
Astan melanjutkan kembali cerita tentang mimpi misteriusnya, sedangkan Mavin mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang terlewat sambil mencatat sebagian yang menurutnya penting di catatan ponsel.
“Selain suara rintihan….”
Astan membuka panel sistemnya, mengaktifkan audio panel, dan memperlihatkannya pada Mavin.
[Selamat Datang di Sistem Operasi AutoTerra]
“Suara menyerupai sistem juga ikut terdengar.” Astan menghapus panelnya. “Terkadang suara itu bilang, harus menjalankan misi. Kalau tidak, akan dihukum.”
Mavin mencatat cerita itu, berpikir tentang suara menyerupai Sistem AutoTerra. Sepertinya, Mavin memang patut mencurigai tentang mimpi macam apa yang diderita Astan.
“Selama aku tinggal di kapal antariksa ini, mimpi itu sangat jarang terjadi. Namun akhir-akhir ini hampir setiap malam muncul, bahkan saat sadar begini pun ada halusinasi serupa dengan mimpi itu yang mengganggu aktivitasku. Contohnya, saat aku menjalankan misi kemarin, saat santai, dan setelah kau bercerita tadi juga sekilas muncul.”
“Suara rintihan itu terdengar membutuhkan bantuanku, dan memintaku untuk kembali. Tapi, aku tidak tahu harus kembali kemana.” Astan memijit pelipisnya. “Mimpi serta halusinasi ini makin lama, makin menggangguku saja. Entah kapan semua ini berakhir. Aku hampir tak sanggup lagi.”
“Oke.”
Mavin menutup catatan di ponsel, merasa informasi yang didapat dari Astan sudah cukup. Mavin bisa mengambil kesimpulan, tapi masih belum berani menyatakan pernyataan pada Astan sebelum semuanya benar-benar jelas.
“Dari yang kudengar, kau memiliki masalah terhadap mimpi serta halusinasi serupa yang makin lama makin mengganggumu, begitu?”
Astan diam tak menjawab. Tapi dari diamnya, Mavin anggap itu sebagai ucapan iya.
Mavin mengetuk-ngetuk penanya di atas meja. “Aku masih belum menangkap tentang bayangan, suara rintihan, serta suara menyerupai sistem. Tapi, yang membuatku yakin adalah tentang lokasi mimpimu, sebuah lorong kapal antariksa. Apa kau memiliki semacam ingatan tentang lorong kapal itu? Atau sebenarnya lorong yang dimaksud merupakan lorong Kapal Thornic 035 ini?”
“Aku yakin itu bukan lorong Kapal Thornic 035.” Astan berusaha mengingat mimpinya. “Itu… merupakan lorong yang dipenuhi oleh darah dan mayat-mayat.”
“Kau merasa takut saat mengalami mimpi atau halusinasi seperti itu?”
Astan mengelus tengkuknya, “….Terkadang…. Entahlah, aku tak yakin. Yang jelas, mimpi dan halusinasi seperti itu sangat menggangguku. Bahkan rekan Squad-ku kemarin sempat bilang, terjadi sesuatu pada diriku saat aku hilang fokus akibat halusinasi ini. Dia bilang, data statistik dari Sistem AutoTerra milikku tidak stabil.”
“Apa rekanmu tahu kalau itu disebabkan karena halusinasimu?”
Astan menggeleng. “Tidak. Aku hanya bilang kalau mungkin efek karena kelelahan.”
Satu hal lagi yang makin membuat Mavin bertanya-tanya. Padahal dari penjelasan awal tadi, Mavin sudah dapat mengambil kesimpulan sendiri. Tapi kalau masalah data statistik sistem yang tak stabil akibat halusinasi yang dialami Astan, Mavin sama sekali tidak menemukan titik terangnya.
“Mengesampingkan tentang masalah data statistikmu yang tidak stabil, aku lebih ingin membahas tentang cerita awalmu tadi,” kata Mavin tenang, “Lorong sebuah kapal antariksa yang dipenuhi oleh darah dan mayat-mayat? Kira-kira mayat seperti apa yang kau lihat?”
Astan kembali berusaha mengingat mimpinya. “Emm…. Manusia, rata-rata memakai seragam putih maupun semacam seragam resmi yang… aku sendiri tidak tahu.”
__ADS_1
“Kau tidak menyadari bahwa itu mungkin saja sebuah ingatan?”
Sontak Astan terdiam seribu bahasa. Bingung untuk menanggapinya.
Sebuah… ingatan…?
Astan sendiri tidak yakin jika itu sebuah ingatan, dia sama sekali tak merasa bahwa pernah berada dalam situasi seperti yang ada dalam mimpi.
Tunggu dulu…!
Astan terkejut dengan sendirinya, menyadari akan sesuatu. Beberapa alasan membuat pikiran Astan sangat kacau selama ia mengalami mimpi dan halusinasi serupa.
