AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 28 : Hah? Selingkuh?!


__ADS_3

Astan berwajah pucat. Tak biasanya ia melihat Arni segalak ini. Bahkan ketika menghajar Rizu tadi, kekuatannya nampak seperti pemburu Pangkat Perunggu ke atas.


Apakah Gelang AutoTerra Arni juga mengalami Bug seperti milik Grim? Tapi, Astan yakin gelang Arni baik-baik saja karena ia melihat setiap proses yang dijalankan Arni saat pemasangan sistem, jadi mustahil kalau mengalami Bug juga. Sistemnya pun nampak normal ketika digunakan.


Selama beberapa saat, Astan pun teringat dengan perbincangan singkat antara dia dan Suda sebelum menjalankan misi ini.


….


Sebelum Astan berangkat bersama Arni ke Darzia untuk menjalakan misi, kebetulan Astan bertemu dengan Suda di salah satu Stand toko mesin di dekat lobi Guild. Kelihatannya, pria berambut hitam berantakan itu hendak membeli mesin dan beberapa peralatan yang ia butuhkan.


Maklum, teknisi mesin.


“Hoi, Suda!” sapa Astan memasuki halaman toko.


Suda yang sedang duduk di bangku toko sambil mengecek kualitas mesin dan peralatan yang ia beli langsung menoleh disertai senyum bersahabat.


“Yo, Astan!”


“Lagi belanja-belanja, nih?” tanya Astan, berdiri di samping dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Iya, nih. Oh, iya. Bukannya hari ini kau mau pergi menjalankan misi bersama Arni. Arni mana?”


“Udah duluan ke resepsionis. Awalnya aku mau beli minum dulu, cuma kebetulan lihat kau di sini, jadi pengen nyapa-nyapa aja sekalian pamitan juga,” jawab Astan santai.


“Oh… Iya, ya….” Suda mengangguk mengerti.


Sesaat Astan teringat akan beberapa kejadian yang nampak mencurigakan, dan semua kejadian itu kelihatannya melibatkan Arni, adik Suda. Mungkin tak masalah jika ia tanya-tanya sebentar soal Arni pada abangnya langsung.


“Hoi, Suda. Arni itu kenapa, sih?”


Suda menghentikan aktivitas mengecek mesin dan peralatannya, beralih pandang fokus ke Astan yang nampak memasang ekspresi heran.

__ADS_1


“Kenapa apanya?” tanya balik Suda bingung.


Astan mengelus tengkuknya, “Yaa…. Arni itu kelihatan aneh, deh. Kemarin pas di lapangan latihan, aku ketiduran nungguin Arni naik Pangkat Kayu. Pas bangun, tahu-tahu Arni udah jadi mendadak kuat, mukanya kelihatan marah pas menghajar semua Wooden Doll. Terus, aku juga nemu dua biji laki tergeletak gitu aja dengan luka bonyok dimana-mana. Ironisnya, Arni baik-baik aja di sono. Pas ditanya, malah mengalihkan topik.”


“Tadi juga pas nyamperin aku di tempat Laundry, aku juga nemu dua biji laki tergeletak dengan badan tuh udah patah-patah, untungnya langsung di bawa ke Dek Medis. Pas aku tanya ke Arni, dia malah jawab, ‘keseleo, kali’. Ya, kagak nyambung ‘lah. Makin curiga aku sama si Arni itu. Dia kenapa, sih? Makanya, aku tanya ke kau yang merupakan abang kandungnya.”


“Pffft…. Ahahahaha…!”


Mendengar semua penjelasan Astan, sontak Suda tertawa seakan-akan itu semua memanglah hal yang sangat lucu. Astan pun makin heran dengan kelakuan sahabatnya ini.


Mungkin abang dan adek sama-sama kagak beres ini, pikir Astan.


“Aduduh.... Ash, Ash….” Suda menyeka air mata tawanya. “Empat laki itu pasti menyinggung hal yang sangat sensitif untuk didengar Arni.”


Astan menaikan sebelah alis. “Hal yang sensitif? Maksudnya, mereka menghina Arni, gitu?”


“Enggak…. Aku yakin bukan. Mereka pasti membahas soal Harem atau pengen punya banyak cewek, kan?”


Astan tentu tidak tahu kalau keempat korban lelaki tersebut membahas fantasi pria sejenis itu. Namun, Astan cukup penasaran dengan apa hubungannya Arni dan pembahasan soal Harem ini.


“Temennya ini memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMA karena faktor ekonomi. Jadi, putus sekolah dan memutuskan untuk nikah sama cowok yang dijodohkan ama keluarganya sendiri.” Suda mengibas-ngibaskan tangannya. “Yaa…. Biasalah, ya. Perjodohan paksa ala-ala novel-novel dewasa yang sering laku di internet itu.”


