AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 55 : Program Kemampuan


__ADS_3

“I-ini….”


Mereka terkejut menemukan banyak sekali gumpalan-gumpalan aneh di area tersebut. Gumpalan-gumpalan itu terlihat seperti kepompong, terbuat dari lapisan kulit tipis, berdetak seperti jantung hidup.


“Apa-apaan ini…?!” desis Astan, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Sesuatu seperti… janin atau semacamnya?” ucap satu prajurit asal.


“Janin…?” Sadin menoleh ke arah sang prajurit. “Itu berarti… ini tempat perkembangbiakan makhluk lain?”


“Menjijikan sekali. Makhluk macam apa yang sebenarnya menghuni kapal ini?” ucap Astan mulai tak nyaman dengan situasi begini.


Satu kepompong nampak berdetak sangat kencang, semakin kencang hingga pecah dengan sendirinya, mengeluarkan banyak cairan kuning-kehijauan kental.


Semuanya mulai waspada dengan pecahan kepompong itu. Wirma mengecek radarnya kembali. Satu titik biru persis berada di posisi yang sama langsung berubah menjadi merah.


“Semuanya, awas! Yang pecah itu mulai berbahaya.”


Beberapa prajurit membidik ke arah pecahan kepompong. Terlihat sosok aneh keluar dari sana. Seekor makhluk yang nampak begitu aneh. Bentuknya hampir mirip seperti manusia, tubuh tinggi dua meter, kurus hanya dilapisi kulit pada setiap tulang, jari-jari tangannya sangat panjang melebihi sumpit. Dan yang lebih aneh, kepalanya bulat berukuran besar, tapi yang terlihat hanya mulutnya yang lebar, tak memiliki bentuk wajah.


Panel sistem dari beberapa prajurit pun muncul, termasuk milik Astan.


[Julukan : Barkata]


[Jenis : Monster]


[Sifat : Masif]


[Status : Hard]


“Tidak ada peringatan apapun soal kemampuannya,” gumam Astan ketika panel sistem lenyap.


Begitu keluar, makhluk itu tampak menoleh pelan ke segala arah seakan-akan memastikan sesuatu di dekatnya. Dia memang tak bisa melihat, tapi masih bisa merasakan suhu dan getaran keberadaan makhluk hidup.


“HRRRAAAAH!!!”


Barkata berteriak nyaring, membuat pendengaran seluruh anggota tim jadi agak terganggu, berdenging beberapa detik.


“Sialan, makhluk macam apa ini?!”


“Awas!”


Barkata melesat, hampir menyerang salah satu prajurit kalau saja tidak sempat ditendang Wirma sampai menjauh.


“Tembak!” perintah Wirma.


Beberapa prajurit menembak mati Barkata.


Satu Barkata tewas, tapi kepompong Barkata lainnya mulai berdetak kencang, pertanda bahwa mereka sebentar lagi akan keluar dari sana.


Wirma mengecek lagi radarnya. “Semua titik biru berubah menjadi merah.”


“Tembak semua objek yang ada!” perintah Edrick.


Semua prajurit menembak kepompong-kepompong yang masih ada, di sudut ruangan, tembok, lantai, bahkan yang menggantung di atas. Semuanya ditembak sampai hancur. Tapi, beberapa yang belum sempat hancur mampu mengeluarkan Barkata lain.


“Hrrraaaah!”


“HRRRAAAH!”


Barkata-Barkata yang berhasil keluar langsung menyerang mereka. Semua prajurit mampu menghindari serangan mereka yang terbilang sederhana dan bisa ditebak. Hanya serangan berupa lesatan, tendangan, cakaran dari jari-jari panjang mereka. Semuanya bisa dihindari.

__ADS_1


“Prajurit, tetap serang mereka!” perintah Edrick sambil menembak, terkadang ia harus mengganti magazine ketika habis di tengah serangan.


“Mereka tidak ada habisnya!”


“Kalau begini terus, kita akan terhambat sampai ke Area Pembangkit Energi.”


Astan juga terus menembak. Saat amunisi habis, ia berlari, melompat ke balik meja yang tergeletak di pinggir ruangan, bersembunyi di sana sambil mengisi amunisi baru.


[Reload]


Astan menembak di balik meja, membantu rekan-rekannya yang hampir diserang para Barkata.


“Tingkat mereka berada di Hard.” Astan mengganti magazine. “Kalau bukan karena senjata Grade-A, berasa digigit cicak seranganku ini di badan monster-monster itu.”


Sadin juga terus menembak, hampir tersudut ke tembok. Tanpa pemuda itu sadari, sosok Barkata terjun dari atas ke belakang Sadin, hendak menyerangnya dari sana.


