AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 75 : Kelompok Wirma


__ADS_3

Gumpalan bayangan hitam diam di ujung ventilasi. Sisi-sisinya bergerak menyerupai gelombang tak beraturan, kedua mata kuningnya menatap kosong ke bawah, posisi ini terasa seperti sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi.


“Menurutmu, apa akan ada sesuatu yang menarik terjadi nantinya?” tanya suara berat dari dalam diri sang bayangan.


Suara lain yang terdengar lebih halus menjawab dengan tenang, “Apapun yang terjadi, Astan harus dipastikan selamat.”


Ada jeda sesaat sebelum si suara berat berucap santai, “Yaaa…. Bajingan tengik itu harus dipastikan selamat.”


Mata kuning itu membelalak kaget, tubuhnya mengambil sikap waspada, mewakili rasa keterkejutan si suara halus saat menyadari si suara berat terdengar jauh lebih santai dalam pikirannya.


“Apa yang hendak kau rencanakan?” desis si suara halus curiga.


Walau mereka berada dalam tubuh yang sama, keduanya memiliki pikiran masing-masing. Sayang sekali, si suara halus tidak bisa mengetahui apa yang sedang direncanakan si suara berat.


“Menurutmu?”


...~*~*~*~...


Setelah Kelompok Edrick pergi ke Dek Keamanan sambil berusaha mengalahkan beberapa monster yang menghalangi jalan mereka, akhirnya ketiganya berhasil sampai di depan sebuah ruang pengawas. Ruangan tersebut sudah tidak memiliki pintu lagi, sisi-sisinya rusak seperti baru saja dihancurkan oleh sesuatu.


Perasaan cemas semakin menyelimuti mereka. Buru-buru ketiganya memasuki ruangan. Sesampainya di dalam, Edrick, Bery, dan Astan terkejut melihat apa yang baru saja mereka temukan.


Farhan, Zered, dan Wirma sudah tergeletak tak bernyawa di lantai ruangan. Terdapat rembesan dan bercak darah segar di tubuh dan sekitar ruangan, mesin serta beberapa monitor hancur, terdapat percikan-percikan listrik di setiap sudut ruangan, nampak sangat berantakan.


Dari keadaan yang terlihat, telah terjadi hal yang buruk di dalam ruang pengawas. Sesuatu telah menyerang dan menewaskan ketiga prajurit ini.


“Wirma!”


Edrick bergegas menghampiri tubuh Wirma. Tubuhnya benar-benar mengalami luka, darah merembes di perut, zirah yang ia kenakan rusak, dan helmnya pun lepas dari kepala menampakan ekspresi kakunya dalam kematian.


Bery dan Astan juga memeriksa tubuh Farhan dan Zered yang berakhir sama. Tidak ada nafas dan denyut, sebagian anggota tubuh bahkan mulai terasa dingin.


“Kita terlambat,” gumam Astan lesu.


“Apa yang sudah terjadi di sini?” tanya Bery tak terima. “Apa monster berhasil membunuh mereka?”


Edrick tidak ingin berlarut dalam kesedihan, mencoba kembali berpikir jernih. Hal-hal macam ini pasti akan terjadi ketika misi yang mereka emban cukup sulit. Pasti akan ada banyak nyawa yang harus dipertaruhkan.

__ADS_1


Matanya sempat menelisik ke sekitar ruangan lalu ke arah pintu yang rusak. “Sesuatu sudah menerobos ruangan ini, menyerang mereka secara membabi buta. Kemungkinan besar memang monster. Dan monster yang menyerang mereka sangatlah kuat.”


Bery meringis ngeri mendengarnya. Kalau benar monster yang menyerang Kelompok Wirma sekuat itu, ada kemungkinan jika mereka juga menjadi korban selanjutnya.


“Soal Kelompok Tenma.” Astan bicara serius, “Mereka sudah lama tidak bisa dihubungi. Apa mereka juga bernasib sama seperti Kelompok Wakil Wirma?”


Edrick mencoba berpikir. Kejadian yang terjadi pada Kelompok Wirma mengakibatkan komunikasi terputus secara mendadak. Ada kemungkinan besar Kelompok Tenma juga menjadi sasaran monster sejenis ini sejak awal.


Yang jadi pertanyaannya, monster macam apa yang telah menyerang mereka?


“Kita akan tahu jika pergi mencari keberadaan terakhir Kelompok Tenma,” saran Edrick. “Tapi sebelumnya, kita harus memeriksa barang-barang bukti milik Kelompok Wirma.”


Tangan Edrick mencoba meraba-raba sekitar zirah Wirma. Ada sesuatu yang janggal. Keberadaan barang bukti berisi data-data penting seperti flashdisk tidak ada di sekitar tubuh Wirma.


“Ini aneh….”


“Kenapa?” tanya Astan heran dengan reaksi kebingungan sang ketua.


“Wirma sama sekali tidak memegang flashdisk ataupun barang bukti yang ia dapatkan,” kata Edrick sambil berpikir.


