
Edrick kembali membantu prajurit lain menembak di balik tembok besi, menjaga ruang kontrol agar tak diserang monster-monster. Kali ini, ia berjaga di bagian kanan bersama Farhan dan Irawan.
“Farhan, apa kau masih kuat menahan Shield?” tanya Edrick meyakinkan.
“Aku masih kuat, Ketua,” jawabnya sambil mengisi amunisi, “Kau tenang saja.”
Setelah dipastikan kedua prajurit itu masih sanggup menjaga ruang kontrol di sebelah kanan, Edrick menyambungkan komunikasi ke arah prajurit yang bertugas dari jauh.
“Sadin, bagaimana kabarmu di sana? Kau sudah sampai di Bilik C?”
“Aku…” Terdengar nafas Sadin agak tak teratur. “…. Sedikit terhabambat. Tapi, aku masih bisa mengatasinya?”
“Kau yakin?” tanya Edrick cemas.
“Aku yakin. Kau tunggu saja perintah akses dari generator di bilik-bilik yang belum diaktifkan.”
Panggilan terputus secara sepihak. Entah apa yang terjadi pada Sadin. Sepertinya prajurit muda itu mulai kewalahan karena sendirian mencoba mengaktifkan dua generator sekaligus. Ingin mengirimkan satu lagi prajurit dari ruang kontrol ini, tapi percuma, jalannya masih penuh sesak oleh rombongan monster yang makin bertambah.
“Tetap fokus melindungi ruang kontrol!”
“Siap, Ketua!”
...~*~*~*~...
Karena Astan dan Tenma mampu bekerja sama dengan baik menyalakan generator Bilik E dan menembaki beberapa monster yang menghalangi mereka menuju Bilik D, keduanya tak merasa terhambat. Bahkan sedikit lagi mereka sampai di Bilik D.
“Itu Bilik D!” tunjuk Astan ke depan mereka.
“Kali ini, aku yang akan mengaktifkan generatornya. Kau fokus menahan serbuan mereka,” saran Tenma.
“Oke, Bung.”
Keduanya memasuki Bilik D setelah menaiki tangga menuju pintu. Astan berdiri di dekat pintu, menembaki setiap monster yang mendekat, sedangkan Tenma bergerak menuju mesin generator di tengah bilik. Ketika berusaha menarik keluar tabung, lagi-lagi terjadi macet.
“Lagi?” ucap Tenma heran. “Sepertinya, semua generator di sini rusak gara-gara kelamaan enggak dipakai.”
Buru-buru Tenma membuka pintu mesin generator, mulai memperbaiki komponen-komponen rusak.
Beruntung semua prajurit dari tim mereka rata-rata mampu memperbaiki komponen mesin seperti ini, jadi mereka sama sekali tidak merasa kesulitan ketika dihadapkan dalam tugas begini.
Kecuali di bagian penyerbuan para monster, itulah yang paling menghambat.
Beberapa menit Astan menembak monster-monster yang mendekat di sisi kiri maupun kanan secara bergantian.
“Sudah, Tenma?!” teriak Astan tak sabaran.
“Enggak usah ngegas gitu, lah,” respon Tenma datar.
__ADS_1
“Tenma, awas!”
“Ap—.”
Ucapan Tenma terpotong saat Astan melompat melewati tubuhnya, menginjak sosok Barkata yang hampir saja mengigit Tenma dari belakang.
Astan mengisi amunisinya. “Terima kasihnya nanti, aku bakal terus menahan mereka.” Kemudian, ia beralih ke pintu sebelahnya dimana Barkata tadi sempat masuk.
“Hilih~ Ge’er amat.” Tenma yang menyadari tindakan sembrono Astan bergumam, “Barbar ‘kali orang ini. Main lompatin orang aja.”
Setelah selesai memperbaiki komponen mesin, Tenma berdiri, menarik tabung kaca dari dalam generator, memasukan Inti Kristal ke dalam tabung, lalu memasukannya kembali ke mesin generator.
Sayangnya, ada sesuatu yang tidak beres pada mesin. Inti Kristal sepertinya sama sekali tidak menyalurkan energi ke seluruh generator dengan benar, sehingga energinya tertahan di dalam tabung.
Kalau dibiarkan seperti itu, generator akan meledak.
“Ada apa ini…?” ucap Tenma heran saat melihat reaksi generator tidak wajar.
“Kenapa?” tanya Astan masih menembak beberapa monster di dekat pintu.
“Kayaknya, mesinnya masih bermasalah. Padahal, aku sudah memperbaikinya dengan benar.”
“Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
“Sepele, mah….”
Astan mendekati mesin generator, menendangnya begitu saja. Yang benar saja, mesin itu akhirnya mampu menyalurkan energi Inti Kristal ke seluruh generator secara merata seperti semula.
Di balik helm, Tenma menganga tak percaya. Rupanya, mesin jenis begini bisa distabilkan hanya dengan menendangnya?
