AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Epilog


__ADS_3

[Sambungan komunikasi dengan Agent 518 telah terputus]


[Sistem segera mengirimkan data-data terakhir]


[Memuat….]


“Haaah…. Sudah kuduga, misi kali ini bakal gagal,” hela Gideon sambil menopang belakang kepala dengan kedua tangannya dan bersandar di kursi.


Semua monitor hologram di hadapannya seketika lenyap, ruangan yang gelap pun kini diterangi oleh berbagai lampu menyala. Nampak di sekitar ruangan beberapa prajurit berzirah modern sedang berjaga sambil menenteng masing-masing senjata.


Gideon sama sekali tidak sendirian, dia masih bersama dua rekannya yang senantiasa duduk di kursi lain di dekatnya, Ro dan Extasia.


Extasia, wanita berambut merah ponytail berantakan itu duduk membungkuk dan agak mengangkang sambil melambung-lambungkan sebuah bola kecil di tangan. “Sudah kuduga. Mengirimkan seorang Agent kacangan menyusup ke tim militer merupakan keputusan menggelikan.” Extasia melemparkan bola itu ke Ro.


Pria bekulit gelap dengan rambut perak panjang itu menangkapnya dengan mudah. “Ini dilakukan sekalian buat menguji coba perangkat sistem yang ditanamkan di otaknya. Memang tidak sesempurna Sistem Re:Set versi Profesor Arthanor, tapi masih berguna juga, kan? Buktinya, aku baru saja mendapatkan data-data terkini dari Agent 518 itu. Nanti akan kita cek sama-sama.”


“Cih!” Extasia mendecih jengkel. “Kalau sudah begini, Sistem Re:Set gagal direbut, Astan pun gagal dibawa kemari.”


“Itu bukanlah masalah besar.” Gideon memutar kursinya hingga menghadap kedua rekannya. “Soal Astan, memang sudah diduga kalau dia tidak akan mudah dibawa kemari.”


Gideon beranjak dari kursinya, memberi aba-aba pada beberapa prajurit untuk segera keluar mempersiapkan sesuatu di luar sana.


“Prajurit, segera persiapkan segala keperluan penerbangan antariksa. Kita akan langsung berangkat ke Planet Ribelo.”


“Siap, Master!”


Setelah beberapa prajurit pergi sesuai perintahnya, Gideon menghela nafas. “…Tidak ada pilihan lain.” Gideon memasukan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Kita akan segera melakukan rencana B.”


“Rencana B?” Sebelah alis Extasia terangkat. “Kau yakin mau melakukan cara sebarbar itu? Dan meminta bantuan pada orang gila itu?”


“Memang sudah seharusnya.” Ro berkomentar dengan santai, “Rencana B-nya begini, kalau Sistem Re:Set gagal direbut di Kapal Feron oleh Agent kita, maka cara selanjutnya adalah merebut paksa sistem tersebut sekalian membebaskan orang yang paling penting dalam organisasi kita.”


“Iya, tapi….” Extasia menggigit bibir bawahnya. “Haruskah… orang sinting itu terlibat? Kau masih bisa mengandalkan kami berdua, Gideon!”


“Kalian berdua cukup tinggal di Darzia untuk berjaga-jaga. Kalian juga bisa menyusul ke Ribello jika kalian mau. Tapi, jangan sampai terlibat dalam misi rencana B ini,” kata Gideon serius.


Ro memainkan kukunya sendiri. “Siapa juga yang mau repot-repot terlibat? Males banget. Paling juga kalau kami ke sana cuma buat lihat-lihat saja. Aku yakin, orang sinting itu bisa menyelesaikan masalah jauh lebih mudah dari pada Agent kita.”


Ro menatap jahil Extasia, sedangkan wanita berambut merah itu cuma mendengkus jengkel sebagai balasan.


“Kali ini, misinya tidak main-main dan bukan percobaan seperti misi sebelumnya.” Gideon melangkah mendekati pintu otomatis. “Tetaplah di sini, dan jagalah beberapa eksperimen. Jangan ada yang mengacau.”

__ADS_1


Setelah memberi pesan tersebut, Gideon segera pergi meninggalkan Ro dan Extasia berdua di ruangan tersebut. Menyadari hanya mereka berdua tersisa, lagi-lagi Ro menatap jahil Extasia.


“Kau dengar?” Iseng-iseng Ro mengetuk-ngetuk ujung hidung mancung Extasia dengan bola kecil tadi. “Jangan-coba-coba-menga-cau.”


Dengan emosi Extasia menepis keras tangan Ro. “Ergh! Satu-satunya orang yang suka mengacau di sini hanyalah kau, Sialan!”


