AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 48 : Senjata Pemberian


__ADS_3

“Oke. Sudah selesai.”


Akhirnya, Edrick selesai memodifikasi data Sistem AutoTerra milik Astan. Sempat Astan memperhatikan gelangnya yang baru saja diretas, tak terlihat terjadi apa-apa. Saat membuka panel data miliknya pun, tak ada perubahan.


“Kau beneran modif data sistemku?” tanya Astan bingung. “Kok kayak kagak ada perubahan apa-apa…?”


Edrick terkekeh, “Hihi…. Kan sudah kubilang kalau kau masih bisa melihat data aslimu, sedangkan orang lain sudah bisa melihat data palsu versi modifku.”


Edrick mengeluarkan panel sistemnya, mencoba memindai data diri sistem Astan, dan memperlihatkannya pada Astan sendiri.


[Nama : Astanu Hernawan]


[Jenis Kelamin : Pria]


[Usia : 23 tahun]


[Profesi : Prajurit]


[Pangkat : Perak]


[Level : 9]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[Data Privat]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[Data Privat]


Memang benar yang dikatakan Edrick. Data sistem Astan benar-benar diubah dari sudut pandang pemindai sistem milik orang lain. Yang diubah hanya bagian nama, profesi diganti sebagai prajurit, dan pangkat menjadi Pangkat Perak. Data senjata dan statistik Astan pun kini bisa diprivat menggunakan Kemampuan Hack Edrick.


Kalau seperti ini, tidak akan ada yang sadar kalau Astan seorang pemburu Pangkat Besi.


“Bagaimana?” Kalau saja tidak ditutupi masker hitam, pasti terlihat jelas senyum lebar Edrick yang menggelikan itu.


“Iya….” Astan mengelus dagu saat membaca data itu di panel Edrick. “Dataku berhasil disamarkan. Tapi, bagaimana dengan tingkat kekuatanku saat di pertempuran langsung? Kalau enggak ikut kena modifikasi, pasti bakal ketahuan banget kalau aku ini masih Pangkat Besi. Apalagi pas aku ke sini, aku masih belum punya—.”


Kata-kata Astan terpotong ketika melihat senjata jenis senapan serbu mendarat di atas meja. Astan beralih pandang ke Mavin, dialah yang menaruh senjata itu di hadapan Astan.


Mavin memberikan senyum khasnya. “Aku sudah membaca data sistemmu. Kau masih belum punya senjata, bukan? Aku tidak tahu pasti. Tapi, mungkin saja senjatamu sebelumnya telah hilang atau rusak.”


“Hancur, lebih tepatnya.”


“Oh.”


Kedua mata hijau Mavin berkedip beberapa kali. Agak merasa heran ketika mengetahui bahwa senjata Astan sebelumnya hancur. Memang seganas apa manusia satu ini saat berburu sampai bikin senjata sendiri hancur?

__ADS_1


“Senjataku sebelumnya Grade-C, dan saat itu aku sedang menyelesaikan misi yang cukup berat bersama Squad pemula. Makanya, mudah hancur,” jawab Astan seakan-akan tahu pikiran Mavin sebelumnya.


Mavin memalingkan wajah sejenak sambil membetulkan posisi topi militer. Tidak heran juga kalau senjata dengan Grade serendah itu bisa mudah hancur.


Astan mengambil senapan serbu itu, menyentuh dan memperhatikan penampilannya yang terlihat lebih berkualitas dari senjatanya yang dulu. Warnanya hitam dengan aksen ungu, ukurannya tidak terlalu besar dan cukup ringan saat diangkat.


[Senjata : Assault Rifle Tipe-V89]


[Grade : A]


[Warna : Hitam-Ungu]


[Aksesoris : -]


[Kemampuan : Meningkatkan daya serang senjata sebesar 15%]


“Wah….”


Astan terkagum ketika melihat data dari senjata ini lewat pemindai sistem. Dapat meningkatkan serangan sebesar itu sudah membuat kekuatan Astan terlihat setara dengan Pangkat Perunggu dan Perak.


Biasanya berbeda dengan senjata Grade-D sampai B, setiap senjata yang memiliki Grade-A ke atas sudah punya kemampuan sendiri.


Mulai dari Grade-A, hanya memiliki kemampuan dalam meningkatkan statistik senjata, seperti kekuatan serangan, pertahanan, peningkatan efek, dan lain-lain. Grade-S dan SS sudah memiliki kemampuan khusus, seperti menambahkan efek api, mengikat musuh, hingga memiliki kemampuan berdasarkan elemen-elemen tertentu. Di Grade-SSS, semua kemampuan khusus makin kuat disertai penambahan peningkatan kemampuan dan efek seperti yang ada di Grade-A.