Astaga….
“Temanku seorang teknisi mesin, sering mengalami hal-hal begini saat memperbaiki mesin. Aku banyak belajar dari dia,” jelas Astan singkat. “Ya, sudah. Kita coba susul Sadin. Tadi, Wakil Ketua sempat bilang kalau dia ada hambatan pergi ke Bilik C.”
Saat Astan kembali ke pintu bilik, menembaki monster-monster, Tenma masih berdiri bengong di tempat. Dia masih tak percaya kalau mesin bisa membaik dengan cara ditendang.
“Ini logis enggak, sih? Atau cuma Dewi Fortuna aja yang kebetulan ada di sisi Astan?” Tenma mengibaskan tangan, membuyarkan kebingungannya. “Ah, sudahlah. Benar kata Astan. Mending fokus bantuin Sadin.”
Kemudian, Tenma memilih tuk menyusul Astan mendekati pintu keluar.
Sebelum mereka memutuskan untuk lanjut ke Bilik C, menyusul Sadin sambil menembak para monster, Astan menghubungi Edrick agar memberikan akses generator Bilik D ke mesin Inti Kapal.
“Ketua, kami sudah mengaktifkan generator Bilik D. Berikan akses energi ke Inti Kapal.”
“Baiklah, Astan.”
__ADS_1
Di ruang kontrol, Edrick kembali memasukan beberapa kode, kemudian menarik tuas lain yang terhubung ke Bilik D di dekatnya.
[Akses : Diterima]
[Sistem Generator D : Aktif]
[Inti Kapal bagian D: Aktif]
[Memulai Proses Optimalisasi]
Sekarang, mesin Inti Kapal bergerak lebih stabil. Suara mendesir dari mesin semakin mengeras, menandakan pergerakan mesin jauh lebih optimal untuk disalurkan ke seluruh kapal. Sekarang, tinggal generator Bilik C yang masih belum diaktifkan.
….
Dua drone terbang di sisi jalur kanan dan kiri, menembak beberapa monster menggunakan fitur penembak laser, membantu pergerakan Tenma, Astan, dan Sadin menuju Bilik C. Zered dan Wirma juga membantu dari jauh menggunakan Sniper Rifle. Tapi saat Zered membidik salah satu monster, skop senapannya kebetulan menemukan sebuah objek aneh bergerak-gerak di dasar jingga Inti Kapal.
“Astaga, makhluk apa itu?” gumam Zered heran.
“Ada apa, Zered?” tanya Wirma menyadari keheranan rekannya.
“A-aku menemukan sesuatu di dalam dasar Inti Kapal. Sesuatu yang aneh bergerak-gerak di sana.”
“Aneh?”
Wirma mencoba melihat lewat skop senapan. Matanya membelalak, terkejut menemukan ada objek menyerupai tentakel bergerak-gerak di dalam Inti Kapal. Kemungkinan, objek tersebut merupakan salah satu jenis makhluk yang meneror seisi kapal ini.
Gawatnya, objek itu mulai mendekat ke arah Bilik C.
“Gawat,” desis Wirma.
Dia bingung harus melakukan apa untuk mencegah makhluk itu tidak mendekati Bilik C. Mustahil untuk menembak ke Inti Kapal, berbahaya jika sampai mengenai mesin. Ditambah lagi, tentakel tersebut berukuran cukup besar, belum tentu mempan tuk ditembak.
Aneh sekali. Sistem mereka sama sekali tidak mendeteksi apa pun dari makhluk itu. Wirma harus melaporkan masalah ini pada sang ketua.
“Ketua, kita punya masalah lain! Ada makhluk aneh berukuran besar bersembunyi di dasar Inti Kapal. Dia bergerak pelan menuju Bilik C!” kata Wirma lewat komunikasi helm.
“Makhluk aneh? Bilik C?”
Edrick kembali masuk ke dalam ruang kontrol setelah sempat membantu prajurit lain menjaga ruang kontrol. Lewat barisan kaca pengawas, samar-samar ia melihat ada tantakel aneh bergerak pelan menuju Bilik C.
Ini gawat! Ketiga prajuritnya saat ini sedang pergi menuju Bilik C.
Edrick mulai bicara pada ketiganya lewat komunikasi helm, “Astan, Sadin, Tenma! Sesuatu mendekat ke arah Bilik—.”
Ucapan Edrick tertahan, syok di tempat melihat tentakel besar menyembul keluar dari dasar Inti Kapal. Yang lebih mengejutkannya lagi, tentakel tersebut meraih seluruh Bilik C, menariknya ke bawah sampai hancur.
Sekarang, sang ketua bingung harus berkata apa. Ketiga prajuritnya berada di sekitar sana, dan Bilik C hancur total. Jika satu generator tidak diaktifkan, maka energi Inti Kapal tidak dapat stabil membagikan energinya ke seluruh kapal.
__ADS_1
...~*~*~*~...