AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 52 : Kapal Feron 072


__ADS_3

Pesawat luar angkasa angkutan Tim Aravan071 terbang begitu cepat dari Planet Ribelo menunju tempat tujuan. Seluruh anggota kini sedang duduk di tempat duduk masing-masing, menunggu sang pilot dan kopilot memberhentikan pesawat sampai di tujuan.


Selama dalam perjalanan, Edrick dan Wirma beranjak dari tempat duduk, mulai memberi penjelasan rinci soal misi pada para anggota tim.


“Oke, kami akan menjelaskan beberapa rincian misi untuk mengingatkan kalian. Dan juga, kita akan membuat rencana sebelum tiba di Kapal Feron 072.”


“Sebelumnya, aku akan mengatakan bahwa posisi Kapal Feron saat ini ada di sekitar Planet Nocturne,” kata Wirma, “Kalau menggunakan kecepatan FTL dari pesawat ini, kira-kira butuh waktu kurang-lebih dua jam untuk sampai ke sana.”


Sebuah panel hologram berukuran besar muncul di hadapan mereka, menunjukan gambar denah dari sebuah kapal antariksa.


Edrick menunjuk denah pada panel. “Ini adalah denah Kapal Feron 072 yang kita tahu dari informasi yang ada pada data kemiliteran.”


“Kami juga sudah mentransfer rincian denahnya pada sistem kalian untuk berjaga-jaga,” tambah Wirma.


Benar saja. Panel sistem mereka tiba-tiba saja muncul, menunjukan denah Kapal Feron 072 serupa dengan yang ditunjukan Edrick dan Wirma. Panel sistem Astan pun juga menunjukan gambar yang sama.


“Struktur dan area-area di sini sama dengan yang ada pada kapal antariksa pada umumnya.” Edrick mulai menjelaskan, “Kapal ini sudah tiga tahun kehilangan kontak, jadi kemungkinan besar sistem pembangkit tenaga dan bahan bakarnya juga tak berfungsi lagi.”


“Misi utama kita adalah mengumpulkan lebih banyak bukti data tindak ilegal antara Perusahaan Feron dan Organisasi BioEmerald. Jadi, ada beberapa titik tempat yang kita targetkan. Tempat-tempat itu kemungkinan besar menyimpan semua data yang kita cari.”


“Pertama, Dek Publik. Dek Publik ini merupakan wilayah kapal yang paling luas. Kita tidak perlu menelusuri ke seluruhan dek, mengingat kita juga dikejar waktu untuk menuntaskan misi ini. Tempat yang pasti perlu kita datangi adalah Area Perkantoran. Di sana pastinya menyimpan banyak informasi tentang bukti penyeludupan, penggelapan dana, dan data-data dari siapa saja yang terlibat.”


“Kedua, Dek Medis, tepatnya di Area Laboratorium. Ada berbagai macam Area Laboratorium di sana, mulai dari Lab Kimia, Lab Farmasi, sampai Lab Biologi. Usahakan untuk menelusuri semua area lab ini, karena data-data berisi eksperimen ilegal ada di sana, terutama data dari eksperimen menduplikasi Sistem AutoTerra.”


Lagi-lagi Astan masih dibuat heran dengan jenis eksperimen ini. Dia, bahkan anggota militer yang ada di sini, masih tak percaya jika Sistem AutoTerra dapat diduplikasi.


Lalu, objek macam apa yang dihasilkan dari eksperimen ini? Apakah akan membahayakan mereka di kapal antariksa sana?


Edrick kembali melanjutkan, “Ketiga, Dek Keamanan. Kita bisa mendapatkan database keamanan yang ada di sana, dan juga berbagai bukti rekaman. Dari semua rekaman tersebut, kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di Kapal Feron 072 tiga tahun lalu.”

__ADS_1


“Tapi….” Edrick mencoret ketiga tempat itu menggunakan jarinya pada panel hologram. “Semua tempat itu tidak bisa kita akses.”


Samar-samar terdengar para anggota saling berbisik, merasa kebingungan dengan pernyataan soal semua area kapal tidak bisa diakses. Kalau tidak bisa diakses, lalu bagaimana caranya mereka menelusuri seluruh kapal dan mencari banyak bukti?


Wirma menghela nafas, “….Dengarkan dulu lebih jelas, oke? Cara untuk kita bisa mengakses semua tempat dan fasilitas yang ada di sana adalah—.”


Sang wakil melingkari satu tempat yang berada agak belakang dari Dek Publik.


“Dengan pergi ke Area Pembangkit Energi. Kita akan mencoba menyalakan generator Inti Kristal untuk bisa mengaktifkan energi dari Inti Kapal agar memudahkan kita mengakses banyak tempat,” jelas Wirma, “Hanya saja, kemungkinan besar generatornya tidak akan berfungsi dengan sempurna karena kapal tersebut sudah tiga tahun lamanya tidak beroperasi. Pastinya punya beberapa kerusakan komponen.”


