AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 17 : Squad Lain


__ADS_3

“Terus, Bang. Itu kalau di rawa ini selain Mutant Frog ada apa la— Uwaaah!!!”


Arni kaget saat tiba-tiba Astan mendorongnya ke balik semak-semak. Mereka pun telentang di tanah dengan posisi Astan tak sengaja memeluk pinggang kecil gadis itu.


“Aduh…, Bang. Apa yang terja— Woi, itu tangan kenapa sentuh-sentuh aku. Woi, oi— Umm! Um!”


Masih dalam posisi begitu, Astan langsung membekap mulut Arni agar gadis muda itu tidak berisik mengundang perhatian siapapun yang mendengarnya.


Bukannya Astan mau macam-macam dengan Arni macam orang pacaran enggak punya modal yang kalau mau kencan musti ke kebun orang dulu. Astan masih sadar diri. Kalau dia macem-macem, abangnya Arni bakal melemparinya pakai seperangkat alat mesin dibayar nyicil.


Nah, kan nyicill. Kan sayang benda hasil cicilan dipakai sia-sia buat lemparin pria badjingan….


“Hussst! Hussst…! Huuuuuuusssst!!!”


Astan memberi isyarat untuk Arni tetap diam. Soalnya, dia mendengar ada suara sekelompok orang mendekat ke area hutan dekat mereka.


Arni mengerti maksud Astan, tapi ia tetap berusaha melepaskan tangan Astan dari mulutnya.


“Haaah…. Ish, tangannya bau jigong…,” rengek Arni dengan suara sepelan mungkin.


Iseng-iseng Astan mencium tangannya sendiri. “Bau jigong darimu ini, mah. Tanganku baru aja abis megang permen karet rasa berry.”


“Ish…! Emang kenapa sih nyuruh aku di— Ummm!”


Astan membekap mulut Arni kembali agar berhenti bicara. Tangannya langsung menarik jaket Arni, membantunya untuk jongkok di balik semak-semak.


“Ini ceritanya kenapa, sih?” tanya Arni dengan suara pelan.


“Itu…!”


Dengan geregetannya Astan menunjuk ke luar semak-semak. Mereka berdua mengintip di sana, melihat ada tiga orang pemburu seperti mereka baru saja terjun dari beberapa dahan pohon. Pandangan ketiganya celingukan, seakan-akan mencari sesuatu.


“Ada pemburu? Mereka satu Squad?” tanya Arni penasaran.


“Sepertinya begitu….”


Arni menoleh ke Astan. “Kenapa enggak sapa mereka? Malah sembunyi di sini.”


“Bodoh kau, Bujang. Biarpun mereka sama-sama pemburu seperti kita, mereka itu beda Squad. Ada kemungkinan besar mereka bakal merebut hasil buruan kita,” jelas Astan, masih mengintip.


“Tapi ‘kan kita belum berburu. Apa yang mau mereka rebut dari kita?”


Spontan sistem penyimpanan Astan terbuka, memperlihatkan bahwa bagian penyimpanan untuk hasil buruan misi masih kosong.


“Lah, iya. Bener.” Panel sistem Astan langsung lenyap. “Tapi, buat jaga-jaga ajalah. Jangan disapa mereka. Kadang para pemburu beda Squad itu susah dipercaya.”


Keduanya asik mengintip sekalian menguping pembicaraan tiga pemburu tersebut yang tengah merundingkan sesuatu.

__ADS_1


“Kemanalah… si cecunguk bantet itu?” tanya pemburu satu sambil celingukan.


“Kurang ajar banget dia, ya,” kata pemburu dua, “Enak banget kerjaannya nyampahin buruan kita mulu.”


“Dia tetap satu Squad sama kita. Apa yang perlu dipermasalahkan?” tanya pemburu tiga.


“Satu Squad apa?!” Pemburu pertama memperlihatkan daftar anggota Squad pada panel hologram miliknya. “Dia udah keluar dari Squad kita setelah berhasil merebut semua Score Bonus. Kita bakal kesulitan buat naik level kalau ada anggota enggak tahu diri kayak dia!”


“Kita balik cari dia! Kita beri pelajaran, biar dia enggak nyampahin buruan kita lagi!” tegas pemburu kedua.


Ketiganya langsung pergi, melompat dari dahan satu ke dahan lainnya, menjauh dari area hutan rawa tersebut. Arni dan Astan yang sejak tadi memperhatikan mereka masih tetap sembunyi di semak-semak.


“Nyampahin buruan? Score Bonus? Maksudnya?” tanya Arni.


“Nyampahin itu istilah menghabisi musuh di saat musuh sekarat, sedangkan orang lain sudah susah payah bikin musuhnya sekarat. Kalau Score Bonus itu hasil yang hanya bisa didapatkan oleh orang yang memberi serangan terakhir musuh yang sekarat,” jelas Astan.


“Lah, terus? Apa yang dimasalahin? Kan mereka sama-sama kerja juga buat berburu?”


