
“Arni!”
Astan hendak menembak. Namun kalau Astan menembak sekali saja, monster itu akan langsung mati dan yang berhasil mendapat Score Bonus adalah dirinya. Astan tidak ingin mendapatkan banyak Score karena enggan naik level. Dia hanya ingin Arni yang bisa cepat naik pangkat dan level.
“Cih! Sialan…!” decih Astan.
Saat sang monster mendekat, Arni mulai menembak. Sayangnya, tembakannya meleset dan malah membuatnya jatuh akibat tak mampu menahan hentakan senapannya saat menembak.
“Ugh…!”
Mutant Frog melancarkan serangan lidah panjangnya, beruntung Arni mampu menghindar dengan cara menunduk karena serangan itu cukup lemah di saat sang monster mulai sekarat.
“Arni, cepat tembak!”
Dengan panik Arni berusaha menembak di posisi duduk begitu, tapi tak ada peluru yang ditembakan karena senapannya belum dikokang. Mutant Frog semakin mendekat dan mulai melompat ke atas.
Arni pun segera mengokang senjatanya, dan membidik.
“Astaga, Arni…!”
Astan sudah mulai geregetan karena Arni gagal dan belum juga melancarkan serangan.
Astan memutuskan untuk menembak sendiri, tapi rupanya Mutant Frog berhasil ditembak Arni tepat ketika monster itu melompat dan hampir menimpanya.
Kini tubuh Mutant Frog hancur menjadi beberapa bagian, darah berceceran ke mana-mana dan sebagiannya lagi sempat mengotori pakaian Arni.
[Musuh Dikalahkan!]
[C]
[Score : 30]
[Score Bonus : 120]
Arni syok di tempat, tak peduli tentang notifikasi sistem yang memberitahukan hasil Score yang ia dapat. Hal seperti tadi benar-benar membuatnya tegang.
Saat hendak menghampiri Arni, Astan pun juga dapat notifikasi hasil.
[Musuh Dikalahkan!]
[B]
[Score : 93]
Sempat Astan mengintip Score milik Arni karena Score anggota satu Squad bisa dilihat oleh sesama anggotanya, mencoba membandingkan Score yang ia dapat dengan milik Arni.
“Dia masih payah. Agak beda tipis dengan Score yang kudapat cuma sekedar membantunya, apalagi musuh yang dilawan cuma Tingkat Easy,” gumam Astan hingga notifikasinya menghilang. “Tak apa. Yang penting lumayan buat dia naik level.”
Astan menghampiri Arni, dan langsung mengulurkan tangan pada gadis itu yang masih duduk di tanah dengan kaki selonjoran berlumuran darah Mutant Frog. Wajah cantik itu benar-benar terlihat pucat, tubuhnya pun agak gemetaran.
Ini pengalaman pertama bagi Arni, jadi Astan bisa memaklumi. Arni terbilang pemburu beruntung yang selamat di pengalaman pertama berburu, karena tak jarang juga ada beberapa pemburu pemula yang mati sia-sia di saat pertama kali berburu, dan itu terjadi pada semua Guild.
“Kau tak apa? Apa ada yang luka?”
Sontak Arni memandang Astan dengan pandangan syok. Tangannya yang masih gemetaran itu menyambut uluran tangan Astan dan mulai berdiri dibantu oleh pria itu juga.
“Inilah rasanya jadi pemburu,” ujar Astan tenang, “Setiap melakukan misi, kau akan dihadapkan dengan pilihan nasib antara hidup dan mati. Monster ini masih belum seberapa. Akan ada banyak makhluk dari berbagai jenis yang jauh lebih kuat lagi bakal dilawan.”
Arni tetap diam, tak bersuara sama sekali. Matanya fokus pada bekas darah sang monster yang masih mengotori pakaian dan kakinya. Semua itu terasa begitu menjijikan.
Jijik, takut, semuanya campur aduk hingga membuat tubuh Arni gemetaran. Bahkan untuk mengepalkan kedua tangannya saja hampir tak bisa.
