
Masih dengan keadaan Rizu yang cukup mengenaskan setelah dipukul Arni sampai terpental ke pohon. Sekarang nampak gadis itu mulai menodongkan Sniper Rifle ke hadapan Rizu, bersiap untuk menembaknya.
Sial. Kalau benar apa yang diceritakan Suda pada Astan sebelumnya, maka apa yang hendak diperbuat Arni benar-benar tidak main-main.
“Arni—.”
“Apa maksudmu memukulku sekeras itu, hah?!”
Rizu bersuara emosi, memotong ucapan Astan yang hendak mencegah tindakan jauh Arni.
Astan hendak mengumpat, memberi sumpah-serapah pada pria itu yang nampak bodoh dan sengaja menantang Arni hanya karena perbedaan pangkat dan level.
Miza dan Panka juga terlihat syok atas tindakan mengejutkan Arni. Mereka sempat membaca data milik Arni, mustahil jika dia bisa sekuat itu dengan pangkat dan data statistik serendah sekarang.
Di situasi seperti ini, pangkat dan level bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Kekuatan dari Arni murni hasil dari emosinya yang mungkin saja takkan bisa dikendalikan.
“Lancang sekali kau!” lanjut Rizu. “Kau hanya perempuan Pangkat Besi level rendah! Tidak sepantasnya kau berani memukul pemburu dengan pangkat lebih tinggi darimu. Aku ini seniormu!”
“Senior, hah?!”
Semua lelaki di sana terkejut mendengar suara menggelegar yang tak biasa dari Arni.
“Senior…? Mana ada senior yang merasa dirinya paling hebat dari yang lain?!” Arni mulai mengomelinya dengan nada tinggi, “Kau dan kawan-kawan hinamu berani membanding-bandingkan diri kalian dengan kami yang hanya Pangkat Besi. Segitu sajakah nyali kalian? Berani meninggikan harga diri di hadapan yang paling rendah?!”
“Coba saja kalian membandingkan diri kalian pada mereka yang sepangkat atau yang berada di Pangkat Perak ke atas. Apa kalian masih berani?! Coba saja! Paling juga tunduk-tunduk menjilati kaki para pemburu Pangkat Perak ke atas sambil memohon pengampunan pada mereka, atau enggak malah cari muka.”
“Dan lagi, kalian malah mempermasalahkan soal Score dan Score Bonus yang diambil oleh Grim. Benar kata Bang Astan! Itu semua disebabkan karena kalian kurang cepat berburu, kalian sebenarnya payah! Justru Grim ‘lah yang lebih hebat dari kalian! Dia mau mempertanggung jawabkan kesalahan yang belum tentu salahnya! Dia mau mengganti rugi dengan menyerahkan semua hasil buruannya pada kalian, para pemburu hina! Grim adalah pria sejati!”
Grim terpaku dengan setiap kata-kata dari Arni. Sontak membuat hatinya tersentuh, tak pernah merasa seperti apa rasanya dibela oleh seseorang.
Selama ini Grim hanya dianggap sebagai pelengkap sebuah Squad. Faktanya, dengan Bug yang ia miliki, Grim dipaksa untuk menghabisi musuh-musuh sampai sekarat lalu membiarkan pemburu lain melakukan serangan terakhir agar mendapatkan Score Bonus lebih banyak.
Namun seiring ia naik level, tentu Grim jadi lebih kuat dan tanpa sengaja menghabisi musuh-musuh Tingkat Easy hanya dalam sekali serang. Atau ketika ia ingin membantu, daya serangannya terlalu tinggi, sehingga membuat musuh langsung tewas walau Status Kesehatan musuh masih tinggal lebih dari setengah, hal itu yang menyebabkan ia disangka mencuri Score Bonus.
Sempat Astan menoleh pada Grim yang berada di sampingnya. Sontak pria berambut jingga itu menjaga jarak, jijik sendiri ketika melihat air mata keluar dari mata biru Grim.
Tentu Astan bingung dengan Grim. Nih anak kenapa? Dikit-dikit terharu, dikit-dikit terharu. Suram amat ya hidupnya?
__ADS_1
Rizu menajamkan pandangannya ke Arni, menggertakan gigi, nampak emosi saat diserang lewat setiap hinaan dan cacian.
“Kau…. Berani sekali kau—.”
“Arni!”
Grim dan Astan sontak terkejut melihat Arni tanpa segan menembak Rizu. Beruntung gadis itu sengaja menembak ke samping, sehingga hanya mengenai batang pohon di belakang Rizu.
