AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 38 : Pertemuan


__ADS_3

“Tiga tahun yang lalu, kami menemukannya terombang-ambing di dalam sebuah Kapsul Lifepod dekat kapal kami.”


Noah sempat menarik nafas sebelum melanjutkan, “Saat Lifepod-nya dibawa ke kapal dan dirinya juga dikeluarkan dari sana, Astan nampak mengenaskan. Dia tak sadarkan diri dengan luka parah dimana-mana, pakaiannya compang-camping tak berwujud lagi, kepalanya juga berdarah, dan mata sebelah kirinya mengalami luka paling parah. Dia sempat sadar. Tapi histeris tak karuan saat melihat banyak manusia.”


“Kami segera membawanya ke Dek Medis. Dokter yang memeriksanya bilang kalau Astan mengalami luka yang sangat parah di sekujur tubuh, beberapa tulang patah, benturan berkali-kali di kepala, dan mata kirinya hampir mengalami kebutaan.”


“Awalnya, kami berniat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebelum tiba di kapal kami. Namun, dokter tidak menganjurkan karena Astan mengalami trauma berat, ditambah luka benturan di kepalanya juga makin memperparah keadaannya. Semakin menyulitkan kami untuk mengetahui kejadian yang menimpa Astan.”


Dari cerita itu saja sudah membuat Mavin pilu. Ia yakin jika Astan yang sekarang menjadi pemburu merupakan Ash yang mereka cari setelah insiden di Kapal Feron 072. Dan tentang luka-luka parah yang didapat Astan pastilah karena kejadian na’as di kapal terkutuk itu.


Harnan juga diam seribu bahasa, hampir tak percaya dengan cerita dari Noah. Apa yang dialami Astan pastilah sesuatu yang sangat berat.


Mavin kembali bertanya, “Apa sekarang kalian sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Astan sebelum sampai ke kapal ini?”


Noah menggeleng. “Sampai saat ini kami sama sekali tidak tahu. Kami tidak berani menanyakan masalah ini pada Astan langsung karena takut trauma dan sakit kepalanya kumat. Tapi, mungkin satu orang ini tahu betul tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Astan di masa lalu.”


Mavin bersyukur dalam hati. Setidaknya masih ada harapan baginya untuk mengetahui titik terang dari misteri yang terjadi pada Astan.


“Siapa yang mengetahuinya?”


Sesaat Noah berusaha mengingat-ingat siapa orang yang paling dekat dengan Astan. Sulit baginya untuk mengingat setiap orang di kapal ini yang jumlahnya cukup banyak.


“Suda. Suda Siragan.”


...~*~*~*~...


Di salah satu kabin, sosok Suda baru saja selesai mengganti pakaiannya seusai mandi. Dia bersiul riang sambil merapikan beberapa barang berserakan di kabinnya. Dia senang hari ini bisa ambil libur setelah bekerja keras sebagai teknisi mesin.


Gara-gara masalah ekonomi di seluruh kapal dan juga makin menipisnya energi dari Inti Kristal untuk menopang kinerja kapal, membuat Suda dan para teknisi lain harus kerja ekstra. Syukurlah, mulai hari ini ia bisa merasakan seperti apa rasanya libur tanpa bergelut dengan mesin-mesin lagi.


“Aaah…. Senangnya hari ini. Minum kopi sambil nonton komedi di tv kayaknya asik, deh.”


Baru saja Suda hendak berjalan menuju dapur, tiba-tiba bel pintu kabinnya berbunyi, menandakan ada tamu yang berkunjung.


“Sebentar…!” Suda bergumam, “Siapa ya yang datang kemari? Apa ada yang minta bantuan untuk memperbaiki mesin lagi? Aku ‘kan sedang cuti.”


Buru-buru Suda berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Pria bersurai hitam itu justru bingung melihat ada dua orang asing dengan pakaian nyeleneh berdiri di depan pintunya bersama sang wakil ketua Guild.


“Jura— Eh!”


