AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 21 : Ajakan


__ADS_3

“Huh?”


“Hah?”


Kepulan debu-debu remahan pohon menutupi sebagian area hutan rawa. Dari arah itu pula, pohon besar yang dilemparkan Alpha Mutan Frog belah menjadi dua setelah kena benturan keras dari kepala seseorang.


Samar-samar nampak sosok orang itu di balik debu yang semakin menipis. Beberapa kali ia menggelengkan kepala, merasa agak sedikit pening setelah kena bentur pohon.


“Aduh…. Agak pusing, nih. Mana kacamataku hancur lagi.”


Ketika seluruh kepulan debu telah sirna. Nampak jelas sosok itu baru saja memakai kacamata baru yang ia keluarkan dari penyimpanan sistem.


“Untung aku bawa banyak cadangan. Hal-hal seperti ini seringkali terjadi padaku. Entah mengapa sasarannya selalu kepalaku. Eh?”


Pria itu menoleh, bingung saat menyadari ada banyak kodok mutan berdiam diri memperhatikannya, dan dua pemburu yang sama sekali tidak ia kenal juga melihatnya dengan tatapan heboh.


“Oh! Ada pemburu, toh?” Dia memiringkan kepala. “Aku mengganggu, ya?”


Astan dan Arni masih syok di tempat. Tak percaya jika pohon sebesar tadi bisa belah hanya kena kepala orang itu. Dan orang itu juga berakhir dalam keadaan baik-baik saja seakan-akan tak terjadi apapun padanya.


“A-anu…. Kau tidak apa-apa, Mas?” tanya Arni mulai cemas pada orang itu. “Apa agak gegar otak?”


Menyadari dirinya ditanya oleh gadis cantik, sontak semburat merah merona muncul di pipi putihnya. Membuat dia agak salah tingkah.


“O-oh…. Tidak apa-apa kok, Neng.” Ia menggaruk tengkuknya sendiri. “Udah biasa kena kayak gini.”


“Udah biasa…?” ucap Arni tak percaya.


Astan cukup penasaran dengan orang itu, jadi ia coba mengintip datanya lewat Sistem AutoTerra.


[Nama : Grimaelo Adrael Novan]


[Jenis Kelamin : Pria]


[Usia : 20 tahun]


[Profesi : Pemburu]


[Pangkat : Besi]


[Level : 15]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[Senjata Utama : Shotgun Tipe-A37 (Grade-C)]


[Senjata Tambahan : -]


[Senjata Pendukung : Sabit Tipe-B01 (Grade-B)]

__ADS_1


[Kemampuan Umum : Martial/Shield Type-1, Martial Type-2]


\=\=*\=\=*\=\=*\=\=


[-Strength : 63]


[-Agility : 31]


[-Vitality : 40]


[-Intelligence : 13]


[-Dexterity : 29]


[-Luck : 10]


“Statistik macam apa ini…?” gumam Astan bingung saat melihat data orang itu. “Tapi kok dia punya Martial dan Shield, ya? Bukannya satu orang cuma boleh punya satu Kemampuan Umum?”


Tiba-tiba seekor Mutant Frog melesat ke arah pria itu, geregetan hendak menyerang mangsa baru.


“Awas, Mas!” teriak Arni.


Pria itu masih berdiri di sana, nampak sekilas kilatan cahaya dari lensa kacamatanya.


Ketika sang kodok mutan sedikit lagi dekat ke arahnya, sistem penyimpanan milik si pria mengeluarkan Shotgun dengan desain sederhana, memutar sebentar senjata itu, dikokang, dan langsung ditembakan saat sang kodok mutan sudah sangat dekat di depannya.


Hanya dalam sekali tembakan sudah membuat tubuh sang monster hancur tak berbentuk, daging dan percikan darah menyebar kemana-mana, bahkan mengotori sebagian pakaian serta kacamatanya.


“Hei kau, Grimaelo,” panggil Astan dari jauh dengan suara yang cukup dalam dan tatapan tajam.


“Emm….” Sang pria memasang kembali kacamatanya. “Panggil saja aku Grim.”


“Grim, huh…?”


Saat Grim melakukan serangan tadi, Astan sudah mengawasi menggunakan sistem pemindai kemampuan yang ada pada AutoTerra.


[Kemampuan Umum milik Pengguna Grimaelo tidak stabil]


[Kode Program gagal terdeteksi….]


