
“Jadi, kau yakin untuk kita pergi ke Kapal Thornic 035?”
Di kantor komandan batalion, Harnan masih berusaha meyakinkan Mavin apakah keputusannya untuk pergi ke Kapal Thornic 035 sekarang merupakan keputusan yang tepat.
Mavin sendiri terlihat membereskan beberapa berkas yang sempat berantakan di meja kerjanya. Dia nampak buru-buru, kepepet waktu karena sebentar lagi pesawat yang akan mengantarkan mereka ke kapal Guild tersebut segera siap.
“Di saat seperti ini?” lanjut Harnan, “Lagipula, apa kau yakin kalau yang di foto anggota Guild itu merupakan Ash yang kita kenal?”
“Lalu siapa lagi, huh?” Mavin balik tanya. “Di data personil militer Kapal Feron 072 tertulis nama Astan Pradipta Cornell, di data Guild Pemburu juga tertulis nama Astan Pradipta Cornell. Siapa lagi yang punya nama itu? Memang di seluruh tata surya pasti ada yang punya nama yang sama, tapi setidaknya ada perbedaan di bagian marga atau bagian susunan nama lainnya. Dan wajahnya pun sama persis. Ini jelas, Harn…. Jelas…!”
“Tapi, enggak jelas-jelas amat,” elak Harnan, bersedekap. “Ash yang kita kenal mukanya ngeselin macam orang naif, yang ini malah sangar. Warna matanya juga beda sebelah, ada luka di bagian mata kiri pula.”
Mavin nampak berpikir di meja kerjanya. “Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Ash ketika berada di kapal terkutuk itu, makanya dia nampak beda.”
Percuma juga mempertanyakan Mavin soal kemiripan sosok itu. Sang komandan tetap ngotot ingin pergi ke kapal Guild tersebut untuk menemuinya.
Harnan memijit batang hidungnya sejenak. “Lalu, apa gunanya kita bertemu dengan orang yang diduga Ash ini saat kita sendiri masih pusing dengan misi ke Kapal Feron?”
Mavin menatap tajam ke Harnan. Bukannya marah, tapi dia berusaha menjelaskan hal ini lebih serius.
“Aku bukan bermaksud untuk reunian dengan Ash, Wakil Komandan. Jika untuk sekedar reuni, tentu masih bisa ditunda. Tapi… coba kau pikirkan lagi. Ash tiga tahun yang lalu ikut bertugas mengawal dan mengawasi Kapal Feron untuk menjamin produksi serta mengantarkan stok obat-obatan ke Planet GT624,” jelas Mavin.
“Lalu?” Harnan menaikan sebelah alis.
“Jika kita menemuinya, kita bisa mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di Kapal Feron 072 tiga tahun lalu. Selain itu, dia bisa menjadi saksi kuat di persidangan untuk menghakimi BioEmerald. Ash kuncinya, Harn…! Kuncinya!” kata Mavin heboh.
“Woalah….”
Harnan menepuk jidatnya. Dia baru sadar kalau peran sosok Ash sangat penting dalam misi ini jika memang benar Ash yang mereka cari merupakan pemburu yang berada di Guild Thornic.
Kenapa Harnan tidak kepikiran sampai ke sana? Malah merasa jengkel karena mengira sang komandan ingin menemui sosok Ash karena alasan pribadi di saat masih dalam masa genting ini. Padahal Harnan baru berusia 31 tahun, kok bisa pikun begini?
“Jadi….” Harnan kembali mempertanyakan, “Yang jadi masalah, apa benar pemburu ini merupakan Ash?”
Mavin kembali menyimpan beberapa tabnya di laci. “Dari nama dan parasnya yang mirip, aku yakin itu dia. Tapi, kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba ke sana sekarang.”
“Tapi, bagaimana? Tidak mungkin ‘kan kita ke kapal Guild Thornic dengan identitas kita sebagai anggota militer? Kau tahu sendiri kalau hubungan antara militer dan pemburu cukup renggang.”
