AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 22 : Hilang Fokus


__ADS_3

Astan tidak bermaksud untuk mengajak orang asing bergabung dalam Squad-nya. Tapi sekarang, situasi sangat genting. Astan belum pernah berada dalam situasi dimana ia menjalankan misi Tingkat D, tapi malah berasa sesulit misi Tingkat C dan B gara-gara jumlah musuh tak ada habisnya, dan bos dari kawanan musuh itu punya pertahanan serta Status Kesehatan yang sangat tebal.


Dengan adanya orang ini, yang juga memiliki Kemampuan Umum Martial dan Shield, setidaknya beban misi ini akan terasa lebih ringan.


Bodo amat harus berbagi penghasilan dan Score lagi, Astan sudah capek dengan pasukan satu kelurahan ini!


“A-aku terpaksa memintamu untuk bergabung dalam Squad karena kami tidak mampu menangani musuh sebanyak ini. Ini hanya berlaku sementara. Jadi, hapus air mata sabunmu itu!”


“Eh?”


Grim baru menyadari kalau dia baru saja menangis karena terharu ada yang mau mengajaknya bergabung satu Squad.


Astan melepas cengkeramannya dari jaket Grim, jijik dengan tampang sok menyedihkan itu.


“Kau ya—.”


“Iya! Cepetan, lah! Perawan itu tidak bisa melindungi kita lebih lama lagi!”


Grim segera memberikan notifikasi permintaan untuk masuk ke dalam Squad.


[Pengguna Grimaelo mengirimkan permintaan bergabung dalam Squad. Apa Anda menerimanya?]


[YA] [TIDAK]


Astan langsung mengklik ‘Ya’.


[Pengguna Grimaelo bergabung dalam Squad]


Sedangkan notifikasi lain muncul di sistem AutoTerra milik Grim.


[Selamat, Anda bergabung dalam Squad!]


[Daftar Anggota :]


[Astan Pradipta Cornell]


[Arni Siragan]


[Grimaelo Adrael Novan]


“Te-terima ka—.”


“Simpan terima kasihmu!” Astan mengganti magazine. “Langsung hajar kawanan Mutant Frog! Beri jalan menuju si Alpha!”


“Si Alpha?” Grim sempat melihat ke arah Alpha kodok. “Berarti kita—.”


“Habisi saja kodok-kodok di dekat Alpha! Setelah itu, tunggu perintahku!”


“Si-siap, Ketua!”


Grim langsung berlari, menembak beberapa Mutant Frog di dekatnya menggunakan Shotgun. Astan pun juga mulai menembaki mereka, sedangkan Arni masih tetap membantu dari kejauhan.


Grim nampak menembaki semua Mutant Frog yang melindungi sang Alpha. Ketika ada kodok mutan yang mendekat, ia tembak. Ada yang melompat di atasnya, ia tembak.


[Reload]


Isi peluru sejenak, memutar Shotgun, dikokang, lalu tembak kembali.


Arni juga menembak dari kejauhan, bersembunyi di balik semak-semak atau pohon.


[Mengaktifkan Sistem Pembaca Refleks Saraf]


[Invisible Type-1 : Aktif]

__ADS_1


Saat ada satu kodok mutan menyergap, Kemampuan Invisible otomatis aktif. Arni menghindar dengan jungkir ke samping, lalu menembak sang kodok beberapa kali hingga mati, dan kembali mengisi peluru.


Sepertinya, Arni sudah mulai bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, walau pergerakan tubuhnya masih belum selincah Astan dan Grim.


Astan juga beberapa kali menembak para Mutant Frog yang selalu tiada habis mengejarnya, terus menghindar sambil melompat dari dahan pohon satu ke dahan pohon lain. Di atas dahan pohon, Astan melihat sudah ada banyak celah di sekitar Alpha. Maksudnya, hampir tidak ada lagi pasukan Mutant Frog menjaga sang pemimpin.


“Grim, kalau kau punya Martial, gunakan untuk menghancurkan sebagian Shield-nya! Serangan Shotgun cukup bagus untuk menimbulkan celah! Arni, kau tembak bagian celah Shield yang telah dihancurkan Grim! Usahakan untuk menembak celah tanpa henti, Shield-nya bisa menutup kembali dalam jangka waktu tertentu! Aku akan mengalihkan perhatian anak-anak buahnya!” perintah Astan pada kedua rekan Squad-nya.