Monitor sistem dilenyapkan Astan. Rupanya benar, ada yang tidak beres dengan pengaturan Kemampuan Umum milik pria berjaket merah itu. Dalam data diri, terbaca kalau Grim memiliki dua kemampuan.


Saat menembak musuh tadi, sebenarnya Kemampuan Martial milik Grim sudah aktif tanpa ada peringatan dari sistem. Tapi, sejak kapan? Astan juga yakin kalau aktifnya Martial bukan dari fitur Pembaca Refleks Saraf.


“Glodok! Bleeeerrrrr…. Grubek!” (terjemahan : Wahai pasukan kodok, ayo kita grebek!)


Mereka bertiga menoleh, melihat sang Alpha mulai memberi aba-aba khusus pada kawanannya. Otomatis semua Mutant Frog yang ada di sana kembali menyerang secara keroyokan.


“Bwuah! Mereka menyerang lagi?” tanya Arni panik sambil mengisi amunisi senjata terburu-buru.

__ADS_1


“Arni, cari tempat yang aman untuk menembak!” perintah Astan.


Arni pun kembali menghilang menggunakan Invisible. Bagaimana pun juga, Astan tidak ingin pemburu pemula seperti Arni kenapa-napa.


Bisa kena hantam pakai seperangkat mesin cicilan dari Suda nanti.


Astan mulai menembak beberapa Mutant Frog yang mendekat. Saat melihat ada rombongan Mutant Frog lain mendekati Grim, Astan segera mengejar salah satunya, melompat naik ke atas punggung Mutant Frog itu sambil menembak kodok-kodok lain yang mengejar di belakang.


Ketika Mutant Frog yang dinaiki Astan hendak menyergap Grim, Astan lebih dulu terjun ke arahnya.


“Sini kau, Onta Gurun!”


Astan mendarat tepat di samping Grim, mencengkeram tudung jaketnya, lalu melemparkan tubuh Grim menjauh darinya. Di saat itu pula, kodok mutan tadi jatuh menindih Astan.


“Bu-Bung Pemburu!” panggil Grim cemas.


Syukurlah, Astan mampu menahan berat tubuh kodok mutan berukuran besar itu dengan satu tangan, menembaknya sampai sekarat, lalu melemparkannya menjauh.


“Tembak, Arni!”


Sesuai aba-aba, Arni menembak kodok mutan yang sekarat tadi di suatu tempat, kemudian kembali menembak kodok-kodok lainnya demi melindungi Astan dan Grim walau efek kerusakannya tak seberapa.


“Di-dia….”


Grim heran dengan kekuatan yang dimiliki Astan. Tadi ia sempat mengintip data diri Astan lewat sistem, dan mendapati kalau Astan masih di Pangkat Besi level 3. Tapi, bagaimana bisa Pangkat Besi mampu menahan bobot Mutant Frog sebesar itu, melemparkannya hanya dengan satu tangan, bahkan tadi sempat melempar dirinya cukup jauh pula.


Setahu Grim, tidak ada pemburu Pangkat Besi memiliki kekuatan fisik sebesar itu, kecuali kalau dia sudah masuk Pangkat Perak atau Emas.


Apa mungkin Astan sama dengannya?


Selagi Arni berusaha melindunginya dari kejauhan, Astan mendekati Grim, mencengkeram kembali jaket merah pria itu.


“Dengar, Pirang! Aku tidak tahu makhluk seperti apa kau ini. Dan aku benci mengatakan kalau kau—.”


“Abang Astan! Aku tidak bisa menahannya lebih lama la— Kyaaa!”


Di balik pohon, Arni berusaha menembak setiap Mutant Frog yang mendekati Astan dan Grim, tapi posisinya sekarang malah disergap satu kodok. Beruntung Pembaca Refleks Saraf milik Arni aktif, sehingga tubuhnya kembali menghilang dan mulai mencari tempat yang aman sambil terus menembaki Mutant Frog. Terkadang ia juga melemparkan beberapa granat yang sempat diberikan Astan pada kawanan kodok mutan itu.


Yaaa, setidaknya gadis itu tidak beban-beban amat sekarang.


Astan kembali bicara tegas pada Grim, “Aku benci mengatakan ini, tapi kau harus gabung dalam Squad-ku! Sekarang!”


“Eh?”


Grim tercengang dengan pernyataan ini. Seumur hidup, tidak ada yang mau mengajaknya masuk dalam Squad. Hanya dialah yang selalu meminta Squad lain untuk membiarkannya bergabung.


Tapi, ini….


Entah mengapa, apakah Grim musti bingung atau justru merasa terharu.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2