Hampir saja Suda salah sebut. Julukan itu benar-benar terdengar sangat cocok bagi Noah. Jadinya, sebagian orang di seluruh kapal antariksa hampir saja memanggilnya dengan julukan menggelikan itu.


“Wakil Ketua, ada yang bisa saya bantu? Mesin haluan ada yang rusak lagi?” tanya Suda sesopan mungkin.


Noah tersenyum tipis. “Bukan. Ada dua orang yang ingin bertemu denganmu. Katanya, ada sesuatu yang sangat penting untuk ditanyakan.”


“Mereka berdua?”


Sempat kedua orang tersebut celingukan, memastikan keadaan koridor sekitar kabin sepi tak ada yang lewat. Salah satu dari mereka memperlihatkan sebuah kartu pengenal. Sontak Suda terkejut saat mengetahuinya.


“Ka-kalian…?”

__ADS_1


Mavin memberi senyum ramah. “Maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Kami dari Pasukan Orbit Ribelo. Apa Anda punya waktu untuk mendiskusikan hal yang sangat penting pada kami, Tuan Siragan?”


Orang ini tahu marga Suda, pastinya Noah yang memberitahukan. Tapi, apa alasan dua orang dari salah satu instansi militer ini ingin bertemu dengannya? Apa yang ingin mereka bicarakan?


Suda gugup setengah mati. Dia takut ada hal paling buruk yang membuat mereka datang kemari mencarinya.


...~*~*~*~...


“Aaaaa….”


Astan duduk bersender di sofa dengan kepala ditengadahkan ke atas. Televisi yang sudah lama menyala sama sekali tidak menarik perhatiannya. Padahal, acara televisi tersebut tengah menayangkan sitkom Engkong Sutris kesukaannya. Tapi, ada berbagai macam pikiran yang terus saja membayang-bayanginya.


Kedua mata heterokrom itu menatap plafon, berusaha menerka-nerka sesuatu yang mengusik pikiran Astan. Rintihan itu makin lama makin jelas terdengar, seakan-akan memaksanya untuk segera kembali.


“Tolong, kembalilah…! Aku membutuhkanmu…!”


Tapi, kemana? Astan sendiri tidak tahu harus kembali kemana? Tempat yang ia tahu hanyalah kapal antariksa ini dan Satelit Alam Darzia, tidak mungkin kalau tempat yang dimaksud merupakan planet asalnya. Dia sudah berpindah-pindah planet sejak kecil.


“Ada apa ini…?” gumamnya bingung.


Lamunannya langsung buyar saat mendengar bel pintu berbunyi. Spontan Astan menegakan posisi duduk, memandang bingung ke arah pintu.


“Siapa yang datang? Suda atau Arni?”


Dia pun mulai berjalan hendak membukakan pintu.


“Jangan bilang si menggelikan Grim itu.” Astan berjalan sambil menggaruk kepalanya. “Aku lebih baik ketemu wakil ketua Guild terus disuruh macam-macam daripada ketemu dengan Grim— Eh?”


Rupanya, Tuhan mengabulkan doanya secepat ini. Padahal tadi Astan hanya asal bicara.


“Juragan Ikan, ada apa kau kemari?”


Astan menyebut Noah dengan sebutan konyol itu begitu santainya, tak peduli jika yang dipanggil hampir mengeluarkan aura-aura membunuh.


Cari mati kayaknya Astan ini.


Tapi karena ada sesuatu yang ingin disampaikan Noah, maka dia lebih memilih untuk membiarkan Astan menyebut julukan itu seenaknya saja.


Awas saja nanti. Kalau urusan ini ‘dah kelar, bakal digantung pantat Astan di tembok lobi biar para pemburu tahu agar tidak sembarangan menyebutnya ‘Juragan Ikan’, pikir Noah.


“Apa saat ini kau sedang sibuk?” tanya Noah seramah mungkin.


“Tidak. Saat ini aku sedang tidak sibuk apa-apa.”


