
“GAAAH!”
Baru selesai tuas putar mereka tarik dari tengah gerbang, beberapa anggota tim dikejutkan dengan jatuhnya gumpalan daging dan tulang kering yang sudah remuk dari sela-sela antara tuas dan gerbang, jatuh ke lantai, hampir mengenai kaki sang ketua.
“Ish! Bikin kaget aja,” desis salah satu prajurit jengkel sambil mengelus dadanya.
“Ini daging sama tulang mengering, Ketua?” tanya prajurit lain.
Edrick memperhatikan gumpalan daging kering tersebut, dengan tenang ia menendang benda itu secara asal agar tidak menghalangi jalan.
“Begitulah. Kita sudah banyak menemukan hal-hal seperti itu selama menelusuri kapal ini.”
Memang benar. Dari tadi yang namanya gumpalan daging, tulang, dan bercak darah kering pasti selalu ditemukan di setiap area kapal, entah itu dari tubuh manusia atau para monster.
“Ya, sudah. Sekarang, kita putar tuasnya.”
Mereka kembali bersiap hendak memutar tuas. Namun belum sempat memberi aba-aba, benda lain jatuh dari plafon koridor. Sebuah benda lengket, kental tak berbentuk jelas.
“Awas!”
“GAH!!!”
Sontak Edrick dan tiga prajurit tadi melompat menjauh. Benda itu kini berada di depan gerbang, menghalangi jalan mereka. Sebuah benda cair yang sangat kental, warnanya krem menyerupai warna kulit manusia. Punya beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan mata menempel tak beraturan pada benda itu.
Wujudnya menjijikan, sangat berantakan.
[Julukan : Slime-D]
[Jenis : Infeksi]
[Sifat : Pasif]
[Status : Danger]
[Identifikasi : Diduga Objek Buatan]
“Astaga, ada yang kayak beginian?” tanya Edrick agak panik.
Wirma mengecek radarnya. “Tadi tidak terdeteksi apapun di sekitar sini. Sekarang, makhluk itu malah terbaca sebagai titik biru.”
“Apa makhluk itu tidak berbahaya jadi sampai ditandai titik biru di radar?” tanya Sadin.
“Sistem AutoTerra memindai kalau makhluk ini jenis Infeksi Tingkat Extreme. Pastinya, dia berbahaya,” ujar Astan.
“Sifatnya Pasif,” tambah Tenma, baru kembali bicara. “Makhluk bersifat Pasif biasanya terbilang tenang. Mungkin itu sebab mengapa radar susah mendeteksinya.”
Kalau dipikir lagi, memang ada benarnya kata Tenma. Kalau mereka melihat respon dari si makhluk, nampak sekali pergerakannya lambat dan tenang. Namun, tatapan dari satu mata yang menempel pada permukaan tubuh berlendir itu sungguh membuat bulu kuduk mereka merinding.
“Jadi, apa yang harus—Gyaaah!!!”
Mereka tersentak, menyadari lendir-lendir Slime-D melesat cepat ke arah mereka. Reflek mereka semua berusaha menghindari lendir-lendir itu. Tak menyangka jika Slime-D bisa menyerang tiba-tiba begini.
“Perisai!”
[Shield Type-3 : Aktif]
Satu prajurit mengaktifkan Kemampuan Shield, menciptakan perisai hologram lebar yang melindungi mereka dari cipratan-cipratan lendir Slime-D. Sayangnya, perisai hologram itu nampak perlahan meleleh akibat tak kuat dengan efek pada lendir.
Prajurit Pangkat Perak berusaha melindungi yang lainnya dari serangan makhluk Tingkat Extreme, rasanya agak mustahil. Perbedaan kekuatan mereka terlalu mencolok.
__ADS_1
“Ketua, perisaiku tidak bisa menahan serangannya lebih lama lagi!”
“Yang punya kemampuan sama, bantu dia!”
[Shield Type-3 : Aktif]
Satu lagi prajurit menambahkan satu perisai di bagian depan, menebalkan lapisan perisai. Tapi, tetap saja ikut meleleh seperti perisai sebelumnya.
