
Dua tubuh mayat itu sudah hancur beserta zirahnya, kini ditutup oleh kain putih di sudut koridor. Tembok besi milik Edrick juga sudah disingkirkan setelah sempat menutupi gerbang. Nampak jelas gerbang koridor yang hendak mereka buka sebelumnya telah terbuka lebar sehabis terkena serangan cairan kuat dari Slime-D saat dihimpit tembok besi.
Sekarang, Tim Aravan071 berjumlah 11 anggota setelah dua orang tewas akibat serangan Slime-D dan kelalaian mereka dalam bertindak cepat. Ketidaktahuan akan kemampuan musuh karena tak mampu terbaca oleh sistem membuat mereka kehilangan fokus, panik dalam bertindak.
Sebagai ketua tim, Edrick harap ia bisa lebih fokus lagi dalam menjalankan misi serta memimpin pergerakan tim. Nyawa seluruh anggota tim adalah tanggung jawab besarnya.
“Jadi, udara di sini benar-benar terkontaminasi dengan unsur berbahaya, ya?” tanya Astan menyelidik. “Soalnya, kalau tidak salah dengar, prajurit tadi sempat mengeluh sesak nafas sebelum tewas.”
“Kau yakin?” tanya Tenma merespon tanggapan Astan. “Mungkin saja itu juga diakibatkan dari kerusakan jaringan organ pernafasan akibat serangan Slime-D.”
Astan mengibaskan tangannya. “Aish…! Ya, sudahlah. Enggak usah mikirin masalah itu lagi. Jadi pusing aku mikirnya.”
“Kau sendiri yang mulai bahas,” cibir Tenma.
Kalau masalah yang berhubungan dengan sains, Astan termasuk orang yang payah untuk memahaminya. Dia membahas hal itu karena penasaran saja.
“Setelah melewati jalur ini, apa kita bakal sampai ke Area Pembangkit Energi?” tanya Edrick dengan nada suara datar, masih agak terbayang-bayang akan rasa penyesalannya terhadap kematian kedua personel tim.
Wirma membuka denah kapal pada sistem, lalu mengecek radar sesuai arah. “Satu jalur lagi, kita bakal sampai di Area Pembangkit Energi. Saat ini, radar tidak mendeteksi apapun. Tapi, kita tetap harus waspada, bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi lagi.”
Edrick menggeleng paham. “Baiklah. Kita berangkat sekarang. Hati-hati melewati gerbangnya. Sisi lubangnya tajam akibat lelehan tak beraturan dari makhluk tadi.”
Secara bergantian anggota tim memasuki gerbang, menuju jalur baru untuk sampai ke tujuan.
Ketika giliran Astan paling akhir, dia sempat menoleh ke kedua kain putih itu. Perasaannya sedih, pilu, dan syok ketika mengingat saat-saat tubuh keduanya meleleh hancur keluar dari celah-celah zirah akibat kena cairan-cairan Slime-D.
Itu sangat mengerikan. Andai dia hanya rakyat sipil, pasti langsung trauma ketika melihat kejadian itu.
“Maafkan kami, kawan-kawan. Semoga kalian tenang di sana.”
Setelah itu, Astan masuk melewati gerbang, menyusul rekan-rekan tim, meninggalkan kedua kain putih tersebut tergeletak menutupi potongan-potongan hancur mayat mereka yang sebagiannya membeku kaku.
...~*~*~*~...
Satu area dan satu jalur sudah dilewati. Tak ada makhluk-makhluk mencurigakan mengintai dan menyerang lagi. Satu gerbang besar mulai dibuka secara manual, ditarik keluar tuasnya, diputar, lalu didorong sampai gerbang itu sepenuhnya terbuka.
“Ini dia….”
Mata mereka menulusuri area tersebut. Sebuah area luas yang telah menjadi tujuan mereka untuk kembali membangkitkan energi seluruh kapal.
Area Pembangkit Energi. Terlihat sangat luas, begitu besar, agak gelap, hampir membuat siapapun merinding melihat dan merasakan kengerian atmosfer di sini.
