
Hangar di Kapal Thornic 035 terlihat begitu sepi tak ada orang. Maklum, sudah pukul tengah malam lewat, jam-jamnya banyak orang pada istirahat.
Di dalam salah satu pesawat yang tentunya merupakan pesawat luar, bukan pesawat asli dari kapal, sang pilot tengah tertidur pulas di kursi kemudi dengan kepala mendongak, helm hampir menutupi kepala, dan liur menetes kemana-mana.
Tidurnya begitu pulas, ngorok pun terdengar keras. Sampai pada saat kepalanya kena lempar tab dari belakang.
“Woi, bangun kau, Pilot!”
Buru-buru sang pilot bangun dari tidurnya, menoleh ke arah si pelempar sambil memperbaiki posisi helm.
“E-eh. Si-siap, Mandor— Mak-maksud saya, Wakil Komandan!” ucapnya tegas disertai hormat dengan helm kembali miring di kepala.
Harnan sedikit memajukan bibirnya. “Mandor, mandor. Kau kira lagi bikin proyek bangunan, apa? Udah, ah. Siap-siap, noh! Bentar lagi kita langsung berangkat aja kembali ke markas.”
“Sekarang, Pak?” tanya sang pilot bingung. Ketika melihat jam sesuai waktu kapal ini, masih menunjukan pukul tengah malam lewat sedikit.
“Abis nikahan Komandan Mavin, yak….” Muka Harnan langsung sewot. “Sekarang, lah! Itu Komandan sama orang itu ‘dah nungguin di luar.”
“O-oke. Oke, Pak,” jawab si pilot gugup.
Harnan pun memutuskan untuk turun dari pesawat sebentar, mendatangi Mavin dan Astan yang masih berbincang dengan Noah, si wakil ketua Guild.
“Aku ke bawah bentar. Jangan sampai ngantuk pas nerbangin pesawat. Sampai nabrak asteroid, enggak jadi orang lagi kita.”
Begitu Harnan turun dari pesawat meninggalkan si pilot, pilot itupun segera membuka bungkus permen, memasukannya ke dalam mulut.
“Kunyah permen kopi ajalah, biar melek,” gumam sang pilot, mulai memeriksa segala macam persiapan sebelum menerbangkan pesawat.
Di hangar dekat pesawat milik mereka, Mavin, Astan, dan Noah masih saling mengobrol sebelum berpamitan. Dari tangga pesawat, nampak Harnan turun menghampiri mereka.
“Jadi….” Noah memasukan kedua tangan ke saku celana. “Kalian akan berangkat sekarang?”
“Ya…, mau bagaimana lagi?” Mavin menggosok tengkuknya. “Kami harus berangkat di jam segini, mumpung para penghuni kapalmu masih pada tidur.”
“Komandan, sini bentar.”
Harnan menarik Mavin agak menjauh dari Noah dan Astan, mulai membisiki sang komandan, dan sempat curi lirik pada Astan.
“Mavin, kau yakin kalau berandalan itu Wakil Ketua Ash?” bisik Harnan sambil melirik Astan dengan lirikan agak jijik.
“86% yakin, kok. Mukanya mirip, namanya juga mirip. Dan ada dugaan kalau Astan ini kena amnesia. Wajar saja kalau dia nampak beda,” jawab bisik Mavin disertai muka polos.
__ADS_1
“Kau ini…. Coba lihat.”
Mavin ikut menyipitkan mata bersama Harnan saat memperhatikan gelagat antik Astan. Terlihat berdiri agak loyo, kadang kala mengorek sebelah kuping, mencium jari bekas mengoreknya, dan malah menggosok pantatnya sendiri.
Benar-benar terlihat seperti manusia tak bermoral.
“Wakil Ketua Ash yang kita kenal ‘kan orangnya rapi, sopan, murah senyum. Lah, ini….” Harnan mendecak, menggelengkan kepala, “Ish~ Udah macam manusia gua yang baru tahu peradaban. Kagak ada sopan-sopannya.”
“Sudah kubilang, namanya juga amnesia.”
“Kau yakin kalau dia amnesia? Bagaimana kalau kau salah orang?”
Mavin mulai sedikit menegaskan, “Ish, kau tidak ingat pembicaraan kita bersam—.”
“Hoi!”
Keduanya berhenti berbisik saat mendengar panggilan Astan. Nampak pria dengan luka di mata kiri itu mulai bosan berdiri lama di sekitar pesawat.
“Kita jadi berangkat kagak?” tanya Astan bete. “Berangkat cepet aja, biar urusan kayak beginian langsung kelar.”
Awalnya Harnan ingin mengomel karena tak tahan dengan sikap tengil Astan, tapi Mavin mencegatnya.
Sambil menahan luapan hendak menghujat, Harnan pun kembali menaiki tangga menuju pesawat.