“Setidaknya, masih mending bisa dinyalakan. Yang penting, kita bisa lebih mudah mengakses tempat-tempat yang kita targetkan. Tidak masalah jika energi Inti Kapal tidak sampai mengakses beberapa wilayah seperti Dek Hidroponik, Area Industri, dan beberapa tempat yang tidak kita targetkan,” tambah Edrick pula.


“Permisi, Ketua.” Salah satu anggota bertanya, “Bagaimana caranya kita mengakses Area Pembangkit Energi, sedangkan lokasinya saja berada agak di tengah-tengah badan kapal? Bukankah semua wilayah tidak bisa diakses tanpa adanya Inti Kristal untuk membangkitkan energi Inti Kapal? Pesawat ini juga mustahil langsung mendarat ke sana, bukan?”


Dengan tenang Edrick menjawab, “Kita masih bisa pergi ke Area Pembangkit Energi dengan cara membuka gerbang-gerbang yang terhubung ke sana secara manual. Akan sangat susah dan butuh banyak orang untuk bisa membuka setiap gerbang karena gerbangnya sangat keras, dan tidak bisa diledakan atau ditembus oleh semacam laser pemotong untuk membukanya karena dilapisi baja tebal.”


Satu lagi prajurit hendak bertanya, tapi sudah langsung dijawab Wirma sebelum pertanyaan itu dikeluarkan.


Sang prajurit berwajah memaklumi. Agak tak nyaman ketika sang wakil sudah tahu dari awal apa yang ingin ia tanyakan.


Edrick menjelaskan lagi, “Jadi, tujuan pertama kita adalah Area Pembangkit Energi. Setelah energi Inti Kapal dinyalakan menggunakan generator Inti Kristal, kita akan berpencar ke beberapa tempat yang ditargetkan. Jangan khawatir soal Inti Kristal, aku sudah membawanya di penyimpanan sistemku.”


“Selebihnya, kita akan menjalankan misi ini sesuai arahan Ketua ataupun aku. Di tengah-tengah, mungkin rencana kita akan berubah sesuai situasi yang kita hadapi. Jadi, tetap waspada dan usahakan misi ini berjalan dengan lancar,” tambah Wirma juga.


“Siap!”


Setelah lebih dari dua jam perjalanan, kecepatan pesawat sudah mulai melambat, pemandangan luar angkasa lewat jendela pesawat juga mulai nampak jelas.


Astan pun sudah bisa melihat jelas pemandangan luar. Namun, kedua mata heterokromnya membulat saat tiba-tiba ada objek aneh menabrak jendela pesawat di dekatnya.

__ADS_1


“E-eh, apa itu?” ucap Astan kaget.


Spontan beberapa anggota juga ikut melihat objek tersebut. Mereka tidak kalah terkejut ketika menyadari objek tersebut merupakan tubuh manusia yang sudah hancur, bentuknya tak karuan, mengeras, terombang-ambing di luar angkasa. Yang membuat mereka semakin terkejut adalah pakaian yang dikenakan tubuh tersebut merupakan zirah dari batalion mereka.


“I-itu…. Personel yang sempat dikirim dari batalion kita, bukan?”


“Kok bisa jadi kayak begitu…?”


Edrick menajamkan pandangan mata biru terangnya. Hal seperti ini sudah sesuai dugaan bersama Mavin dan Harnan sebelumnya. Para personel yang dikirimkan ke sana dan kehilangan kontak sudah dipastikan tewas.


Tapi, tak disangka kematian mereka akan berakhir setragis ini.


Selain itu, mereka juga melihat cukup banyak puing-puing benda rongsokan melayang di luar sana. Puing-puing itu diduga merupakan sisa benda-benda atau bagian dari Kapal Feron 072 yang telah rusak terkikis.


“Ketua, kita sudah sampai,” ucap sang pilot.


Kini pesawat terbang semakin melambat, mendekati sebuah objek kapal antariksa besar yang berada di sekitar permukaan biru gelap Planet Gas Nocturne.


Sekilas, pemandangan ini cukup membuat beberapa anggota ngeri melihatnya. Tentu saja ini cukup mengerikan, melihat sebuah bangkai kapal terombang-ambing selama tiga tahun sampai hampir mengorbit di sebuah planet gas.


Astan menatap datar pemandangan tersebut. Dia tidak tahu harus bereaksi apa, semuanya terasa hampa bagi Astan. Sampai ketika matanya kembali membola, menemukan sekilas bayangan dalam pikirannya.


“Aku dipercaya untuk mengawasi pergerakan perusahaan ini di kapal mereka. Semoga saja, aku bisa naik pangkat dan punya Unit-ku sendiri, sepertimu.”


“Itu bagus. Aku sudah tidak sabar menunggu pencapaianmu untuk kesekian kalinya.”


“Hehe…. Tentu saja, Sobat. Setelah ini, aku pasti akan menyusulmu.”


Astan menunduk, memijat pelipisnya. Dia baru saja mendapat penglihatan aneh soal seseorang yang tengah bicara dengan orang lain. Mereka nampak dekat, dan suara dari salah satunya terdengar hampir mirip dengan Astan.

__ADS_1


“Ish…. Apa-apaan tadi…?” desis Astan kesal.


...~*~*~*~...


__ADS_2