AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 26 : Bug


__ADS_3

“Bug sistem?”


Sekarang, Astan maupun Grim sudah tidak lagi saling todong senjata. Grim menjelaskan segala yang ia tahu tentang sebab mengapa ia memiliki dua Kemampuan Umum Tipe-1 dan Kemampuan Martial yang sudah aktif secara permanen tanpa adanya peringatan proses dari Sistem AutoTerra.


Grim mengaguk lesu, agak canggung dan malu untuk menjelaskan ini semua. Kadang jari-jemarinya saling dimainkan secara spontan.


“I-iya…. Dulu saat aku mendaftar sebagai pemburu di Guild, aku memang mengambil Kemampuan Martial. Tapi, tak kusangka gelang sistem yang kupakai sudah agak bermasalah, padahal udah terlanjur dipakai.”


“Bermasalah kayak begimane?” tanya Astan bingung.


“Dicakar kucing.”


Suasana mendadak sunyi disertai suara jangkrik membahana mengisi kekosongan hutan.


Arni diam seribu bahasa, Astan bertampang datar. Mereka sama-sama kebingungan.


Bagaimana bisa sebuah sistem bisa kena Bug hanya karena perantaranya dicakar kucing?!


“Pffft….”


Sebisa mungkin Astan menahan gelak tawanya. Ingin rasanya menyembur Grim dengan berbagai umpatan, cacian, dan ledekan yang sudah mendarah daging sampai ke inti DNA. Tapi tetap harus ia tahan juga selagi Grim belum menjelaskan sampai selesai.


“Kok bisa menimbulkan Bug sistem cuma gara-gara dicakar kucing?” tanya Arni selagi Astan terbatuk-batuk menahan perasaan untuk tidak menghujat.


Sejenak Grim berusaha mengingat-ingat, “Kalau tidak salah ingat, bagian sensor pembaca sarafnya yang rusak kena cakar kucing. Di situlah Bug mulai muncul. Padahal, aku sudah terlanjur memasang gelang rusak itu di tanganku, dan sensor pembaca sarafnya pun sudah terlanjur aktif dalam keadaan rusak. Sejak saat itu, Martial Tipe-1 aktif terus-menerus.”


“Aktifnya enggak permanen banget, sih. Cuma durasi aktifnya jauh lebih lama ketimbang durasi aktif Kemampuan Umum lain yang cuma bertahan dari beberapa detik sampai beberapa menit. Oleh sebab itu, aku harus berhati-hati kalau tak sengaja memukul atau menampar orang. Sakitnya bisa bikin patah tulang dan pendarahan,” sambung Grim.


Arni meringis ngeri membayangkannya.


“Lalu, kalau kau memilih Martial sejak awal dan sebab Martial itu aktif lama karena perantara sistemnya dicakar kucing, Shield-nya itu nongol diri mane?” tanya Astan pada akhirnya.


“Nah, jadi gini—.”


“Nah, gitu.”


Arni menatap datar Astan, tidak suka ketika Astan menyela penjelasan Grim.


“Bang, serius…. Dia pengen ngejelasin baik-baik.”


Astan buang muka sambil berusaha menahan tawanya. “Enggak…. Aku cuma geli aja pas tahu Bug sistem disebabkan karena dicakar kucing…. Hihi…. Menggelikan….”

__ADS_1


“Bisa enggak didengerin baik-baik, Abang Kampret?!!” Arni ngegas.


“Oke, oke. Aku bakal ngejelasin.” Grim pun kembali menjelaskan. “Beberapa hari aku menggunakan Gelang AutoTerra yang bermasalah itu. Akibatnya, panel sistem yang muncul kadang ikutan nge-bug juga, aku pun kesulitan memeriksa apapun, bahkan untuk mengeluarkan senjata dan barang-barang yang kusimpan di penyimpanan. Jadi, pihak Guild memutuskan untuk menggantinya dengan yang baru.”


“Gelang yang baru ini tentu baik-baik saja, masih bagus. Tapi saat diganti dan sensor sarafnya juga sudah terlajur aktif, tak disangka rupanya gelang baru itu sudah diatur Kemampuan Umum ke Shield. Sebabnya, karena gelang itu awalnya pengen dipakai orang lain buat jadi pemburu, udah dipilih Kemampuan Umum, cuma dia batal jadi pemburu. Dan gelang itu yang sampai saat ini aku pakai.”