“Atau sebenarnya, mereka belum menemukan barang bukti yang dicari,” kira Bery pula.


Edrick menggeleng menanggapi mereka berdua. “Tidak mungkin. Wirma sempat bilang kalau mereka sudah mendapatkan bukti-bukti rekamannya. Biasanya, benda-benda penting di dalam penyimpanan sistem yang akan diserahkan pada orang lain bakal dikeluarkan secara otomatis ketika penggunanya sudah tewas. Seharusnya, benda penting itu ada di sekitar tubuh Wirma. Tapi, aku sama sekali tidak menemukannya. Coba kalian cari di sekitar tubuh Farhan dan Zered. Jika masih belum ditemukan, kita cari ke seluruh ruangan.”


“Baik, Ketua.”


Sesuai perintah, Astan dan Bery memeriksa sekitar tubuh kedua mayat prajurit itu. Hasilnya sama, tidak ditemukan apapun di sekitar mereka. Ketiganya juga berusaha mencari-cari barang bukti yang didapat Wirma di sekitar ruangan, tapi mereka juga tidak menemukan apa-apa. Edrick juga kembali memeriksa Sistem AutoTerra pada tubuh Wirma dan rekan-rekannya lewat Kemampuan Hack. Sayangnya, tidak ditemukan apapun yang penting.


“Sepertinya, barangnya telah hilang.”


“Hilang?” tanya Bery heran, “diambil siapa?”


Edrick menghela nafas pasrah. “Mungkin tak sengaja terseret atau ditelan monster yang menyerang mereka.”


“Aaah…. Satu barang bukti penting lainnya malah hilang,” gumam Astan jengkel. “Apa kita coba saja mengumpulkan ulang data-data penting di ruangan ini.”


“Tidak bisa. Semua mesin di sini sudah rusak.”

__ADS_1


Astan mendengkus kesal. Kalau begini jadinya, mereka akan kekurangan barang bukti untuk diserahkan ke persidangan BioEmerald.


“Tidak ada pilihan lain. Kita akan pergi mencari keberadaan Kelompok Tenma sambil mencari tahu makhluk apa yang telah menyerang Kelompok Wirma. Siapa tahu kita bisa mendapatkan barang bukti yang hilang,” saran Edrick pada akhirnya. “Jika kita tidak menemukan apa-apa lagi. Terpaksa kita kembali ke markas dengan barang bukti yang kita punya sekarang. Itu lebih baik daripada pulang dengan tangan kosong atau tidak bisa kembali sama sekali.”


Astan dan Bery mendesah pasrah. Kalau sudah seperti itu, apa boleh buat. Mereka juga tidak bisa terus-menerus memaksakan diri untuk menelusuri kapal angkutan antariksa ini. Jika sudah mendapat barang bukti walau tak sesuai harapan, setidaknya itu lebih mending daripada tidak mendapat apa-apa.


Namun sebelum pergi, mereka menutup mayat-mayat rekan mereka lebih dulu menggunakan kain putih yang dibawa di penyimpanan sistem, berdoa, dan meminta maaf atas keterlambatan mereka.


Semoga Wirma dan dua rekannya tenang di sisi Yang Maha Kuasa.


...~*~*~*~...


Edrick, Astan, dan Bery kini sudah berada di Dek Publik, tepatnya di bagian Administrasi tempat keberadaan Kelompok Tenma terakhir terlihat. Seperti yang dikatakan Wirma sebelumnya, kamera-kamera pengintai di sekitar area perkantoran itu memang rusak semua, bahkan jalan menuju beberapa koridor terlihat gelap.


Saat mencari jalan yang kemungkinan dilewati Kelompok Tenma, Astan tak sengaja menemukan drone milik Zered sudah hancur tergeletak di lantai. Ia berjongkok, memeriksa drone tersebut.


“Ini bukannya drone milik Zered?” tanya Astan saat mengangkat serpihan drone.


Bery dan Edrick mendekatinya sambil memegang senjata masing-masing, ikut memperhatikan keadaan drone yang sudah hancur.


“Wirma sempat bilang kalau Zered mengirimkan drone-nya untuk mencari keberadaan Kelompok Tenma,” kata Edrick.


“Drone ini berakhir di sini.”


Ketiganya mengalihkan pandangan ke arah satu koridor gelap di hadapan mereka.


“Ada kemungkinan Kelompok Tenma memasuki koridor ini,” tebak Astan.


“Apa kita coba periksa?” tanya Bery.


Kalau sudah begini pada akhirnya, Edrick setuju. “Kita akan pergi ke sana.”


Mereka bertiga berlari memasuki koridor tersebut. Dari jalan sini, kemungkinan besar mereka akan menemukan jawaban mengapa Kelompok Tenma kehilangan kontak dengan mereka. Apakah bernasib sama dengan Kelompok Wirma atau ada sebab lain?


Entah bahaya macam apa yang sedang mengintai mereka. Siap atau tidak siap, mereka harus menghadapinya.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2