Mavin berhenti membereskan perkakas di meja kerja. Sekarang, wajahnya nampak serius memikirkan cara untuk bisa ke sana tanpa ada yang tahu bahwa mereka anggota pihak militer.
Benar kata Harnan, akan sangat buruk jika seluruh Kapal Thornic 035 mengetahui identitas mereka. Apalagi para penghuninya rata-rata merupakan para tunawisma yang sebagian pernah kena razia oleh pihak keamanan militer. Pasti mereka punya dendam kesumat.
Lalu, bagaimana caranya mereka ke sana?
...~*~*~*~...
Salah satu pesawat baru saja melewati area luar hangar dan memasuki hangar utama dari Kapal Thornic 035. Pesawat itu terbilang sederhana, merupakan pesawat angkutan biasa yang modelannya sama seperti pesawat-pesawat di hangar ini.
“Kita sudah sampai, Koman— Ma-maksud saya, Tuan….”
__ADS_1
Yang dimaksud mengangguk. “Kau tunggu di sini sampai kami nanti kembali kemari. Jangan membuat orang lain curiga.”
“Baik.”
Sang penumpang keluar bersama satu rekannya dari pesawat. Rupanya, mereka berdua adalah Mavin dan Harnan. Namun, sekarang mereka sedang menyamar agar identitas mereka tidak diketahui oleh para penghuni kapal.
Keduanya mulai menuruni tangga pesawat, memperhatikan keadaan hangar yang nampak tidak begitu ramai oleh orang-orang. Hanya saja, Harnan merasa tak nyaman dengan penyamaran mereka.
Walau keduanya sudah menyamar, tidak memakai seragam militer atau semacamnya, tetap saja mereka jadi pusat perhatian.
“Komandan,” bisik Harnan saat mereka sudah menuruni tangga pesawat.
“Hm?”
“Ini enggak salah kita nyamar pakai kayak beginian?”
“Kan yang penting mereka enggak mengira kalau kita orang militer,” balik bisik Mavin santai.
“Iya, saya tahu,” ucap Harnan bete. “Tapi enggak jadi anak Hippie juga!”
Harnan jengkel ketika sadar mereka malah menyamar menjadi Kaum Hippie. Ini konyol, menurut Harnan. Penampilan mereka jadi pusat perhatian orang-orang di hangar ini, bahkan ada beberapa yang berusaha menahan tawa.
Bagaimana tidak konyol? Mereka terlihat aneh dengan penampilan ini. Mavin dengan kaos longgar bermotif bunga warna-warni, celana longgar, dan kacamata berwarna pelangi.
Masih jelas tuh si komandan melihat pakai kacamata begituan?
Sedangkan Harnan pakai rompi rumbai-rumbai sepanjang paha, celana jeans sobek-sobek, dan pakai wig gondrong serta kumis palsu.
“Ini… pakaian apa, sih…?” Harnan mengibas-ngibaskan rumbaian rompinya. “Baju sobek-sobek, pakai wig gondrong ama kumis gondrong juga. Udah kayak bujangan baru keluar dari gua, ini.”
“Kan nyamar biar enggak kelihatan macam anggota militer.” Mavin mengambil pose meditasi berdiri. “Kaum Hippie ‘kan kebalikan dari militer. Pihak militer itu dikenal dengan urusan mereka dalam kekerasan, sedangkan Hippie cinta damai. Hooow…. Aku bisa merasakan kedamaian kosmik yang menyelimuti seluruh jiwa dan ragaku. Damai…. Damai itu indah, wahai para bajingan…!”
“Malah ngegas dia,” gumam Harnan suntuk.
Saat keduanya sibuk mengobrol soal masalah tampilan penyamaran mereka yang konyol, gerbang hangar terbuka, menampakan sosok pria berusia sekitar 40 tahunan, berambut gondrong agak ubanan, dan memakai seragam khusus kapal antariksa.
Pria itu berjalan cepat menghampiri Mavin dan Harnan, langsung memberi posisi hormat.
“Hormat saya, Kapten Murdi, menghadap pada Koman—.”
