AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 66 : Sadin


__ADS_3

Beberapa detik sebelum kejadian, Sadin kembali berlari menuju Bilik C menggunakan Kemampuan Invisible. Sebelumnya, dia sempat tertahan karena syok melihat kemunculan makhluk aneh di dalam dasar Inti Kapal.


Yang dipikirkan pemuda itu sekarang adalah fokus memasang Inti Kristal ke generator. Makhluk itu tidak akan bisa menakuti dirinya. Sayangnya, Sadin tidak menyadari jika makhluk tersebut kini bergerak menuju Bilik C.


Di jalur jembatan kanan, Astan dan Tenma juga sedikit lagi akan sampai ke Bilik C. Beberapa monster sempat menghalangi jalannya, Barkata dan Poison Spider. Tentu keduanya langsung menembak tanpa pikir-pikir dulu. Apapun yang menghalangi jalan akan segera mereka habisi, kecuali Leechesta karena kalau ditembak malah akan semakin berbahaya.


“Tinggal sedikit lagi kita akan sampai,” ucap Astan semakin mempercepat larinya.


Di seberang sana, tubuh Sadin mulai terlihat jelas setelah efek Invisible hilang. Astan bersyukur melihat Sadin baik-baik saja. Pemuda itu juga sedikit lagi akan mencapai tangga Bilik C. Tiba-tiba dari komunikasi zirahnya, Astan mendengar suara panik Edrick.


“Astan, Sadin, Tenma! Sesuatu mendekat ke arah Bilik—.”


Jembatan jalur bergetar hebat, berguncang ketika dirasa ada sesuatu dari bawah sana mendekat. Semua monster yang merasakan guncangan ini terdiam, mengurungkan niat untuk kembali menyerang para prajurit, mulai waspada dengan sesuatu yang menakutkan bagi mereka.


“Apa yang terjadi?” ucap Astan sambil berusaha menahan keseimbangannya.


Sadin juga terlihat berusaha menahan keseimbangannya dengan berpegangan erat pada pagar tangga. Sadin tidak bisa melanjutkan langkahnya ketika melihat ada retakan besar di depan tangga.


“I-ini tidak—.”


Guncangan ini makin lama makin keras, menjatuhkan serpihan-serpihan kecil area di bagian atas. Kemudian secara tiba-tiba, muncullah objek yang sama sekali tidak mereka harapkan, mengacaukan semuanya, mengacaukan rencana yang sudah mereka susun.


“GRRRRAAAAH!!!”


Satu tentakel raksasa muncul dari dasar Inti Kapal, melilit seluruh bagian Bilik C, menariknya keras sampai hancur, membuat puing-puing Bilik C berjatuhan ke dasar Inti Kapal.


“Sadin!”


Astan panik melihat Sadin di seberang sana. Patahan tangga di depannya makin menyebarkan retakan sampai ke bawah kaki Sadin. Prajurit muda itu hendak segera menjauh, tapi tangga yang ia pijaki sudah keduluan hancur.


“Aaaaarrrgh…!”


Terlambat sudah. Tubuh Sadin jatuh bersama puing-puing bilik ke dasar Inti Kapal yang panas.


“Tidak, Sadin!”


“Astan!”


Astan hampir jatuh menyusul Sadin, tapi syukurlah Tenma mampu menarik Astan, membawanya menjauh dari patahan jembatan.


Menyadari kejadian mengejutkan itu, seluruh monster menjerit histeris dengan suara yang berbeda-beda. Mereka langsung pergi menuju lubang-lubang asal, berusaha menghindari sesuatu yang menurut mereka sangat berbahaya.


….


Seketika suasana hening, senyap. Tidak ada suara keributan lain lagi selain desiran mesin Inti Kapal yang masih aktif. Astan terduduk di ujung patahan jembatan, menundukan kepala meratapi apa yang baru saja terjadi di hadapannya.

__ADS_1


“Astan, kau….”


Tenma yang sempat prihatin dengan keadaan Astan menghampirinya. Tangan Astan terangkat ke arahnya, memberi aba-aba bahwa dia baik-baik saja. Astan hanya sedikit syok setelah melihat dengan begitu jelas makhluk tadi menghancurkan seluruh Bilik C dan membuat Sadin jatuh. Dia tak menyangka jika masalah sebesar ini bisa terjadi di luar perkiraan mereka.


