
Astan menautkan kedua tangannya di depan. Nampak memikirkan jawaban dari Mavin tentang sosok yang mirip dengannya hilang di sebuah kapal antariksa. Entah mengapa, topik ini cukup menarik perhatian Astan. Astan penasaran dengan apa yang terjadi pada sosok itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai orang ini hilang di kapal yang kau maksud?”
“Kau tertarik untuk tahu?” tanya Mavin tenang.
“Entahlah….” Astan mengelus tengkuknya ragu. “Aku hanya… penasaran saja. Apa kau keberatan untuk cerita? Mungkin saja cerita itu merupakan aset infromasi dari—.”
Mavin tersenyum, menyela ucapan Astan, “Tak apa. Tak apa. Aku akan cerita. Tapi sebagai gantinya, berikan aku semua informasi yang kau ketahui tentang dirimu.”
“Hanya itu?”
“Lalu, apa?” Mavin bersender, bersedekap. “Menyuruhmu untuk menari di tengah ruangan remang-remang ini? Ish, jijik aku.”
Astan menyipitkan matanya jengkel. Senyum Mavin saja yang nampak berwibawa, sifatnya bikin kesal juga.
Mavin mulai bercerita, “Tiga tahun yang lalu, sebuah unit dari salah satu batalion di Grup Ribelo-I, Unit Liston03 yang berjumlah lebih dari 40 personel dikerahkan untuk melakukan misi pengawasan dan perlindungan tambahan terhadap Kapal Feron 072. Kapal antariksa tersebut merupakan salah satu kapal milik Perusahaan Feron, perusahaan yang beroperasi di bagian farmasi dan teknologi medis. Fungsi dari kapal itu ialah sebagai pabrik alternatif pembuatan obat-obatan khusus sekaligus menjadi sarana transfortasi untuk mengangkut semua obat ke Planet GT624 yang sampai sekarang masih dalam masa teraformasi tahap akhir.”
“Pengawasan dilakukan karena ada indikasi perusahaan ini melakukan penggelapan dana teraformasi. Jadi, untuk memastikan, pihak Pasukan Orbit Ribelo mengirimkan unit ini dengan Kiron Lavieston sebagai ketua dan… Astan Pradipta Cornell sebagai wakil ketua.”
Astan meringis ketika namanya disebutkan. Biarpun begitu, Astan masih merasa kalau wakil ketua yang dimaksud ini masih bukan dirinya.
“Kapal Feron 072 ini rencananya berlabuh dari Planet Ribelo ke Planet GT624 untuk mengantarkan persedian obat-obatan. Tiga hari pertama, pihak batalion masih bisa menghubungi Unit Liston03. Namun, ketika masuk hari keempat….” Mavin menggeleng. “Mereka sudah tidak bisa dihubungi lagi. Semua kontak terputus tanpa sebab. Pihak Pasukan Orbit pun sempat menghubungi batalion yang bertugas di Planet GT624, mereka bilang kapal itu sama sekali belum sampai ke sana.”
“Beberapa Tim dan Unit pasukan pun dikerahkan menuju Kapal Feron 072 yang terdeteksi berada agak jauh dari Planet Yomna. Dari posisi kapal itu saja sudah mencurigakan. Pasalnya, Planet Yomna berada di posisi setelah Planet GT624 dan telah keluar dari sabuk asteroid.”
“Sayangnya, tim pertama yang dikirimkan kehilangan sambungan. 2-3 tim-unit juga dikirimkan, tetap ujung-ujungnya putus komunikasi. Tak berapa lama, sedikit bukti dari Perusahaan Feron yang berada di Planet Ribelo mulai ditemukan. Kini tim-unit yang dikirimkan tidak lagi bertujuan untuk melakukan penyelamatan atau semacamnya, melainkan mencari bukti-bukti hasil eksperimen ilegal yang dilakukan perusahaan tersebut.”
“Eksperimen…?”
Kata-kata itu makin membuat Astan penasaran, sekaligus membuat perasaannya makin tak nyaman.
Apa yang sebenarnya terlintas dalam alam bawah sadar Astan? Mengapa ia merasa kata itu terdengar menakutkan?
__ADS_1
“Iya, eksperimen.” Mavin mengangguk. “Aku tidak bisa memberitahu lebih lengkap rincian eksperimennya. Tapi kalau kau ingin tahu, eksperimen yang dilakukan Perusahaan Feron adalah menduplikasi Sistem AutoTerra.”
Menurut Astan, ini tidak masuk akal. Sistem Operasi AutoTerra merupakan satu-satunya sistem yang dapat diterapkan ke dalam tubuh serta kesadaran manusia.
Namun, menduplikasi Sistem AutoTerra… apa mungkin?
Awalnya Astan ingin bertanya tujuan dan seperti apa Sistem AutoTerra diduplikasi, tapi Mavin menolak memberitahu karena informasi itu merupakan aset militer dan hukum pemerintah, tidak sembarang orang boleh tahu demi mencegah terjadinya kebocoran informasi.
“Bukti-bukti yang didapat dari perusahaan milik Feron yang tersebar di beberapa kota Planet Ribelo sudah cukup untuk menjatuhkannya dalam persidangan. Pada akhirnya, Perusahaan Feron terbukti bersalah dengan dikenakan pasal berlapis, yaitu penipuan, penggelapan dana atau korupsi, sampai melakukan eksperimen ilegal.”
