AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 44 : Sektor Industri


__ADS_3

“Kita sudah sampai, Komandan.”


Kecepatan pesawat semakin diturunkan. Astan bisa melihat dengan jelas sebuah markas militer melayang di orbit planet biru-kehijauan.


Markas Grup Ribelo-II, salah satu markas dari satuan Pasukan Orbit Ribelo. Bentuknya hampir mirip dengan stasiun luar angkasa ketimbang kapal antariksa, tapi ukuran markas ini lebih besar dan luas. Bentuknya seperti bangunan tinggi bagai menara melayang dengan beberapa bangunan lainnya menyerupai cincin mengelilingi bangunan utama, dan seluruh bangunan terhubung satu sama lain menggunakan lorong-lorong transparan.


Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang langka bagi Astan. Ada banyak bangunan serupa dibangun di seluruh penjuru tata surya. Kecanggihan teknologi dan peradaban maju makhluk hidup yang membuat pembangunan bangunan di luar angkasa bukanlah hal mustahil.


Bahkan sekarang pun manusia sudah dapat melakukan teraformasi pada sebuah planet dalam kurun waktu puluhan tahun.


“Pilot, kita mendarat di hangar bagian barat saja, dekat Sektor Industri,” perintah Mavin pada sang pilot.


“Baik, Komandan.”


Bukan tanpa alasan Mavin meminta untuk mendarat di hangar barat dekat Sektor Industri. Daerah markas sana jarang sekali dilewati oleh anggota militer. Kebanyakan yang bekerja dan berkeliling di sana hanyalah para staf dan buruh yang sama sekali tidak memiliki Sistem AutoTerra.


Semua anggota militer memiliki Sistem AutoTerra. Jika Mavin dan Harnan membawa Astan ke daerah dimana terdapat anggota militer, maka identitas asli Astan akan ketahuan karena mampu diketahui lewat pembaca data sistem.


….


Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan baik di hangar bagian barat markas. Sang pilot segera mematikan segala macam kendali dan mesin pesawat. Dia bersyukur, akhirnya bisa kembali istirahat setelah lama menunggu kedua orang penting ini di kapal Guild.


“Pilot.” Mavin mendekat ke tempat kemudi sang pilot. “Ingat, hal ini harus tetap kau rahasiakan sampai kami benar-benar memberitahu yang sejujurnya pada pihak markas. Dan, coba kau nyalakan kembali ponselmu.”


Mavin nampak mengetikan sesuatu pada ponselnya. Begitu ponselnya kembali dinyalakan, sang pilot agak tercengang menemukan notifikasi nominal uang masuk ke rekeningnya.


“Itu tip untukmu. Jika kau mampu menjaga rahasia sampai akhir, aku akan memberikan tip tambahan.”


“Wa-wah…! Terima kasih banyak, Komandan.”


Mavin dan yang lainnya segera keluar dari pesawat meninggalkan sang pilot di dalam. Pilot itu nampak begitu sumringah melihat jumlah uang yang ia dapat. Beribu-ribu syukur ia lantunkan.


“Syukurlah…. Caer…. Caer, caer! Akhirnya, nambah tabunganku buat pulang kampung bulan depan.”

__ADS_1



Mavin, Harnan, dan Astan menuruni tangga pesawat. Mata mereka menelusuri setiap area hangar, nampak sangat sepi dan hanya ada beberapa robot pembersih berkeliling. Memang sudah sepi karena jam waktu di sekitar sini menunjukan hampir subuh hari. Syukurlah, selisih waktu antara markas di bagian orbit sini tidak jauh beda dengan waktu di Kapal Thornic 035 yang berada di orbit Darzia.


“Jadi, kita kemana dulu?” tanya Astan, memasukan kedua tangannya ke saku jaket.


Mavin sempat memeriksa peta markas di ponselnya. “Kita akan mencarikanmu kamar untuk istirahat di Sektor Industri. Di sana jauh lebih aman karena tidak ada anggota militer yang berkeliaran.”


“Kerjaanku cuma istirahat saja, gitu?”


“Ya kagak gitu juga, Bujang,” sahut Harnan.


Ketiganya mulai melangkah menuju gerbang hangar. Begitu keluar, mereka harus melewati koridor panjang dulu sebelum masuk ke area Sektor industri. Syukurlah, koridor sini juga masih sepi, tak ada satu pun orang yang lewat.


“Maksud kami, kau istirahat saja dulu untuk sementara waktu di Sektor Industri,” jawab Mavin sambil berjalan bersama keduanya, “Besok, kami akan mempertemukanmu dengan ketua dari tim yang akan kau masuki.”