Buru-buru Mavin membekap mulut sang kapten agar tidak keceplosan menyebut julukannya. Namun, sebagian ucapannya sontak membuat beberapa orang di hangar memandangi mereka dengan pandangan menyelidik.
Masih membekap mulut Murdi, Mavin berbisik, “Ja-jangan memberi hormat padaku, dan jangan panggil aku dengan identitas asli. Kami menyamar agar penghuni di sini tidak tahu kalau kami anggota militer. Paham?”
Murdi mengangguk paham.
Mavin pun membuka bekapannya, menepuk-nepuk tangannya sesaat agar bekas mulut Murdi hilang.
Ketiganya melihat sekitar. Biarpun Murdi dipastikan tidak akan memberi hormat, tapi orang-orang tetap saja memandang curiga mereka.
__ADS_1
“La-lalu…. Ekhem! Ekhem!” Murdi berdehem, berusaha menghilangkan kegugupan. “Saya harus memanggil kalian apa?”
Keduanya mulai berpikir. Sampai sekarang, mereka belum kepikiran mau menyamar sebagai siapa. Yang mereka tahu cuma berdandan ala Hippie biar jauh berbeda dari dandanan militer.
Mereka masih saja ditatap curiga, bahkan ada yang menatap mereka tajam seakan-akan siap menerkam kapan saja. Murdi pun memutuskan untuk bersikap lebih santai seperti saat ia berhadapan dengan orang baru pada umumnya.
“Ja-jadi…, dengan Tuan… siapa aja, ini?” tanya Murdi disertai senyuman, tapi tetap terkesan kaku.
Mavin dan Harnan mulai tak nyaman ditatap begitu oleh seisi hangar, takut penyamaran mereka terbongkar. Terpaksa, Mavin menyebut asal identitas palsunya.
“Sa-saya…. Joko Cengir.”
“Heh?!”
Harnan tercengang mendengar nama samaran Mavin. Kok bisa komandannya yang dikenal berwibawa ini pakai nama konyol kayak begitu?
Awalnya Murdi juga tercengang dengan nama samaran itu. Nampak sangat tidak cocok digunakan sebagai nama samaran seorang Mavin. Tapi, dia kembali berusaha sesantai mungkin berhadapan dengan mereka.
Sedangkan orang-orang sekitar yang nampak memperhatikan dengan curiga kini di antaranya berusaha menahan tawa gara-gara nama itu.
Oke, setidaknya suasana jadi tidak secanggung sebelumnya, pikir Mavin.
“Asal dari mana…?” tanya Murdi kembali.
“Ka-kami… berkelana di sekitar tata surya. Mencari ketenangan kosmik, menjauh dari namanya pertikaian.”
“Ooo….” Murdi mengangguk-angguk seakan-akan paham, padahal emang enggak paham-paham amat.
“Kalau Tuan yang satunya siapa?” tanya Murdi pada Harnan.
“Diman.”
Oke, kedengarannya normal-normal saja untuk sebuah nama. Setidaknya, lebih mending nama ini ketimbang nama samaran Mavin.
“Nama panjangnya?” tanya Murdi lagi.
“Nama panjangku…. Ku….” Spontan Harnan menjawab, “Kudiman Jasaja— Agh!!!”
Harnan menjerit tertahan gara-gara Mavin langsung mencubit keras pinggangnya.
“Kenapa dicubit?” bisik Harnan pada Mavin.
“Namamu itu menggelikan, tahu?!” balas bisik Mavin.
“Namamu juga konyol. Masa ada cengir-cengirnya? Selama enam bulan aku kerja bersamamu, enggak pernah aku melihatmu cengar-cengir.”
“Ya, kan nama samaran. Setidaknya nama samaranku lebih mending ketimbang punyamu. Jijik.”
Saat keduanya berdebat tidak jelas, nampak seseorang berkacamata dengan pakaian serba hitam dan rambut kemerahan berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1
“Ada apa ini, Kapten Murdi?”
...~*~*~*~...