
Gelombang abstrak aneh saling bertabrakan mengganggu kinerja otaknya untuk memproses apa yang sebenarnya terjadi. Warnanya tak karuan, membuat pusing dengan gerakan-gerakan aneh. Tak ada objek apa pun di depan sana selain motif gelombang tak jelas itu.
Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Astan sama sekali tidak merasakan apa pun selain rasa pusing?
“Sesuatu…. Apa ini?”
Astan tidak merasakan apapun, tangan, kaki, dan anggota tubuh lain. Semuanya mati rasa.
“Oh?”
“Pengaruh monster itu, kah?”
“Heh, aku benci ilusi. Selalu membuatku pusing jika terkena efek menyebalkan itu.”
Gelombang itu makin padat, semakin mendekati pandangan Astan seakan-akan hendak menelan pikiran pria itu dalam pengaruhnya.
“Andai saja….”
“…”
Ada jeda saat batinnya berbicara. Entah ini merupakan dirinya sendiri yang memberi ungkapan, atau sesuatu di dalam alam bawah sadarnya. Astan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak tahu harus berkata apa.
Sesuatu….
Yang tersembunyi dalam dirinya.
“Andai saja… aku mengerti pola ilusi. Pasti aku takkan pernah terpengaruh lagi.”
Batinnya tersentak. Astan tak mengerti, mengapa dia bisa berkata demikian.
Mengapa Astan benci ilusi?
Apa dia pernah terpengaruh dengan ilusi?
Itu memang batinnya. Tapi kenapa batin Astan sendiri bisa memberi ungkapan begitu?
Siapa
Sebenarnya
Dirinya?
“Aku….”
Astan menghela nafas. Dia pasrah saja dengan apa yang akan menimpanya nanti. Dia sudah sangat lelah selama ini terus menahan rasa kebingungan yang menghantuinya dalam mimpi, terus menebak apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dan halusinasi itu semakin parah seiring berjalannya waktu.
“….Tak apalah.”
“Toh aku senang pada akhirnya bisa merasakan hidup normal seperti yang kuinginkan.”
Perlahan gelombang itu semakin pekat, menyatu dalam kegelapan, mendominasi dalam kehampaan.
Kesadaran mengawang-awang, terbang, melayang, menjauh dari objek yang seharusnya ia berada.
Sampai….
“Jangan!”
Suara seseorang yang mirip dengan Astan terdengar. Ironisnya, suara batin itu bukan dari dirinya. Membuat kesadaran itu perlahan kembali, memudarkan kegelapan di sekitarnya.
“Ganggu!”
Gelombang-gelombang abstrak semakin melonggar, saling berjauhan dan saling bertolak. Namun, seiring gelombang-gelombang itu menjauh, kegelapan berbeda dengan cepat menjalari seluruh pikiran Astan.
“ASTAN!!!”
Semua langsung sunyi, senyap, tak ada apa pun selain kegelapan. Namun, tiba-tiba muncul banyak glitch dan kode dari berbagai bahasa di seluruh alam semesta. Tapi itu hanya nampak sekilas sampai semuanya kembali kosong, menyisakan satu panel hitam dengan warna tulisan digital putih.
__ADS_1
[Memulai proses sinkronisasi jiwa dan tubuh pengguna]
[Proses Sinkronisasi : 1%]
[5%]
[20%]
[34%]
[47%]
[50%]
[….]
[Sinkronisasi : Gagal]
...~*~*~*~...
“Argh!”
“KYAAAARRRRH!!!”
Astan tersadar dari pengaruh ilusi monster Illusionist-E. Dia menggelengkan kepala beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
“Apa yang— Astaga….”
Astan tercengang ketika melihat Illusionist-E menjerit keras, kesakitan sendiri hingga mengeluarkan darah dari mulut, leher, dan kepalanya yang tergores begitu saja.
Walau tak nampak jelas, samar-samar Astan dapat melihat ada debu-debu hitam aneh yang keluar bersama darah monster itu.
Monster-monster lain juga berhenti menyergap Astan saat disadari salah satu kawan mereka ada yang diteror oleh sesuatu. Hawanya mencekam, mengerikan, sampai membuat monster di sekitarnya kaku tanpa sebab.
“KYAAARH—.”
“Apa-apaan ta—.”
Astan tak sempat bicara, ia harus kembali menembak semua monster yang semakin mendekatinya.
“Astan, kau mendengarku?” Suara Wirma terdengar lewat komunikasi helm zirah.
“Aku mendengarmu, Wakil Ketua? Ada apa?” tanya Astan sambil terus menembak dan sesekali mengisi amunisinya.
“Aku cukup heran ketika melihat kau bisa bebas dari pengaruh ilusi Illusionist-E. Sangat sulit bagi seseorang untuk bisa bebas karena efek pengaruhnya sendiri hanya dibutuhkan beberapa detik sampai tubuh korbannya hancur. Tapi syukurlah, kau mampu bebas. Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Di saat begini kau tanya bagaimana perasaanku? Kalau kau tanya perasaanku saat jatuh cinta sama cewek, baru itu waktu yang tepat!”
