AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 7 : Peringkat bukan Segalanya


__ADS_3

Setelah keluar dari lobi Guild, Astan dan Arni berjalan menuruni tangga dan melewati koridor menuju stasiun trem. Selama berjalan kaki, keduanya sempat mengobrol.


“Kalau ada sesuatu yang membuatmu bingung dan penasaran dengan Sistem AutoTerra, tanyakan saja padaku,” saran Astan sambil berjalan beriringan dengan Arni.


“Kalau mau memunculkan layar hologram yang sering tampilin menu-menu itu bagaimana caranya?” Arni mulai bertanya, “A-apa perlu ngomong ‘Status’, ‘Statistik’, ‘Menu’, ‘Buka Panel’, atau simsalabim, gitu?”


“Simsalabim…? Matamu simsalabim. Maksudmu Panel sistem, gitu?” Astan menarik kedua lengan jaketnya. “Ya tinggal dipikirin aja. Bayangkan kalau kau lagi mau buka panel sistem, maka otomatis panelnya akan muncul. Mau lihat stat, bakal muncul stat. Mau lihat penyimpanan, munculnya penyimpanan. Mau lihat pengaturan, pengaturan juga muncul.”


“Kok bisa canggih gitu?”


“Kaunya aja yang udik,” ledek Astan. “Kita mah sekarang tinggal di zaman serba cepat dimana siput pun bisa dibikin secepat cahaya. Sistem AutoTerra itu dilengkapi pemindai saraf dan otak. Apa yang kita pikirkan mengenai sistem pasti bakal nongol karena terbaca dengan sendirinya oleh sistem. Kayak gini, nih.”


Ketika Astan memikirkan untuk membuka sambutan dari Sistem AutoTerra, panel hologram berwarna biru transparan muncul di hadapannya berisi sebuah tulisan, dan dapat dilihat pula oleh Arni.


[Selamat Datang di Sistem Operasi AutoTerra]


[Selamat Datang di Sistem Operasi AutoTerra]


[Selamat Datang di Sistem Operasi AutoTerra]


Nongol, hilang, nongol, hilang, nongol, hilang. Gitu aja terus dimainkan Astan panel sistemnya sendiri. Tidak perlu susah-susah menyebutkan semacam kata kunci untuk mengaktifkan. Cukup dipikirkan, maka sistem akan membaca respon saraf, dan menampilkan apa yang ingin ditampilkan.


“Wih…!” Arni kagum sendiri dibuat oleh tindakan bodoh Astan.


“Coba, deh.” Akhirnya panel sistem Astan benar-benar dihilangkan.


Arni menutup kedua matanya, mencoba memikirkan ingin melihat data statistiknya. Langsung munculah panel data miliknya, tapi mata Arni masih tertutup dengan ekspresi dibuat serius.


Astan yang gemas melihatnya langsung berceletuk, “Enggak usah kau pikirin seserius itu. Meledug entar otakmu.”


“Eh?”


Arni tercengang dengan kehadiran panel data di hadapannya. Ekspresi berlebihannya nampak sekali seperti bocah baru keluar dari gua.


“Woah!!! Canggih bener…!”


Arni menoleh ke Astan, tapi pandangannya terhalang oleh panel hologram. Mau ke kanan, panelnya ke kanan, mau ke kiri, panelnya ke kiri juga.


“Kok panelnya ngikutin mulu kayak bayang-bayang mantan?”


“Idih~ Sok-sok’an ngomongin mantan. Punya mantan aja kagak pernah kau ini,” ledek Astan. “Itu panelnya bakal ngikutin terus sesuai respon lensa mata, tapi bisa digeser pakai tangan.”


Satu tangan Arni mencoba menggeser panel ke samping. Benar saja, panel itu bergeser sesuai gerakan tangannya. Digeser ke depan, samping, depan, samping, depan, samping sampai o’on.


“Ciluk, Ba!”

__ADS_1


“Ciluk, Ba!”


“Ciluk, Ba!”


Konyolnya, Astan juga ikutan ciluk ba di depan panel Arni. Kedua tingkah konyol mereka dilihat oleh banyak orang yang juga lewat di koridor.


“Mereka kenapa, ya?”


