
Sudah dua hari lamanya berlalu, akhirnya seluruh personel Tim Aravan071 akan segera diberangkatkan menunju bangkai Kapal Feron 072.
Di hangar bagian timur markas, dekat dengan Sektor Militer, seluruh anggota tim sedang mempersiapkan diri di dekat pesawat yang akan mengangkut mereka. Mereka semua memakai pakaian khusus berwarna gelap, semua perlengkapan, senjata, item yang dibutuhkan sudah disimpan di penyimpanan sistem masing-masing.
Astan sendiri baru saja selesai menyimpan senjata pemberian Mavin ke dalam penyimpanan. Dilihatnya keadaan sekitar, nampak para anggota masih melakukan persiapan, bahkan di antaranya ada yang menyempatkan diri untuk berpamitan dengan keluarga masing-masing, termasuk Edrick.
“N-Nyak, Edrick pamit pergi menjalankan misi. Doakan Edrick baek-baek di sana, Nyak,” ucap Edrick lewat panggilan telepon, disertai ekspresi menahan tangis.
“Nyak selalu mendoakan yang baek-baek buat Edrick. Edrick di sana juga harus hati-hati. Pulang hidup-hidup, jangan sampai mati. Kalau mati, Nyak enggak bakal maafin Edrick sampai akhir hayat Nyak.”
“Nyak, titip salam juga sama Babeh. Jaga kesehatan Nyak sama Babeh. Edrick sayang kalian berdua….” Edrick mulai berlinang air mata.
“Jangan gitulah, Drick! Nyak ama Babeh selalu sayang… banget sama Edrick. Pulang hidup-hidup, ‘Nakku. Jangan sampai mati! Nyak…. Nyak….”
“NYAK…!!!”
Pecahlah tangis Edrick, tak tahan harus berpamitan dengan ibu tercinta. Dia tahu kemungkinan besar takkan selamat dalam misi ini. Jadi, berat bagi hatinya berpamitan dengan cara begini untuk terakhir kalinya.
Astan pun jadi agak sedih melihatnya. Pasti sangat berat berpamitan dengan orang yang disayangi ketika sadar bahwa misi yang akan dijalankan terbilang sulit.
Ketika semua personel saling berpamitan dengan keluarga mereka lewat sambungan panggilan, Astan sama sekali tak berniat untuk menghubungi siapapun. Selain karena Astan tidak memiliki keluarga, dia juga tak ingin mengatakan hal macam-macam pada Suda maupun Arni.
Suda dan Arni tentu masih belum tahu kalau kepergiannya dari Kapal Guild karena keperluan dengan militer, jadi akan sangat mencurigakan jika dia memberikan pesan yang agak ambigu, terkesan hendak berpamitan.
“Ketua Edrick itu emang cengeng orangnya. Tapi, dia termasuk tegas kok kalau soal menjalankan misi.”
Astan mengalihkan pandangan pada pria berambut cokelat yang kebetulan tengah berdiri di sampingnya.
[Nama : Wirma Riza]
[Jenis Kelamin : Pria]
[Usia : 20 tahun]
[Profesi : Prajurit]
__ADS_1
[Pangkat : Perak]
[Level : 97]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Data Privat]
\=\=*\=\=*\=\=*\=\=
[Data Privat]
Astan langsung menghapus panel sistemnya yang agak transfaran. Orang di samping Astan ini merupakan Wakil Ketua tim. Dari data diri yang didapat lewat sistem, Astan cukup mengagumi sang wakil ketua. Di usia semuda itu sudah menjabat sebagai wakil ketua tim, dan sebentar lagi ia akan naik ke Pangkat Emas.
Pasti Wirma merupakan prajurit yang sangat berprestasi sejak usia muda. Wakil Ketua Ash juga dulu merupakan prajurit berprestasi di usia muda, bukan? Kalau dihitung dari usia Astan sekarang, pastinya Ash sudah menjabat sebagai wakil ketua sejak usia sekitar 20 tahunan. Sebaya ‘lah dengan Wirma sekarang.
Lagi-lagi Astan kepikiran tentang Ash. Apa benar Ash itu merupakan diri Astan sendiri?
Oke, mungkin dari misi ini ia akan mendapat jawabannya.
“Kau Wakil Ketua Wirma, bukan?” tanya Astan bernada agak datar, masih sedikit canggung bicara dengan orang yang belum akrab dengannya.
