
Ketika duduk di kursi trem sambil menunggu pemberhentian trem di Dek Kru, Arni kembali mengecek panel sistemnya, apa saja yang mungkin masih belum ia ketahui agar nanti ditanyakan pada Astan lagi.
“Mau nanya lagi?” tanya Astan, pandangan tetap fokus pada layar ponsel.
“Hmm….”
Arni mengecek kembali panel sistem sampai ia menemukan sesuatu yang ingin ditanyakan.
“Di sini tertera tiga jenis senjata. Senjata Utama sudah kupunya, tapi di sini ada Senjata Tambahan sama Senjata Pendukung. Emang kita perlu punya tiga senjata, ya? Terus, senjata seperti apa yang harus kita punya untuk mengisi dua slot ini?”
Astan memasukan kembali ponsel ke saku. “Emang sudah ketentuannya kalau setiap pemburu musti punya tiga senjata. Senjata Utama ya senjata yang baru diterima saat mendaftar sebagai pemburu. Senjata Tambahan itu sebagai senjata cadangan, sedangkan Senjata Pendukung itu berupa senjata tajam atau senjata tumpul.”
“Senjata Tambahan baru bisa didapat kalau sudah mencapai Pangkat Perunggu, kalau Senjata Pendukung bisa didapat setelah mencapai Pangkat Besi,” jelas Astan, “Kita bisa memilih mau senjata seperti apa untuk kedua slot itu. Misalnya, kalau pemburu sudah punya Senjata Utama berupa pistol, mereka akan memilih Senjata Tambahan yang beda jenis seperti busur.”
“Memang ada berapa jenis senjata untuk Senjata Utama dan Tambahan, serta Senjata Pendukung? Apakah Senjata Utama dan Tambahan itu harus berupa senjata jarak jauh?” tanya Arni lagi, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Yang kutahu ada Assault Rifle yang paling populer, Sniper Riffle, Handgun atau pistol, Cannon, Thrower, Shotgun, Machine Gun, dan Bow atau busur. Totalnya ada delapan, tuh. Tapi, masih banyak jenisnya lagi, sih. Dan yep, kita emang wajib menggunakan senjata jarak jauh, karena memang rata-rata pertempuran di era sekarang seringkali menggunakan senjata jarak jauh. Walau memang masih ada yang menggunakan senjata jarak dekat di saat mendesak.”
“Kalau Senjata Pendukung itu harus senjata jarak dekat. Kali aja ada musuh yang tiba-tiba ‘Ciluk Ba’ di belakangmu. Mending disabet aja pakai senjata jarak dekat ketimbang habis-habisin amunisi. Senjata jarak dekat sendiri macem-macem, ada pedang, belati, pemukul, palu, kapak, gergaji, de el el ‘lah. Pokoknya senjata jarak dekat. Mau begal musuh pakai tumit sepatu tante-tante setinggi satu meter pun jadi.”
“Pffft….” Arni berusaha menahan tawa. “Emang senjata juga punya peringkatnya juga?”
“Iya.” Astan mengangguk. “Grade dari senjata itu sama dengan peringkat misi, yaitu dari D, C, B, A, S, SS, sampai SSS. Makin tinggi Grade senjata, maka akan makin bagus juga kualitasnya dari segi serangan, ketahanan, tampilan, dan ada juga yang dilengkapi dengan kemampuan tambahan. Kalau senjata dengan Grade rendah itu biasanya mudah hancur. Jadi, harus hati-hati kalau kau memakai senjatamu yang masih Grade-D. Kalau mau punya senjata baru itu harus beli, dan harganya lumayan bikin kantong menjerit.”
“Kau sendiri ada keinginan buat ganti senjata?”
Iseng-iseng Astan membuka panel sistem, mengecek senjata Assault Rifle Grade-C miliknya pada layar hologram tersebut.
