AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 42 : Menerima Tawaran


__ADS_3

Mavin berjalan cepat melewati koridor menuju kabinnya sambil membawa sebuah tab, masih dengan penyamaran nyentrik ala anak Hippie. Selain tidak ingin ada yang curiga, dia memang harus buru-buru sampai ke kabin untuk menyampaikan hal ini kepada Harnan.


Semoga saja sang wakil komandan sudah ada di tempat.


Pintu kabin langsung terbuka otomatis. Segera Mavin masuk dan menguncinya dengan sandi. Penghuni di dalamnya sontak terlonjak kaget saat sedang memainkan ponsel di sofa.


“Bujubuneng! Nih anak kadal ngagetin aja…!” bentak Harnan spontan sambil mengelus dadanya yang terasa hampir copot.


“Ngagetin apaan? Orang cuma masuk doang. Kau habis nonton yang macam-macam, ya?” tanya Mavin curiga.


Harnan diam dengan muka agak masam. Habislah dia kalau sang komandan tahu dia sedang menonton ‘sesuatu’.


Enggan peduli Harnan akan menjawab atau tidak, Mavin lebih memilih duduk bersender di sofa tunggal sambil menghela nafas lega.


“Dapat hasilnya.” Mavin memijat pelipisnya.


“Apanya?”


Mavin melemparkan tab tadi sampai ujungnya berhasil kena kepala Harnan hingga menimbulkan bunyi ‘pletak’ dengan keras.


Sungguh, jadi komandan kagak ada sopan-sopannya sama wakil yang lebih tua darinya. Bagaimana bisa dia dipercaya menjadi komandan batalion? Pikir Harnan jengkel.


“Apaan sih main lempar-lempar segala?!” omel Harnan sambil mengelus kepalanya yang mulai benjol keunguan, “Bisa kagak sih dikasih baek-baek, gitu?”


Mavin mendecak, “Ck! Udah, ah. Lihat aja, sono.”


Seperti perintah Mavin, Harnan melihat data dokumen pada tab itu. Otomatis mata cokelatnya terbelalak kaget ketika melihat isi data tersebut.


“Cuy, ini—.”


“Hah?” potong Mavin menunggu respon.


Lihat muka-muka tak peduli Mavin itu, pengen rasanya Harnan menampol pakai buritan pesawat.


“Kurasa, kau ini lebih pantas disebut komandan pasukan kecebong ketimbang komandan batalion. Maksudnya, apa ini…?” Harnan mengetuk-ngetuk tab tersebut dengan emosi. “Seenak pantatmu kau memasukan Astan ke dalam misi ke Kapal Feron 072?! Orang luar tidak boleh sembarangan ikut campur dalam misi militer! Kalau ketahuan Komandan Besar, bahkan sampai Jenderal sekalipun, bisa dipenyek kau sampai ke dasar neraka.”


“Enggak bakal kalau terbukti Astan ini adalah Wakil Ketua Ash.”


Sontak emosi Harnan menciut, beralih dengan kebingungan. “Ma-maksudmu…?”


Mavin menyilangkan kakinya. “Dari hasil pembicaraan tadi, sudah disimpulkan bahwa dia memang beneran Wakil Ketua Unit Leston09, Astan Pradipta Cornell atau yang lebih sering kita sapa sebagai Ash. Kemungkinan besar dia benar-benar mengalami amnesia karena kecelakaan yang menimpanya di Kapal Feron 072 tiga tahun lalu.”

__ADS_1


“Benar demikian, rupanya,” gumam Harnan sejenak. “Lalu, apa alasanmu mengajak Astan dalam misi ini? Sekarang, profesi Astan merupakan seorang pemburu. Keadaan Astan saat ini bukan alasan untukmu sembarangan memasukan orang yang bukan militer ke dalam misi.”


“Aku menawarkan kesepakan agar Astan terlibat dalam misi karena sesuatu terjadi padanya,” jawab Mavin serius, “Ini penting! Dan keterlibatan Astan bisa jadi merupakan kunci utama keberhasilan misi ini.”


“Maksudmu?” tanya Harnan heran. “Aku sama sekali tak mendapatkan poin apapun sebagai alasan kuatmu.”


Lagi-lagi Mavin memijit pelipisnya karena pusing menghadapi si tukang omel Harnan ini.


“Sesuatu dalam mimpi dan halusinasinya meminta Astan untuk kembali. Ada kemungkinan besar tempat untuk kembali yang dimaksudnya adalah Kapal Feron 072.”


….


“Apa?! Kau menyuruhku untuk terlibat dalam misi militer?!”


Sebelum Mavin kembali ke kabin, sang komandan masih berusaha mengajukan penawaran agar Astan ikut terlibat dalam misinya.


