AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 81 : Bayang[an]


__ADS_3

Alarm sistem berbunyi nyaring di seluruh Kapal Feron 072, seluruh penerangan berubah menjadi kedipan merah menyala. Mendadak guncangan kecil terasa, menandakan adanya gangguan pada komponen-komponen mesin di seisi kapal.


Apa yang terjadi? Kejadian ini membuat Astan dan Edrick sontak kebingungan.


[Darurat!]


[Darurat!]


[Sistem Penghancur Otomatis : Aktif]


[Peringatan! Seluruh awak kapal diharapkan segera keluar dari kapal ini dalam waktu kurang dari 15 menit]


Alarm tersebut terus berbunyi berulang kali disertai sirine keras dan kedap-kedip penerangan merah. Gara-gara lintah dari mayat Tenma yang melesat menekan tombol misterius, sistem kapal kini mengaktifkan Penghancur Otomatis.


Keduanya sempat melihat mayat Tenma palsu. Daging-daging pada tubuhnya kini telah bertransformasi menjadi gumpalan lintah dengan berbagai ukuran, menggeliat pelan di antara genangan darah segar.


“Kenapa bisa begini?” tanya Astan bingung saat melihat mayat itu dan merasakan guncangan di lantai.


“Tombol yang ditekan monster lintah tadi seharusnya cuma tombol peringatan evakuasi— Astaga….”


Edrick tercengang sendiri, menyadari sesuatu yang janggal. Tombol yang seharusnya digunakan sebagai tombol peringatan evakuasi malah beralih fungsi sebagai tombol penghancur otomatis. Seharusnya, kapal antariksa jenis ini memiliki penghancur otomatis di anjungan.


Jika hal janggal seperti ini terjadi, maka hanya satu penyebabnya, dan itu berhubungan erat dengan segala tindakan buruk Tenma palsu selama ini.


“Tenma ikut mengaktifkan generator di salah satu bilik, bukan?” tanya Edrick pada Astan.


“Tentu, dia—.”


Astan mematung, menyadari sesuatu. Saat ia berusaha melindungi Tenma mengaktifkan generator, dia mengaku bahwa sudah memperbaiki mesinnya, tapi tidak bisa aktif juga.


“Kayaknya, mesinnya masih bermasalah. Padahal, aku sudah memperbaikinya dengan benar.”


“Sialan…!” Astan mendesis kesal ketika mengingat kata-kata Tenma saat mengaktifkan generator.


Sekarang, Astan mengerti situasinya. Sebenarnya, Tenma sudah melakukan sesuatu pada salah satu generator, sehingga hal itu memicu gangguan pada seluruh mesin kapal, seperti yang mereka alami sekarang.


“Aku membiarkan si biadab itu menyabotase mesinnya!” ucap Astan kesal.


Menyadari hal itu, Edrick sedikit menjelaskan, “Sepertinya, Tenma palsu telah meretas fungsi sampai kinerja seluruh sistem kapal lewat salah satu sistem generator ketika kita mengaktifkan Inti Kapal. Mungkin saja, dia mengacak formula program umum, mengubah rumusannya menjadi pemicu Sistem Penghancur Otomatis. Bukan hanya tempat ini saja yang memiliki tombol pemicu, tombol atau perangkat-perangkat sederhana sekalipun bisa menjadi pemicu sistem penghancuran.”


“Setan tengik itu sudah merencanakan hal ini matang-matang,” gumam Astan serius.


Di saat genting begini, komunikasi pada helm mereka menangkap panggilan dari pilot pesawat angkutan yang masih menempel di anjungan kapal.


“Pilot pada Ketua Edrick. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Sistem Penghancur Otomatis aktif?”


Edrick menjawab, “Ketua Edrick pada Pilot. Sesuatu di luar dugaan terjadi. Kalian fokus saja mempersiapkan keberangkatan pesawat! Kami akan segera menyusul!”


Panggilan pun terputus. Data-data sudah dikumpulkan, Chip Sistem Re:Set ada pada mereka, otomatis misi di kapal ini telah selesai. Maka sudah saatnya mereka pergi dari sana.


“Tidak ada waktu lagi! Kita harus segera pergi ke anjungan!”

__ADS_1


“Baik!”


Keduanya berlari cepat keluar dari ruang komando, meninggalkan mayat Tenma palsu yang kini sepenuhnya sudah menjadi gumpalan banyak lintah yang sangat menjijikan.