“Dari nada bicaramu saja sudah pasti kalau perasaanmu saat ini sedang kacau.”
Dari atap ruang kontrol, Wirma menembak monster-monster yang menyerang Astan menggunakan Sniper Rifle, kemudian beralih bidikan ke beberapa monster yang menghalangi jalan Tenma.
“Sebaiknya, kau menyusul Tenma. Dia sudah sampai di dekat Bilik E, tapi jalan ke tangganya dihalangi banyak monster. Aku mau kasih peringatan juga, kalau ketemu monster Leechesta, jangan tembak.”
“Kenapa?” tanya heran Astan.
“Sama seperti monster Slime-D, Leechesta kalau ditembak bisa menyebarkan lintah-lintah yang ada di tubuhnya ke tubuh korban. Energi sistem dan darah tubuh korban akan dihisap, sangat merusak kinerja Sistem AutoTerra. Kalau sudah tewas, tubuh korban yang akan jadi inang baru tuk mereka berkembang biak. Monster itu juga yang menyebabkan Daren tewas.”
“Leechesta, ya…?”
Mata Astan menelisik ke sekitar, baru saat itu ada nampak satu monster Leechesta keluar dari salah satu lubang tembok. Dari tadi monster tersebut sama sekali tidak menampakan diri di jalur jembatan ini, makanya Astan aman-aman saja selama menembak para monster.
Bukan hanya Leechesta dan Barkata, beberapa Illusionist-E juga ikut muncul hendak menyerang Astan lewat tatapan satu mata pada mulut mereka.
“Astaga, jangan la—.”
“Kyaaaarh!”
__ADS_1
“KYAAAARRRHHH!!!”
Belum sempat Astan terpengaruh kembali oleh ilusi, beberapa Illusionist-E yang berusaha mempengaruhi pikiran Astan juga mengalami luka-luka seperti Illusionist-E sebelumnya.
Mereka mati aneh oleh serangan debu-debu hitam misterius lagi.
“He-Hei, Wakil Ketua. Kau melihat sesuatu yang tidak beres terjadi?”
“Maaf? Sesuatu apa? Aku sedang sibuk menolong Tenma tadi. Kau butuh bantuan juga?”
Kedengarannya, Wirma tidak mengerti apa yang ditanyakan Astan. Sepertinya, sang wakil ketua sama sekali tidak menyadari keanehan yang terjadi pada para Illusionist-E, dia sedang fokus menolong Tenma di depan sana.
“Tidak. Kau tolong saja dia membersihkan para monster di sekitar Bilik E. Aku bisa mengatasi bagian sini. Nanti aku menyusul.”
Komunikasi usai. Saat dirinya kembali menembak, Astan merasakan sesuatu terjadi padanya lagi. Kali ini dalam keadaan sadar, pikiran Astan mendengar suara misterius.
“Tenang saja.”
“Kau pasti selamat sampai kita dipertemukan.”
“Suara siapa itu?” gumam Astan bingung.
Kemudian, muncul beberapa panel hologram tak jelas, mengalami glitch yang cukup mengganggu penglihatannya.
[Lakukan misi, atau Anda aka—]
“Sudah! Cukup! Aku tidak mau mematuhimu, apapun yang terjadi!”
“Tidak! Jangan mendekat!”
“Kau….”
“Tidak boleh….”
“Merebut—.”
[Sinkronisasi : Gagal]
[Gangguan fatal pada tubuh dan jiwa pengguna]
[Memulai proses percobaan]
[Memuat….]
Panel-panel ini nampak bukan berasal dari Sistem AutoTerra, tapi sama persis dengan panel glitch yang muncul saat Astan berburu bersama Arni dan Grim.
Apa yang terjadi? Sebenarnya, berasal dari mana semua panel dan suara elektrik ini?
“Argh! Sudah cukup!”
Astan mencabut magazine, melemparnya keras ke arah kepala salah satu Barkata sampai jatuh. Para monster terlihat menghentikan pergerakan, mereka ketakutan, kaku, segan dengan aura-aura aneh yang mereka rasakan pada diri Astan.
Sesuatu… terjadi pada dirinya.
Butiran-butiran hologram berwarna hitam samar-samar muncul di beberapa bagian tubuh Astan. Hanya nampak sekilas seperti glitch hingga pada akhirnya lenyap sendirinya.
“Aku muak dengan ilusi tadi! Aku muak dengan segala mimpi, halusinasi, dan suara-suara sialan yang tak pernah kutahu itu! Aku muak dengan kalian semua!”
Astan mengisi amunisinya dengan gerakan kasar. Tangannya memegang erat senjata, mengokangnya dengan keras pula.
Andai saja tak terhalang oleh helm, mata kuning di sebelah kanan dan mata perak di sebelah kiri Astan pasti menampakan dengan jelas kilatan tajam yang membuat siapa saja takut melihatnya.
Kilatan mata tajam, menunjukan bahwa dirinya sangat siap untuk menghabisi siapa saja yang menghalanginya.
“Jadi, jangan coba-coba menghalangi jalanku, hama-hama bajingan!”
...~*~*~*~...
__ADS_1