“Arni….”
Astan sendu saat melihatnya. Gadis itu masih cukup muda untuk melihat seberapa mengerikan monster yang hendak memangsanya, lalu tiba-tiba mati terbunuh di tangannya dengan darah, daging, dan organ terburai dalam sekali tembak.
Mungkin mental Arni sekarang masih belum siap. Tapi ini sudah menjadi pilihannya, keputusan gadis itu sejak awal untuk menjadi pemburu. Dan inilah risiko yang ia dapat.
__ADS_1
Kematian di depan mata.
Hanya nasib dan usaha yang membuat setiap pemburu mampu bertahan hidup.
“Arni, apa kau perlu—.”
“Bang Astan….”
Suaranya terdengar parau, tatapan mata kosong menerawang ke dalam hutan rawa. Tangannya masih gemetaran, saling bertautan di depan dada. Nampak jelas bahwa serangan syok itu tidak main-main.
“A-Arni…?”
“Bang…. Tadi…. Tadi….”
Arni hampir tak mampu berkata-kata. Semua yang terjadi dalam sekejap mata benar-benar berhasil membuatnya diam mematung, takut untuk berbuat apa-apa lagi.
Melihat keadaan Arni sekarang, Astan jadi prihatin. Apa yang bisa ia lakukan agar gadis itu tenang?
“Tadi…. Tadi….”
Namun, terukir senyum lebar di wajah cantiknya.
“TADI ITU MENEGANGKAN!!!”
“Bugh!”
Astan mendadak terkejut, bukan hanya karena perubahan sikap Arni, tapi juga karena punggungnya dipukul keras oleh gadis itu. Akibatnya, permen karet yang sempat dikunyah jatuh ke dalam air rawa.
Mending permen karet yang keluar dari mulut, bukan gumpalan roti isi jatah sarapan Astan yang masih betah menginap di lambung.
“Yah…. Jadi buang sampah sembarangan aku,” ucap Astan kecewa melihat nasib kunyahan permen karetnya.
Maafkan Astan akan tindakan lancang yang tak sengaja mengotori alam. Salahkan perawan metal yang tiba-tiba memukul punggungnya sekeras itu secara tiba-tiba.
“Tadi itu hebat sekali, Bang Astan!”
“Sangat menegangkan! Aku tadi hampir berpikir bahwa kematian di depanku. Adrenalinku bergejolak, bisa kurasakan darah mengalir di setiap nadiku saat berusaha mengokang Sniper Rifle. Dan ketika aku membidiknya…. DUAR! Dalam satu tembakan badannya langsung meledug! Aku syok, tak percaya kalau aku bisa melakukan hal sehebat itu! Aku, aku—.”
“Dek Arni….”
Arni tegang, bukan karena syok tadi, tapi karena suara Astan yang terdengar dalam dan mengintimidasi. Astan menatapnya, tersenyum selebar mungkin tapi bukan senyum bahagia, mata tajam mengkilat bagaikan ujung belati, siap menggorok siapa saja hidup-hidup.
Sesaat Arni menelan salivanya sendiri.
“Kau suka… hal menantang seperti tadi…?”
Tangan Astan terangkat. Otomatis Arni menutup matanya, takut kalau Astan malah hendak menamparnya. Tapi, Arni yakin Astan bukan tipikal pria yang bakal melakukan kekerasan terhadap perempuan.
Rupanya, Astan hanya menepuk puncak kepala Arni pelan. Tapi, bukannya merona dengan hati berbunga-bunga, Arni malah merasa terancam dengan tepukan pelan itu.
“A-anu…. Bang….”
“Kalau kau menikmati tantangan begitu, lain kali jangan jadi beban, ya?”
“Eh?”
Arni mendongak, menatap Astan dengan tatapan polos.
Astan membalas disertai senyum lebar.
Arni masih menatap polos.
Astan masih tersenyum lebar.
Arni masih menatapnya polos.
Dan meledaklah Astan.