Astan yang memperhatikan keduanya berusaha melindungi mereka merasa agak tak enak hati. Andai saja Kemampuan Shield-nya sudah tembus Tipe-3, mungkin Astan juga bisa membantu.
“Ergh…! Tidak bisa. Cairan makhluk ini terlalu kuat,” ringis sang prajurit, berusaha mempertahankan perisainya.
“Makhluk itu harus dilenyapkan!”
“Tidak, tungg—.”
Belum sempat Edrick memperingatkan, satu prajurit nekat menembak Slime-D menggunakan senapan serbu. Bukannya mati, cairan pada tubuh Slime-D makin menyebar kemana-mana akibat tembakan tersebut, makin banyak juga cairan menempel pada perisai sampai membuatnya meleleh berlubang.
“Terlalu banyak lubang…!” Sang prajurit tak mampu mempertahankan perisainya.
“Lenyapkan saja perisai! Aku akan menahan menggunakan Program Kemampuan-ku.”
Dua prajurit mematikan perisai mereka. Segera Edrick mengaktifkan Program Kemampuan-nya kembali.
“IRN 197-1 : Tembok Besi!”
Satu tembok besi muncul di depan, didorong Edrick ke arah sang Slime. Ketika tembok besi itu hampir menimpanya, Slime-D melepaskan kembali cairan-cairan kentalnya, menembus sela-sela pinggir tembok besi sesuai ukuran.
Jika ada celah setipis apapun itu, maka makhluk sejenis Slime tetap bisa menembusnya.
Edrick membelalak, menyadari jika beberapa cairan Slime-D masih bisa tembus lewat celah-celah tembok besi yang ia buat, bahkan kini melesat melewatinya.
“Menghin—.”
Belum sempat Edrick memperingatkan, cairan-cairan itu sempat mengenai zirah dua prajurit yang tak sempat menghindar.
“Apa yang— Ti-tidak! Zirahku meleleh! Arrrgh!!!”
“Sa-sakit…! Ergh! A-aku… sulit… bernafas. Waaaarghh!!!”
“Prajurit!”
Satu prajurit hendak menghampiri, tapi ditahan Tenma saat melihat darah mengucur membasahi tubuh dan zirah kedua prajurit malang tersebut. Bukan hanya itu, nafas mereka makin sesak, organ-organ dalam hancur, dan perlahan seluruh tubuh mereka ikut meleleh merembes keluar dari celah-celah zirah.
Semuanya membelalak syok, tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Melihat kedua rekan tim tewas dalam keadaan meleleh, mati mengenaskan di hadapan mereka. Kemampuan dari monster ini sungguh mengerikan.
Edrick tak percaya ini. Gara-gara kelalaiannya dalam mengatur kemampuan, tak menyadari bahwa sudah memberi celah pada cairan-cairan Slime-D untuk tembus, mengakibatkan tim mereka kehilangan dua anggota.
“Ketua, tembok besimu!” peringat Astan panik.
Ketika Edrick menoleh, ia kembali dibuat terbelalak menyadari tembok besinya yang tebal bisa dilelehkan oleh cairan seluruh tubuh Slime-D.
Cairan-cairan itu kini hampir menyebar ke arah mereka lagi. Namun tak disangka satu prajurit menyemburkan udara dingin dari senjata miliknya hingga membeku menjadi bongkahan es.
Mereka semua sudah bisa bernafas lega untuk saat ini setelah melihat semua cairan Slime-D berhasil dibekukan. Mereka tak menyangka, makhluk itu bakal dapat dikalahkan menggunakan senjata pembeku.
“Ma-maafkan aku. Aku tak menyadari kalau makhluk itu bisa dibeku—.”
Edrick menunduk, mengangkat satu tangan, isyarat agar sang prajurit pemilik senjata pembeku untuk diam sejenak.
__ADS_1
“Kau punya Ice Gun?”
Prajurit itu hanya mengangguk sebagai balasan, tapi raut wajah di balik helm itu masih menampakan rasa bersalah.
