
“Katakan, siapa mastermu? Siapa kau? Dan dari pihak mana kau mendapat perintah?”
Tenma terpojok, terkulai lemas di lantai dengan kaki dan tangan kanan ditusuk tombak. Ingin menyerang dengan menendang Astan menggunakan satu kaki bebasnya juga percuma. Kekuatannya terkuras habis, ditambah lagi dengan luka-luka fatal yang ia terima. Zirahnya juga rusak, membuat berbagai zat asing dari kapal ini masuk dan mulai meracuninya perlahan.
Percuma saja untuk bebas. Waktu hidupnya tinggal sedikit lagi.
Atas semua pertanyaan Astan, Tenma merespon dengan tawa walau terdengar sedikit ringisan akibat menahan sakit. “Hissst…. Aku tidak akan mengatakannya, bahkan sampai akhir hayatku! Argh!”
Tenma kembali menjerit merasakan rasa sakit di tangan dan kaki kirinya. Rupanya, kedua anggota badan itu ditusuk oleh pasak besi yang diciptakan Edrick lewat Program Kemampuan.
Sang ketua muak melihat ketengeliannya di saat-saat terakhir begini. Jadi, mungkin tak masalah jika ia menyiksa Tenma palsu sedikit.
“Kau bisa melepas injakanmu dari tangannya, Astan. Dia tidak akan bisa kemana-mana,” kata Edrick datar. Panel sistem muncul di hadapannya. “Biarkan dia mengoceh. Aku akan berusaha merebut dua flashdisk milik tim kita dari penyimpanan sistemnya.”
Sesuai perintah Edrick, Astan menjauhkan kakinya dari tangan kiri Tenma. Tapi, dia masih menodongkan moncong senjatanya.
Walau sudah disiksa begini, Tenma palsu masih bisa tertawa terbahak-bahak disertai ringisan. Mengetahui fakta bahwa sebentar lagi malaikat maut akan menjemputnya, membuat kejiwaan Tenma menjadi terganggu.
“…Kenapa?! Kenapa, Astan…? Kenapa kau tidak suka dengan keberadaan Sistem Re:Set dalam dirimu? Dengan Sistem Re:Set, kau bisa menjadi sangat kuat. Kau bahkan… bisa melampaui kekuatan Dewa sekalipun.”
“Kau… adalah kandidat yang cocok untuk Sistem Re:Set. Seharusnya, kau bangga! Ada ribuan pengguna sistem yang berebut ingin menggunakan Sistem Re:Set karena dianggap jauh lebih lengkap dari Sistem AutoTerra. Tapi, mereka semua berakhir buruk…. Tidak ada yang cocok menggunakan sistem keberuntungan itu.”
Astan semakin menodongkan senapannya. “Jangan kau anggap sistem sialan itu sebagai pembawa keberuntungan!”
“Kau buta! Justru Sistem Re:Set adalah perantaran paling bagus untuk mendapatkan apa yang kita inginkan di alam semesta!”
Di dalam pikiran Tenma dan hanya bisa dilihatnya seorang, ada satu panel notifikasi transparan muncul.
[Peringatan! Sistem AutoTerra mengalami gangguan]
[Memulai proses pemindahan data…]
Lalu panel transparan itu berubah menjadi warna abu-abu tipis.
[Memulai proses sinkronisasi jiwa pengguna]
[Memuat….]
Selama proses misterius itu berlangsung di pikirannya, Tenma semakin mengoceh tidak jelas.
__ADS_1
“Ahahaha…. Aku… aku memang gagal membawamu dan sampel Sistem Re:Set pada masterku. Walau kalian berhasil menyerahkan Sistem Re:Set ke persidangan, persidangan akan tetap mampu digagalkan!”
Astan maupun Edrick sama-sama tersentak. Dari ocehan ini, mereka mendapat satu fakta bahwa pihak yang mengirimkan penyusup ini kemungkinan besar memiliki rencana atas persidangan BioEmerald kelak. Kalau seperti ini, mereka wajib melaporkan kabar tersebut pada atasan.
“Dan untukmu, Astan Pradipta Cornell…! Kau harus bersiap, karena mulai sekarang… kau akan diburu oleh pihak masterku!”
Panel sistem di pikiran Tenma kembali memberitahukan.
[Selamat datang kembali, Pengguna]
[Terima kasih telah menggunakan jasa sistem kami]
[Sebagai hadiahnya. Anda akan dikirimkan ke dimensi yang sesuai dengan Anda. Dan jadilah yang terkuat di alam semesta]
Mengetahui pemberitahuan itu, Tenma menyunggingkan senyum miris di balik helm. Ia tahu, notifikasi itu hanyalah bualan belaka. Dia telah gagal menjalankan misi, maka bukan sesuatu yang diinginkan yang akan diberikan oleh sistem ini.
“Astan.” Dua flashdisk berhasil muncul di tangan Edrick. “Aku sudah merebut dua flashdisk-nya. Sekarang, terserah padamu saja.”
Jika data-data yang hampir dicuri telah kembali, tidak ada gunanya bagi Astan untuk terus berurusan dengan orang ini.
“Mau aku diburu atau dibunuh oleh pihak mastermu sekalipun, aku tidak peduli.” Jari Astan sudah siap menarik pelatuk senapan. “Aku sudah terlanjur terlibat dalam permainan sistem-sisteman kalian.”
Pada saat-saat terakhir kematian Tenma palsu, dia sempat melihat samar-samar bayangan hitam tipis menguar di sekitar tubuh Astan. Ia mengerti pertanda bayangan itu. Sungguh keputusan yang sangat tepat menjadikan Astan sebagai kandidat pengguna Sistem Re:Set.
