
[Sekarang : Arc 2]
[Judul : Bayang(an)]
[Status : Memuat....]
“Syuuuit…. Syuuuit…. Syuuuit….”
Pagi-pagi mengawal hari ini, Ranka bersiul santai sambil merapikan meja resepsionis. Lobi Guild sekarang masih sepi, jam juga baru menunjukan pukul 7.45 pagi. Yang nampak di lobi hanya para staf Guild, serta staf kapal dan beberapa robot yang sedang membersihkan lobi. Seiring menit-menit berlalu, sedikit demi sedikit beberapa pemburu berdatangan.
“Yo, Ranka!”
Salah satu staf pria datang memasuki area meja resepsionis sambil menyapa Ranka.
“Yo, Yono!” balas Ranka sedang sibuk mengaktifkan komputer hologram.
Yang disapa menyahut bete, “Nama panggilanku cuma Yono, bukan Yoyono.”
“Ya… maksudku, aku menyapamu tadi.”
Si Yono menaruh tas ranselnya, memeriksa beberapa barang yang ia bawa menyangkut keperluan pekerjaannya sebagai staf Guild.
“Pagi-pagi udah sibuk aja.”
Ranka menyahut, masih sibuk dengan monitor komputer, “Lagi sibuk memeriksa data-data Guild, nih. Aktivitas berburu akhir-akhir ini jadi jarang dilakukan setelah ditetapkan kebijakan menerima upah setengah dari upah biasanya.”
“Ya…. Mau gimana lagi, ya?” Yono berkomentar, “Ekonomi Guild kita sedang tercekik. Banyak pemburu dari pangkat menengah juga kagak berani berburu ke Dungeon gara-gara banyak yang mati di sana. Sering kali mereka menyalahkan Guild yang kata mereka sama sekali tidak menyediakan senjata dan item berkualitas bagus.”
“Kalau mau dapat item bagus, ya ke Dungeon,” komentar Ranka pula, “Semua kesulitan ini terjadi memang karena Guild kita tidak ikut aktif dalam Asosiasi Pemburu, jumlah pemburunya pun cuma sedikit, kegiatan berburu pun tidak seaktif Guild lain.”
Memang, masalah perekonomian Guild sungguh sangat memusingkan. Apalagi Guild berperan penting pula dalam perekonomian para penduduk di seluruh Kapal Thornic 035. Kalau Guild sudah kesusahan, apalagi seisi kapal.
“Ya, sudah.” Yono kembali memasang tasnya. “Aku ke dalam dulu. Mau mulai kerja.”
Kemudian Yono pergi masuk ke dalam ruangan di belakang meja resepsionis.
Saat Ranka masih sibuk dengan monitor komputer, beberapa staf Guild baru saja datang dan bersiap-siap untuk memulai kerja, termasuk Tessa yang nampak baru saja memasuki area lobi sambil membawa tas selempangnya. Wajah wanita itu terlihat cukup pucat karena akhir-akhir ini jarang beristirahat dan punya banyak pikiran juga.
Ranka jadi prihatin dengan keadaan wanita itu. Gara-gara kerjaan makin padat yang membuat Tessa terlihat seperti mayat hidup. Ranka ingin sekali bisa memberikan perhatian lebih pada Tessa, tapi pekerjaannya juga lumayan padat, ditambah lagi Tessa selalu menolak berbagai tawaran baiknya.
Tessa memasuki area meja resepsionis, hanya menaruh tasnya di bawah meja, dan mulai membuka monitor hologram untuk mengecek data-data Guild yang harus ia urus hari ini.
“Pagi, Tessa,” sapa Ranka disertai senyuman.
Tessa menoleh dengan wajah lesu, dan kembali mengetik pada komputer hologram. “Pagi, Ran.”
Senyum Ranka perlahan luntur. Lagi-lagi direspon datar oleh sang pujaan hati. Rasanya, tentu sangat sesak.
Sudah beberapa bulan Ranka mengincar wanita itu, beberapa kali mencoba melakukan PDKT. Tapi seperti biasa, ditolak secara halus.