“Entahlah. Yang cewek kayaknya masih muda, maklum kalau gaptek sama Sistem AutoTerra. Tapi yang cowok itu. Udah tua, masih aja kelakuan bengek.”


“Emang sekolah wajib dua belas tahun harus benar-benar dijalankan serius ya, Bund….”


“Iya. Itulah jadinya kalau anak dua belas tahun sekolahnya cuma berangkat-pulang, berangkat-pulang.”


Tanpa peduli komentar orang-orang, keduanya masih aja berkelakuan konyol sampai akhirnya Arni melenyapkan layar panelnya.


“Ehehe…. Bisa digeser pakai kaki juga enggak, Bang?”


Astan ikutan nyengir, “Ehe~ Itu ‘mah bukan panelmu aja yang geser, otakmu pun juga geser.”


Mereka berdua tertawa bersama hingga tak terasa mereka sudah sampai di area stasiun trem.


Trem di kapal ini merupakan alat transportasi monorel ringan yang digunakan untuk berpindah ke area-area dek kapal dengan cepat. Karena kapal antariksa ini luas, perlu transportasi sejenis trem untuk mempermudah berpergian menuju berbagai dek. Di setiap dek memiliki stasiun pemberhentian sendiri yang ukurannya pun tidak seluas stasiun asli di suatu kota.


Stasiun pemberhentian tempat Astan dan Arni menunggu trem merupakan stasiun yang ada di bagian Dek Guild. Dek Guild sendiri merupakan area khusus inti markas dari Guild yang diisi oleh ruangan dan area berupa lobi Guild, kantor, toko-toko kecil khusus Guild, hingga gudang item dan persenjataan.


“Bang Astan, aku masih bingung dengan sistem pangkat dan level ini. Kenapa di level tertentu harus dipisah oleh pangkat? Dan berapa jumlah pangkat serta level yang perlu dicapai pemburu?”


Astan menggosok dagunya sesaat. “Level tertentu dipisah oleh pangkat agar mempermudah semacam… penilaian kualitas, mungkin….”


Astan agak bingung untuk menjelaskannya.


“Gini, deh. Aku jelasin pertanyaan keduamu dulu. Jumlah dari pangkat pada Sistem AutoTerra ada tujuh, tapi tidak termasuk yang None karena bukan pangkat. Kalau sesuai urutan paling bawah, pangkat itu mulai dari Kayu, Besi, Perunggu, Perak, Emas, Berlian, dan Kristal yang paling tinggi.”


“Setiap pangkat memiliki jumlah level yang berbeda-beda sesuai urutan. Makin kecil pangkatnya, makin sedikit levelnya, makin tinggi pangkatnya, makin banyak levelnya. Mulai dari Pangkat Kayu terdiri dari 10 level, Besi 25 level, Perunggu 50 level, Perak 100 level, Emas 150 level, Berlian 200 level, dan Kristal 250 level.”


“Jadi, kalau ditotalkan sekitar….” Astan mengira-ngira dengan jari. “790 level, termasuk yang None atau tanpa pangkat. Tanpa pangkat sendiri memiliki 5 level sebagai kunci untuk membuka pangkat, dimulai dari Pangkat Kayu.”


“Woaaah…!” Arni tercengang mendengarnya. “Sebanyak itukah level yang harus dicapai untuk bisa menjadi pemburu terkuat? Pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai level paling puncak.”


“Tergantung, sih.” Astan merogoh ponsel dari sakunya, iseng-iseng mengecek menu ataupun pesan. “Ada kok yang bisa mencapai Pangkat Kristal dalam waktu singkat, tapi mentoknya juga paling cepat sekitar 7-10 tahun lebih, itu pun baru nyampe di level awal. Tergantung seberapa rajin seseorang berburu dan menjalankan misi. Dan cara untuk menaikan level sendiri ialah mengumpulkan Score. Semakin banyak Score yang dikumpulkan, semakin cepat naik level dan pangkat.”


Ponsel Astan kembali dimasukan ke dalam saku. “Enggak kayak aku yang berburu paling cuma buat nyari duit. Enam bulan jadi pemburu itu udah bisa sampai Pangkat Perunggu level awal, seharusnya. Yaa… gimana enggak mentok level? Sebulan paling cuma ambil sekitar 3-4 misi.”