“Sadin, awas!”


“Hah?!”


Belum sempat Sadin menoleh, hendak membidik, Barkata itu sudah terpental membentur tembok akibat kena tendang Astan. Sebelum bisa bangkit, Astan menginjak tubuh Barkata sekeras mungkin, memojokannya ke tembok. Ketika hampir menjerit, Astan arahkan moncong senapan serbunya ke mulut Barkata.


“Anak baik, baru lahir…. Mamam nih bubur kacangnya!”


Tanpa segan, Astan menembak mulut Barkata hingga kepalanya hancur sampai ke lubang leher. Cairan kuning-kehijauan bercipratan deras kemana-mana, mengotori sebagian helm dan zirah Astan.


“Ish…!” Astan berusaha membersihkan darah sang monster dari kaca helm dan badan zirahnya. “Bener-bener kayak hama.”


Astan menoleh, mendapati sosok Sadin terlihat baik-baik saja berdiri di sana.


“Kau tidak apa-apa, sobat?” tanya Astan sambil menghampirinya.


“Terima kasih, Astan. Aku baik-baik saj—Bwah…!”


“Tetap fokus! Jangan sampai lengah!” peringat Edrick.


Mereka pun kembali menembak para Barkata yang masih tersisa.


Seluruh anggota Tim Aravan071 direpotkan dengan berbagai serangan dari para monster Barkata yang begitu banyak memojokan mereka. Di antara mereka ada yang terbantu dengan Kemampuan Martial yang langsung meningkatkan kemampuan beberapa prajurit, Shield, bahkan yang punya Kemampuan Summon memanggil Sentry masing-masing sebagai serangan tambahan.


Jumlahnya tiada habis, rombongan Barkata bukan cuma keluar dari kepompong-kepompong, melainkan dari berbagai pintu yang mereka terobos.


“Mereka tambah banyak! Muncul menerobos berbagai tempat!” peringat Wirma agak mulai panik.


“Di titik mana saja mereka muncul, Wirma?!” teriak Edrick terdengar kesal dengan jumlah musuh yang tak ada habisnya.


Wirma mengecek ke sekitar ruangan. “Di tempat-tempat dekat posisi para prajurit berada. Sebelah kanan, kiri pojok, bahkan mereka juga muncul di atap dan lantai.”


“Ck! Tidak ada pilihan lain.”


Edrick mulai resah dengan keberadaan makhluk-makhluk ini. Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya untuk menggunakan apa yang harus ia gunakan dalam situasi begini.


“AutoTerra, aktifkan Program Kemampuan!”


[Program Kemampuan : Aktif]


[Memulai Proses Pemindaian Kode]


[Akses : Eksekusi]


“IRN 197-1 : Tembok Besi!”

__ADS_1


Edrick menginjak lantai sekeras mungkin, menimbulkan sirkuit-sirkuit elektrik kelabu, menjalar ke posisi-posisi target, menutup semua celah masuk para Barkata menggunakan tembok-tembok besi yang ia ciptakan.


“Hiaaah!!!”


Bukan hanya menutup celah, besi-besi itu juga muncul meremukan setiap Barkata yang tersisa, meremukannya ke lantai dan ke atap.


“Eh, gempa! Gempa! Eh, gempa!”


Sekarang, malah Astan yang latah saat satu tembok besi muncul di hadapannya, meremukan beberapa Barkata yang hampir menyerangnya ke plafon atap.


“Wah….”


“Fyuh….”


“Astaga….”


Seluruh tim bisa bernafas lega setelah dipastikan semua monster Barkata habis di seluruh ruangan itu. Berkat kemampuan yang dimiliki Edrick, semuanya bisa teratasi lebih cepat. Hanya saja, sang ketua tim terlihat agak kelelahan menggunakan kemampuannya.


Astan termenung, menatap sosok Edrick nampak berusaha mengatur nafas. Astan anggap orang itu terbilang luar biasa. Kemampuan AutoTerra milik Edrick bukanlah kemampuan main-main.


“Kau latahan juga ya, Astan?”


“Eh, bekicot.”


Astan latah lagi saat Wirma menepuk bahunya.


“Yaa…. Kadang-kadang, sih,” jawab Astan canggung. “Tadi itu yang digunakan Edrick apa?”


“Oh?” Wirma sempat memperhatikan Edrick. “Kau masih belum tahu, ya? Ya wajar, sih, kalau masih berpangkat Perak kayak kita.”


