AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 14 : Persiapan Misi Pertama


__ADS_3

“Akhirnya… cucian pada selesai semua. Tinggal dikeringkan aja. Tapi, entar dikeringkannya dikipasin aja, deh. Biar hemat.”


Akhirnya, Astan selesai mencuci pakaian di bilik bekas kamar mandi. Saat baru saja keluar dari tempat Laundry sambil membawa sekeranjang cucian, Astan dicegat oleh sosok gadis berjaket hijau.


“Pagi-pagi udah begal ae nih bocah,” ledek Astan agak jengkel melihat keberadaannya.


Arni tersenyum pada Astan dengan kedua tangan di belakang.


“Bang, aku mau mengajakmu ngambil misi pertamaku hari ini,” kata Arni, “Tadi aku pergi ke kabinmu, tapi kata tetangga kau pergi ke tempat Laundry, makanya aku nyusul ke sini.”


“Lah, ambil misinya masih lama lagi.”


“Sekarang aja, biar cepet.”


Astan berpikir sejenak sambil melihat keranjang cucian di tangan. Kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya untuk ambil misi lebih awal. Biar cepat selesai, biar cepat pula Astan bermalas-malasan sambil nonton SitKom Engkong Sutris, kalau bisa marathon.


“Ya udah, deh. Tapi aku balik ke kabin dulu. Mau ganti pakaian. Enggak enak pakai kaos polos begini, bau cucian pula.”


Arni mengacungkan dua jempol. “Siap!”


Ketika mereka berdua mulai berjalan menuju koridor, langkah Astan terhenti saat menemukan beberapa penghuni kapal tengah mengerubungi dua sosok pemuda remaja tergeletak di sudut tembok.


Saat diintip di sela-sela barisan penghuni, keadaan kedua pemuda itu sangat mengenaskan. Wajah mereka babak belur, tangan, kaki, dan leher nampak patah, dan dipenuhi oleh luka-luka memar dan darah. Beruntung masih hidup.


Tak berapa lama para medis datang, segera membawa dua pemuda yang hampir sekarat itu ke Dek Medis.


“Itu dua laki kenapa, sih? Kok pada luka-luka gitu?” tanya Astan bingung.


“Enggak tahu, tuh. Keseleo, kali.”


Dengan santainya Arni berlalu mendahului Astan sambil bersenandung ria seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


Kedua mata Astan menyipit ketika memandang kepergian Arni. Memorinya berputar di kejadian saat berada di lapangan latihan kemarin. Di sana juga ditemukan dua pemuda dengan nasib sama seperti dua pemuda di sini, dan mereka sudah berakhir dalam keadaan mengenaskan begitu saat Arni masih ada di tempat kejadian.


Hmm…. Ada apa ini…? Sepertinya Astan perlu minta kejelasan dari Suda.


...~*~*~*~...


Saat berada di lobi Guild, Astan dan Arni mulai memilih misi yang diberikan Tessa pada mereka lewat monitor hologram komputer. Arni nampak serius memilah-milih misi pertama yang ia jalankan, sedangkan Astan masih berdiri santai di samping Arni dengan kedua tangan bersedekap di dada.


“Arni, kenapa sih milih misi seserius gitu? Itu misinya cuma tiga biji doang,” timpal Astan mulai tak sabaran.


Arni mencak. “Ish, Bang…! Ini ‘tuh misi pertamaku. Aku harus berhati-hati memilih misi yang kelak akan menjadi salah satu kenangan terindah di hidupku.”


“Dosa-dosamu tuh yang dikenang, biar sadar diri di masa depan.”


Muka Arni langsung sewot saat mendengar celetukan Astan yang benar-benar menusuk tepat di hati sanubari semua umat.


Karena tidak ingin mendengar keduanya ribut dengan hal-hal sepele, Tessa memutuskan untuk membantu memberi saran.


“Emm…. Bagaimana kalau saya sarankan untuk kalian mengambil misi ketiga?”


“Misi ketiga?” tanya Arni penasaran.


“Yep.”


Tangan Tessa mengklik daftar misi ketiga, menunjukan rincian dari misi tersebut.