...~*~*~*~...


Jalur koridor kapal pun kini dipenuhi oleh suara-suara sirine dan peringatan, suasana jadi jauh lebih mencekam, ditambah lagi kedipan cahaya-cahaya merah yang hampir mengganggu penglihatan mereka.


Astan maupun Edrick sama-sama harus tetap tenang agar mereka bisa fokus melewati koridor kapal menuju anjungan.


Dalam perjalanan mereka, tak disangka banyak monster berkumpul mendatangi mereka. Barkata, Illusionist-E, sampai Poison Spider, semua jenis monster berdatangan hendak menyerang mereka dari berbagai arah.


Mereka hampir saja terkepung. Cara satu-satunya agar lolos dari para monster adalah dengan menembak mereka sampai jalan terbuka.


“Lewat sini, Astan!”


Keduanya kembali berlari menerobos rombongan monster sambil menembak. Ketika berada di belokan, Edrick berhasil lebih dulu melewatinya, sedangkan Astan malah ditahan oleh komplotan Monster Leechesta yang sama sekali tidak bisa ditembak. Jika ditembak, maka lintah-lintah pada tubuh monster tersebut akan menyerang Astan.


“Sial! Aku terke—.”


Belum sempat Astan selesai bergumam, tiba-tiba semua Leechesta lenyap tenggelam ditelan oleh genangan bayangan yang ada di lantai.


“Apa yang—.”


Sontak Astan terkejut melihat kemunculan bayangan misterius itu. Dari bentuk genangan bagai air, bayangan tersebut melompat ke plafon koridor, merayap di sana sampai tiba tepat di hadapan wajah Astan.


Sepasang mata kuning menyala muncul dari bayangan itu, melengkung ke atas, pertanda ia senang ketika melihat langsung wujud Astan seperti ini. Sedangkan Astan sendiri dibuat tegang, bingung, dan merasa aneh dengan keberadaan makhluk misterius ini.


“Senang bisa bertemu denganmu kembali, Astan.”


Sebenarnya, makhluk apa bayangan ini?


Namun, suara halus yang terdengar ramah itu mendadak menjadi suara berat nan mencekam serta mengintimidasi.


“Sudah waktunya kau membayar tindakanmu di masa lalu, manusia terkutuk!”


Mendadak bayangan itu menyelimuti seluruh tubuh Astan tak bersisa, tanpa celah, hingga membuatnya menjerit syok di dalam salah satu koridor itu.


“Argh!!!”


...~*~*~*~...


“Astan?!”


Beberapa monster berhasil dikalahkan Edrick dengan cara menembak mereka dan menggunakan kemampuan mengendalikan besi lewat Program Kemampuan. Sayangnya, dia baru menyadari kalau Astan terpisah darinya.


Masih ada beberapa monster lagi tersisa. Para Illusionist-E berusaha untuk memanipulasi pikirannya, tapi masih bisa Edrick serang dengan serangan pasak besi. Sebagai penggunan sistem Pangkat Emas, dia masih bisa menahan segala serangan ilusi dari para Illusionist-E.


Yang dipikirkannya sekarang adalah kemana keberadaan Astan. Jika sampai Astan hilang bahkan sampai mati, dia pasti tidak akan pernah diampuni Mavin.


“Sialan!” Edrick berhenti menembak ketika dipastikan semua monster yang mengepungnya mati. “Waktu semakin menipis, dan Astan malah— Eh, kambing bunting! Kambing bunting!!!”

__ADS_1


Di saat-saat yang tidak tepat, kebiasaan latah Edrick malah kumat ketika sesuatu berwarna hitam melesat melewatinya, tepat membentur tembok di belakang.


Edrick pun menoleh, tersentak menyadari sesuatu berwarna hitam tersebut merupakan makhluk terbuat dari bayangan hitam pekat. Bayangan itu hampir menyerupai bentuk tubuh manusia, nampak berusaha berdiri dengan kedua kaki, punya dua tangan, tapi memiliki tiga bayangan membentuk ekor api hitam dan helaian rambutnya bergerak-gerak seperti api bayangan pula.


Buru-buru Edrick mengokang senapan, menodongkan moncongnya tepat di hadapan bayangan itu. Hampir saja ia menarik pelatuknya, bersiap menembak sampai makhluk itu berteriak.