“Kau akan mempertemukanku dengan ketua tim militer?” tanya Astan merasa tak nyaman. “Apa dia bakal menerimaku dalam tim? Jika dia tahu kalau aku pemburu, bukan hanya aku saja yang kena masalah, reputasi kalian pun juga bakal bermasalah.”


“Tak apa, Astan. Kami jamin, ketua dari tim ini dapat dipercaya.”


Di waktu sekarang, Sektor Industri nampak sepi. Tapi masih ada beberapa staf, teknisi, serta buruh yang bekerja di sini. Profesi di luar prajurit dan pemburu tidak memasang Sistem AutoTerra. Oleh karena itu, data Astan aman. Tidak akan ada yang tahu identitas dan data statistik Astan tanpa adanya pembaca sistem dari AutoTerra milik orang lain.


Selama melewati Sektor Industri, Astan heran ketika melihat orang-orang di sana terlihat sibuk sendiri, tidak ada yang berniat untuk memberi hormat atau menyapa pada dua orang penting di militer seperti Mavin dan Harnan.


“Mereka tidak memberi hormat atau semacamnya pada kalian?” tanya Astan lagi.


Mavin kembali menjawab santai, “Mereka para pekerja khusus di Sektor Industri. Rata-rata dari mereka tidak mengetahui siapa saja anggota penting militer di markas ini. Mereka hanya fokus untuk terus bekerja. Tak masalah jika mereka tak memberi hormat, aku malah nyaman dicuekin begini.”


Astan memutar bola matanya. Agak merasa heran juga dengan sifat Mavin. Ketika banyak orang sangat suka diperhatikan dan ingin sekali diberi hormat, dia malah mau dicuekin.


Iya, mungkin karena sudah sering diberi hormat oleh para bawahannya. Agak risih juga sering diperlakukan begitu.


“Di Jalur 3, kalau tidak salah masih ada kamar yang kosong,” tunjuk Harnan pada salah satu jalur koridor yang masih berada di area Sektor Industri.

__ADS_1


“Itu bagus. Kita antar Astan ke sana aja.”


Mavin, Astan, dan Harnan memasuki koridor Jalur 3. Masuk lebih dalam lagi, mereka baru menemukan jejeran pintu kamar berbaris di sana. Kamar-kamar ini merupakan tempat istirahat untuk para pekerja khusus Sektor Industri.


“Kau punya kuncinya, Wakil Komandan?” tanya Mavin pada Harnan saat terus berjalan mencari kamar kosong. “Kamar mana untuk Astan, ini…?”


Harnan masih mengecek data pada ponselnya. “Bentar dulu. Ini lagi nyari sandi kamar yang masih kosong.”


Selama bersama mereka, Astan jarang sekali ikut bicara. Nampak bukan diri Astan yang biasanya selalu ceriwis dan bawel. Astan masih merasa asing dengan mereka berdua dan keberadaannya di markas ini.


Namun saat melihat sekeliling, kadang Astan merasakan perasaan familiar yang sulit tuk ia deskripsikan. Halusinasi itu jadi makin sering muncul di pikirannya.


“Kembalilah….”


“Kumohon, kembalilah…!”


Itulah sebab mengapa Astan tak banyak omong sekarang. Pikiran Astan makin dipenuhi oleh sesuatu yang sangat membingungkannya. Mimpi, ilusi, kenangan, ingatan yang bahkan tidak ia temukan sama sekali di memori otak, tapi cukup meresahkan tanpa sebab.


Apakah benar Astan hilang ingatan? Dan apakah dengan bergabung dalam misi militer ini ia akan menemukan jawaban dari segala kebingungannya?


Memang, terkadang ketidaktahuan bisa menjadi rasa takut yang jauh lebih mengerikan.


“Ada di ujung sana.” Harnan menunjuk ke koridor paling ujung setelah berhasil menemukan sandi untuk kamar yang masih kosong.


“Oke. Kita ke sana sa—.”


“Selamat—Anu… menjelang pagi, Komandan Mavin dan Wakil Komandan Harnan.”


Mavin dan Harnan sontak menoleh, mendapati seorang anggota militer menyapa mereka dengan sopan. Sedangkan Astan masih berdiri diam di belakang mereka, terlihat agak tegang juga mengetahui keberadaan anggota militer satu ini.


Tubuh tegang, berkeringat dingin, bingung dan gugup langsung melanda ketiganya.


Mampuslah mereka kalau sampai ketahuan membawa pemburu ke markas Grup Ribelo-II.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2