“Misi ketiga adalah misi memburu kawanan Mutant Frog. Mutant Frog adalah monster Tingkat Easy yang bisa dikalahkan oleh pemburu Pangkat Kayu ke atas. Cocok sekali buat Anda yang baru belajar berburu.”


“Berburu Mutant Frog?” Astan menaikan sebelah alis. “Siapa yang masang misi itu? Pak Rohma lagi, ya? Soalnya, seingatku bagian mata ama telur-telurnya bisa dijadikan obat demam.”


Tessa menggeleng. “Bukan. Ini misi langsung dipasang oleh Guild. Hasil buruannya nanti bakal dijual ke perusahaan farmasi. Soalnya, kita butuh uang untuk membeli Inti Kristal.”

__ADS_1


“Musti beli, kah? Enggak ada pemburu yang pergi ke Dungeon untuk mengambil Inti Kristal?” tanya Astan lagi.


“Tidak ada yang berani…. Biarpun sudah Pangkat Perak ke atas sekali pun, Guild kita cuma punya sedikit senjata dan Item bagus untuk mendukung penaklukan Guild. Jadi, sangat berisiko.”


Astan jadi prihatin dengan keadaan Guild Thornic. Guild ini terbilang miskin dan hanya sedikit pemburu berpangkat tinggi di sini, yang Pangkat Emas saja jumlahnya bisa dihitung jari. Ditambah lagi persenjataan dan Item yang tersedia kualitasnya kurang bagus karena kurangnya pendanaan untuk membuat senjata sendiri.


Sejenak Astan berpikir, mungkin sudah saatnya dia aktif berburu. Bukan untuk menaikan level, tapi untuk membantu perekonomian Guild ini. Selain para pemburu, ada banyak penghuni kapal yang dulunya tunawisma tinggal di sini. Mereka harus diberikan perhatian yang layak.


“Hmm…. Okelah kalau misi ini.” Lalu Astan bertanya pada Arni, “Gimana menurutmu?”


“Oke ajalah, kalau itu juga cocok untukku.”


“Konfirmasi, Tess.”


“Oke.”


Notifikasi penerimaan misi muncul di panel sistem Astan dan Arni.


[Apakah Squad kalian mau menerima misi Berburu Kawanan Mutant Frog?]


[YA] [TIDAK]


Keduanya bersamaan mengklik ‘Ya’.


[Misi baru tersedia]


[Berburu Kawanan Mutant Frog]


[Durasi : 1 hari]


“Oke. Sudah saatnya kita berangkat, Arn.”


Astan berjalan lebih dulu meninggalkan meja resepsionis Guild, disusul Arni di belakangnya.


“Tu-tunggu dulu, Bang! Kita mencari Mutant Frog dimana?”


“Tapi, gimana caranya kita ke sana?”


“Pakai pesawat Guild, sayang….”


“Eh?”


Arni sempat terhenti melangkah saat Astan tetap berjalan mendahuluinya. Ekspresinya nampak kebingungan memikirkan jawaban Astan tadi.


“Emang Guild punya pesawat?”


...~*~*~*~...


“Woaaah!!!”



Arni terkagum saat melihat begitu luasnya hangar di kapal antariksa tersebut. Hangar ini merupakan garasi untuk beberapa pesawat. Pesawat-pesawat ini ukurannya agak lebih besar dari pesawat tempur, mampu menampung sekitar 5-10 orang penumpang.


Nampak beberapa pesawat berjejer di barisan parkiran dengan rapi, dua pesawat juga nampak baru saja hendak lepas landas, diarahkan dulu menuju area hangar luar sebelum benar-benar lepas landas. Pesawat yang hendak lepas landas di arahkan ke area tersebut untuk mencegah terbuangnya oksigen secara masif.


“Wiiih….”


Arni berjalan beriringan bersama Astan untuk mencari pesawat yang akan mereka sewa sambil melihat-lihat pemandangan luasnya hangar.


“Banyak juga pesawat yang kita punya,” ucap Arni melihat jejeran pesawat.


“Ini masih terbilang sedikit dari pesawat-pesawat yang dimiliki oleh kapal Guild dan kapal koloni lain. Beberapa di antaranya juga ada yang sudah rusak,” jelas Astan sambil berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

__ADS_1


Setelah mencari-cari pesawat yang pas, akhirnya Astan menemukan satu pesawat berwarna hitam yang nampak cukup bagus dan terawat. Di dekat pesawat, ada seorang pria seusianya tengah membersihkan bagian roda pesawat. Dia nampak memiliki rambut kebiruan berantakan dan memakai kaos putih serta jaket biru muda.