Senjata dengan berbagai Grade bisa dibedakan lewat penampilannya. Grade D sampai B penampilannya lebih sederhana dan umum. Grade-A sudah nampak dengan desain bentuk dan warna yang unik. Grade-S sudah memiliki efek tertentu, seperti kilauan pada badan senjata, dan terkesan lebih futuristik. Dan Grade-SS sampai SSS sudah memiliki efek yang jauh lebih mencolok disertai tampilan nyentrik, contohnya mengeluarkan aura atau hiasan sirkuit elektrik hidup, atau berbentuk lebih abstrak, terkadang malah tak nampak seperti senjata.


“Kenapa? Enggak suka, ya?” tanya Mavin.


Astan menggeleng ragu. “Entahlah…. Aku cuma… jengkel aja sama warna ungu.”


Entah sejak kapan Astan selalu merasa kesal sendiri setiap kali melihat warna ungu. Tapi, kalau sudah dikasih senjata gratisan, ya mana mungkin rejeki nomplok kayak begitu ditolak.


Senjata Grade-A, lho…. Itu kalau beli di Guild, harganya lumayan mahal.


Mavin menaikan bahu. “Daripada enggak ada sama sekali. Mau berantem sama musuh-musuh enggak jelas di sana pakai tangan kosong?”


Astan mendengkus, sedikit memutar mata. “Ya, kagak gitu juga maksudnya, Asepudin.”


“Eh, ketiak nyamuk!” Masih dengan kaki naik di atas meja, Harnan menunjuk-nunjuk Astan menggunakan pen. “Berani banget ngatain komandan kita yang tampannya mengalir jauh melewati galaksi ini.”


Endrick melompat sekali di sofa sambil menepuk tangan. “Kasih tahu, Wakil! Seberapa hebat komandan kita ini!”


Mavin hanya menanggapi dengan muka datar. Sang komandan mencium bau-bau kebodohan, ini.


“Komandan kita ini….” Harnan menepuk dadanya mantap. “Namanya paling dikenal seantero Planet Ribelo. Siapapun bakal takut terkencing-kencing mendengar nama dari Komandan Batalion Y13 Aturna.”


“Cakep!” Edrick acungin jempol. “Dikenal siapa nama komandan kita, Wakil!”

__ADS_1


Harnan menjentikan jari. “Joko Cengir— Adaw!”


Sudah Mavin duga hal ini bakal terjadi. Oleh karena itu, si pirang satu ini langsung memukuli wakilnya menggunakan bantal sofa.


“Jangan diingetin juga nama samaran konyol kita, onta sungai….” Mavin terus saja memukuli Harnan.


“Aduh. Aduh! Komandan….” Harnan berusaha melindungi dirinya. “Mana ada onta di sungai, Koman- Aduduh…! Komandan! Komandan gilak!”


Edrick dan Astan ngakak sejadi-jadinya melihat kelakuan mereka berdua. Dari interaksi mereka saat ini, Astan tak merasa canggung sama sekali. Ia kira, berinteraksi dengan orang-orang dari instansi militer akan sangat kaku, apalagi profesi Astan diketahui sebagai pemburu, profesi yang memiliki hubungan cukup renggang dengan militer.


“Ja-jadi….” Edrick menyeka air mata bahagia. “Nama samaran Komandan Mavin itu Joko Cengir. Pffft…. Jauh banget….”


“I-iya. Itu— Ekh!”


Belum sempat ngomong, kepala Harnan sudah ditutupi mantel militer Mavin, bahkan Mavin tak segan-segan mencekik leher wakilnya sendiri menggunakan lengan mantel.


Tenang, cekikannya enggak keras-keras amat, kok. Rasanya kayak digelitik semut.


Semut rangrang.


“Eh! Asal kalian tahu, ya. Wakil Komandan Harnan pakai nama samaran Kudiman Jasaja, lho.” Mavin masih mencekik Harnan dengan mantelnya. “Kan jijik….”


“Efhuafhuafhua…. Akh!”


Omongan Harnan tak jelas dalam mantel, malah kena cekik lagi oleh Mavin.


Astan dan Edrick masih saja tertawa melihat kelakuannya. Kalau sampai dibiarkan terus, bisa beneran mati sang wakil.


“Aduduh…. Pinggangku.” Edrick mengelus pinggangnya yang mendadak encok gara-gara terlalu kencang ketawa.


Masih muda, kok pinggang udah encok?


“Anu, Komandan….” Edrick berusaha menghentikan tawanya. “Bukannya kita perlu membahas rincian misi dulu? Sekalian merundingkan alasan Astan dibawa dalam misi ini juga.”


“Ah, benar juga.”


“Akh!!!”


Dengan polosnya, Mavin mendorong kursi yang diduduki Harnan sampai jatuh.


“Kalau begitu, ayo, kita rundingkan sama-sama.”


Mavin kembali ke sofa tunggalnya, membiarkan Harnan tergeletak susah nafas di dekat meja dengan satu kaki agak kejang-kejang.


Emang enggak ada akhlak komandan yang satu ini.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2