
Sudah sekitar 15 menit Edrick, Astan, dan Bery menulusuri hampir seluruh area di Dek Medis. Sekarang, mereka sudah mencapai di area Laboratorium Biologi, tepatnya di bagian Genetika. Terdapat macam-macam tabung raksasa berjejer di sepanjang area yang agak gelap itu, berisikan berbagai jenis makhluk dalam cairan kehijauan, nampak masih tidak sadarkan diri. Beberapa tabung juga ada yang telah hancur tak berisi apa-apa lagi.
Mereka bertiga memperhatikan setiap tabung, melihat-lihat makhluk apa saja yang ada di dalam sana, dan membaca plat data di depan tabung.
“Waaah…. Kayaknya monster-monster yang menyerang kita berasal dari— Eh, ayam!”
Bery latah ketika menoleh, mendapati wajah seram dari wujud monster humanoid reptil, matanya masih melotot, mulut agak terbuka menampakan banyak taring tajam, dan ukuran tubuhnya pun sekitar 2 meter.
“Ish! Wujud monster ini ngagetin aja,” ucap Bery jengkel.
Astan menghampiri tabung di dekat Bery, penasaran dengan jenis monster apa yang disimpan di sana. Ia pun membaca plat data tabung sambil mencoba mengingat sesuatu.
“Reptilico, Kode-3314? Hmm….” Astan bersedekap. “Monster-monster ini mirip dengan beberapa monster di Dungeon.”
“Monster Dungeon?” Edrick penasaran, menghampiri Astan.
“Monster Dungeon?” Bery menatap Astan curiga. “Kok kau tahu soal monster Dungeon? Bukannya militer dilarang pergi ke Dungeon?”
Edrick melotot, Astan hampir keceplosan. Pria pemilik surai jingga itu memang belum pernah ke Dungeon, tapi dia berprofesi sebagai pemburu.
Para pemburu biasanya mempelajari berbagai hal tentang jenis-jenis monster yang berkeliaran di setiap area buruan, termasuk di Dungeon. Itu sebabnya Astan merasa familiar dengan wujud-wujud monster di sini.
Tapi kalau Astan bilang tahu, maka Bery yang tidak tahu identitas asli Astan pasti merasa curiga. Pasalnya, Pemerintah Serikat Galaksi mengeluarkan kebijakan bagi seluruh anggota militer dari berbagai satuan di seluruh galaksi dilarang melakukan perburuan ke Dungeon.
Hal itu berdasarkan kesepakatan antara Serikat Galaksi dengan Asosiasi Pemburu antar Galaksi, dimana hanya pemburu yang boleh menaklukan Dungeon, sedangkan militer fokus pada tugas keamanan.
Lalu, bagaimana prajurit militer bisa menaikan level Sistem AutoTerra mereka? Kalau pemburu diberi tugas dan mendapat hadiah dari Guild, maka prajurit mendapat kewajiban tersebut langsung dari pemerintah. Jika mereka dapat menyelesaikan misi, entah itu dari ekspedisi, perang, hingga penyergapan, maka mereka akan mendapatkan skor resmi agar bisa naik level.
Walau tidak bisa mendapatkan Item bagus dari Dungeon, militer masih bisa mendapatkan semua itu dengan cara membeli dari Guild atau pemburunya langsung. Terkadang banyak juga orang-orang yang bukan pemburu menjual segala macam Item tersebut dan juga Inti Kristal yang sangat dibutuhkan sebagai pembangkit energi.
“Eee…. Bery.” Edrick berusaha membantu Astan berbohong. “Di markas masih menyimpan data-data tentang monster Dungeon yang sempat dibeli dari para mantan pemburu. Mungkin Astan mempelajarinya, makanya ia tahu.”
“Betul itu, betul! Aku sempat mempelajarinya di waktu senggang. Makanya aku hafal jenis-jenis monster Dungeon.” Astan membetulkan.
Bery bolak-balik menatap Astan dan Edrick bergantian, membuat kedua prajurit itu hampir dibuat gerah. Awalnya Bery sempat curiga, tapi masuk akal juga jika prajurit seperti Astan mempelajari berbagai jenis monster Dungeon walau itu sangat tidak penting dipelajari oleh anggota militer.
“Oke. Masuk akal juga. Berarti hobimu berguna juga di saat-saat begini.”
__ADS_1
Edrick dan Astan langsung bernafas lega. Mereka masih belum bisa membongkar identitas asli Astan, karena prajurit seperti Bery tidak menjamin bisa menjaga rahasia.
“Jadi, menurutmu monster-monster di sini mirip monster Dungeon?” tanya Edrick pada Astan.
“Iya, aku baru menyadari kalau mereka mirip,” jawab Astan. “Aku tidak hafal nama-nama monster di Dungeon, cuma ngerasa bentukan wujud mereka hampir sama. Aku berspekulasi kalau monster-monster di kapal ini sebenarnya berasal dari Dungeon, terus mereka bawa kemari agar bisa digunakan untuk eksperimen.”
“Untuk eksperiemen?”
Edrick mendekati tabung monster reptil tadi, memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Eksperimen macam apa?”
“Mungkin eksperimen yang membuat monster-monster itu kini menjadi agresif, seperti semua monster yang menyerang kita tadi.”
Bery menggeleng tak setuju. “Entahlah. Masa iya mereka melakukan eksperimen demi membuat monster agresif?”