__ADS_1
“KAU TIDAK SADAR KALAU BIDIKANMU TADI BUSUK?!”
Spontan Arni terlonjak kaget, seketika nyalinya menciut di tempat.
“Padahal tadi cuma sekali tembak, monsternya bakal modar dari jauh! Tapi kau malah pakai salah bidik, terus lupa kokang senjata! Mending kalau lupa dikokang! Gimana kalau sampai amunisinya yang abis?! Ribet kau mengisi ulang dalam situasi setegang itu!”
“Aku mau saja menembak! Tapi aku masih ingat kalau kau perlu menaikan levelmu lebih cepat, makanya kubiarkan agar kau mendapat Score Bonus! Jantungku hampir copot gara-gara itu kodok bujang udah langsung main terjang!”
“Nafasku tercekat melihat kau begitu kena mental setelah berhasil membunuhnya! Kukira kau jijik, takut dengan situasi setegang tadi! Aku bahkan sempat berpikir untuk membawamu pulang saja! Kalau sampai abangmu mengira yang tidak-tidak, bisa jadi sekaleng kornet tinggal nama nanti aku!”
“Bidikan meleset! Tindakan lambat! Dan kau anggap ITU HEBAT?!!”
“Haaah…. Haaah…. Haaah….”
Astan ngos-ngosan, meluapkan segalan emosi dan kegeregetannya terhadap sikap Arni. Arni sendiri tetap diam, menatap Astan dengan kedua mata cokelat melotot, nampak bola matanya seakan-akan hampir keluar dari tempatnya.
“AKAN KUTAMPAR PANTATMU SAMPAI MERONA!!!”
“KYAAAAAH!!!”
Buru-buru Arni lari ketika Astan mulai mengejarnya dengan penuh kekesalan. Astan benar-benar kesal karena sudah sia-sia mengkhawatirkan keadaan Arni yang rupanya baik-baik saja.
“Ampun, Bang Astan! Ampun!!!”
Mereka terus kejar-kejaran di hutan dekat air rawa, hingga akhirnya Astan mendadak berhenti ketika mengingat sesuatu.
“Tu-tunggu dulu.”
Buru-buru Astan mengecek data monster tadi lewat panel sistemnya.
[Julukan : Mutant Frog]
[Jenis : Monster]
[Sifat : Masif]
[Status : Easy]
[Peringatan : Mengandalkan serangan dari hantaman lidah dan gigitan tajam]
“A-ada apa, sih?” Arni yang masih panik berusaha jaga jarak dari Astan. “Ka-kau pasti mau menipuku, kan…? Akan kuadukan tindakan tak senonohmu pada Bang Suda!”
“Tu-tunggu. Dengerin dulu…. Ini aku serius.”
“Hah?”
Ekspresi panik Arni kini berubah menjadi heran saat melihat Astan serius membaca data singkat sang monster.
“Ada apa, Bang?”
Panel sistem Astan langsung lenyap. “Di data, Mutant Frog itu bersifat masif, kan…?”
“Maksudnya?” Arni menghampiri Astan.
“Begini, Arn. Setahuku, sifat musuh itu ada tiga, Agresif, Pasif, dan Masif.” Astan menunjukan ketiga jarinya. “Agresif itu tipe musuh yang sangat aktif dalam menyerang, serangannya pun berefek sangat kuat. Musuh yang Pasif itu menyerangnya cukup tenang, tapi daya tahan tubuhnya lumayan kuat. Sedangkan Masif itu—.”
[Peringatan! Serangan Masif!]
[Peringatan! Serangan Masif!]
Mereka dikejutkan dengan kemunculan tiba-tiba segerombolan Mutant Frog dari dalam air rawa dan sekitar area hutan. Seketika gerombolan itu ambil posisi masing-masing, mengepung Astan dan Arni tanpa celah untuk lari.
Astan pun memiringkan kepalanya, kembali melanjutkan kalimat tadi,
“…. Main keroyokan.”
...~*~*~*~...
__ADS_1