“Hoi, Soni!”


Yang dipanggil otomatis menghentikan pekerjaannya, menoleh pada Astan.


“Oi, Tan!”


Soni langsung menghampiri Astan dan Arni dengan muka sumringah sambil menyelempangkan handuk di bahunya.


“Tan, Tan…. Jangan panggil aku ‘Tan’, aku bukan orang utan,” kata Astan agak sewot. “Seperti biasalah, Son. Sewa jasamu.”


“Woah! Caer…! Dapat penumpang lagi. Aku tadi baru saja habis anterin Squad Rudolf,” kata Soni riang. “Mau kemana, hah? Mau ke Darzia, mau ke luar tata surya, mau ke akhirat pun bakal aku antar.”


“Hilih~ Kau saja yang ke akhirat,” ucap Astan jengkel.


“Lah? Kalau dipanggil Tuhan, gimana?”


“Ya, pasrah. Tapi, enggak usah pakai dianterin juga, kale.”


“Nah, kalau kita kecelakaan di tengah jalan, baru nyampe di sisi Tuhan Yang Maha Esa.”


“Bah! Enggak sehat otak nih pilot.”


Sejenak Arni terkekeh dengan interaksi mereka berdua. Mendengar kekehan cantik itu, yang namanya insting lelaki bujang pastilah auto menoleh ke si cantik.


“Wah…! Ada bidadari cantik, nih.” Kemudian Soni berbisik pada Astan. “Siapa dia? Majikanmu?”


Astan melotot tak suka. “Sembarangan. Kusentil juga pankreasmu.”


“Hahaha….” Soni hanya tertawa sebagai respon kejengkelan Astan padanya.


Astan pun menjawab dengan jujur, “Namanya Arni Siragan, adik dari Suda si kuli mesin itu. Dia baru saja terdaftar sebagai pemburu di Guild ini.”


“Woah?! Adiknya si Suda, ya…? Kagak pernah lihat aku. Ternyata cakep juga, ya.” Soni pun memberi ucapan pada Arni, “Selamat, ya. Udah berhasil jadi pemburu. Misi pertama, ya?”


“Iya, Mas,” jawab Arni sungkan.


Astan pun mulai bantu memperkenalkan Soni. “Nah, Arni. Ini Soni Sinclair. Dia merupakan pilot khusus untuk pesawat Guild yang akan kita tumpangi nanti.”


“Salam kenal!” Soni memberi hormat. “Pilot Soni Sinclair siap mengantarkan Anda kemana saja dengan ojek pesawat terbaik kita!”


“Ojek pesawat?” tanya Arni heran.


Astan berbisik pada Arni. “Dia emang suka menyebut profesinya sebagai ojek pesawat.”


Arni mengangguk-angguk paham, tapi sepertinya merasa aneh dengan sebutan itu.


“Perkenalkan!”


Soni langsung memperlihatkan dengan bangga pesawat luar angkasa berwarna hitamnya yang berdiri kokoh, gagah, mengkilat, dan nampak canggih. Sontak Arni terkagum seperti biasa dengan hal-hal baru begitu, sedangkan Astan memasang raut datar.


Astan sudah mencium bau-bau kebodohan, nih.



“Inilah dia, ojek pesawat luar angkasa Pilot Soni Sinclair! Supri Z Goceng! Bisa membawa Anda kapan saja dan dimana saja! Tahan banting, tahan ledakan, tahan cobaan pun juga bisa! Tapi enggak bisa menahan perasaanku ke kamyu…!”


Soni memperkenalkan dengan semangat disertai tangan membentuk hati, dan tak lupa kedipan mata macam orang kelilipan debu asteroid.


Sesaat suasana hening. Soni masih di posisi sok bucinnya, Arni kembali berekspresi bingung sekaligus heran, sampai pada akhirnya,


“HUEEEK!!!”

__ADS_1


Suara mual Astan terdengar menggelegar di seluruh hangar.


...~*~*~*~...


__ADS_2