
Astan memperhatikan Edrick, nampak diam setelah menyetujui semua rencana yang mereka susun. Entah apa gerangan sang ketua tiba-tiba diam seribu bahasa begitu. Apakah ada sesuatu yang berat ia pikirkan?
Rasa penasaran Astan lenyap ketika kebetulan komunikasi dari helm zirahnya disambungkan lewat jalur komunikasi pribadi antara dirinya dan Edrick.
“Kau tak keberatan jika kau sendiri yang akan pergi memasang Inti Kristal ke bilik generator?”
Astan menghela nafas memaklumi. Rupanya itu yang membuat Edrick diam.
“Lalu, mau bagaimana lagi? Aku salah satu prajurit yang memungkinkan untuk pergi ke sana.”
“Tapi…, Komandan Mavin dan Wakil Komandan Harnan mempercayakanmu padaku.”
Di balik lensa helm itu, Astan memutar mata heterokromnya.
“Begini, Kemampuan Shield-ku hanya ada Tipe-1, aku tidak bisa Summon, tidak punya Sniper Rifle juga. Kalau kau tidak mengirimkanku dan malah menyuruh prajurit penting yang menjaga ruang kontrol untuk menggantikan posisiku, mereka bakal curiga. Atau malah beranggapan kau terlalu tidak adil dengan prajurit lainnya.”
Edrick kembali dibuat diam. Memang benar yang dikatakan Astan. Kalau sudah begini, ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Astan ikut serta mengaktifkan generator Inti Kristal bersama tiga prajurit lain.
Edrick menarik nafas sebelum berucap dengan nada agak lesu, “….Usahakan untuk tetap hidup.”
Tanpa sadar tangan Astan terkepal erat. Ketika ingat pangkat dan level-nya yang asli berada jauh di bawah mereka, ada kebimbangan ia rasakan. Ragu, segan, tak enak hati, pasti perasaan seperti itu yang Astan rasakan sekarang. Astan juga takut jika dirinya akan mengecewakan anggota lain.
Namun tekad sudah bulat, niat makin kuat, keberanian harus dipertahankan agar rencana ini dapat terlaksana dengan baik.
Lagipula, Astan masih perlu memastikan siapa dirinya di masa lalu lewat misi ini.
Dengan mantap Astan menjawab, “Pasti.”
Edrick mengangguk pelan sebagai respon. Ia kembali membuka jalur komunikasi antar anggota tim pada helm zirah seperti sebelumnya.
“Semua sudah jelas? Atau ada yang perlu ditanyakan lagi?” tanya Edrick berusaha meyakinkan.
Setelah sempat saling berbisik pada beberapa anggota, salah satu prajurit menjawab, “Rencana sudah jelas, Ketua.”
“Baiklah….”
Edrick kembali mengaktifkan Program Kemampuan tuk mengaktifkan kekuatan pengendali besinya.
“IRN 197-1 : Tembok Besi!”
Ia merentangkan kedua tangannya di kanan-kiri, otomatis muncul tembok besi setinggi bawah dada orang dewasa di jalur jembatan sebelah kanan-kiri di sekitar ruang kontrol.
__ADS_1
“Lakukan misi sesuai rencana! Sekarang!”
“Siap!”
Misi menyalakan generator dan mesin Inti Kapal segera dilaksanakan. Mulai dari Irawan yang bergantian memasang sentry di kanan-kiri atas tembok besi milik Edrick, lalu berjaga di kanan. Bery dan Farhan sebagai pengguna Shield Tipe-3 mengaktifkan Shield mereka di depan tembok sebagai pelindung pertama, Bery berjaga di tembok kiri, sedangkan Farhan berjaga di tembok kanan bersama Irawan. Lavisto ikut berjaga di kiri sambil menerbangkan drone-nya.
Wirma dan Zered naik ke atas atap ruang kontrol menggunakan Grapling Gun, mulai bersiap dengan masing-masing senapan serbu, dan Zered juga fokus atas kendalinya pada drone. Edrick pun sudah berjaga di depan mesin-mesin kendali dan komputer, bersiap tuk melakukan peretasan sistem.
“Kalian berempat, segera berangkat!” Edrick melemparkan keempat Inti Kristal kepada keempat prajurit. “Jangan sampai gagal!”
“Siap!”
Daren, Sadin, Tenma, dan Astan segera pergi meninggalkan ruang kontrol menuju bilik-bilik generator yang mereka tuju. Daren dan Sadin menuju jalur jembatan kiri, tepatnya ke Bilik B dan C. Sedangkan Tenma dan Astan ke jalur jembatan kanan, ke Bilik E dan D.
[Hack Type-5 : Aktif]
[Melakukan Penembusan Akses]
[Penyesuaian terhadap Bahasa Sistem]
Di dalam ruang kontrol, Edrick mulai melakukan peretasan terhadap akses sistem generator dan mesin Inti Kapal. Berusaha mengganti akses resmi dari Perusahaan Feron ke akses yang ia modifikasi sendiri.
“Semoga berhasil, Ya Tuhan…,” doa Edrick saat jari-jarinya sibuk mengetikan susunan berbagai kode.
Semua nampak berjalan mulus, keempat prajurit sudah berada di tengah jembatan, tidak ada tanda-tanda kemunculan monster di sekitar Area Pembangkit Energi.