Astan hanya membalas dengan anggukan. Terkadang ia bisa lupa sendiri dengan orang yang bukan teman akrab seperti Wirma. Untung Wirma tipikal orang yang ramah.
“Ah. Wajar sih kalau lupa. Aku pun terkadang suka lupa sama orang yang baru ditemui beberapa hari,” kata Wirma membenarkan gelagat canggung Astan. “Kau tentu Astan, kan? Komandan Mavin sempat cerita kalau kau prajurit pindahan dari Grup Ribelo-I.”
“Oh, iya. Itu— Eh?”
Astan terkejut. Kok bisa kebohongan Mavin serupa dengan kebohongannya saat memberitahukan identitas palsu kepada para personel militer? Padahal, mereka belum sepakat untuk membuat kebohongan demikian. Apa anggota lain sempat cerita pada Mavin?
Kebohongan yang serasi akibat suatu kebetulan.
“Kenapa?”
“E-Eh….” Astan makin grogi ditanya begitu. “I-itu… itu benar, kok. Aku pindahan dari Grup Ribelo-I.”
__ADS_1
“Oh…. Oke, oke.”
Astan benar-benar canggung kalau harus berurusan dengan anggota militer. Kenapa dia bisa kayak begini? Bukan sifat Astan sekali….
“Baiklah. Semua sudah bersiap-siap.”
Sekarang, semua anggota Tim Aravan071 beralih fokus perhatian pada sosok Mavin dan Harnan sebagai seorang wakil yang selalu setia menemaninya.
Sebelumnya, Mavin menarik nafas hingga menghembuskannya pelan. “…. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, misi kalian adalah untuk mencari lebih banyak bukti keterlibatan antara BioEmerald dengan Perusahaan Feron. Apapun barangnya, jika ada sangkut-paut dengan tindak ilegal BioEmerald dan Feron, maka ambil dan bawa ke markas.”
“Tim ini adalah tim terakhir yang bisa dikirimkan oleh batalion kita untuk menjalankan misi. Jika misi ini gagal, maka tidak akan dilanjutkan kembali. Misi resmi ditutup, dan kemungkinan besar BioEmerald akan menang di persidangan, bebas begitu saja. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan keberhasilan kalian. Dan juga….”
Mavin menunduk sesaat, berusaha mengubah cepat ekspresi sendunya. Di saat melepas kepergian anak-anak buahnya ke misi berbahaya ini, tentu sebagai pemimpin kelompok besar Mavin sangat terpukul.
Pria berambut pirang itu sangat berharap mereka semua bisa selamat. Tapi, itu mustahil. Kemungkinan besar mereka berakhir sama dengan para personel terdahulu. Kalau pun ada yang selamat, pasti jumlahnya tinggal sedikit.
“….Usahakan untuk kembali hidup-hidup.”
Permintaan sederhana, tapi cukup menohok ketika menyadari kenyataan pahit di baliknya. Semuanya nampak bersedih, tapi itu tak bertahan lama ketika gelegar suara serempak mereka terdengar, menunjukan bahwa mereka tak gentar, mereka semangat untuk menjalankan misi seberbahaya apapun itu.
“Siap, Komandan!”
….
Pesawat angkutan tim mereka baru saja lepas landas dari hangar. Mavin dan Harnan memperhatikan pesawat itu terbang melebihi kecepatan cahaya menjauh dari markas mereka lewat jendela yang tersedia di pinggir hangar.
Berat rasanya melepas kepergian banyak nyawa untuk kesekian kali, tapi tugas tetaplah tugas, kewajiban tetaplah kewajiban. Biarlah ada banyak pengorbanan demi menegakan keadilan, walau pilu rasanya menerima hal itu.
“Aku rasanya masih agak pesimis dengan mengirimkan tim terakhir ini ke bangkai kapal tersebut.” Harnan menoleh pada Mavin. “Dan juga… soal keputusan untuk melibatkan Astan pula ke dalam misi ini.”
Mavin menghela nafas. “…. Kita hanya bisa mengharapkan yang terbaik, Wakil Komandan Harnan. Memang, saat ini aku punya firasat buruk soal misi yang mereka jalani.”
Mavin bersedekap tangan di dada, mata hijaunya menatap lurus ke pemandangan gelap luar angkasa dan permukaan kebiruan atmosfer Planet Ribelo.
__ADS_1
“Tapi aku optimis, misi ini akan berhasil diselesaikan walau harus mempertaruhkan banyak nyawa untuk terakhir kalinya.”
...~*~*~*~...