“Dikit amat, Bang…? Keliatan banget malasnya,” ucap Arni heran.

__ADS_1


“Bukannya malas, Dek…. Emang sengaja.” Astan mulai berbisik di telinga Arni. “Coba pikir, deh. Makin tinggi pangkat dan level seorang pemburu, makin banyak perkara yang musti dihadepin. Mulai dari musuh-musuh makin kuat-susah, persaingan antar pemburu dan Guild, membuktikan diri bahwa dirinya yang terkuat, bantai-membantai, jadi dendam-mendendam.”


Kemudian Astan berdiri tegap kembali, memasukan kedua tangannya di saku jaket. “Lagian kalau udah kuat macam dewa maunya apa lagi…? Tanggung jawab untuk mempertahankan peringkat itu susah. Harta, lama-lama juga bakal bosen ama duit mulu. Tahta, malah dikasih tanggung jawab yang lain. Wanita, cuma bajigur berotak cabul yang mikir sampai ke sana. Hidupnya pasti tidak akan senormal ini lagi.”


Arni mengangguk paham. Menjadi yang terkuat adalah dambaan semua orang, bahkan orang malas gerak pun juga mendambakan itu biarpun tanpa usaha. Namun bagi Astan, menjadi yang terkuat hanya akan menjerumuskan seseorang dalam masalah yang jauh lebih dalam, dan belum tentu seseorang bisa terbebas dari masalah tersebut lalu kembali ke kehidupan normal dengan bahagia.


Menurut Astan, lebih baik tidak perlu terlibat apapun yang berhubungan dengan orang-orang kuat ataupun menjadi yang terkuat kalau ingin hidup normal.


Arni kembali bertanya lagi, “Emang peringkatmu apa, Bang?”


“Besi level 3.”


“Ooo….” Arni mengangguk lagi.


“Kenapa? Mau ngeledek?”


“Pengennya,” cicit Arni. “Tapi aku masih sadar diri, Bang.”


“Meh~ Baguslah. Masih ada tanah di atas langit.”


“Lah, bukannya langit di atas langit?”


Astan menjawab, “Ya, tanahnya itu ibarat kau, sedangkan aku ini langit. Terus ada langit lagi yang lebih tinggi lagi dariku, ada langit lagi, terus langit lagi, langit di atas langit, atasnya langit, langit lagi, nongol langit, makin ke atas langit lagi, langit, selangit-langit— Adoh!”


Saking seringnya menyebut kata yang sama, tanpa sadar lidah Astan kegigit sendiri sampai berdarah. Jari Astan mencolek darah dari lindahnya.


“Lah, berdarah…?”


Arni berusaha menahan tawa, “Pffft…. Makanya, jangan lebay kalau mau ngomong sok bijak.”


Tanpa peduli ledekan Arni, Astan menyambar beberapa lembar tisu dari tangan seorang wanita yang kebetulan berdiri menunggu trem juga di sampingnya.


“Minta, Tante.”


“Oi, anak setan! Jangan sembarang asal nyomot tisu orang, ya! Dasar enggak tahu diri! Blablablablablabla….”


Tak menggubris omelan sang tante, Astan lebih memilih fokus membersihkan darah dari lidahnya.


“Masih bisa ngomong, kan? Banyak yang aku tanya, nih?” Arni menunjukan senyum lebar. “Lidah aman buat nge-ghibah?”


Astan mengacungkan jempol. “Aman.” Lalu membuang tisu ke tempat sampah terdekat. “Masih bisa nge-ghibahin si Rojali yang kagak pernah pulang dari tata surya seberang sana. Hampir setiap sore aku nge-ghibah bareng emak-emak kantin soal si Rojali itu yang katanya sukses di sono, tapi lupa sama emak sendiri yang ada di bagian tata surya sini.”


“Ahahaha…!”


Keduanya tertawa bersama hingga tanpa terasa trem yang mereka tunggu telah tiba. Keduanya segera masuk ke dalam trem bersama para penumpang lain, dan mengambil tempat duduk sebelum keduluan yang lain.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2