__ADS_1
Di tengah-tengah area, terdapat mesin tabung berukuran raksasa yang masih belum aktif, mesin raksasa itu mereka sebut sebagai Inti Kapal.
Di sekitar mesin, tepatnya di tembok-tembok, terdapat lima ruangan yang saling terhubung oleh jembatan-jembatan metal yang menempel di setiap tembok area, dan dihubungkan lagi oleh tangga menunju pintu ruangan. Semua ruangan itu memiliki ukuran sama, tapi hanya satu yang berukuran lebih besar, yaitu ruangan di dekat gerbang mereka berada.
Bukan hanya itu saja. Di sekeliling Inti Kapal, ada jarak cukup jauh antara mesin Inti Kapal dengan jembatan, dan di tengah jarak itu terdapat dasar yang cukup dalam ke bawah. Jika mereka tidak hati-hati ketika melewati jembatan, maka mereka bisa mati jatuh ke dasar tersebut. Apalagi, dasar di sekitar mesin tersebut diketahui menghasilkan panas energi ketika mesin diaktifkan.
“Kita sudah sampai di Area Pembangkit Energi,” ucap Edrick saat memperhatikan mesin tabung raksasa di hadapan mereka.
“Sejauh ini, tidak ada yang mencurigakan di sekitar sini,” kata Wirma setelah sempat mengecek radarnya. “Kurasa, kita aman sekarang.”
“Baiklah. Kita mulai operasi mengaktifkan Inti Kapal. Tapi sebelumnya, kita pergi ke ruang kont— Bwah! Blah! Blah!” Edrick berusaha mengatur lidahnya, hampir saja ngegas. “Maksudku, ke ruang kontrol yang ada di sana.” Ia menunjuk ke salah satu ruangan yang paling besar di dekat mereka.
Astan, Wirma, dan beberapa anggota mengenal betul tipikal Edrick yang suka latah, cuma bisa memperhatikan sang ketua dengan raut datar.
“Kau tadi hampir latah la—.”
“Udah, ah, Wirma! Enggak usah dibahas!”
….
Akhirnya, semua anggota tim memasuki ruang kontrol. Di sini, lewat kaca pengawas yang panjang, mereka dapat melihat lebih jelas struktur mesin Inti Kapal dan empat ruangan kecil lainnya di sekitar tembok area, terhubung dengan masing-masing jembatan.
Ruang kontrol ini memiliki barisan mesin dan komputer kontrol yang semuanya masih mati total. Nampak gelap, sumber cahaya hanya dihasilkan dari senter pada zirah mereka.
“Oke…. Tentu saja semua mesin masih mati,” komentar Edrick.
“Lalu, bagaimana caranya kita mengaktifkan mesin Inti Kapal?” tanya salah satu prajurit.
Jari Edrick mengetuk-ngetuk meja kontrol. “Kayaknya agak ribet, sih.”
Sang ketua berbalik, berjalan menghampiri satu-satunya meja aneh di tengah-tengah ruangan. Benda itu tak begitu nampak seperti meja, berwarna hitam dan disusun struktur metal. Di tengah permukaannya, terdapat pengait pegangan, merupakan bagian dari suatu benda yang tertanam di dalam meja.
Tangan Edrick berusaha menarik pengait itu agar bendanya keluar dari meja. Tapi tidak bisa karena macet.
“Sudah kuduga….”
Edrick pun berjongkok, membuka pintu kecil yang ada pada sisi meja. Saat anggotanya melihat, rupanya di badan meja tersebut terdapat rangkaian mesin dan kabel-kabel yang sudah tak beraturan.
Sang ketua berusaha memperbaikinya. Hanya perlu waktu beberapa menit sampai semua mesin itu selesai diperbaiki. Edrick kembali berdiri, kembali mencoba menarik pengait tersebut. Saat ditarik, rupanya yang keluar merupakan sebuah tabung berlapis kaca tebal disertai asap aneh di sekitarnya.