“Baik, Bang!”


“Siap, Ketua!”


Arni dan Grim segera menjalankan perintah Astan.


Astan memberi rencana seperti itu karena Arni maupun Grim sama-sama pemburu dengan daya serangan tinggi, apalagi Grim memiliki statistik serangan paling tinggi dan Kemampuan Martial untuk meningkatkan serangan, cukup untuk membongkar Shield milik Alpha.


Sedangkan Arni menggunakan senjata Sniper Rifle yang memiliki peluang untuk memberikan serangan kritis dan tembus pertahanan walau statistik Arni dan Grade senjata masih kecil.


Kalau Astan sendiri lebih ke arah tipe pertahanan. Dengan perannya sebagai umpan kawanan Mutant Frog, setidaknya ia dapat memberi kesempatan pada Grim dan Arni untuk fokus menyerang sang Alpha tanpa ada gangguan.


“Hiiiaaah!”


Butiran-butiran hologram berwarna merah muncul menyelimuti Grim, daya serangnya langsung meningkat dua kali lipat dengan sendirinya. Terbukti, saat Grim mulai menembak tubuh Alpha di jarak yang dekat, perisai hologram milik Alpha langsung hancur, memberikan celah yang cukup lebar.


“Ne-Neng…. Aduh, siapa tadi? Arni, langsung tembak!” perintah Grim, sempat kebingungan mau manggil Arni apa.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Arni menembak dari kejauhan tubuh Alpha Mutant Frog di bagian yang pelindungnya sudah berhasil dihancurkan Grim.


[Status Kesehatan : 89%]


Grim kembali menembak dari jarak dekat menggunakan Shotgun, terus menghancurkan Shield milik Mutant Frog, dan Arni juga menembak bagian bercelah. Sesekali Grim curi-curi tembak di bagian tubuh tanpa Shield, sehingga memberi kerusakan yang cukup besar.


[Status Kesehatan : 78%]


Astan sendiri masih berusaha membawa banyak Mutant Frog menjauh dari sang Alpha, menembaki mereka tanpa henti. Tapi, sesuatu terjadi pada kepala Astan.


“Kenapa…?”


“Argh!”


Mendadak Astan berhenti bergerak, kepalanya tiba-tiba saja pening. Sekelebat bayangan aneh muncul di depannya, mirip seperti panel hologram yang mengalami glitch parah disertai suara-suara rintihan yang sangat mirip dengan yang sering muncul di mimpinya.


“Kenapa… kau tidak kemba—.”


[Anda mendapatkan misi]


[Bunuh semua or—]


“Hentikan! Aku tidak mau melakukannya!”


“Kau bukan sistem! Kau hanya memberiku ilusi!”


“Apa in— Agh!”


Tanpa sadar pertahanan Astan longgar. Satu kodok mutan menyerangnya dengan gigitan. Spontan Astan menahan gigi-gigi taring sang kodok mutan menggunakan Assault Rifle. Terus menahan walau tubuhnya sudah mulai lelah.


“Kembalilah….”


[Lakukan misi, atau Anda akan mendapat hukuman]


“Kembalilah…. Sistem itu terus menghantuiku…!”


Astan benar-benar kehilangan fokus gara-gara glitch dan suara-suara aneh tak bersumber di sekitarnya. Hal itu membuat pertahanan Astan melemah, fitur Pembaca Refleks Saraf Shield juga sama sekali tidak aktif untuk melindunginya.

__ADS_1


Dan lebih buruk lagi, Assault Rifle milik Astan tiba-tiba hancur, kena gigitan taring-taring Mutant Frog. Tubuh bagian torsonya pun juga ikut kena gigit, sehingga menyebabkan luka parah di tubuhnya dan jaket serta kaos yang ia gunakan hancur.


“Bang Astan!”


“Ketua!”


Arni dan Grim syok melihat senjata Astan hancur. Mereka lebih syok lagi saat melihat satu Mutant Frog mendarat di samping Astan, melilit tubuh Astan menggunakan lidahnya, lalu melemparnya jatuh hingga menimpa pohon sampai tumbang.


“Bang Astan!” Arni nampak begitu cemas melihat keadaan na’as Astan.