Jika pihak sang master bisa menundukan Astan, maka Astan bisa menjadi senjata penghancur yang sangat menguntungkan. Tapi jika Astan gagal ditaklukan…
Mungkin musibah besar akan terjadi ke depannya, bagi pihak mereka maupun alam semesta.
“Jika mereka menginginkanku….” Ucapan Astan kembali dilanjutkan, “Maka kematian yang akan kuberikan.”
Astan langsung menembak kepala Tenma dengan tembakan bertubi-tubi. Kapala Tenma palsu hancur beserta helmnya, tercincang-cincang habis, darah menyembur deras, pecahan kerangka dan buraian otak menyebar mengotori lantai sekitar dan zirahnya.
Astan terus menembak kepala itu walau sudah hancur. Kenyataan bahwa Tenma yang asli sudah dibunuh sebelum berangkat bersama mereka, satu tim dibantai penyusup asing ini, hampir gagal menjalankan misi, dan fakta bahwa otak Astan ditanami Sistem Re:Set. Semua itu sungguh membuat hatinya murka.
Bahkan membunuh satu biang kerok ini masih belum cukup untuk meredakan amarah ini. Sayangnya, Astan tetap harus bisa menahannya. Egonya bukan sesuatu yang penting, kembali ke markas adalah hal paling utama.
“Astan….”
Melihat Astan menghabisi musuh mereka dengan cara tak manusiawi begitu membuat Edrick mematung di tempat. Tubuhnya sedikit tegang, tak menyangka jika Astan akan bertindak berlebihan begini.
__ADS_1
Tapi, mungkin ini tak masalah. Kalau Edrick di posisi Astan pun, pasti ia akan melakukan hal yang sama demi membalaskan dendam kematian rekan-rekan mereka.
“Argh!!! Menyebalkan!”
Rasa tegang Edrick seketika sirna ketika mendengar teriakan melengking Astan. Gambaran Astan yang dikira Edrick mengerikan jadi aneh ketika melihat si pemburu berteriak sambil mencak-mencak menginjak genangan darah kepala Tenma palsu.
“Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!” Astan menunjuk-nunjuk mayat Tenma. “Kenapa orang ini bersikeras tidak mau memberitahu siapa yang menyuruhnya?! Siapapun pihak yang menginginkanku dan Sistem Re:Set, kalau aku tahu orang-orangnya, bakal kugeprek jadi manusia sambal belacan!”
Edrick menatap datar Astan. Kalau kata-kata itu dikatakan oleh orang lain, pasti bakal disebut bualan. Tapi kalau Astan yang bilang, Edrick percaya.
Buktinya, dia barusan melihat Astan benar-benar membuat Tenma palsu jadi manusia sambal belacan.
“Hei, Astan.” Edrick mulai bicara, “Apa tidak berlebihan membunuhnya begitu? Kukira kau akan membiarkannya hidup lalu menyerahkannya pada pihak markas militer.”
Astan mengelus helmnya. “Untuk apa? Enggak ada gunanya membawa orang ini hidup-hidup bersama kita. Jika dia berani membunuh rekan-rekan kita, kenapa musti membiarkannya hidup?”
Lanjut Astan, “Bukannya aku tidak percaya pihak militer. Masih ada kemungkinan dia bisa lolos ketika hendak diserahkan pada mereka. Menggali informasi darinya pun percuma. Maaf saja, Kawan. Sekarang, aku bukan prajurit lagi yang perlu mentaati hukum dan aturan.”
“Aku adalah seorang pemburu yang bebas melakukan apapun demi bertahan hidup.”
Kalimat terakhirnya sungguh terdengar tegas. Edrick pun menghela nafas. Kalau sudah seperti ini pola pikir seorang pemburu, dia enggan ikut campur. Pantas saja seringkali tersebar gosip kalau pihak militer dan pemburu sering bertikai, rupanya pola pikir kedua belah pihak terlalu bertentangan.
Sesaat Edrick sempat memperhatikan dua flashdisk yang sudah ia dapatkan. Dalam proses mendapatkan dua flashdisk itu kembali, ia kira perlu menggunakan Kemampuan Hack Tipe-5. Tapi rupanya, Sistem AutoTerra milik Tenma palsu sudah offline walau belum mati, jadi Edrick bisa lebih mudah merebutnya.
Ini agak aneh menurut Edrick. Sistem AutoTerra akan langsung offline jika pengguna sudah mati. Lalu kenapa Sistem AutoTerra milik Tenma palsu bisa tidak aktif lebih dulu sebelum orangnya mati?
“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Astan lebih tenang ketika melihat rekannya melamun.
“Sesuatu yang aneh, Astan.” Edrick menjawab, “Sistem AutoTerra orang itu offline sebelum dia mati.”
Astan ikut heran, mengerti maksud Edrick. Mustahil Sistem AutoTerra seseorang bisa berhenti aktif duluan sebelum penggunanya mati. Tidak ada sebab yang dapat membuat hal seperti itu terjadi.
Selama mereka bicara, keduanya tidak menyadari kalau daging dari potongan leher Tenma mulai bergerak-gerak. Perlahan berubah wujud menjadi gumpalan daging liat bermulut disertai banyak taring.
“Astan, itu!”
Keduanya terkejut melihat ada makhluk menyerupai lintah besar melompat keluar dari lubang leher mayat Tenma, melesat cepat hingga memecahkan kaca yang melindungi sebuah tombol merah di salah satu meja kontrol ruang komando, menekan tombol itu hingga memicu alarm keras.
...~*~*~*~...
__ADS_1