Extasia beranjak dari kursi dan dengan langkah kaki sengaja dihentak keras ia pergi keluar dari ruangan tersebut.


Masih sambil memainkan bola kecil itu di tangannya, Ro bergumam polos, “Ish…. Galak seperti biasa. Padahal, aku ‘kan cuma mau usil sedikit.”


...~*~*~*~...


Lagu-lagu rohani berbunyi merdu di dalam sebuah kuil megah. Patung agung berdiri kokoh di tengahnya, cahaya menembus indahnya motif kaca-kaca patri, rentetan bangku masih kosong tak ada siapapun. Yang ada di sini hanyalah seorang pria, berdiri di sana sambil melantunkan doa-doa.


Pria itu memakai pakaian biarawan dengan perpaduan putih dan kuning, kulitnya putih bersih, rambutnya pirang tebal, dan wajahnya begitu damai saat memejamkan mata sambil terus melantunkan doa diiringi oleh nada-nada agung di sana.


“Atas nama Tuhan Yang Agung, hamba serahkan jiwa dan raga hamba untuk selalu mengabdi pada jalan-Mu.”


Tepat setelah lagu rohani berhenti berkumandang, seseorang berpakaian biarawan dengan warna lebih gelap datang menghampirinya.


“Tuan Santros!”


Ketika sudah dekat di hadapannya, orang itu membungkuk dengan satu tangan di tempelkan di dada.


“Diberkahilah kau, Pengikut Junda,” doa Santros. “Ada perlu apa kau menghadap padaku?”


Dengan sopan ia menyerahkan sebuah tab yang ia bawa pada Santros. “Ada pesan masuk untuk Anda, Tuan.”


Santros mengambil tab itu. “Apa kau sempat membacanya?”


“Emm…. Itu….”


Junda menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya, ia tak sengaja membaca pesan tersebut. Isi pesan yang membuatnya tercengang, tak menyangka jika seniornya dalam kelompok suci mereka terlibat dengan sesuatu yang melanggar aturan keagamaan.


Bukan itu saja. Isi pesan tersebut berisi perintah untuk menjalankan suatu tugas yang tidak masuk akal bagi seorang biarawan.


Ketika Santros masih membaca pesan tersebut, Junda bertanya dengan canggung, “Ma-maaf jika saya lancang. Apakah… Anda terlibat dengan—.”


“Pengikut Junda.”


Nada bicara Santros terdengar menenangkan, murni, dan bijaksana. Rasa canggung yang dialami Junda seketika sirna, beralih dengan perasaan bangga terhadap sang senior.

__ADS_1


“Apakah kau ingin semakin mengabdi pada Tuhan?”


Spontan Junda mengangguk. Diberi pertanyaan seperti itu tentu ia tidak menolak. Berarti, derajatnya sebagai pengikut akan semakin tinggi dan mungkin ia bisa menjadi biarawan agung seperti Santros.


“Tentu, Tuan Santros.”


Senyum teduh diperlihatkan Santros. Namun, seketika sesuatu terjadi begitu cepat pada saat senyum itu ada. Santros menggumamkan kalimat yang sama sekali tidak bisa didengar Junda.


“GLS 558 : Tusukan Kaca Patri.”


Beberapa bongkahan kaca patri tajam muncul di sekitar mereka, seketika menusuk bagian-bagian tubuh Junda, mulai dari tangan, kaki, bahu, perut, sampai dada. Semua itu terjadi dalam waktu sangat singkat.


Dan di saat itu pula, muncul sebuah shotgun putih berkilau di tangan Santros, ditembakan tepat mengenai kepala Junda sampai hancur.


Seketika tubuh tanpa kepala itu jatuh di hadapan Santros, bersimbah banyak darah sampai mengotori sepatu putih yang ia kenakan.


Senyum yang awalnya teduh dan menenangkan kini melebar menjadi seringai mengerikan. Mata birunya berkilau dalam bayangan, wajah rupawannya sedikit kotor terkena cipratan darah. Aura kebijaksanaan itu kini hilang tergantikan oleh sifat yang sebenarnya.


“Sampaikan salamku pada Tuhan, Pengikut Junda…!”


[Nama : Santros V. Oberon]


[Jenis Kelamin : Pria]


[Usia : 25 tahun]


[Profesi : Pemburu]


[Pangkat : Kristal]


[Level : 5]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[Data Privat]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[Data Privat]


...~*~AutoTerra : Operating System~*~...

__ADS_1


...~*~Onna Noir (K*rona N)~*~...


(Nama pena saya kali aja kena sensor :v )


__ADS_2