Wirma mulai menjelaskan, “Yang tadi itu adalah Program Kemampuan, tingkatan yang lebih tinggi untuk mengakses sistem terdalam AutoTerra. Fungsinya untuk menciptakan kemampuan sesuai kriteria kita.”


“Berbeda dengan Kemampuan Umum yang pilihannya terbatas, Program Kemampuan ini punya macam variasi sesuai pemindaian karakteristik masing-masing pengguna oleh Sistem AutoTerra. Pokoknya, kau bisa menciptakan kemampuanmu sendiri, asal paham Bahasa Sistem dan pandai-pandai saja mengatur kode programnya.”


“Pakai kode pemrograman juga?” Astan memiringkan kepala. “Kayak komputer aja.”


“Ya, namanya juga sistem operasi, pasti enggak lepas sama pemrograman. Cuma bedanya, sistem operasi ini diterapkan ke makhluk hidup seperti kita. Beda dari sistem yang biasa nongol di novel-novel online.”


Wirma kembali menjelaskan, “Fitur Program Kemampuan hanya bisa dibuka setelah pengguna mencapai Pangkat Emas. Aku sendiri pun kurang tahu rinciannya. Yang kutahu cuma dasar-dasarnya doang. Kayak gini, nih. Kan kemampuan Ketua Edrick merupakan manipulasi terhadap besi. Nah, maka dasar dari kekuatan Ketua Edrick adalah unsur besi. Jenis-jenis kemampuannya pun bervariasi. Dan semua variasi kemampuan itu dibedakan oleh setiap rangkaian kode program yang sudah dibuat dan dipersingkat dengan rapalan kode.”


“Rapalan kode? Apa pula itu?” Astan makin dibuat bingung.


Wirma hendak memijit batang hidungnya sendiri memaklumi kebingungan Astan, tapi tak jadi karena baru sadar masih pakai helm.


Aduh, kampretnya Wirma….


“Pernah baca novel sihir-sihiran, enggak? Kalau di cerita sihir ada perapalan mantra, di sini yang dirapal merupakan Kode Kemampuan yang sudah disingkat. Urutannya, gini. Kita ambil contoh dari rapalan kode milik Ketua tadi, deh.”


“Bunyinya, IRN 197-1 : Tembok Besi. IRN merupakan singkatan dari jenis, elemen, ataupun unsur utama kemampuan. Ini juga yang menjadi dasar penting dari Program Kemampuan seorang Pengguna Sistem AutoTerra.”


“197 merupakan singkatan dari semua rangkaian kode program yang telah dibuat dan disesuaikan, angka yang paling menonjol dari setiap kode. Jumlah digitnya pun berbeda-beda sesuai daya kekuatannya. Tiga digit berarti kekuatannya masih ringan, empat digit standar, lima digit yang susah atau daya serangnya jauh lebih berbahaya dan merusak.”


“(-) 1 itu menandakan tingkatan atau level dari kemampuannya. Sama kayak Kemampuan Umum, tingkatnya di Program Kemampuan cuma sampai lima. Namun, biasanya Program Kemampuan jarang pakai level-level’an kayak begini. Tergantung yang bikinnya aja sih, mau dibedain atau kagak. Itu cuma biar bisa misahin statistik dari kemampuan serupa, mau itu yang cuma tiga digit, empat, atau lima digit.”


“Yang terakhir, ‘Tembok Besi’. Itu nama dari kemampuan yang digunakan. Standar aja, sih. Bilang tembok besi, ya nongol tembok besi. Gelombang air, ya nongol gelombang air. Kobaran api, ya nongol kobaran api. Asal… sesuai kode dan Bahasa Sistem yang disusun. Kalau isi kode, singkatan kode, Bahasa Sistem, sampai penamaannya enggak sesuai, ya terjadi kerusakan. Error, enggak bisa lagi diguna’in, kecuali rapal sampai bener atau perbaiki kode-kodenya dari Program Kemampuan langsung.”


“Buset, ribet amat, ya?” Astan mengelus tengkuknya.


“Ya gimana, ya? Tidak ada yang instan di dunia ini,” jawab Wirma tanpa dosa.


Dari penjelasan Wirma sendiri, Program Kemampuan merupakan fitur paling hebat dan paling ribet juga. Harus menggunakan pemrograman khusus Sistem AutoTerra untuk bisa membuat dan mengaktifkannya, hampir sama dengan pemrograman yang biasa ada pada komputer.

__ADS_1


Kalau kayak begini, makin malaslah Astan naik pangkat. Persetan bisa OP, jadi lebih kuat dari yang lain. Diem di Pangkat Besi ajalah sampai mati.


...~*~*~*~...


__ADS_2