Bukan hanya Astan, Tenma pun sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Walau tak begitu jelas karena saat itu dia berada di belakang Astan, Tenma masih bisa melihat sosok Sadin jatuh ke dasar Inti Kapal bersama puing-puing bangunan.


Hal ini tak pernah terbanyangkan. Dalam sebuah perencanaan, pasti ada saja yang akan mengacaukannya di tengah jalan, seperti makhluk tentakel tadi.


“Astan, Tenma. Jalur jembatan sudah bersih. Semua monster telah pergi setelah kejadian tadi. Kembalilah ke ruang kontrol. Kita akan menyusun rencana baru untuk melanjutkan misi,” perintah Edrick lewat komunikasi helm.


Di dekat Astan, Tenma mengulurkan tangannya, hendak membantu Astan berdiri dari posisi duduk. Sesaat Astan memperhatikan telapak gauntlet itu, lalu memperhatikan wajah Tenma yang masih tertutup oleh helm.


“Kita kembali.”


Astan mengangguk pelan. Tangannya balas meraih tangan Tenma, mulai berdiri setelah di bantu sang rekan.


Pria pemilik surai jingga itu sempat berpikir, dua prajurit telah gugur pada tugas kali ini, tapi itu takkan bisa menghalangi mereka menyelesaikan keseluruhan misi. Masih ada banyak anggota yang bertahan, senantiasa saling membantu. Tidak semestinya ia berlarut dalam kesedihan dan duka.


“Terima kasih, Kawan,” ucap Astan ramah setelah berdiri di samping Tenma.


“Terima kasih kembali untuk yang di bilik sebelumnya,” balas datar Tenma seperti biasa.


Tenma berjalan mendahului Astan menuju ruang kontrol. Sebelum menyusul, Astan sempat menoleh ke dasar Inti Kapal, warna dasarnya hampir sama dengan warna rambutnya, berkabut, dan panas. Di sanalah Daren dan Sadin gugur, bersama sosok makhluk misterius yang bersemayam di dalamnya.


...~*~*~*~...


Setiap zirah modern memiliki fitur penyimpanan nutrisi dalam bentuk cairan yang diperlukan untuk dikonsumsi saat lelah atau lapar. Jadi, mereka tidak perlu susah-susah melepas zirah di tempat yang belum tentu aman bagi tubuh manusia, seperti di area kapal ini atau pun di luar angkasa sana.


Saat para anggotanya beristirahat, Edrick, Wirma, dan Tenma terlihat menjauh dari rombongan mereka, saling membicarakan sesuatu yang pasti berhubungan dengan rencana berikutnya.


“Jadi, kita kehilangan dua anggota lagi?”


Astan berhenti menghisap cairan nutrisinya, memasukan kembali sedotan ke dalam bagian zirah secara otomatis. Pria itu memutuskan untuk curi-curi dengar percakapan rekan-rekannya.


“Hal seperti ini memang pasti terjadi.” Lavisto berdiri bersender di tembok. “Kita sebagai prajurit harus siap dengan segala risiko yang bakal terjadi. Ke depannya, mungkin bakal bertambah korban lagi, kalian atau aku juga termasuk menjadi korban selanjutnya.”


“Ish, Lavisto! Jangan ngomong kayak begitu!” Irawan menampar lengan Lavisto. “Omongan kayak gitu bisa jadi doa. Kita hanya bisa berharap yang terbaik di misi ini. Kalau bisa, kita yang masih tersisa harus selamat. Jangan putus harapan.”


“Kita semua sudah pernah melihat banyak rekan seperjuangan tewas dalam misi-misi sebelumnya. Nyawa seseorang bagai taruhan permainan dalam setiap misi berat yang dijalankan,” komentar Farhan, kedengarannya dia sependapat dengan Lavisto.


“Sudah, sudah.” Zered menepuk-nepuk tangannya. “Apa pun yang terjadi ke depannya, kita harus terima. Yang penting sekarang kita tetap optimis menyelesaikan misi ini, oke?”


Semua langsung bersorak menyetujui ucapan Zered. Astan hanya mengangguk sebagai balasan. Memang apapun yang terjadi nanti, mereka harus tetap siap berhadapan dengan risiko yang mungkin jauh lebih berat.