__ADS_1
Ranka penasaran, memang tipe pria seperti apa yang disukai Tessa? Mungkin Ranka bisa menjadi pria seperti itu.
“Kau sudah langsung memeriksa data-data Guild?” tanya Ranka, berniat membuka pembicaraan.
Masih fokus dengan monitor, Tessa menjawab, “Iya. Masih banyak yang perlu diurus. Terlebih lagi, laporan dari Astan kemarin juga belum diberi tahu pada Ketua dan Wakil Ketua Guild.”
Ranka ingin lanjut bicara lagi. Namun ketika melihat wajah lelah yang dipaksa fokus bekerja di hadapan monitor, membuat Ranka mengurungkan niatnya. Lelaki itu lebih memilih untuk fokus memeriksa data pada tab yang baru saja ia keluarkan dari dalam laci bawah meja.
Untuk saat ini, tidak baik berbasa-basi saat kerja. Biarkan Tessa menyelesaikan pekerjaannya. Kalau pekerjaannya cepat selesai, Tessa juga dapat beristirahat lebih awal.
“Pffft…. Eh, itu ada Juragan Ikan.”
“Aelah~ Juragan Ikan…. Jangan panggil Wakil Ketua kayak begitu, lah.”
“Enggak~ Gemes aja kalau Wakil Ketua dipanggil Juragan Ikan. Kan satu Guild tahu kesukaannya itu apa.”
“Hush! Hush! Berhenti bisik-bisik tetangga. Orangnya kemari, tahu?!”
Para staf dan resepsionis Guild segera diam setelah tadi sempat bisik-bisik konyol ketika melihat kedatangan seseorang memasuki lobi.
Sempat mendengar bisik-bisik mereka, Tessa pun langsung mengalihkan pandagannya ke gerbang lobi. Di sana memang benar ada seseorang memasuki area lobi, seseorang yang baru saja mereka omongin.
Sontak Tessa terpana melihat sosok itu. Sosok yang berjalan dengan wibawa, tak lupa selalu lempar senyum pada para staf dan pemburu yang ia temui, bahkan ada satu pemburu hampir terjerembab menabrak robot pembersih saking terpesonanya dengan senyum surgawi itu.
Siapa yang tidak kenal dengan Noah Benjamin Carl? Sang Wakil Ketua Guild yang dikenal ramah-tamah, tenang, dan bersuara halus kalau lagi bicara. Bawaan hati selalu adem kalau berada di dekatnya. Idaman semua wanita karena parasnya yang tampan, berkulit mulus tanpa pori-pori.
Namun, satu hal yang membuat kesan dirinya jadi agak aneh di hadapan para anggota Guild. Kebiasaannya mengoleksi ikan hias. Ya, berbagai ikan hias dari banyak negara di penjuru planet selalu ia koleksi. Makanya, Noah sering dijuluki sebagai Juragan Ikan.
Tessa merupakan penggemar berat dari Noah. Dia sangat menyukai segala keramah-tamahan sang wakil ketua, senyum malaikat, dan nada bicara semerdu biola altar.
Sangat, sangat didambakan!
Lamunan Tessa akan pesona Noah langsung buyar saat pria berwibawa itu berjalan menuju meja resepsionis, bukan ke bagian Tessa, melainkan ke bagian resepsionis pria yang berada jauh di sampingnya.
“Astaga…!”
Tessa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sangat jarang baginya bisa berhadapan langsung dengan sang idola.
“Selamat Pagi, Resepsionis Guen,” sapa Noah ramah pada resepsionis pria itu.
Sang resepsionis balas tersenyum, “Selamat pagi, Jura— Eh?”
Buru-buru Guen menutup mulutnya saat Noah memberi senyum yang agak misterius dan sedikit mengintimidasi.
Sedikit info, Noah tidak suka dengan julukan konyolnya itu.
Guen lanjut menyapa, “Selamat pagi, Wakil Ketu-aa~aa…!”
Sapaan kali ini terhenti bukan karena salah ucapan, tapi Guen tiba-tiba saja didorong menjauh dari bagian meja resepsionis itu oleh Tessa.
