
“Apa?”
“Oh, tidak….”
Semua Mutant Frog yang tersisa segera menyerang mereka bertiga yang berada di posisi masing-masing, Arni di belakang salah satu pohon, Grim di tepi hutan rawa, dan Astan di air rawanya.
“Semuanya, mundur!”
Astan memberi peringatan. Ia melemparkan lima granat terakhir sekaligus ke posisi para Mutant Frog berada. Sebelum ledakan terjadi, Arni bergegas kabur menggunakan Invisible dan bersembunyi di balik batu besar, Grim juga melompat jauh menuju semak-semak, dan Astan menyelam.
Ledakan dahsyat pun terjadi. Semua Mutant Frog di hutan sana hancur seketika, mengakibatkan beberapa pohon tumbang, getaran kecil, dan gelombang di air rawa.
Semuanya sudah berakhir. Sang Alpha telah tewas dan tidak akan ada lagi Mutant Frog baru berdatangan, rombongan Mutant Frog yang tersisa juga mudah dimusnahkan. Karena saat dalam Mode Amuk, Status Kesehatan mereka menurun drastis.
Di balik batu, Arni beberapa kali menaik-turunkan nafasnya, terengah-engah sambil mengelus dada, merasakan detakan adrenalin mengalir deras dari jantung ke seluruh nadi. Astan juga keluar dari rawa-rawa, mengatur nafas, dan terlihat begitu kelelahan karena dia yang paling banyak mengeluarkan stamina untuk bertarung.
Grim pun juga begitu, berusaha mengatur nafasnya di saat tubuhnya masih merasa sangat tegang akibat pertarungan hebat tadi. Namun, mata birunya menemukan sesuatu yang tak jauh di hadapannya.
“Hei, kemari!” Grim nongol dari balik semak-semak. “Aku menemukan sesuatu di belakang sini!”
Ketika semuanya sudah berkumpul di tempat Grim sekarang, tepatnya di balik semak-semak besar, mereka menemukan semacam portal berukuran kecil dengan daya energi berwarna hitam bercampur kuning.
Portal itu sangat mencurigakan, Astan dan Grim yang sudah terbiasa berburu pun baru pertama kali melihat jenis portal ini.
“Portal apa ini?” tanya Grim bingung. “Dungeon, kah?”
Astan menggeleng. “Sepertinya tidak. Dungeon memiliki ukuran portal jauh lebih besar dari ini.”
Sontak notifikasi muncul pada masing-masing sistem mereka.
[Obyek : Tidak Diketahui]
[Kode Program gagal terdeteksi….]
[Identifikasi :]
[-Meningkatkan Status Kesehatan 10%]
[-Meningkatkan Serangan 5%]
__ADS_1
[-Meningkatkan Pertahanan 10%]
[-Menstabilkan Kemampuan Bawaan]
[Identifikasi Lanjutan : Diduga Program Buatan]
Panel sistem milik mereka pun langsung lenyap.
“Ini….” Arni cukup bingung dengan pernyataan sistem.
Dari informasi singkat yang diberikan sistem, Astan tahu kesimpulannya. Tangannya mengepal erat, mulai merasakan amarah.
“Eh?”
Grim terkejut ketika Astan mengambil Shotgun-nya. Shotgun itu Astan kokang, langsung ditembakan ke arah portal. Namun, portal itu sudah lebih dulu lenyap.
“Ketua…?”
“Bang Astan, ada apa?”
Nafas Astan tak teratur karena menahan amarah. Dia kesal dengan kehadiran portal itu. Pasti keberadaannya sudah ada bahkan sejak Arni dan Astan sampai di hutan ini.
“Pasti… portal itu yang membuat misi Tingkat D serasa misi Tingkat C dan B,” desis Astan disertai tatapan tajam.
...~*~*~*~...
Ruangan remang-remang yang didominasi warna hitam nampak memperlihatkan keberadaan jejeran monitor hologram di hadapan tiga orang yang mengawasi. Monitor-monitor itu menampakan banyak sekali rekaman dari berbagai lokasi, termasuk lokasi di hutan rawa Darzia dimana sempat terjadi pertarungan besar-besaran antara tiga pemburu pangkat kecil melawan ratusan kodok mutan.
Satu pria nampak duduk seorang diri di kursi, memperhatikan monitor satu itu lewat iris mata merah mudanya, begitu serius menyaksikan segala kejadian dan mengamati satu orang paling penting di antara ketiga pemburu.
“Itukah Astan Pradipta Cornell?” tanya pria lainnya.
Pria yang bertanya itu tengah berdiri di samping belakang kursi, memiliki postur tubuh tinggi, berambut perak panjang, dan berkulit gelap. Pakaian yang ia kenakan pun berupa jubah mantel putih.
“Memang terlihat cukup meyakinkan,” ucapnya lagi, “Dan kita juga mendapatkan satu bahan menarik lagi, yaitu si pria berjaket merah.”
“Nyahahah…. Iya…. Keduanya menarik, tapi tidak dengan gadis yang satunya. Nampak terlihat menyedihkan. Beban bagi satu Squad.”
