
Setelah pertemuan dengan anggota Tim Aravan071 usai, Astan memilih untuk duduk beristirahat di bangku koridor area Sektor Militer. Sekarang, ia sudah dibolehkan berkeliaran bebas karena data sistemnya sudah disamarkan dengan data sistem palsu, para personel militer lain tidak akan tahu jika Astan merupakan pemburu Pangkat Besi.
Mavin juga sudah memberikan kamar baru di asrama militer untuk beristirahat sebelum keberangkatan mereka ke Kapal Feron 072. Setidaknya, Astan perlu berbaur dengan anggota lain agar dianggap sebagai bagian dari militer.
Koridor ini berada di paling pinggir bangunan markas. Jadi, struktur dari sepanjang tembok bagian pinggirnya terbuat dari kaca tebal. Di sana Astan duduk merenung, memandang pamandangan luar angkasa yang gelap bertabur bintang, dan samar-samar nampak atmosfer biru Planet Ribelo di bawahnya.
Tangannya saling bertautan erat di antara paha. Astan masih kepikiran terus dengan keputusannya untuk ikut serta dalam misi militer. Alasannya, tentu untuk mencari tahu maksud dari mimpi dan halusinasi yang selama ini terus saja membayang-bayanginya, dan juga membuka kembali ingatan yang hilang jika benar ia adalah seorang anggota militer.
“Haaah….”
Astan menghela nafas, menundukan kepala sambil memejamkan kedua mata.
“Kau akan kemari, bukan?”
Lagi-lagi suara itu terdengar dalam pikirannya. Entah mengapa, suaranya terdengar begitu ringan seakan-akan lega dengan apa yang suara itu ketahui.
Bagaimana bisa suara tersebut tahu jalan pikir Astan? Dari mana asal suara ini sebenarnya?
“Hei, Kawan!”
Spontan Astan sadar dari lamunannya, menoleh ke samping, mendapati ada dua prajurit muda berseragam sama dengan dirinya datang menghampiri. Nampak senyum sumringah di wajah sang penyapa, sedangkan rekannya hanya tersenyum tipis sebagai respon seadanya.
“Kau satu tim dengan kami di Aravan071, kan?” tanya sang penyapa, menghampiri bangku Astan bersama rekannya.
Astan agak bingung untuk berinteraksi. Tidak seperti di Guild, Astan harus berhati-hati dalam berbicara di sini. Militer biasanya memiliki aturan sendiri dalam bersosialisasi. Dia takut kalau sampai ceplas-ceplos ngomong sembarangan macam orang jalanan, bisa cepat dicurigai nanti.
“Kami belum pernah melihatmu sebelumnya,” lanjutnya kembali, “Apa kau orang baru?”
“Aku….” Mata Astan melirik ke sana-kemari, mencari alasan. “Prajurit pindahan dari Grup Ribelo-I.”
Iya, tidak sepenuhnya Astan berbohong. Mavin sempat cerita kalau Wakil Ketua Ash berasal dari Grup Ribelo-I. Jika benar Astan adalah Ash, maka tidak sepenuhnya dia berbohong kalau dia berasal dari sana.
“Ooo…. Pantas.” Prajurit itu mengangguk paham. “Oh, iya. Karena kita satu tim, bagaimana kalau kita saling mengenalkan diri dulu? Namaku Sadin, dan ini temanku Tenma.”
“Halo,” sapa singkat temannya yang bernama Tenma.
Sempat panel sistem milik Astan muncul, menunjukan data-data dari kedua prajurit ini. Syukurlah, Astan sudah mengatur tingkat visibilitas panel agar tak begitu nampak oleh orang lain.
[Nama : Sadin Amar]
[Jenis Kelamin : Pria]
[Usia : 21 tahun]
[Profesi : Prajurit]
[Pangkat : Perak]
[Level : 67]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Data Privat]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
__ADS_1
[Data Privat]
***
[Nama : Tenma Destrin]
[Jenis Kelamin : Pria]
[Usia : 22 tahun]
[Profesi : Prajurit]
[Pangkat : Perak]
[Level : 61]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Data Privat]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Data Privat]
Rata-rata personel tim yang ditugaskan langsung minimal berpangkat Perak, jadi wajar jika banyak anggota tim yang Astan temui selalu berpangkat perak. Lagipula, level dari kedua personel ini lumayan tinggi.
Astan jadi agak minder ketika ingat pangkat dan level aslinya. Benar-benar bagaikan sebutir kerikil di antara bebatuan tebing.
“Namaku Astan.” Astan mulai berjabat tangan dengan keduanya. “Senang bisa bertemu dengan kalian.”
“Senang bisa bertemu denganmu juga, Astan. Boleh kami gabung?” tanya Sadin.
“Oh, tentu.”
Astan bergeser, memberi tempat duduk bagi kedua prajurit muda itu untuk duduk di bangku yang sama. Mereka sama-sama memandang pemandangan luar angkasa, mulai mengambil topik pembicaraan untuk mengakrabkan diri.
“Astan.”
“Hm?”
“Bagaimana perasaanmu saat ditugaskan untuk menjalankan misi ke Kapal Feron 072?”
Kalau ditanya begitu, Astan pun agak ragu untuk menjawab. Tipikal orang yang malas ambil misi berburu seperti Astan tiba-tiba dikasih misi resmi dari militer, rasanya cukup tegang. Apalagi misi ini terbilang susah.