Disertai senyum, Mavin membalas, “Oke. Kita langsung berangkat saja.”
“Ya, sudah. Kalian berhati-hatilah. Terima kasih atas kunjungan kalian, Komandan Mavin,” ucap Noah ramah.
Mavin mengangguk sesaat. “Tentu. Kuharap kau bisa menjaga rahasia ini baik-baik.”
Sebelumnya, Mavin sudah menjelaskan tujuan mereka mencari Astan kepada Noah setelah berhasil membujuk Astan ikut bersama mereka. Awalnya memang Noah tak percaya, tapi pria berkacamata itu memilih untuk diam, tak ikut campur lebih dalam lagi sampai kebenaran sesungguhnya tentang identitas Astan terungkap.
Kemudian, Noah bicara pada Astan, “Kau juga jangan cari gara-gara selama di markas mereka nanti. Bakal tambah buruk citra kita di mata militer dan pemerintahan.”
“Iya, Juragan Ikan…. Kayak aku suka cari gara-gara saja.”
Mendengar panggilan Astan pada Noah, membuat Mavin terpaksa berusaha menahan tawa. Juragan Ikan? Lucu juga itu gelar untuk sang wakil ketua.
Noah tetap berusaha tersenyum seramah mungkin. Kalau saja tidak ada Mavin, Harnan, dan sang pilot di sini, mungkin sudah digorok hidup-hidup leher Astan saking gemasnya dengan sikap sembarangan pria berambut jingga itu.
“Oke, kami berangkat dulu, Wakil Ketua Noah,” pamit Mavin.
__ADS_1
Mavin dan Astan segera berjalan menaiki tangga pesawat. Sebelum keduanya masuk, Noah sempat berpesan,
“Sekali lagi, jangan bikin gara-gara di markas orang, Tan! Yang lama di sana. Kalau bisa, jangan balik lagi. Biar kagak kena bala ini Guild.”
“Aelah~ Gitu amat situ sama anggota sendiri,” balas Astan jengkel.
“Hahaha….” Noah hanya tertawa menanggapinya.
Pesawat mereka pun keluar dari gerbang hangar, dan akan segera lepas landas di area hangar luar. Kini hanya meninggalkan Noah seorang, masih berdiri sambil bersedekap di sana dalam kesunyian area parkir pesawat itu.
“Jadi, Astan itu anggota militer yang sempat hilang ingatan?” gumamnya, nampak berpikir. “Semoga saja Astan mendapat nasib yang lebih baik di masa depan. Jangan sampai kenapa-napa lagi.”
Walau bukan kawan akrab, Noah cukup prihatin dengan nasib Astan ketika mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.
Saat itu… Astan terlihat sangat menyedihkan.
...~*~*~*~...
Dengan energi kecepatan cahaya, hanya butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke Markas Grup Ribelo-II yang berada di bagian orbit Planet Ribelo. Disertai kemampuan terlatihnya, sang pilot dengan mahir menerbangkan pesawat, menembaki bebatuan asteroid ketika tidak bisa dihindari di lintasan sabuk asteroid agar ada celah lewat.
Biarpun secepat itu, mereka yang berada di dalam pesawat sama sekali tidak merasakan getaran apapun berkat berbagai teknologi canggih yang menopang struktur pesawat dengan baik.
Harnan dan Mavin baru saja selesai mengganti pakaian mereka di kabin khusus, dari pakaian konyol Hippie ke seragam militer resmi. Sedangkan Astan sendiri dibiarkan memakai pakaian biasa dilapisi jaket kulit hitam. Mavin bilang, Astan akan diusahakan ke markas tanpa diketahui anggota militer di sana.
Kalau sampai mereka tahu ada seorang pemburu di markas militer, bisa gawat nanti.
Ketiganya sedang duduk di tempat duduk masing-masing, tepatnya di belakang sang pilot yang masih fokus menerbangkan pesawat. Mereka nampak sibuk sendiri, Harnan memainkan tabnya, Mavin cuma melamun memikirkan cara menyeludupkan Astan (dikira barang ilegal, apa?), dan Astan melihat pemandangan kabur-kabur di jendela akibat kecepatan terbang pesawat ini.
“Pilot itu tak masalah tahu kalau kalian membawa pemburu sepertiku ke markas?” tanya Astan membuka pembicaraan.
Mavin yang baru sadar dari lamunannya menjawab, “Tenang saja. Dia pilot kepercayaan kami.”
“Oooh….” Sebagai balasan, Astan hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, kecepatan pesawat mulai diturunkan sang pilot. Bisa diketahui dari pemandangan di luar jendela pesawat yang terlihat agak lebih jelas dari sebelumnya.
“Kita sudah sampai, Komandan.”
...~*~*~*~...
Sabtu-minggu libur, yak. Jadi, sampai jumpa hari senen. Dadah...! ^^/
__ADS_1