“Itu tembakan peringatan,” ancam Arni dengan nada dalam, “Jika kau berani macam-macam, aku takkan segan untuk menembak keluar isi kepalamu.”
Astan menggosok wajahnya. Tindakan Arni ini bukannya untuk membuat mereka terbebas dari masalah, malah semakin menambah buruk masalah. Kalau begini terus, lama-lama mereka bakal ribut sebagai sesama pemburu.
Awalnya Rizu nampak tegang, tembakan itu benar-benar tidak main-main akan diarahkan untuk membunuhnya di tempat. Namun anehnya, ekspresi tegang itu berganti dengan seringai remeh.
“Heh, kau berani untuk membunuhku? Maka cobalah!”
“Kau bersungguh-sungguh, Bajingan?!” teriak Arni tak kalah keras.
Arni bersungguh-sungguh mengokang Sniper Rifle dan mulai membidik kepala Rizu.
“Arni, jangan laku—.”
Astan memperingatkan, “Arni, itu Kemampuan Hack!”
“Ap—.”
Saat Arni menoleh ke belakang, nampak satu tangan Panka dialiri banyak sirkuit elektrik. Rupanya, Panka yang meretas sistem senjata milik Arni. Sedangkan tangan satunya menodongkan pistol laser, siap menembak gadis itu.
“Kena kau, sia— Agh!”
Baru saja Panka hendak menarik pelatuknya, tubuh bagian depannya langsung disayat menggunakan senjata tajam.
Bukan Astan yang melakukannya. Tadi ia berniat untuk menolong Arni, tapi sudah keduluan Grim yang menyayat tubuh Panka menggunakan sabit sampai berdarah. Sekarang, ia tengah berdiri membelakangi Arni, melindungi gadis itu dari berbagai kemungkinan serangan dadakan lagi.
“Agh…! Ssh….”
Panka tertunduk gemetaran sambil memegangi luka panjang yang dihasilkan dari sayatan Grim, darahnya pun mengucur cukup banyak dari luka tersebut.
__ADS_1
Luka yang cukup parah itu disebabkan karena Bug Kemampuan Martial Grim terus aktif, jadi pria pirang tersebut dengan mudah memberi luka separah itu pada Panka yang merupakan pemburu Pangkat Perunggu.
“Kau….” Panka menyeringai ketika memandang Grim. “Berani juga babu sepertimu melukai—.”
“Cukup.”
Panka dibuat merinding, matanya membelalak dengan iris gemetar. Tak biasanya Panka melihat Grim nampak berekspresi datar dengan tatapan mata biru nan mengkilat tajam. Memandang Panka hina sambil memutar-mutar sabit bercecer darah itu dengan santai di tangannya.
“Jangan macam-macam dengan Arni….”
Grim menebas udara, memberi gerakan mengancam hingga membuat ketiga pemburu itu tegang tak bersuara.
“Kalau tidak ingin ususmu terburai di tanganku.”
Kilatan sabit dan mata biru Grim nampak jelas mengancam siapa saja yang berani sekedar meliriknya barang sejenak.
“Ma-Mas Grim….”
Arni terpana, tapi segan di saat yang bersamaan. Pria berambut pirang berkacamata itu nampak memberi kharisma tersendiri saat mengancam Panka dan berusaha melindungi Arni. Nampak sangat berbeda dengan diri Grim saat pertama kali mereka bertemu.
“Haaah….”
Astan menghela nafas, menunduk sambil memijit batang hidung mancungnya. Sudah Arni yang buat masalah, sekarang Grim pula yang nambah-nambah. Jadi tambah pusing pikiran Astan sekarang. Bingung harus bagaimana menyelesaikan konflik antar pemburu ini agar tidak berkepanjangan.
“Haaah….” Sambil berusaha menahan sakit, Panka bicara, “Sudah mulai berani kau, ya…? Ka-kau… kau kira ancaman sambalmu itu bisa menakutiku… ataupun kawan-kawanku…?”
Panka menyipitkan matanya, balas menatap tajam dua iris biru Grim.
“Kau… hanya bermimpi… bisa menjadi pangeran berkuda putih di hadapan seorang gadis….”
Tiba-tiba Rizu, Miza, maupun Panka menodongkan masing-masing senjata tembak mereka ke arah Grim dan Arni. Secara bersamaan ketiganya mulai menembak.
“Arni!”
“Mas Grim!”
“Argh…!”
__ADS_1
...~*~*~*~...