Grim juga memutuskan tuk mundur, menjauh dari Alpha Mutant Frog saat melihat Astan berakhir seperti itu.


Walau Astan berakhir dengan luka tubuh disertai pendarahan, setidaknya Astan tak sampai tertimpa pohon tumbang. Dia nampak masih sadar, berusaha berdiri sambil menggelengkan kepalanya yang terasa pening.


“Bang Astan…!”


Arni hendak menghampirinya, tapi Astan memberi aba-aba untuk tidak mendekat.


Sekarang, keadaan Astan dipenuhi oleh rembesan darah, dan hanya bertelajang dada karena pakaian atasnya sudah hancur, samar-samar memperlihatkan bentuk otot-ototnya walau berlumuran darah.


“Tidak perlu mendekat….” Astan berusaha mengatur nafas, mulut dan hidungnya terlihat meneteskan darah. “Aku… baik-baik saja….”


Kini Astan memunculkan satu pil berwarna merah-putih yang merupakan pil penyembuh.


“Baik-baik apanya?! Kau terluka parah! Senjatamu juga hancur! Dan kenapa kau bisa berakhir begini?! Kau tidak menggunakan Shield?!”


Setelah meminum pil itu, perlahan luka-luka terbuka bekas gigitan Mutant Frog menutup, pendarahannya pun juga terhenti.


“Sudahlah, Arni…! Aku cuma kurang fokus!” tegas Astan.


Ucapan bernada tinggi Astan langsung membuat Arni menciut.


Merasa sikapnya tadi cukup kasar, Astan berusaha menurunkan nada bicarannya.


“I-iya…. Senjataku hancur karena memang hanya senjata Grade-C, dan sudah lama juga dipakai. Dan Shield-ku mungkin tidak aktif secara otomatis karena aku kehilangan fokus?” Astan menyugar rambutnya yang basah oleh darah. “Entahlah…. Aku juga bingung.”


Kini tubuhnya sudah kembali lebih baik setelah disembuhkan oleh pil penyembuh. Pil penyembuh tidak semerta-merta menyembuhkan semua luka yang diderita Astan, tapi setidaknya dapat menghentikan pendarahan di tengah pertarungan seperti ini. Dia masih perlu memeriksakan diri nanti ke Dek Medis setelah misi ini selesai.


Astan juga mulai menelan pil berwarna biru-putih yang merupakan pil pemulih tenaga. Para Mutant Frog masih banyak, dan sang Alpha juga belum dikalahkan dengan Shield kembali tumbuh melindunginya. Misi ini masih perlu diselesaikan jika mereka ingin kembali hidup-hidup.


Setelah pertarungan dahsyat tadi, kawanan Mutant Frog juga belum memberi pergerakan. Mereka nampak waspada, mengawasi pergerakan ketiga pemburu itu, sambil menunggu perintah dari sang Alpha untuk kembali menyerang.


“Mereka masih belum menyerang karena ingin memulihkan tenaga sejenak. Kita tetap pada rencana awal,” kata Astan, “Grim dan Arni fokus menyerang Alpha. Aku akan berusaha menghambisi anak-anak buahnya.”


“Ta-tapi, Ketua….” Grim mulai berucap ragu, “Senjatamu sudah hancur. Kau pasti belum punya Senjata Tambahan, bukan?”


“Hah! Aku tidak perlu senjata tembak apapun untuk menghabisi mereka.”


Satu belati hitam muncul di tangan Astan dari penyimpanan sistem.


“Glodok….”


Grim tegang ketika mendengar Alpha bersuara. Kawanan kodok mutan terlihat menganga, menampakan taring-taring tajam disertai lidah menjulur ke atas, dan di antaranya juga ada yang bersiap untuk menerjang Astan, Arni, ataupun Grim.


Tinggal menunggu aba-aba selanjutnya dari Alpha Mutant Frog.


Astan memperhatikan semua musuhnya dengan tatapan tajam pada mata heterokrom-nya, seringai lebar diperlihatkan di wajah yang kotor oleh bercak darah.


Sempat Astan melambung-lambungkan belatinya di udara hingga ia tangkap, dan mulai mengambil posisi kuda-kuda siap bertarung.


“Belati ini saja sudah cukup. Karena aku sudah muak dengan kodok-kodok biadab ini!”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2