“Enggak denger apa yang mereka omongin tadi, Arn? Yang mereka permasalahin adalah ketiganya udah susah-susah hajar musuh sampai sekarat, tapi orang yang mereka cari ini malah melakukan serangan terakhir. Sehingga semua Score Bonus cuma orang ini yang embat, sedangkan ketiganya cuma dapat Score standar.”


“Woalah…. Ada yang kayak begituan juga, toh?”


“Itulah dunia pemburu, Arn. Teman atau lawan, semuanya saling bersaing demi menjadi yang terbaik. Itu dia, mengapa aku paling males naik pangkat ama level. Ogah berurusan sama orang-orang macam mereka.”


Sesaat Astan celingukan, memastikan keadaan sekitar aman dari para pemburu seperti ketiga orang tadi. Kemudian ia berdiri, memberi aba-aba pada Arni untuk keluar dari semak-semak.


Keduanya segera keluar dari semak-semak, membersihkan pakaian masing-masing dari ranting dan dedaunan semak yang sempat menempel.


“Sekarang, kita coba nyari buruan lagi?” tanya Arni sambil membersihkan dedaunan di jaket hijaunya. “Dari tadi enggak nemu-nemu si Mutant Frog itu.”


“Ya, sudah. Kita coba cari ke arah—.”


[Peringatan! Serangan Mendadak!]


[Peringatan! Serangan Mendadak!]


Sistem AutoTerra milik Astan dan Arni tiba-tiba memberi notifikasi peringatan. Keduanya spontan menoleh ke belakang saat dirasa ada suara gemericik air di air rawa dekat mereka.


Rupanya, muncul seekor kodok bertaring setinggi dua meter, melompat tinggi keluar dari air rawa, lalu terjun menukik menuju ke arah mereka berdua.


“Awas, Ar—.”


Beruntung keduanya bisa menghindar dengan melompat mundur ke arah yang berbeda saat kodok itu terjun di tengah-tengah mereka, menyebabkan goncangan ringan di tanah lembab yang mereka pijaki.


“Wo-wow….” Astan hampir tak percaya ketika tahu Arni mampu menghindari serangan itu. “Reflekmu bagus.”


Arni menyahut dengan wajah tegang, “Kalau reflekku tidak bagus, udah jadi manusia geprek aku.”

__ADS_1


Kodok tersebut langsung menatap ke arah mereka berdua secara bergantian. Tatapan tajam dari kedua mata jingga menyala, mulut dipenuhi taring-taring besar tak beraturan, memiliki sirip di beberapa bagian, kedua kakinya pun juga panjang, dan kaki depan sangat kecil. Sekilas makhluk itu malah mirip seperti jenis dinosaurus mini ketimbang kodok.


[Julukan : Mutant Frog]


[Jenis : Monster]


[Sifat : Masif]


[Status : Easy]


[Peringatan : Mengandalkan serangan dari hantaman lidah dan gigitan tajam]


“Tetap waspada, Arni…,” desis Astan.


Astan maupun Arni sama-sama tidak bergerak saat ditatap oleh makhluk tersebut. Mereka nampak waspada dengan posisi siap bertarung kalau-kalau kodok tersebut menyerang secara tiba-tiba kembali.


Pandangan kodok itu kini teralih pada Arni. Dia berbunyi dan berlari ke arah Arni, bersiap untuk menyerangnya dengan hantaman keras.


“Kemari kau, kodok bujang!”


Assault Rifle Grade-C muncul di tangan Astan. Ia langsung menembak tubuh Mutant Frog hingga makhluk tersebut teralih perhatiannya pada Astan. Kerena tidak suka diserang, Mutant Frog kini beralih mengejar Astan.


Saat Mutant Frog hampir menghantamnya, Astan menghindar dengan jungkir ke samping. Kemudian Astan kembali menembak Mutant Frog hingga Status Kesehatan yang diperlihatkan oleh sistem di atas sang kodok tinggal sedikit lagi.


[Status Kesehatan : 80%]


[Status Kesehatan : 53%]


[Status Kesehatan : 23%]


Mutant Frog nampak mulai lemah sekarang, tubuhnya lunglai dan perlahan berlutut di tanah.


“Arni, darahnya tinggal sedikit! Tembak dia agar kau dapat Score Bonus!”


Buru-buru Arni memunculkan Sniper Rifle miliknya setelah dari tadi melamun karena tegang melihat pertarungan antara Astan dengan monster kodok.


Mendengar suara Arni mengokang senjata, spontan Mutant Frog mengalihkan tatapan tajamnya pada Arni. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Mutant Frog berlari ke arah Arni.


“Arni!”


...~*~*~*~...


Ekhem! Maaf, ganggu. Sedikit info bahwa Mutant Frog yang ini referensinya ngambil di Mutant Frog versi game Alien Shooter.



(Jelas ga sih gambarnya?) Bedanya, Mutant Frog yang di cerita ini ada sirip dan kaki depan, juga bisa lompat dan nyerang pakai lidah. Pakai monster kek begini alasannya karena...

__ADS_1


Males mikir aja....


__ADS_2