“Kalau begitu, bisa ikut denganku? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”


“Seseorang?”


Astan menatap Noah curiga. Tidak biasanya ada orang lain yang ingin bertemu dengannya lewat Noah. Di kapal ini pun Astan hanya kenal dekat dengan Arni, Suda, dan Grim yang akhir-akhir ini berusaha menyapanya dengan alasan bertetangga baik.


Kalau Noah sampai menjemputnya, berarti orang yang ingin bertemu dengan Astan merupakan sosok yang penting. Tapi, siapa? Seingat Astan, ia sama sekali tidak punya kenalan orang-orang penting semasa hidupnya.

__ADS_1


“Siapa?”


“Nanti juga kau akan tahu ketika bertemu dengannya.”


Kalau ini merupakan perintah langsung dari sang wakil ketua Guild, Astan mengiyakan saja ajakan Noah. Toh Noah merupakan orang yang paling dipercaya di seluruh Guild maupun di kapal ini. Tidak mungkin Noah hendak menjebak atau melakukan hal semacamnya yang membuat Astan rugi.


Astan mengunci pintu kabinnya menggunakan kode sandi, mereka berdua pun mulai berjalan melewati koridor.


Astan hanya diam mengikuti Noah dari belakang, sama sekali tak ada niat untuk basa-basi karena mereka berdua tidak memiliki hubungan akrab. Selama di perjalanan dia sempat berpikir, mungkin saja Noah memanggilnya karena ingin mempertemukannya dengan salah satu dari tiga pemburu menyebalkan yang bermasalah dengan Grim di misi sebelumnya untuk membahas masalah perebutan Score Bonus.


Kalau benar dipertemukan dengan mereka, Astan sudah siap lahir batin menjitak kepala mereka sampai menembus otak.


….


“Masuklah.”


Noah mempersilakan Astan masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup kecil dimana hanya ada dua kursi saling berhadapan yang dipisah oleh satu meja. Sekilas ruangan ini nampak seperti ruang interogasi.


Untuk apa Astan dibawa kemari? Bukannya Noah bilang dia akan dipertemukan dengan seseorang yang mencarinya.


“Hei, kenapa—.”


Tiba-tiba saja lampu terang ruangan itu mati, digantikan dengan satu-satunya penerangan dari lampu kecil menggantung di atas meja yang pencahayaannya sendiri agak remang-remang.


“Apa-apaan ini, Noah?” tanya Astan jengkel. “Sok-sok’an dibikin horror begini. Mau dipertemukan dengan dedemit apa?”


“Duduklah dulu.”


Walau perasaannya mulai jengkel, Astan mengikuti saja perintah Noah. Ia pun duduk di salah satu kursi menghadap ke pintu.


Melihat Astan mengikuti perintahnya, Noah tersenyum. “Bagus. Sekarang, mengobrolah baik-baik dengan orang tersebut.”


Noah keluar, langsung menutup pintu. Ketika pintu sudah ditutup, tak disangka ada seseorang yang sudah berdiri senderan di dinding, cukup lama bersembunyi di balik pintu tersebut.


“Waduh.”


Spontan Astan terlonjak kaget. Tak disangka-sangka sudah ada bayangan orang main sembunyi-sembunyi di balik pintu.


“Terima kasih sudah sudi bertemu denganku.”


Awalnya sosok itu hanya nampak seperti bayangan karena gelapnya ruangan. Ketika ia berjalan pelan menghampiri meja, mulai nampak jelas wajah datar itu di bawah siraman lampu gantung.


Wajah datarnya mulai menyunggingkan sebuah senyum yang sama sekali tidak dimengerti Astan.


“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Ash….”


Astan tercengang tak percaya.


Bagaimana bisa orang yang sama sekali tidak ia kenal ini mengetahui panggilan kecilnya?


...~*~*~*~...

__ADS_1


Siap-siap aje pusing, yee.... Siap-siap aja pusing.


__ADS_2