“Nikahlah mereka. Temennya ini juga sering cerita-cerita pada Arni soal perkembangan rumah tangganya yang dikata harmonis, gitu. Sampai ketika Arni….” Suda nampak mengingat. “Kalau enggak salah pas Arni sudah kelas sebelas SMA. Ada kejadian temennya ini dateng-dateng ke Arni, nangis…. Curhat katanya, lakinya selingkuh.”


“Lah? Pakai selingkuh juga, toh?” tanya Astan agak terkejut. “Temennya ini ‘kan nikah pas lulus SMP, masih muda banget itu. Masih seger-seger, lho. Kok lakinya langsung selingkuh?”


Suda menggeleng bingung. “Mana kuketek? Pemikiran laki ‘mah beda-beda kalau soal cewek. Ada yang baik, ada yang bajingan, ada yang bajingan sebajing-bajingannya bajing lompat.”


“Bah! Pusing aku denger kau ngomong ‘kek begitu.” Astan mengacak-ngacak rambut jingganya.


“Haha…. Waduh, jadi lupa aku mau ngomong apa.” Sesaat Suda tertawa, lalu kembali melanjutkan, “Lakinya kepergok selingkuh sama cewek lain. Dan fakta mengejutkannya lagi, si laki itu udah puluhan kali selingkuh dan udah punya sebelas bini. Di antaranya ada yang nikah resmi, ada yang cuma nikah sekedar atas persetujuan kedua belah pihak tanpa ada campur tangan hukum pernikahan.”

__ADS_1


Lagi-lagi Astan dibuat terkejut. “Waduh?! Sebelas bini? Ganas amat…. Emang tuh laki seganteng apa sih sampe banyak cewek klepek-klepek ama dia?”


“Bah! Pas-pasan!” ledek Suda. “Mukanya sebelas-dua belas ama boneka badut yang sering joget-joget di lampu merah di Jalan Saputerbang itu. Malahan gantengan kita-kita jauh. Cuma, yaa… dia banyak duit aje, juragan… gabus, lah.”


Astan memasang muka bete. Lagi-lagi banyak cewek pada demen cowok berduit biarpun muka udah pas-pasan, sampai-sampai kalau dibandingin sama jalan aspal yang baru dibikin, gantengan aspalnya ketimbang orangnya.


Astan bersedekap. “Terus, apa hubungannya dengan Arni? Arni ‘kan enggak kenapa-napa ama tuh laki?”


“Emang kagak ada hubungannya sama entu laki, tapi ‘kan bininya sahabat Arni,” jelas Suda pula, “Setelah mendengar cerita itu, marahlah Arni. Dia gerebek itu kediaman si laki, terus dia hajar entu laki sampai babak belur.”


“Aku emang kagak ada di TKP, cuma dari cerita orang-orang di sana, Arni itu menghajar si laki bukan cuma dipukul, tapi ditendang, dibanting, dipukul lagi pakai kursi sampai hancur, terus dilemparin bata, dan terus aja dihajar sampai tuh laki koma tiga bulan.”


“Waduh.”


Astan memalingkan wajahnya, makin terkejut mengetahui fakta bahwa Arni bisa semarah itu sama orang. Selama ia kenal Arni, Astan pikir gadis itu anak yang ceria dan normal-normal saja.


“Aku sebagai abangnya tentu cemas dong pas tahu adik sendiri mukulin orang sampai koma, apalagi pas dengar pihak entu laki laporin Arni ke polisi,” cerita Suda kembali, “Untung cuma dikasih peringatan sama bayar denda, jadi Arni enggak sampai dipenjara.”


“Kok bisa?”


“Kata polisinya, masih di bawah umur.”


Setelah mendengar semua cerita Suda, Astan mulai mengerti mengapa keempat pria kemarin terkapar dalam keadaan mengenaskan. Rupanya, benar-benar dihajar Arni gara-gara menyinggung soal keinginan mereka untuk mengoleksi banyak perempuan biarpun itu cuma sekedar candaan.


“Makanya, Ash…. Kalau bisa, jangan omongin soal Harem atau keinginan buat punya banyak cewek. Cewek pun juga jangan cerita soal khayalan mereka punya banyak cowok. Kedengaran sampai ke kuping Arni, bisa habis kalian.”


Astan pun hanya mengangguk mengerti. Setelah mereka selesai berbincang, Astan pamit untuk menjalankan misi.


….


Sekarang Astan ingat kalau kekuatan yang dimiliki Arni bukan hasil Bug sistem, melainkan murni karena emosi berlebihannya.

__ADS_1


...~*~*~*~...


Aku nulis adegan Suda dan Astan lagi ngobrol berasa ngebayangin bapak-bapak ngegosip di pos ronda.


__ADS_2