Ada apa ini? Kenapa semua wanita selalu bersikap barbar kalau sudah berhubungan dengan pria idaman? Bahkan rekan kerja sendiri langsung dibantai.
__ADS_1
Noah jadi bingung ketika melihat Tessa mendorong Guen hingga jatuh ke lantai. Ada apa gerangan?
“Eee…. Resepsionis Tessa, kenapa kau—.”
“Ti-tidak apa-apa, Wakil Ketua! Sa-saya baru ingat kalau Guen harus….” Tessa nampak berpikir, mencari-cari alasan. “Harus bantu-bantu membereskan barang-barang di gudang. Ya! Dia bertugas di sana sekarang.”
“Apa?” Guen yang berusaha berdiri sambil mengelus kepalanya jadi heran. “Aku masih bertugas di balik meja resepsionis untuk—Mm!”
Buru-buru Tessa membekap mulut rekannya itu, mendorongnya menjauh ke ruang belakang meja.
“Sudah, sudah! Cepetan sana! Parto nungguin, itu…!”
“Parto?! Siapa pula Parto itu? Kita tidak punya—.”
Tessa mendorong Guen sampai masuk ke dalam ruang belakang meja resepsionis. Setelah itu, Tessa buru-buru kembali ke meja sambil menghela nafas lega.
“Fyuuh…. Ada yang bisa saya bantu, Jura— Ma-maksud saya, Wakil Ketua?” sapa Tessa disertai senyuman selebar mungkin.
Noah agak melongo melihat kejadian tadi. Merasa aneh dengan perilaku Tessa sekarang. Tapi, tak masalah bagi Noah. Mau dilayani oleh resepsionis mana pun sama saja.
“Eee…. Aku hanya ingin meminta data-data laporan terkini soal aktivitas Guild.”
“Oh! Sebentar, ya. Biar saya transfer.”
Tessa segera mentransfer data-data yang diminta dari komputernya ke tab yang dibawa Noah. Sambil mentransfer data, Tessa sedikit menjelaskan keadaan Guild terkini.
“Akhir-akhir ini, aktivitas berburu semakin jarang. Minat para pemburu untuk berburu semakin menurun selepas kebijakan baru.”
Wajah Noah nampak sendu ketika disinggung masalah tersebut. Sesisi Guild dan seluruh Kapal Thornic 035 memang dipusingkan dengan masalah ekonomi. Hal itu membuat Noah dan orang-orang di Guild maupun di kapal ini harus berpikir ekstra untuk mengantisipasinya.
Tessa juga merasa tak tega ketika melihat wajah sendu Noah. Dia merasakan hal yang sama seperti yang Noah rasakan sekarang.
Melihat interaksi antara Noah dan Tessa, serta bagaimana wanita itu memperlakukan Noah dengan perhatian baik, membuat perasaan Ranka jadi tak karuan. Dia cemburu dan juga sakit hati.
Bagaimana bisa orang yang selalu memberi perhatian lebih pada Tessa kalah dari pria sok ganteng macam Noah?
“Hei, Ran— Lah?”
Karena tak mau hatinya makin sakit, Ranka memutuskan untuk masuk ke ruangan di belakang, tak peduli jika salah satu staf yang hendak menyapanya jadi bingung dengan perilakunya.
“Ada apa dengan entu anak?”
Ketika sang staf melihat ke arah interaksi Noah dan Tessa, ia pun mulai mengangguk mengerti.
“Woalah…. Patah hati, toh?”
...~*~*~*~...
Jadi.... Langsung ke intinya. Aku dah update dari kemaren. Tapi mencurigakannya, review lamaaaaaaa.... banget.
Rupanya, emang ada satu kata yang kena sensor, dan kata ini nongolnya cukup sering. Makanya, aku coba unpublish, terus publish ulang. Aku ga nyangka kalau kata itu bakal dianggap kasar atau ga sopan di sini. Jadi, mohon maaf banget.
__ADS_1
Moga aja sekarang dan ke depannya dah ga khilaf lagi 😂😂😂