AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 46 : Ketua Tim


__ADS_3

Kedua mata heterokrom Astan menyipit, masih terbaring, baru saja bangun dari tidur. Lagi-lagi ia merasakan mimpi tentang sosok yang kedengarannya masih seperti rintihan, tapi terselip nada kelegaan walau hanya dirasakan samar-samar.


Apa maksudnya? Apa rintihan dalam mimpi Astan tahu bahwa ia akan pergi ke Kapal Feron 072, tempat yang dimaksud suara itu untuk kembali?


Itu berarti dugaan Mavin benar. Kapal Feron 072 mungkin saja merupakan tempat Astan berasal sebelum berada di Kapal Guild Thornic.


Apakah benar Astan merupakan anggota militer yang pernah dipekerjakan di kapal tersebut, dan mengalami lupa ingatan akibat insiden di sana?


“Astaga…!”


Astan menggosok kasar wajahnya. Semua pertanyaan di pikiran Astan makin lama makin menyiksa saja.


Astan menyugar kasar rambut jingganya ke belakang. “Aku harus benar-benar membereskan misi ini kalau memang inilah cara satu-satunya untuk mendapatkan semua jawaban atas gangguan yang kuderita,” gumamnya kesal.


Bel pintu kamar terdengar berbunyi, menandakan ada yang datang. Astan berusaha bangun di tengah rasa kantuk yang masih terasa. Agak sedikit waspada, takut-takut jika yang datang merupakan anggota militer yang sedang berpatroli. Astan tidak ingin menghiraukannya, tapi bel itu terus saja berbunyi.


Mau bagaimana lagi? Astan pun bangun, berjalan ke arah pintu. Kalau benar anggota militer yang datang, terpaksa ia harus menghajarnya agar rahasia tetap terjaga.


Astan membuka pintu, mengambil ancang-ancang siap melancarkan serangan. Namun, posisi waspadanya langsung mengendur saat menyadari yang datang merupakan robot. Robot tersebut terlihat tengah mengantarkan senampan penuh makanan-minuman untuk disantap Astan.


“Makanan?”


Robot itu diam, hanya menyerahkan nampan makanan itu ke tangan Astan. Sepertinya, robot satu ini merupakan jenis yang tidak bisa bicara.


“Oh, terima kasih.”


Sang robot langsung pergi meninggalkan kamar Astan. Di nampan, Astan menemukan kartu pesan terselip di bawah piring. Kartu pesan itu berasal dari Mavin.


“Tertulis, ‘Segera habiskan makanannya, Harnan akan menjemputmu’.” Astan menaikan bahu sesaat. “Dari Mavin, rupanya.”


Pria berambut jingga itu menutup pintu kamar. Sebentar lagi, Astan harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Mavin dan Harnan. Hari ini juga, ia akan dikenalkan dengan sang ketua tim yang bakal memimpin kelompoknya dalam misi.


Semoga saja sang ketua tidak bersikap dingin hanya karena dia seorang pemburu.


...~*~*~*~...

__ADS_1


Sekarang, Astan sudah berada di salah satu ruang kantor di Sektor Industri. Dari yang Mavin jelaskan, ruangan ini merupakan kantor yang sudah tak terpakai lagi. Tapi, kelihatannya masih cukup bagus dan layak tuk ditempati.


Mereka masih perlu berada di Sektor Industri karena masih aman dari kehadiran para militer. Anggota militer yang berpatroli pun tidak begitu banyak, masih bisa dilewati diam-diam tanpa ketahuan.


Hanya ada mereka bertiga di sini, Astan, Harnan, dan Mavin. Harnan terlihat sedang mengecek data-data di tab sambil duduk di kursi kerja, sedangkan Mavin berdiri senderan di dekat pintu menunggu kedatangan sang ketua tim.


Sambil menunggu ketua itu datang, Astan duduk di sofa sambil bertukar pesan dengan Arni di ponselnya. Dalam pesan, Arni memberi tahu bahwa dia ingin sekali menjalankan misi Guild lagi bersama Astan. Tapi Astan bilang, dia tidak bisa ikut untuk beberapa misi karena urusan di luar Guild.


Astan menyarankan Arni untuk menjalankan misi bersama Grim saja. Walau baru mengenal Grim, Astan yakin kalau pria berwajah anak kucing-berbadan gorila itu dapat dipercaya. Setidaknya, dengan kemampuan Bug yang dimiliki Grim, pria itu dapat membantu Arni menyelesaikan misi dan menaikan level.


Astan juga menyampaikan salamnya untuk Suda pada Arni. Sepeninggalnya dari kapal Guild, Astan sama sekali tidak berpamitan karena buru-buru pergi.


Astan penasaran, bagaimana kabar sahabatnya itu sekarang? Semoga saja tidak disibukan dengan berbagai pekerjaan di bidang teknisi mesin.


“Masih lamakah lagi?” tanya Astan setelah selesai berkirim pesan, menyimpan kembali ponsel ke dalam saku.