“Perusahaan itupun dibubarkan, para staf yang terlibat dihukum penjara, dan petinggi serta orang-orang yang paling berpengaruh dalam kejahatan ini rata-rata dihukum mati.” Sejenak Mavin mendesis pelan, “…. Padahal, hukuman mati masih belum cukup untuk membayar segala kejahatan mereka, termasuk korupsi dan eksperimen ilegal yang melibatkan banyak nyawa.”
Astan mengerti pikiran Mavin. Walau terbilang sadis, memang seharusnya kejahatan seperti korupsi dan eksperimen ilegal pada makhluk hidup harus dihukum lebih dari sekedar kematian, minimal penyiksaan selama mereka mati atau dipenjara seumur hidup tanpa belas kasih.
“Lalu….” Astan kembali bertanya, “Bagaimana nasib Ash yang kau maksud?”
Iseng-iseng Mavin memutar ponsel di tangannya, nampak agak sendu. Ada jeda di antara obrolan mereka.
“Tidak ada yang tahu. Sebelum persidangan pun, seisi kapal dinyatakan tiada, termasuk para personel yang dikirimkan.”
Lagi-lagi Mavin tidak memberitahukan rincian lengkapnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk diketahui oleh seseorang yang mungkin saja terlibat dalam kasus ini.
Mavin menajamkan pandangan, menatap serius lawan bicara di hadapannya. Astan Pradipta Cornell, andai benar dia adalah orang yang Mavin cari, maka dia merupakan salah satu kunci dari semua misteri di kapal tersebut.
Sayangnya, orang ini bahkan mengaku sama sekali tidak mengenal Mavin.
Sempat Mavin merasa putus asa. Apa benar Astan bukan Ash? Berarti, kedatangannya bersama Harnan ke sini sia-sia. Namun, mengetahui Astan tertarik untuk tahu tentang kasus Kapal Feron 072, sepertinya memang ada sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Astan.
Astan sendiri terlihat agak menunduk, memperhatikan ujung kakinya di bawah meja dengan sia-sia. Pikirannya tanpa sadar menerawang, otomatis mencari-cari sesuatu yang hilang dalam memorinya. Tapi seperti biasanya, Astan tak pernah sadar tentang apa yang hilang dalam dirinya. Dan apakah sesuatu yang hilang dalam dirinya benar-benar pernah ada?
“Kembalilah…. Ash…!”
“Argh…!”
__ADS_1
Astan mendongak, menggosok wajahnya frustasi. Bodo amat disangka Mavin kalau dia gila, Astan sudah tidak tahan dengan rintihan yang makin menjadi-jadi mengganggu pikirannya.
“Setelah kau menceritakan semuanya, suara itu semakin jadi menggetayangiku.”
Sontak Mavin terbelalak. Ada sesuatu yang terjadi pada Astan. Mungkinkah masih ada harapan bagi Mavin untuk menduga bahwa Astan benar-benar Ash yang hilang?
Sepertinya, dia benar-benar harus cari tahu.
“Seperti yang telah dijanjikan, aku akan menceritakan segala hal tentang diriku,” kata Astan pasrah, “Lagipula, mungkin menceritakannya pada orang asing sepertimu lebih baik daripada dipendam saja.”
Mavin hanya balas tersenyum. Ia musti ikhlas dianggap orang asing, masih belum pasti kejelasan tentang siapa sebenarnya Astan ini.
“Aku tidak ingat sejak kapan, mungkin semenjak aku tinggal di kapal ini, terkadang aku dihantui oleh sebuah mimpi yang sama setiap kali aku bermimpi.”
Mavin mulai mempersiapkan fitur catatan pada ponselnya, mungkin saja ada beberapa informasi penting yang bisa ia dapat dari Astan.
“Boleh aku tahu, mimpi apa itu?” tanya Mavin sopan.
Ada jeda sesaat sebelum Astan menjawab, “.…Mimpi tentang rintihan yang selalu berbisik dalam mimpiku.”
Rintihan, huh? Mavin terlihat berpikir sejenak, lalu mencatat apa yang ia dengar dari Astan.
“Bukan hanya rintihan. Dalam mimpi itu, aku selalu melihat lorong gelap, minim pencahayaan, dan ada banyak gumpalan bayangan menghalangi penglihatanku,” cerita Astan, “Terkadang aku melihat banyak tetesan dan genangan darah di sekitar bayangan. Dan di antara bayangan tersebut, terlihat dua pasang kilatan kuning membentuk mata makhluk asing.”
“Lorong seperti apa yang kau lihat?” tanya Mavin memastikan, “Lorong gedung? Lorong kereta? Atau—.”
“Lorong kapal.” Astan nampak berusaha mengingat. “Iya. Sepertinya, seperti lorong kapal antariksa.”
“Benar….” Mavin mendesis.
Rangkuman cerita ini terdengar semakin mendekati kebenaran.
...~*~*~*~...
__ADS_1
Update sekarang jadi senin sampai jumat malem, yak. Sabtu-minggu sering kena gangguan setiap review. Entah emang error dari sininya atau ga masuk jam kerja. (padahal mau belajar produktif, tapi mayanlah ada waktu istirahat).