“Ya, mungkin saja itu dilakukan untuk menciptakan senjata biologis,” kata Astan pula.
“Terlalu dini untuk berspekulasi kayak gitu.” Bery memberi pendapat lain, “Menurutku, monster-monster ini diambil dari Dungeon karena ingin dipelajari dulu, diteliti untuk berbagai tujuan. Yang pasti bukan untuk membuat senjata biologis. Cuma karena suatu kesalahan, akhirnya monster-monster ini jadi agresif dan mulai menyerang seisi kapal. Terlalu berisiko membuat senjata biologis di kapal luar angkasa seperti ini. Lebih cocok kalau senjata biologis diciptakan di satelit alami, atau di daerah terpencil sebuah planet.”
“Perkiraan kalian sama-sama masuk akal,” ucap Edrick, “tapi lebih bagus lagi kalau kita bisa menemukan rincian data tentang makhluk ini. Adanya keberadaan monster-monster di Kapal Feron 072 tidak termasuk dalam agenda resmi Perusahaan Feron dan BioEmerald, ini bisa menjadi salah satu bukti kuat di persidangan nanti.”
“Siap, Ketua!” hormat Bery.
Astan dan Edrick segera keluar dari area tersebut meninggalkan Bery yang mulai mencari data-data sesuai perintah Edrick. Keduanya memutuskan untuk berpencar ke area lain, tapi Edrick sempat bicara pada Astan.
“Hampir saja ketahuan. Bery pasti tidak akan percaya padamu kalau dia tahu kau pemburu.”
“Ya, maaf,” ucap Astan tak enak hati. “Tapi, seenggaknya kita mengerti kalau monster-monster ini ada kemungkinan berasal dari Dungeon.”
Awalnya Edrick diam, memperhatikan Astan dengan tatapan tajam sampai yang ditatap sempat meneguk saliva sendiri.
“Aku berterimakasih atas spekulasimu tadi. Tapi, jangan sampai ceroboh. Kalau ada sesuatu tentang masalah ingatanmu, langsung hubungi aku.”
“Baik, baik, Ketua,” ucap santai Astan.
Mereka berdua pun berjalan berpencar ke arah yang berbeda. Menulusuri dan mencari apa yang bisa mereka dapatkan.
__ADS_1
...~*~*~*~...
“Hmm…. Rekamannya terlalu banyak.”
Kini Zered sedang berusaha mencari berbagai rekaman kamera pengintai yang terjadi tiga tahun lalu di kapal ini, sedangkan Wirma berusaha mengawasi keadaan sekitar lewat rekaman terkini.
Susah bagi Zered mencari data rekaman tentang awal mula kekacauan terjadi. Rekaman yang ia dapat hanya menunjukan keadaan kapal sudah kacau balau.
Tangannya berusaha menggulir panel sentuh, menyingkirkan daftar rekaman yang tidak penting. Beberapa menit berlalu, akhirnya Zered menemukan sebuah rekaman berisi kejadian yang masih tenang. Tidak ada kekacauan, semua penghuni kapal masih berlalu-lalang santai di sebuah koridor.
Karena merasa bagian rekaman itu tidak penting, Zered mempercepatnya ke bagian rekaman yang menunjukan keadaan koridor sudah sepi. Zered menyipitkan kedua mata di balik helm, memperhatikan setiap kejadian mencurigakan yang terjadi saat itu.
Rekaman kejadian awal menunjukan ada seorang pria berjalan melewati koridor dihampiri oleh pria lainnya. Dari seragam yang mereka pakai, Zered yakin kedua pria ini berasal dari satuan militer Pasukan Orbit Ribelo. Mereka nampak berbincang-bincang santai, kadang tertawa bersama sampai sesuatu terjadi.
Tiga orang pria lain datang, menembak pria yang menghampirinya sampai tewas. Satu pria itu diduga berusaha mengambil senjata dari penyimpanan sistem, tapi tak sempat akibat gelombang kejut yang membuatnya tak sadarkan diri. Pria itu pun segera dibawa ketiga pria tadi melewati koridor tersebut.
“Emm, Wakil. Sepertinya aku menemukan rekaman aneh di sini.”
Wirma menghampiri Zered. “Rekaman apa itu?”
“Coba kau lihat.”
Zered kembali memutar rekaman tadi. Wirma melihat dari awal sampai kejadian berakhir. Menurutnya, hal seperti ini memang sangat mencurigakan terjadi di sebuah kapal perusahaan. Mungkin ini ada hubungannya dengan kasus yang ditangani oleh satuan militer mereka sekarang.
“Tunggu dulu! Coba kau mundur rekamannya.”
Sesuai perintah Wirma, Zered memundurkan waktu rekaman sampai ke bagian satu pria hendak mengeluarkan senjata sistem.
“Berhenti di situ!” perintah Wirma lagi. “Coba perbesar.”
Zered memperbesar gambar pada rekaman tersebut. Memang terlihat samar-samar, tapi Wirma merasa ada sesuatu yang familiar dengan wajah pria yang hendak ditangkap itu.
“Sepertinya, aku pernah melihat wajah itu.”
Mata Wirma terbelalak tak percaya di balik helm. Dia mengenali jelas bentuk wajah itu, warna rambut jingga, kulit agak tan, sampai warna mata kuningnya.
“Astan?”
__ADS_1
...~*~*~*~...