Bery tengah mengawasi di tembok kiri, sama sekali tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitarnya.
“Tidak ada tanda-tanda keberadaan musuh.” Kemudian, Bery bertanya pada Lavisto. “Kau dan Zered yakin kalau ada banyak objek mencurigakan di sekitar sini?”
Lavisto masih memeriksa tangkapan gambar pada drone lewat panel hologram. “Kami yakin. Mungkin masih dalam keadaan tenang. Seharusnya, kita lega dong karena sama sekali enggak ada yang nyerang kita.”
“Yaaa, aku ngerti.” Mendadak Bery merasakan bulu kuduknya meremang di balik zirah modern. “Cuma, aku punya firasat enggak enak.”
“Kalau begitu, tingkatkan kewaspadaan saja,” saran Lavisto.
Di atas ruang kontrol, Wirma mengawasi keadaan sekitar lewat teleskop senapan, sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda bahaya di sekitar keempat prajurit yang berlari menuju bilik-bilik tujuan.
“Tidak ada apa pun yang menyerang.” Wirma menurunkan senapan. “Laporan, Prajurit Zered.”
Zered memperhatikan pengawasan kamera drone pada panel. “Tidak terlihat tanda-tanda apa pun. Tapi, radar masih menunjukan titik-titik biru tetap berada di posisi, di balik lubang-lubang, tak ada pergerakan sama sekali.”
__ADS_1
Wirma menyipitkan mata di balik helm. Memang ini merupakan hal baik jika tidak ada tanda-tanda serangan berbahaya tiba mengancam mereka. Namun, entah mengapa firasatnya jadi makin tak enak.
Di jalur jembatan sebelah kanan, Astan dan Tenma masih berusaha berlari menuju Bilik E. Ini menjengkelkan, jembatan melingkar di sekeliling Inti Kapal ini terasa sangatlah jauh. Kalau begini, makin lama mereka bisa mengaktifkan generator Inti Kristal.
“Ish…. Ini kenapa sih dirasa jauh banget,” keluh Astan jengkel. “Arsitek yang bikin nih kapal siapa, sih? Pengen kugetok ‘palanya biar makin jenius.”
“Kau ini emang pada dasarnya suka ngomel, ya?” tanya Tenma tak kalah jengkel mendengar keluhan tak penting Astan.
“Yaaa…. Gimana, ya?” Astan berpikir sejenak. “Entahlah. Aku juga bingung kenapa punya sifat cerewet kayak begini. Entah sejak kapan…. Aku pun tak tahu.”
Tenma menghela nafas. Percuma juga nanya-nanya hal tak penting seperti itu pada seorang Astan. Jawabannya pun ngelantur.
“Ini beneran jauh banget, ya?” keluh Astan lagi. “Udah lari beberapa menit kita, tapi belum sampai-sampai juga. Kenapa enggak dibikinin trem aja biar bisa cepet sampai ke bilik generator?”
“Kau tidak lihat kalau area ini sangat luas? Sejujurnya, sekeliling area sini memang dibangun trem, tapi tidak berfungsi gara-gara mesin pembangkit energinya mati, dan jalur tremnya pun rusak. Kau tak lihat?”
Astan mengikuti arah pandang Tenma ke atas samping. Benar kata Tenma, memang ada jalur trem transfaran berbentuk silinder panjang terhubung antara bilik satu ke bilik lain, seperti jalur jembatan melingkar ini. Namun semua jalur trem putus, rusak, sama sekali tak berfungsi.
“Meh~.” Astan hanya merespon sesingkat itu, antara memaklumi dan telanjur jengkel dengan keadaan.
Zered dan Lavisto masih berusaha memperhatikan keadaan area menggunakan drone mereka. Kedua mata mereka sama-sama membelalak ketika menemukan beberapa titik biru yang ditemukan radar drone berubah menjadi merah, mulai bergerak cepat mendekati Area Pembangkit Energi.
“Lapor! Beberapa titik biru berubah menjadi merah!” ucap Zered memberi peringatan.
Edrick yang mendengar peringatan tersebut langsung memberi perintah lewat komunikasi di helm zirah.
“Semuanya! Titik-titik biru yang ditemukan radar berubah menjadi merah! Bersiap untuk serangan—.”
“Hrrraaaah!”
“HRRRAAAAH!!!”
Peringatan Edrick terpotong saat seluruh tim mendengar suara-suara raungan dari para monster.
Bisa mereka lihat, banyak monster berkepala mulut keluar dari lubang-lubang yang ditemukan Zered dan Lavisto. Bahkan selain itu, tembok-tembok sekitar jembatan hancur akibat hantaman para monster Barkata yang jumlahnya sangat banyak.
“Sekuat itukah mereka menghancurkan tembok baja area sini?” ucap Bery tak percaya.
Semua prajurit syok, bahkan Tenma dan Astan yang masih berada di tengah jalan pun ditahan oleh kepungan Barkata dengan jumlah tak main-main, menembus berbagai sisi tembok agar bisa keluar menyerang mereka.
“Apa yang—.”
__ADS_1
Ucapan Astan tertahan, hampir tak sempat menoleh ketika dirasakan ada kehadiran satu Barkata melompat hendak menerkamnya dengan mulut lebar disertai taring-taring yang tajam.
...~*~*~*~...