“Sadarkah kau bahwa saat ini aku seorang pemburu?” tanya Astan emosi. “Hubungan antara militer dan pemburu saja dianggap renggang, apalagi keterlibatan seorang pemburu dalam misi militer. Itu termasuk pelanggaran!”


“Aku tahu. Tapi, tidak akan ada yang tahu jika kita bisa menjaga rahasia ini.”


Astan memilih tuk diam. Lama-lama naik tensi darahnya kalau terus berhadapan dengan komandan berpemikiran antik ini.


“Rintihan itu mungkin saja memintamu untuk kembali ke sana.”


Astan masih mengernyitkan alis, semakin bingung. Untuk apa rintihan itu memintanya kembali ke Kapal Feron 072? Walau sebagian dari diri Astan menerima kenyataan bahwa ia mungkin saja mengalami amnesia, tapi dia masih belum yakin kalau sebelumnya pernah ke kapal milik perusahaan farmasi tersebut.


Mavin kembali melanjutkan, “Kau mungkin masih belum yakin jika dirimu adalah Ash yang mengalami amnesia. Tapi, coba kau pikir lagi. Jika kau memang Wakil Ketua Ash yang sebelumnya pernah bertugas di kapal tersebut lalu berhasil selamat, maka rintihan dari mimpi dan halusinasimu memintamu untuk kembali ke sana.”


“Untuk apa?”


Mavin menaikan bahu sesaat. “Kita tidak akan pernah tahu jawabannya kalau tidak mencoba. Pikirkan, Astan. Mungkin dengan cara ini kau akan mendapatkan jawaban dari segala mimpi dan halusinasi yang menerpamu. Kesempatan ini takkan pernah datang untuk kedua kalinya.”


Lagi-lagi berbagai kalimat berupa ajakan terlontar dari mulut Mavin. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Mavin bisa jadi ada benarnya.


Tempat yang dimaksud rintihan dalam mimpi dan halusinasi Astan kemungkinan merupakan Kapal Feron 072. Fakta bahwa mungkin saja Astan benar-benar Ash si anggota militer yang sempat bekerja di kapal tersebut, tapi sekarang malah mengalami amnesia dan dihantui oleh alam bawah sadar yang memintanya untuk mencoba mengingat hal-hal penting di masa lalu. Semua dugaan itu benar-benar saling terhubung.


Astan makin pusing memikirkannya. Rasanya, kepala ini mau pecah menjadi serpihan kaca.


Apa boleh buat? Kalau semua dugaan itu benar, maka demi membebaskan pikirannya dari semua kebingungan ini, Astan terpaksa menerima tawaran Mavin.


Toh Mavin yang bakal bertanggung jawab kalau tawaran ini merupakan pelanggaran.

__ADS_1


….


“Jadi….” Harnan bersedekap. “Itu alasanmu melibatkan Astan dalam misi ini? Tapi, apa kau yakin kalau Astan yang ini merupakan Wakil Ketua Unit Leston09?”


Dengan gemas Mavin menggetok kepala Harnan.


“Adoh!”


“Pertanyaanmu muter-muter aja dari tadi,” kata Mavin agak jengkel, “Intinya, kita biarkan saja Astan ikut dalam misi ini. Siapa tahu, dia bisa mendapatkan ingatannya kembali setelah melihat Kapal Feron 072.”


“Tapi, ke kapal itu terlalu berisiko untuk pemburu pangkat— Adoh, lagi?!”


Lagi-lagi Mavin menggetok kepala Harnan sampai benjol dua tingkat.


“Bisa aku akali. Yang jelas, kau istirahat saja dulu. Pada jam lewat tengah malam, kita langsung berangkat ke markas bersama Astan.”


Harnan menggosok kepalanya yang sudah benjol. “Kau sendiri bagaimana?”


“Aku masih ada perlu dengan Wakil Ketua Noah.”


“Ya, sudah….”


Harnan beranjak dari sofa, pergi menuju kamar tidur masih sambil menggosok kepalanya yang mengalami benjolan.


“Jangan coba-coba melakukan ‘sesuatu’ di dalam!” teriak Mavin masih duduk di sofa.


Sepertinya, Mavin tadi sempat menebak kalau yang ditonton Harnan adalah ‘sesuatu’ di ponselnya.


Ketika sampai di kamar, Harnan membalas, “Aelah~ Enggak bakal! Kagak ada sabun batang di sini, mah…!”


“Kau ‘mah botol kecap aja langsung diembat. Kali aja mau nyoba pakai botol sabun cair.”


“Hahaha…!”


Tawa Harnan langsung menggelegar seisi kamar sampai terdengar ke seluruh kabin, sedangkan Mavin sendiri berusaha menahan tawa akibat candaan mereka berdua.


Tentu saja Mavin cuma bercanda. Mana mungkin muat cuma pakai botol kecap sama botol sabun cair?


Astaga. Ingat Tuhan, ingat akhirat.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2