Ibarat pemburu Pangkat Besi di level bawah langsung dipaksa masuk Dungeon Tingkat S. Serasa melewati batas keinginan untuk bunuh diri.
“Iyaaa….” Astan mengelus tengkuknya ragu. “Gugup sih, Kawan.”
Sebisa mungkin Astan mengakrabkan diri. Mata heterokromnya kembali lurus memandang setiap butir gemerlapan bintang.
“Misi ini sudah beberapa kali gagal dijalankan. Langsung disuruh pergi ke sana, serasa dipaksa masuk ke kandang predator. Kita tidak tahu objek macam apa yang membuat banyak personel yang dikirimkan ke sana tewas. Ada kemungkinan besar….”
Astan menarik nafas, lalu mengehembuskannya dengan berat. Terasa sulit untuk mengatakan fakta yang paling menakutkan.
“….Kita akan mati. Entah itu karena melawan objek aneh, atau mati karena kecelakaan.”
__ADS_1
“Haha…. Hal itu memang sudah wajar terjadi jika bekerja sebagai militer,” kata Sadin.
Walau dari nada bicaranya masih terdengar ringan, Sadin nampak berusaha menyembunyikan rasa kesedihannya.
“Selama menjalankan berbagai misi bersama, pasti ada saja yang tewas. Syukur-syukur kalau semuanya selamat, tapi itu hanya kemungkinan kecil.”
Sadin menoleh pada Tenma yang sampai saat ini tidak banyak bicara, lebih memilih diam saja.
“Aku dan Tenma sudah kehilangan banyak teman seangkatan Akademi Militer. Berbagai tugas untuk melindungi dan menegakan keadilan selalu kami jalankan hingga harus rela mempertaruhkan nyawa.”
“Tentu kami sangat sedih kehilangan teman seperjuangan, tapi kami juga musti mensyukuri diri kami yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup.” Pandangan Sadin kembali menatap lurus ke depan. “Iyaaa…. Hidup-mati tidak ada yang tahu. Pekerjaan militer selalu membuat kita serasa diawasi oleh malaikat maut yang siap mencabut nyawa kita kapan saja.”
“Tuntutan untuk membela kebenaran, menjaga kedamaian, melindungi orang-orang yang kita sayangi, dan menjamin masa depan yang cerah membuat kita harus menjalani pekerjaan ini.”
“Masa depan, ya…?”
Kata itu malah terdengar memilukan bagi Astan. Membayangkan setiap makhluk hidup berjuang dengan alasan demi masa depan yang cerah membuatnya sedih. Sama dengan kematian, masa depan pun tidak ada yang tahu.
Bagaimana jika masa depan cerah yang diharapkan mereka malah berakhir lebih buruk, lebih mengerikan lagi?
Astan tidak mampu membayangkan betapa sedihnya orang-orang yang berakhir dengan nasib tragis. Berharap yang terbaik, tapi malah dapat yang buruk.
Seulas senyum tulus mengembang di wajah Sadin. “Lagipula, kita jadi punya banyak pengalaman di sini. Pengalaman kebersamaan, pengalaman kerja, dan pengalaman lainnya untuk semakin menguatkan mental kita agar semakin tabah menghadapi masa depan yang tak terduga.”
Seulas senyum juga perlahan muncul di wajah Astan. Memang benar, kita tidak tahu seperti apa masa depan kita sebenarnya. Tapi dengan banyaknya pengalaman yang kita dapat dari masa lalu, akan semakin membuat kita dewasa, bermental baja dalam menghadapi kemungkinan terburuk di masa depan.
Ya, mungkin masa depan tidak seburuk yang Astan bayangkan.
Oh, ayolah…! Kemana sifat Astan yang santai dan menerima apa adanya masa depan yang akan ia jalani? Ikuti saja alur masa depan seperti motto seorang Astan Pradipta Cornell. Tak punya kekuasaan, tak punya kekuatan berlebih, tak punya harta dan limpahan wanita. Yang penting bisa makan-minum, bernafas, berak sudah membuat Astan beribu-ribu bersyukur.
Alarm jam digital Sadin berbunyi. Ia lihat angkanya, sudah menunjukan waktu siang hari.
“Ah, sudah waktunya jam makan siang. Kafetaria lagi ada menu baru, nih.”
Sadin pun berdiri dari bangku, disusul Tenma.
“Kau makan siang sama kami?”
Karena Astan ingin mengakrabkan diri dengan orang-orang di sini, ia pun menerima tawaran Sadin.
“Boleh, kalau tidak keberatan.”
Ketiganya berjalan pergi melewati koridor tersebut. Rencananya, mereka akan makan siang bersama di kafetaria Sektor Militer.
Di tengah perjalanan Astan berpikir, berinteraksi dengan anggota militer tidaklah setegang yang ia bayangkan. Sama santainya dengan berinteraksi bersama para pemburu, yang membedakan cuma harus menjaga perilaku saja.
“Emang menu barunya apa?”
“Rendang kalajengking.”
“Rendang—Heh…?!”
Oke, mungkin menu makan ala militer sama antiknya dengan menu sarapan Astan setiap pagi.
...~*~*~*~...
__ADS_1