“Pengen, sih. Cuman… duit buat makan sehari-hari aja kadang kagak cukup.” Astan melenyapkan panelnya. “Selagi masih bisa dipakai, aku tidak perlu menggantinya.”
“Oh, oh, oh! Aku mau nanya lagi soal senjata.” Arni nampak antusias. “Sekarang, aku ini’kan milih senjata Sniper Rifle. Kira-kira bisa enggak digan—.”
“Enggak bisa.”
Muka Arni langsung masam. “Aku belum selesai.”
“Udah tahu, dan enggak bisa,” tegas Astan. “Kalau sudah sejak awal milih Senjata Utama jenis Sniper Rifle, maka tetap pakai jenis itu. Kalau mau ganti senjata, iya harus tetap ganti Sniper Rifle.”
“Kagak bisa diganti yang lain?”
__ADS_1
“Kagak bisa. Sudah ketentuannya dari zaman baheula.” Astan menggosok tengkuknya. “Kalau tetap nekat, ya bakal dianggap pelanggaran.”
Arni menggembungkan pipinya dan bersedekap tangan di dada, memasang muka ngambek.
Astan berceletuk, “Salah sendiri sok-sok’an ambil Sniper Rifle. Lihat aja pas latihan nanti, ye. Bisa gila tahunan kau nanti pakai tuh senapan runduk.”
“Ish, Bang Astan…!” Arni agak merengek, “Udah aku bilang, aku ‘tuh pilih Sniper Rifle karena pengan kayak—.”
“Veena Murnistum?”
“Muskarov!” Makin jengkelah Arni. “Kali aja aku bisa sesukses dia.”
“Ya, terserahlah….” Astan mengibaskan tangannya tak peduli. “Ada lagi yang pengen ditanyakan? Udah kayak guru TK aku ditanya mulu.”
“Kan katanya musti menanyaimu kalau emang ada yang ingin aku tahu tentang Sistem AutoTerra atau pemburu.”
Trem berhenti di Dek Medis yang merupakan area khusus kesehatan, laborotarium penelitian dan eksperimen. Masih tinggal satu pemberhentian lagi agar mereka sampai di Dek Kru.
Sejenak Arni berpikir, mencari topik yang ingin ia tanyakan lagi.
“Soal Kemampuan Umum. Tadi aku milih Invisible.”
Muka Arni langsung datar. “Ish! Enggak usah ngeledek! Aku nanya!”
“Ahaha….” Astan tertawa melihat reaksi Arni yang sudah beberapa kali jengkel padanya. “Oke, oke. Tanya aja, tanya.”
“Ekhem.” Arni berdehem sejenak. “Soal Kemampuan Umum, memang kemampuan ini cara kerjanya kayak gimana? Dan ada apa aja? Soalnya aku lupa tadi pilihan-pilihan Kemampuan Umum.”
“Kemampuan Umum itu bukan kemampuan yang sekali keluar langsung seabreng-abreng bisa memusnahkan alam semesta.”
Wajah Arni kembali datar. “Bang…. Serius, deh.”
“Oke, oke.” Astan mulai menjawab, “Adanya Kemampuan Umum ini tentunya untuk membantu pemburu dalam bertarung. Cara kerjanya sederhana saja. Kalau butuh, tinggal aktifkan. Tapi ada kala Kemampuan Utama bisa aktif sendirinya jika memang ada serangan dadakan dari musuh.”
“Cara aktif otomatis itu terjadi dengan membaca respon kejut atau semacam syok lewat sensor saraf. Jenisnya sendiri enggak banyak, yaitu Invisible, Shield, Martial, Sonic, Heal, Hack, dan Summon.”
“Invisible seperti yang kau pilih, yaitu menghilang. Kau bisa menghilangkan tubuhmu agar tidak terlihat oleh siapapun. Memang sangat cocok untuk seorang Sniper sepertimu agar lebih mudah melumpuhkan musuh secara diam-diam.”