Pertama, data statistik Sistem AutoTerra tidak stabil. Kedua, kekuatannya dianggap lebih kuat ketimbang pangkat dan levelnya yang masih terbilang rendah. Dan terakhir, pikirannya seakan-akan memiliki ingatan yang hilang, tapi dia sama sekali tidak merasa bahwa benar-benar memiliki suatu ingatan yang belum tentu itu adalah ingatannya.
Sungguh, Astan lebih memilih keliling lapangan seumur hidup sampai mati pusing daripada memikirkan masalah ini.
“Kau sudah memiliki titik terangnya?” tanya Mavin yang sempat heran ketika melihat Astan melamun sebegitu dalamnya.
Pria berambut jingga itu lebih memilih diam, mencengkeram kepalanya yang perlahan mulai terasa pusing.
Melihat kediaman Astan, Mavin pun menghela nafas sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi dan bersedekap.
“Aaah…. Itulah alasan mengapa aku menganggapmu sebagai Ash, Wakil Ketua Unit Leston09, Astan Pradipta Cornell, yang tak ada kabar selama berada di Kapal Feron 072,” kata Mavin tenang, “Kau mungkin masih ingin mengelak, tapi dari ceritamu saja sudah bisa kutebak bahwa mimpi serta halusinasimu merupakan cara alam bawah sadarmu untuk menyampaikan pesan kalau kau memiliki sesuatu yang kau lupakan.”
Perlahan cengkeraman kedua tangan dari kepala Astan terlepas, pikirannya berusaha mencerna apa yang dikatakan Mavin barusan.
Apa yang dikatakan Mavin ada benarnya. Ada jenis otak manusia yang akan selalu mengingat hal paling menyakitkan dalam hidupnya. Dan dalam sebab tertentu, ada saat otak benar-benar menghapus suatu ingatan agar reaksi tubuh serta mental tetap stabil.
Misalnya, situasi yang dimaksud berupa sebuah kecelakaan yang menyebabkan otak menghapus ingatan seseorang?
Itu berarti, Astan mengalami semacam amnesia?
“Jika benar kau merupakan Ash yang kami cari, mungkin saat ini kau sedang mengalami amnesia,” lanjut Mavin kembali, “Pikiran bawah sadarmu berusaha menyampaikan sesuatu yang sangat penting agar kau bisa mengingatnya. Dan mungkin sesuatu yang penting itu ada hubungannya dengan ketidakstabilan data statistik sistemmu.”
“Baru kali ini aku mendengar statistik sistem bisa tidak stabil. Mungkin mengalami Bug?” tebak Mavin. “Tapi aku yakin, dalam kasusmu ini bukan Bug. Apalagi jika benar kau memang terlibat dalam kejadian di Kapal Feron 072.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan?”
Mata heterokrom Astan menatap serius kedua mata hijau Mavin, sedangkan Mavin membalas demikian disertai kilatan mata yang disebabkan dari pantulan lampu gantung di atas meja.
“Jika memang benar aku adalah Ash, sang Wakil Ketua Unit Leston09 yang saat ini dalam keadaan amnesia, apa yang harus kulakukan agar kembali membuka ingatanku? Ini juga kulakukan agar mimpi dan halusinasi memuakan itu bisa lenyap selamanya dari pikiranku.”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Astan, membuat seringai lebar muncul di wajah rupawan sang komandan. Siapapun yang melihatnya, serupawan apapun wajah Mavin, pasti banyak orang akan merasa bahwa seringai itu terlalu mengerikan.
“Aku punya sebuah penawaran yang pasti dapat membantumu mencari jawaban tentang ingatan, dan kebebasan pikiranmu dari mimpi serta halusinasi yang selama ini menghantuimu.”
Sebuah tab muncul di telapak tangan Mavin dari penyimpanan sistemnya. Dia mengklik data dokumen, dan mendorongnya di meja sampai tiba di hadapan Astan.
Astan yang bingung mengernyitkan alis. “Apa ini?”
Mavin kembali melempar senyum yang bahkan terlihat menggelikan di pandangan Astan.
“Ikutlah dengan tim kami untuk pergi ke Kapal Feron 072.”
...~*~*~*~...
Sejujurnya, selama aku bikin 3 chapie ini, aku mengalami 3P (Pusing, pening, puyeng). Kadang ga ngerti sama apa yang aku bikin.
Aku ngerti permasalahan yang dialami Astan dalam Arc ini, tapi cara menyampaikannya ke pembaca yang sulit. Itu juga pas lagi masa-masa melawan WB. Hampir aja nih cerita berhenti di tengah jalan.
Tapi, karena tekad dan kesungguhanku yang gajelas seantero dunia-akhirat. Akhirnya aku, sebagai Author dari cerita ini, memutuskan untuk--
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.