Ketika mereka masih berbincang-bincang, Edrick, Wirma, dan Tenma kembali bergabung ke rombongan mereka. Mulut Edrick hendak bicara menyampaikan sesuatu perihal pelaksanaan misi, tapi tertahan saat zirahnya mendapat sinyal sambungan di luar kelompok mereka.

__ADS_1


“Sebentar. Sepertinya, ada sambungan dari markas.”


Edrick menerima sambungan tersebut, lensa helmnya kini memperlihatkan tampilan panggilan video dari pemimpin batalion mereka, Komandan Mavin L. Vladiskov.


“Hormat saya pada Komandan Mavin L. Vladiskov,” hormat Edrick.


Mavin mengangguk. “Salam, Ketua Edrick. Bisa kau mengaktifkan panggilan holografik agar aku bisa berkomunikasi dengan tim lainnya?”


“Tentu, Komandan.”


Edrick mengaktifkan panggilan holografik lewat zirah yang ia kenakan. Objek sosok Mavin kini bisa dilihat oleh seluruh anggota tim walau hologramnya kadang mengalami glitch gara-gara sinyal lemah.


“Hormat kami pada Komandan!” ucap mereka serentak berdiri memberi hormat.


“Salam, Prajurit,” balas Mavin tenang. “Sejauh ini, bagaimana misi yang kalian jalani?”


Sebagai perwakilan, Edrick menjawab, “Sejauh ini, kami baru mengaktifkan mesin pembangkit tenaga Inti Kapal. Banyak sekali halangan dan rintangan yang menghadang kami, tapi semuanya berjalan baik. Hanya saja….”


Edrick sulit melanjutkan kata-katanya. Dia ingin mengatakan tentang berapa korban yang telah gugur selama mereka menjalankan misi, berat rasanya untuk menceritakan hal tersebut. Rekan-rekan prajurit juga terlihat ada yang menundukan kepala, masih merasakan duka kehilangan beberapa teman satu tim.


Mengetahui bahasa tubuh mereka, Mavin menghela nafas. “…Ada berapa anggota yang telah gugur?”


Dengan berat hati, Wirma menjawab, “Dari 13 anggota yang dikirimkan, empat di antaranya telah gugur.”


Mavin menunduk sesaat. Dia juga merasakan rasa sedih yang dirasakan para prajuritnya. Hal ini sudah masuk dalam dugaannya. Misi seperti ini pasti akan memakan korban jiwa. Tapi syukurlah, sampai sekarang anggota tim mereka masih ada yang hidup. Masih ada harapan dan kemungkinan kalau mereka bisa menyelesaikan misi dengan baik, pulang dengan selamat.


“Saya turut berduka atas gugurnya keempat prajurit. Tapi apapun yang terjadi, misi tetap harus dijalankan.”


Beberapa dari mereka mengangguk paham. Rasa duka dan sedih yang menyelimuti mereka terpaksa disingkirkan dulu agar bisa makin fokus menjalankan misi.


“Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?”


Edrick kembali menjelaskan, “Kami akan pergi ke beberapa area yang telah kami targetkan. Di sana ada kemungkinan tersimpan data dan barang-barang bukti lain yang sangat dibutuhkan di persidangan nanti.”


“Bagus. Saya tunggu kabar baik dan perkembangan selanjutnya. Sinyal komunikasi dari markas tidak cukup kuat karena jarak dan tidak adanya perantara pendukung yang dapat membantu memperkuat sinyal komunikasi. Jadi, hanya segini saja saya bisa menghubungi kalian. Melihat kalian selamat dan dalam keadaan sehat sudah cukup membuat saya lega.”


Walau terhalang oleh helm, beberapa di antaranya tersenyum senang ketika sang komandan memberi tanda perhatian pada para prajuritnya. Itu berarti, Mavin peduli pada keadaan mereka.


“Saya harap, kalian bisa menyelesaikan misi dengan baik dan pulang hidup-hidup. Kami semua menunggu kepulangan kalian di sini. Salam pamit, Prajurit.”


“Hormat kami pada Komandan.”


Sosok holografik Mavin lenyap, panggilan dari markas pun terputus. Sekarang, Edrick dan Wirma bisa kembali merundingkan rencana selanjutnya dengan rekan-rekan tim.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2