“Oh, oh! Mirip kayak Veena—.”
__ADS_1
“Udah, udah. Enggak usah ungkit-ungkit nama cewek itu lagi.” Astan bersedekap. “Lama-lama eneg aku dengernya.”
Arni memasang muka ngambek lagi. Tapi ekspresi wajah itu tak bertahan lama sampai Astan kembali menjelaskan.
“Shield, itu kemampuan untuk memperkuat daya tahan tubuh. Seseorang bisa tahan terhadap serangan dan efek apapun jika memiliki kemampuan ini. Contohnya aku. Kalau Martial meningkatkan tingkat kekuatan serang, mau itu serangan dari senjata ataupun serangan fisik.”
“Sonic mempercepat gerakan. Heal menyembuhkan luka. Hack meretas sistem persenjataan atau sistem lainnya, menyebabkan kehilangan fungsi. Dan Summon, yaitu kemampuan untuk memanggil senjata-senjata kecil, biasanya Turret kecil atau Drone.”
“Wah…!” Arni kagum mendengar penjelasan tersebut. “Segitu juga udah termasuk kemampuan-kemampuan yang bagus dan luar biasa bagi seseorang.”
“Baguslah kalau kau bersyukur.” Astan menopang dagu. “Kadang banyak pemburu yang protes, kenapa enggak dibanyakin kemampuannya ‘lah, masa kemampuannya cuma gini-gini doang ‘lah, atau ‘pelit amat ngasih modal kemampuan, aku ‘kan pengen OP juga, Kakak….’. Dikira menerapkan program di sistem secanggih AutoTerra itu mudah, ape?”
“Emang kita cuma dikasih Kemampuan Umum kayak gini aja, Bang?” tanya Arni lagi penasaran.
“Untuk modal awal, iya. Tapi kalau dengar-dengar dari para pemburu yang sudah di pangkat tinggi, Sistem AutoTerra bakal membuka semacam pengaturan khusus untuk menciptakan kemampuan sendiri, tapi syaratnya harus sudah mencapai pangkat dan level tertentu.”
“Oh, ya?!” Mata Arni berbinar antusias. “Itu-itu… pasti bakal bagus banget!”
“Bagus? Malah aku anggap itu sebagai bencana.” Astan menaikan sebelah alis. “Manusia kalau sudah dikasih kekuatan bakal ngelunjak. Bagus-bagus kalau yang dapat orang bijak. Kalau yang dapat orang kampret, rusuh kemana-mana. Udah jadi ajang pamer kekuatan macam orang udik nantinya.”
Lagi-lagi Arni tertawa dibuat oleh kelakuan Astan. Memang benar kalau sedang menjelaskan sesuatu, pembawaan Astan pasti ceriwis.
“Hehe…. Sepertinya kau benar-benar tidak mau jadi terlalu kuat.” Arni terkekeh.
“Begitulah….” Astan menyenderkan tubuhnya. “Bisa nafas ama berak lancar aja udah bersyukur banget.”
Kini Arni tertawa keras menanggapi kalimat Astan yang cukup blak-blakan.
Pada akhirnya, trem pun sampai di Dek Kru. Keduanya keluar dari trem bersama para penumpang lainnya, dan lanjut keluar dari area stasiun ke lapangan pelatihan melewati koridor.
“Ada yang mau ditanyakan lagi?” tawar Astan sambil berjalan beriringan dengan Arni.
Arni menggeleng. “Untuk saat ini sudah cukup. Kalau aku mau bertanya, pasti langsung aku tanya.”
“Tanyakan saja hal-hal yang masih berhubungan dengan sistem dan pemburu, tapi aku cuma bisa jawab yang kutahu saja. Soalnya, aku bukan Tuhan yang tahu segalanya.”
“Ish! Kan ceriwis banget jadi laki….”
Arni tersenyum simpul dan dibalas dengan tawa dari Astan.
__ADS_1
...~*~*~*~...