“Sebentar lagi dia sampai,” jawab Mavin ramah. “Kita datang beberapa menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan, dan mungkin saja dia masih sibuk dengan urusannya. Makanya, nunggunya agak lama.”


Baru saja dibicarakan, bel pintu kantor berbunyi menandakan ada yang datang. Mavin pun membuka pintu otomatis tersebut, nampak seorang pria berseragam militer berdiri di sana. Namun, ada yang berbeda pada penampilannya.


Sang ketua langsung memberi hormat, “Hormat saya, Ketua Tim Aravan071 Edrick Ron, menghadap Komandan Mavin dan Wakil Komandan Harnan!”


“Sudah, sudah. Kau tidak perlu memberi hormat seperti itu,” ucap Mavin sesantai mungkin, “Sebaiknya, kau masuk. Kita bicarakan apa yang ingin kami sampaikan padamu.”


Edrick masuk ke ruangan kantor, otomatis pintu tadi tertutup, dikunci Mavin menggunakan sandi agar tidak ada orang luar yang mengganggu.


“Oh! Tentang mempertemukan saya dengan orang penting yang Anda maksud?” tanya Edrick pada Mavin. “Memangnya sepenting apakah orang itu? Apakah dia inspektur kepolisian setempat? Dokter? Ilmuan? Atau—.”


Mata biru Edrick hampir bertemu pandang dengan Astan kalau saja tidak terhalang oleh panel Sistem AutoTerra yang tiba-tiba saja muncul, menunjukan rincian data diri Astan. Tersentaklah Edrick ketika tak sengaja membacanya.


“Pe-pe--pe-pe--pe-pe-pe-pe….”


Melihat reaksi Edrick yang mirip macam orang baru kena asma, tentu membuat ketiganya keheranan.


Astan mendempetkan tubuhnya di sandaran sofa dengan mata melotot, takut-takut kalau ketua tim ini bakal ngamuk menerkam Astan. Harnan yang agak jengkel dengan reaksi Edrick mulai beranjak dari kursinya, menghampiri Edrick, dan tak tanggung-tanggung menepuk tangannya sekeras mungkin di hadapan Edrick hingga membuatnya terkejut.

__ADS_1


“Pemburu?!!”


Kejengkelan Harnan makin tinggi akibat teriakan itu. Sang wakil pun langsung menyentil kuping Edrick.


“Eh, ayam! Aduh, Pak…?!” Edrick latah sambil mengelus kupingnya. “Kok disentil, Pak? Gemes ya karena saya imut?”


“Imut, imut. Sampai kiamat monyet pun, mukamu kagak bakal imut!” omel Harnan. “Ngira diri sendiri imut…. Situ jantan! Jijik, tahu?!”


Mendengar omelan Harnan, Astan jadi berpikir kalau tidak mustahil laki-laki bisa bermuka imut. Buktinya, Grim punya muka imut walau badan macam buldoser.


Kok Astan jijik sendiri ketika ingat muka Grim?


“Iya…. Jangan kayak gitu lho, Pak…,” cibir Edrick. “Hati saya ini rapuh dihujat sama atasan sendiri, apalagi sama netizen. Huhuhu….” Ia mengambil pose nangis tersedu-sedu.


“Mulutmu! Pengen aku robek pakai gunting rumput.”


Sontak Edrick menyentuh mulutnya yang masih tertutup masker. Serem juga kejengkelan sang wakil komandan padanya. Dikit-dikit mau dirobek pakai gunting rumput….


Setelah mengomeli Edrick, Harnan kembali ke kursinya. Mavin sendiri hanya geleng-geleng kepala memaklumi interaksi enggak penting mereka berdua.


“Jadi….” Edrick membuka topik awal. “Kok bisa ada pemburu di markas kita, Komandan Mavin? Apa Anda ingin mempertemukan saya dengan pemburu ini? Kalau sampai Komandan Besar tahu, bisa gawat…!”


“Kenapa? Tidak suka?”


Mata biru terang Edrick mendelik jengkel saat disahut Astan begitu. Pria berambut jingga tersebut hanya merespon delikannya dengan menaikan satu alis seakan-akan mempertanyakan reaksi Edrick.


Edrick berpikir, pemburu ini enggak ada sopan-sopannya di markas orang.


“Ada alasan tertentu kenapa aku membawa pemburu itu kemari,” jawab Mavin tenang, melangkah mendekati sofa. “Sebelumnya, kita duduk dulu dan bicarakan dengan tenang.”


Mavin duduk di sofa tunggal, sedangkan Edrick terpaksa duduk di samping Astan agar bisa berhadapan langsung dengan sang komandan.


Mavin mulai menjelaskan segala macam alasan dari awal sampai akhir pada Edrick, alasan tentang kemiripan Astan dengan salah satu anggota militer yang hilang di Kapal Feron 072, sampai alasan untuk memasukan Astan dalam tim yang dipimpin Edrick untuk menjalankan misi ke sana.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2