“Jangan, Ketua Edrick! Ini aku, Astan!”


Edrick mengenali suara itu. Suara dari makhluk bayangan itu sangat mirip dengan Astan. Kedua mata bayangan itu pun berwarna heterokrom kuning-perak dengan guratan tiga cabang di mata berwarna jingga. Sang ketua heran, bagaimana bisa Astan jadi berwujud seperti ini? Dia masih tak percaya begitu saja.


“Jangan ngaku-ngaku sebagai rekanku, Monster! Dia manusia!” Edrick masih menodongkan senapannya.


“Ini sungguh aku, Astan, Ketua Vangke! Percayalah padaku!”


Oke. Dari nada ngegas itu, Edrick jadi yakin kalau bayangan itu Astan. Lantas, kenapa Astan bisa jadi seperti itu?


“Jadi, kau Astan?” Edrick sedikit menurunkan senapannya. “Bagaimana bisa kau jadi begi—.”


“Ketua, awas!”


Tembakan beruntun dilesatkan tepat ke arah Edrick. Syukurlah, dengan kemampuan dari tubuh bayangannya, Astan bisa melindungi sang ketua. Dia melindungi Edrick dengan membentuk tameng bayangan dari ketiga ekornya.


Ketika ekornya ditarik kembali ke belakang, Astan maupun Edrick menemukan sosok prajurit berzirah menodongkan senapan serbu ke arah mereka. Astan menatap tajam sosok itu, sedangkan Edrick berekspresi tak percaya.


Sosok prajurit yang dilihatnya sekarang merupakan tubuh Astan.


Bayangan ini mengaku Astan, sedangkan tubuh Astan ada di hadapan mereka sedang berusaha membunuh Edrick.


Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Astan jadi makhluk bayangan? Mana Astan yang asli? Apa benar prajurit itu Astan sungguhan? Tapi kenapa malah menembak Edrick?


“Astan— atau siapapun kalian.” Edrick menggeleng kebingungan. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Jelaskan! Kalian makin membuatku sakit jiwa di sini!”


Tangan bayangan Astan terkepal erat, makin menatap tajam sosok berzirah modern itu dengan kedua mata heterokromnya. Sedangkan sosok itu mulai menurunkan senjatanya, balas menatap tajam sang bayangan dengan kedua mata kuningnya di balik helm.


“Sekarang sudah jelas, Ketua Edrick.” Astan mulai menjelaskan, “Aku ingat semuanya, dan aku mengerti situasi yang telah kualami. Selama ini, aku mengalami amnesia karena sebagian ingatanku tertinggal di dalam bayangan ini. Setengah ingatanku terjebak, dan dia berusaha menghubungiku lewat halusinasi dan mimpi agar aku bisa menjemputnya ke kapal ini.”


Astan memperhatikan telapak tangan bayangannya. “Kini aku sudah menyatu dengan ingatanku yang hilang. Semuanya sudah jelas. Tapi….”


Tangan Astan segera menunjuk sosok di dalam tubuh aslinya itu.


“Makhluk itu… makhluk yang selama ini ikut terjebak di dalam bayangan bersama ingatanku! Dia dengan lancang merebut tubuhku dan memasukan jiwaku ke dalam tubuh bayangan ini!”


Edrick terkejut mendengarnya. Itu berarti, makhluk bayangan ini benar-benar Astan yang asli, dan yang berada di dalam tubuh asli Astan merupakan jiwa yang lain. Jiwa mereka bertukar tubuh akibat ulah makhluk tersebut.


Ini sungguh tidak logis, membuat Edrick semakin pusing tuk mencerna kejadian ini.


“Astan, sebenarnya… siapa makhluk di dalam tubuh aslimu itu?” tanya Edrick masih syok.


Dengan serius Astan menjawab, “Dia disebut Bayang. Makhluk yang tercipta dari sebagian diriku akibat gangguan pada eksperimen penyatuan dengan Sistem Re:Set.”


Sosok Bayang yang telah bersemayam dalam tubuh asli Astan menyeringai lebar. Andai saja tidak terhalang helm, seringainya akan sangat nampak mengerikan. Suara berat dari Bayang pun terdengar, berbicara dengan nada remeh pada Astan.

__ADS_1


“Senang bisa mengenalmu, Prajurit Astan Pradipta Cornell….”


...~*~*~*~...


__ADS_2