpesona dengannya, karena dia juga anggun, bijaksana, dengan tutur kata sopan bak bangsawan.”
“Iya!” timpal Arni dengan semangat. “Itulah mengapa aku ingin sekali menjadi seperti Nona Veena Muskarov!”
“Hilih~ Sok-sok’an pengen jadi dia.” Astan menyentil jidat Arni sampai gadis itu mengaduh. “Badan kayak kuli kurcaci gini, mana bisa berevolusi jadi bidadari khayangan?”
Arni menggembungkan pipinya jengkel. Rasa pengen mencubit badan Astan meningkat, tapi tak mungkin karena badannya berotot. Pasti enggak kerasa apa-apa kalau dicubit.
Astan menyipitkan mata, memperhatikan gambar dari Veena pada monitor komputer dengan seksama sambil menggosok dagunya.
“Bener juga, sih. Cakep banget orangnya. Enggak pernah aku lihat cewek secakep ini,” puji Astan. “Bisa ikutan naksir aku kalau kayak gini.”
“Naksir?” Arni meledek, “Sadar diri, woy! Mana mau Nona Veena Muskarov sama gembel dekil sepertimu? Nona Veena Muskarov itu cocoknya sama cowok keren, tajir, kuat lagi.”
“Yaa… Aku memang belum tajir, sih. Tapi jangan salah, lho. Aku ini kuat, tahan 30 kali di ranjang seharian penuh. Dijamin puas, lah.” Dengan pedenya Astan menyugar rambutnya ke belakang.
“Preeet…. Kalau beneran kuat di ranjang, kok sampai sekarang masih perjaka?” goda Tessa, “Enggak pernah dengar tuh kalau seorang Astan Pradipta Cornell pernah kencan sama cewek….”
“Pffft….”
Tessa maupun Arni tertawa akan godaan Tessa sendiri, membuat muka Astan mendadak masam mendengarnya.
__ADS_1
Memang fakta, sih. Dari lahir sampai sekarang di usia ke-23 Astan belum pernah pacaran.
“Udah, ah! Ngapain juga bahas soal cewek yang kagak pernah bisa digapai oleh rakyat jelata penjilat tanah sengketa seperti saya?”
“Lah? Sadar diri, dung? Baguslah,” ledek Tessa lagi.
“Ahahaha…!”
Lagi-lagi kedua perempuan itu menertawakannya.
“Situ duluan yang nanya, Mas….” Tessa mulai mengalihkan topik. “Jadi itu modal awal sebagai pemburu baru, Dek Arni. Senjata yang udah dipilih di awal enggak bisa diganti lagi, kecuali bisa nambah lagi kalau sudah sampai di Pangkat Perunggu.”
“Caranya untuk sampai Pangkat Perunggu bagaimana, Kak?”
“Mustahil!” Kini giliran Astan menimpal. “Lewati tanjakan ke neraka dulu baru kau bisa sampai di Pangkat Perunggu! Eh, boro-boro sampai Pangkat Perunggu, Pangkat Kayu aja kagak nyampe-nyampe.”
Arni mencak-mencak, “Ish, Bang Astan malah ngeledek!”
“Haha…. Entar aku aja jelasin soal sistem pangkat dan level di AutoTerra. Kalau minta jelasin ke Tessa, kagak bakal sempat dia buat layanin pemburu lain di sini. Dia juga kerja.”
“Tapi kalau kau yang ngejelasin lawak mulu!”
“Seharusnya, kau bersyukur abangmu punya teman penuh warna dan keceriaan sepertiku ini. Susah lho nyari teman antik macam aku ini.”
“Antik kayak aki-aki….”
Lagi-lagi Tessa meledek hingga keduanya menertawakan Astan untuk kesekian kalinya.
“Ampun, Bang Alim…. Ampun….” Tessa mengambil posisi seolah-olah bersujud, tapi masih dengan tawa tertahan.