“Seperti yang kalian ketahui, meja ini sebenarnya adalah mesin generator pembangkit energi Inti Kristal. Tadi hanya mengalami kerusakan sedikit. Tapi, masih bisa diperbaiki.” Edrick bicara saat asap di sekitar tabung sudah lenyap, “Dengan generator ini, mesin Inti Kapal bisa dinyalakan sepenuhnya. Tapi, kalau dari jenis Kapal Antariksa yang ini, dibutuhkan sekitar lima generator untuk bisa mengaktifkan Inti Kapal.”
__ADS_1
Sisi tabung kaca generator otomatis terbuka. Edrick memunculkan satu kristal berwarna merah muda dari tangannya, diambil dari penyimpanan sistem. Kemudian, ia masukan kristal itu ke dalam tabung sampai sisi tabung kembali tertutup.
Suara mendesir dari yang pelan hingga menjadi agak keras terdengar. Kristal di dalam tabung terlihat mulai berputar pelan menjadi lebih kencang, menciptakan sinar putih keunguan.
Edrick langsung memasukan tabung itu kembali ke dalam generator. Tiba-tiba semua listrik, mesin, dan lampu-lampu di dalam ruang kontrol menyala.
[Sistem Kontrol : Online]
[Sistem Generator A : Aktif]
[Inti Kapal bagian A : Aktif]
[Memulai Proses Pemanasan Mesin]
“Yep! Mesin-mesin di ruang kontrol sudah aktif.”
Edrick kembali berjalan ke depan meja kontrol, memperhatikan mesin Inti Kapal dipanaskan mulai di bagian dasar.
“Kita baru saja berhasil menyalakan satu generator. Masih ada empat generator lagi yang perlu diaktifkan.”
“Empat?” tanya Astan, memiringkan kepala.
“Ya.” Edrick berbalik, mulai memberi penjelasan pada semua anggotanya. “Inti Kapal bisa aktif sepenuhnya jika kelima generator Inti Kristal diaktifkan. Dan semua generator itu berada di lima bilik yang berbeda-beda. Ada lima bilik yang saling terhubung lewat jembatan di sekitar Inti Kapal, yaitu Bilik A, Bilik B, Bilik C, Bilik D, dan Bilik E. Generator yang baru dinyalakan sekarang merupakan generator Bilik A sekaligus tempat mengontrol kinerja sistem mesin Inti Kapal.”
Edrick menunjuk ke empat bilik yang dimaksud, menempel pada setiap tembok area dengan masing-masing huruf alphabet besar tertera di atas bilik.
“Kita harus menyalakan semua generator itu agar mesin Inti Kapal aktif dan dapat memproduksi energi ke seluruh kapal kembali. Jika energi di seluruh kapal kembali pulih, kita dapat mengakses semua data yang ada di kapal ini.”
“Rencananya begini, tim kita akan mengirimkan empat personel untuk menyalakan masing-masing generator. Tapi sebelumnya, personel yang mampu menggunakan Kemampuan Summon Tipe-3 ditugaskan untuk melihat-lihat keadaan sekitar menggunakan drone.” Edrick mulai bertanya, “Siapa saja yang memiliki Kemampuan Summon Tipe-3?”
Dua personel angkat tangan di rombongan.
“Kami bisa melakukan pengamatan,” ucap sang prajurit. “Bahkan Kemampuan Summon-ku sudah mencapai Tipe-4.”
Prajurit lainnya mengangguk. “Serahkan saja pada kami.”
Edrick membalas dengan anggukan pula. “Bagus. Kita akan melihat keadaan sekitar dulu.”
Di balik helm itu, kedua mata biru terang Edrick menajam, memikirkan segala kemungkinan serius yang akan terjadi ketika tindakan kali ini akan segera dilaksanakan. Firasat buruk muncul, atmosfer mencekam, semua itu campur aduk, membuat Edrick harus semakin waspada dalam merencanakan segala tindakan.
“Kita akan memastikan, apakah ada objek-objek lain mengancam bersembunyi di sekitar area sini atau tidak.”
__ADS_1
...~*~*~*~...