Satu lagi seorang wanita yang berdiri di samping satunya. Memiliki rambut merah yang diikat tinggi berantakan, kulit putih porselen, dan mengenakan jaket hitam terbuka yang menampakan kaos cokelatnya.
__ADS_1
“Kita tidak butuh gadis itu, Extasia. Pria berjaket merah merupakan harta karun yang tak terduga, tapi yang paling kita utamakan adalah si Astan ini.”
“Ya…. Dia nampak terlihat sangat meyakinkan, Ro.” Extasia bersedekap. “Sesuai rencana awal.”
Pria berkulit gelap bernama Ro itu mulai bertanya pada pria yang duduk di kursi, “Bagaimana menurutmu, Gideon? Apa kita perlu langsung bergerak?”
“Tidak sekarang.” Pandangan mata Gideon masih fokus pada monitor tersebut. “Efek yang terjadi pada tubuh Astan masih belum sepenuhnya bereaksi. Kita masih perlu menunggu saat yang tepat. Kalau buru-buru, hasilnya takkan sesuai ekspetasi.”
“Aaaahhh…. Ini bakal jadi makin membosankan. Hihihi….” Extasia mengibas-ngibaskan tangannya. “Dia dan dua rekannya nampak sekali kewalahan mengalahkan monster-monster rendahan seperti itu. Apa kita terlalu berlebihan menaruh Portal Efek di sana? Seharusnya, cukup dia seorang saja sudah dapat mengalahkan bos monster.”
“Portal Efek itu terlalu berlebihan,” tanggap Ro santai.
“Itu untuk mengetes seberapa pantas Astan untuk kita, dan juga apakah rekan satunya yang disebut Grim itu punya peluang yang sama seperti Astan,” kata Gideon, mulai mengetikan beberapa kode pada monitor lain. “Itu sudah keputusan yang tepat. Selanjutnya, kabar apa lagi yang kita dapat selain pengawasan terhadap Astan Pradipta Cornell?”
Ro meraih sebuah tab yang ada di meja depan rentetan monitor hologram, mulai membaca informasi di sana.
“Kabarnya, salah satu satuan militer dari Grup Pasukan Orbit Ribelo II, Batalion Y13 Aturna, bakal kembali mengirimkan tim untuk melakukan pencarian terhadap barang-barang bukti eksperimen yang kini melibatkan Organisasi Teknologi Biologis BioEmerald.”
“Lagi?” Extasia menaikan sebelah alis heran. “Mereka tidak kapok sudah mengirimkan tiga tim, tapi ujung-ujungnya gagal juga? Mereka sama saja masuk ke dalam kandang predator kalau masih nekat ke sana. Pihak Feron sialan itu juga… bisa-bisanya tidak menghapus jejak eksperimen agar tidak diketahui oleh pemerintah.”
“Bodoh kau, Extasia. Feron dan BioEmerald tetap menyimpan asetnya di sana karena rencananya juga bakal dibawa kembali hasilnya ke markas di Planet Ribelo. Tapi, keburu hasil eksperimennya mengacaukan satu kapal. Jadi berakhir seperti ini, kan?” jelas Ro datar.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ro pada Gideon. “Kalau mau ke sana mengambil aset-aset itu sebelum keduluan tim dari Batalion, risikonya terlalu besar.”
“Kita tidak perlu buang-buang tenaga untuk mencegah tim militer mengambil data-data eksperimen.”
Extasia menatap heran Gideon. “Terus, dibiarkan begitu saja? Pemimpin BioEmerald keburu disidang nanti.”
“Kita serahkan soal persidangan dan data-data penting itu pada tim yang lain,” jawab Gideon, “Rencana kita sekarang tetap fokus pada Astan. Dan cari tahu juga informasi tentang si Grim itu. Sekarang, kalian boleh pergi.”
Ro sedikit membungkukan badan, bersikap sopan. “Kalau begitu, kami permisi dulu, Gideon.”
“Heh, terserah,” ucap Extasia dingin sambil berbalik dengan kedua tangan menopang belakang kepala.
Ro dan Extasia mulai berjalan pergi meninggalkan Gideon sendirian di ruangan tersebut.
Saat ditinggal sendiri, Gideon kembali mengulang rekaman sebelumnya, mengamati dengan seksama setiap kejadian. Beberapa saat kemudian, ia meraih ponsel di atas meja, mulai menghubungi seseorang.
“Halo. Tetap pada rencana awal. Kirim informasi terkini tentang Astan sampai aku memberi keputusan selanjutnya. Oh, dan cari tahu juga informasi tentang pria bernama Grimaelo Adrael Novan. Oke?”
__ADS_1
Setelah panggilan terputus, Gideon mulai bergelut dengan pikirannya sendiri. Untuk saat ini, mereka masih belum bisa melakukan pergerakan apapun sampai ada celah peluang mulai nampak untuk memulai rencana yang sudah mereka susun matang-matang.
...~*~*~*~...