“Ahaha…. Okelah, Kak.” Arni mulai bertanya pada Tessa, “Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan?”
“Biar saya cek dulu data diri Anda, ya….”
Tessa membaca data dari Arni yang kini sudah tertera di monitor hologram. Ia cek semua data itu tanpa meninggalkan sedikit bagian pun. Astan pun juga bisa melihat data Arni lewat monitor tersebut.
[Nama : Arni Siragan]
[Jenis Kelamin : Wanita]
[Usia : 17 tahun]
[Profesi : Pemburu]
[Pangkat : None]
[Level : None]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Senjata Utama : Sniper Rifle Basic (Grade-D)]
[Senjata Tambahan : -]
__ADS_1
[Senjata Pendukung : -]
[Kemampuan Umum : Invisible Type-1]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[-Strength : 5]
[-Agility : 5]
[-Vitality : 5]
[-Intelligence : 5]
[-Dexterity : 5]
[-Luck : 5]
“Oke, lengkap. Semua statistik dimulai dari lima poin, akan meningkat otomatis sesuai pangkat-level dan keahlian bertarung Anda.” Tessa melenyapkan monitor hologram, “Pangkat dan level Anda masih kosong. Jadi tidak bisa mengambil misi apapun.”
“Lho, lho!” Arni nampak panik. “Terus, bagaimana caranya aku naik level kalau tidak bisa mengambil misi?”
“Anda disarankan untuk melakukan pelatihan bagi pemula untuk mendapatkan Score sampai level 5 di lapangan pelatihan khusus yang berada di dekat Dek Kru,” jelas Tessa, “Jika jumlah Score sudah terkumpul mencapai level 5, otomatis Anda akan dapat Pangkat Kayu level 1. Nah, setelah itu baru bisa ambil misi paling mudah dulu, yaitu misi tingkat D.”
“Jadi, apa ada yang perlu ditanyakan lagi?”
“Kurasa tidak ada, Tessa.” Astan menyela, “Nanti bakal aku jelasin sambil mengawasinya latihan. Sekarang, cukup daftarkan aku dan Arni dalam satu Squad.”
“Satu Squad?” tanya Arni terkejut. “Kau, aku, satu Squad?”
“Memangnya apalagi, Bocah? Abangmu mempercayakanku untuk mengawasimu, tentu kita musti satu Squad.”
Tessa terkekeh sesaat, “Hehe…. Oke, oke. Akan saya daftarkan kalian sebagai satu Squad. Jarang-jarang Anda ikut Squad, Tuan Cornell.” Tessa kembali mengaktifkan monitornya. “Biasanya Anda selalu menjalankan misi seorang diri sampai-sampai orang pada curiga ketika kau berhasil menyelesaikan misi tingkat C sendirian dengan pangkat yang tak sesuai.”
“Sudahlah…. Jangan coba-coba menyindirku lagi, Tessa. Kupingku udah panas sejak kemarin, ini.” Astan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Tessa mulai mendaftarkan Astan dan Arni dalam satu Squad. “Kalau ada notifikasi, langsung tekan ‘YA’, oke?”
Tak berapa lama, notifikasi sistem muncul di hadapan mereka masing-masing.
[Apa Anda ingin bergabung dalam Squad?]
[YA] [TIDAK]
Keduanya sama-sama mengklik ‘YA’, otomatis mereka resmi bergabung dalam satu Squad.
“Selamat sudah bergabung menjadi Squad,” ucap Tessa ramah, “Dan selamat berlatih!”
Keduanya berpamitan pada Tessa dan pergi meninggalkan meja resepsionis. Tujuan mereka sekarang adalah ke lapangan pelatihan untuk membantu Arni naik level, setidaknya sampai punya Pangkat Kayu.
Astan memutar bola matanya. Mulai sekarang, dia bakal jadi pengasuh anak.
...~*~*~*~...
__ADS_1