Sang ketua menepuk bagian helmnya. Dirinya menyesal ketika lupa memberi perintah pada prajurit pengguna Ice Gun untuk membekukan Slime-D. Edrick pikir di timnya tidak ada yang menggunakan senjata Ice Gun, rata-rata menggunakan jenis senjata serbu. Selain itu, mereka masih belum tahu makhluk-makhluk seperti apa yang berkeliaran di sini dan sulit untuk mengetahui cara mengatasinya.
Kalau begini, seharusnya Edrick memberi perintah dari awal untuk membekukan Slime-D. Pasti kedua anggotanya tidak akan bernasib nahas seperti ini.
“Siapa lagi yang punya Ice Gun atau sejenisnya?”
Tidak ada yang menjawab, pertanda bahwa tidak ada siapapun yang menggunakan senjata pembeku, kecuali satu prajurit ini.
Edrick sempat mengecek data persenjataan para anggotanya lewat panel sistem. Rata-rata memang menggunakan senapan serbu, termasuk Astan. Ada yang menggunakan Laser Gun, Plasma Rifle, Sniper Rifle, dan Shotgun.
Senjata seperti Ice Gun, Flame Thrower, Granade dan Rocket Launcher biasanya sangat susah didapatkan untuk pengguna sistem Pangkat Perak ke bawah, harganya pun mahal. Wajar saja jika banyak dari mereka tidak punya jenis-jenis senjata seperti ini.
Edrick menghela nafas berat. “….Sudahlah. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Menyesali dan memperdebatkan masalah yang sudah terlanjur terjadi hanya akan menghambat tugas kita. Ini jadi pembelajaran agar kita, terutama aku sebagai ketua kalian, untuk bisa semakin teliti, fokus, dan waspada dengan kemungkinan yang akan kita hadapi.”
Biar berkata demikian, Edrick tak mampu menyembunyikan rasa sesalnya karena telah lalai mengatur strategi hanya karena satu musuh.
Wirma menghampiri, menepuk bahu sobatnya itu, berusaha menenangkan bahwa hal-hal seperti ini tidaklah mustahil terjadi.
Kapan pun, kematian pasti akan selalu mengintai mereka.
“Grrrawww….”
“Grrraaawwh….”
Lagi-lagi mereka dikejutkan dengan kedua prajurit tadi yang tewas bangkit kembali dalam tubuh meleleh, serta bagian tulang-belulang yang masih dapat menyangga tubuh mereka sampai berdiri walau tak beraturan.
“Mereka bangkit?”
“Itu pasti efek insfeksi dari Slime tadi.”
“Biar aku atasi!”
Prajurit pengguna Ice Gun kembali menyemburkan udara dingin ke arah kedua tubuh meleleh prajurit itu. Sebagiannya masih bisa membeku, tapi butuh waktu lama untuk membekukan mereka seutuhnya karena ukuran tubuh yang jauh lebih besar dari Slime-D tadi.
“Grrraaawh!”
“Akh—.”
Sang prajurit terpaksa mundur ketika satu tubuh berusaha menggapainya dengan tangan meleleh, ditambah lagi amunisi Ice Gun juga sudah habis dan perlu diisi.
“Tubuh mereka sulit dibekukan. Tapi, sepertinya bisa ditembak, ada beberapa bagian yang masih padat dan sudah membeku,” ujar sang prajurit sambil mengisi amunisi Ice Gun.
“Oke, kita coba tembak.”
Beberapa prajurit menembak hancur tubuh dua mayat itu. Setelah berhasil ditembak, kedua tubuh itu dipastikan telah hancur, tidak akan bisa bangkit kembali. Untuk berjaga-jaga, pengguna Ice Gun kembali membekukan bagian-bagian tubuh yang hancur dan meleleh agar tidak bangkit tiba-tiba lagi.
“Semuanya, aman!” ucap pengguna Ice Gun setelah selesai menyelesaikan tugasnya.
“Yakin? Nanti malah bangkit lagi.”
“Udah hancur beku begitu, mana bisa bangkit lagi,” elak Astan pada salah satu prajurit.
Koridor sudah dipastikan aman. Tidak ada lagi serangan makhluk semacam Slime-D atau pun serangan tiba-tiba dari tubuh mati yang terkena infeksi Slime-D.
Ya, untuk saat ini mereka aman.
__ADS_1
...~*~*~*~...