“Karena kebawa-bawa Bug Kemampuan Umum di gelang sebelumnya, maka gelang ini ikutan nge-bug juga. Jadilah aku punya dua kemampuan Tipe-1. Untung panel sistem yang ini baik-baik saja. Jadi, kuputuskan untuk menggunakan gelang yang ini terus-menerus. Kemudian saat aku sudah naik level cukup tinggi, aku dapat Martial Tipe-2 karena sistem membaca kalau tubuhku lebih dominan ke Kemampuan Martial.”


“Kalau kau ganti lagi ke Gelang AutoTerra lain, kayaknya bakal nambah lagi Kemampuan Umum yang kau miliki. Pffft…,” ledek Astan berusaha nahan tawa lagi.


“Ish! Bang Astan!” Arni sudah jengkel dengan sikap Astan.


“Kayaknya enggak bakal kalau sistem kemampuannya belum diatur sama sekali. Cuma, biarlah aku pakai yang ini aja gelangnya. Yang penting di panel sistemnya tidak ada kerusakan apapun,” kata Grim sambil mengelus Gelang AutoTerra yang ia gunakan.


“Memangnya, level berapa kau mendapat Martial Tipe-2?” tanya Arni penasaran.


“Baru aja, pas masih level 15.”


“Lah, kok kau belum dapat yang Tipe-2 juga, Bang?” Arni menyenggol bahu Astan.


“Kemampuan Umum tipe lanjutan bakal dapat sesuai data statistik yang lebih dominan,” jawab Astan. “Punya Grim tadi poin serangannya jauh lebih tinggi dari poin statistik yang lain. Makanya, dia cepat dapat Kemampuan Tipe-2. Kalau data statistikku memang dominan di pertahanan, tapi enggak begitu tinggi dari poin statistik yang lain. Makanya, aku belum dapat. Lagipula, aku juga belum sampai level 15, tuh.”


“Oh, ya. Soal kucing tadi….” Sejenak Arni sempat berpikir. “Kok bisa sampai dicakar kucing? Emang kucing siapa yang ada di Guild?”


“Hahaha….”


Ketiganya tertawa bersama saat mendengar celetukan Astan. Memang benar, kucing milik sang apoteker itu terkenal paling bandel. Tapi, mereka tetap membiarkan kucing itu berkeliaran karena dianggap menggemaskan.


“Biar nakal begitu, kucingnya lucu, lho.” Grim menyeka air mata tawanya. “Nah, kan sudah tahu sebab mengapa aku memiliki dua kemampuan dan satu lagi bertahan lama. Terus, bagaimana denganmu sendiri, Ketua? Apa sistemmu mengalami Bug juga?”


Mendengar pertanyaan itu, Arni juga jadi antusias ingin tahu. Soalnya, Astan tak pernah lepas dengan rumor kekuatan yang melebihi level-nya sekarang. Kali aja kena Bug juga.


Astan menggeleng santai. “Enggak, tuh. Baik-baik saja.”


“Lha, terus?” Arni bingung.


“Tadi sistemku ngasih peringatan saat kau mau melawan para monster menggunakan belati. Katanya, data statistikmu tidak stabil. Kukira itu Bug juga. Tapi kalau bukan, lantas apa?” tanya Grim pula.


Astan langsung terdiam, bingung harus menjelaskan apa. Ia sendiri juga masih belum mengerti mengapa dirinya bisa lebih kuat. Saat dilihat oleh sistem milik Grim pun diduga bahwa data statistik Astan tidak stabil.


“Kembalilah….”

__ADS_1


Sempat Astan teringat akan suara-suara dan glitch aneh yang terjadi padanya hingga menyebabkan ia gagal fokus dan senjatanya hancur. Sejak itulah, data statistik sistem Astan mulai tidak stabil.


Sebenarnya, apa yang terjadi? Astan pun tak tahu.


“Entahlah….”


Jawaban Astan sontak membuat Arni dan Grim bingung dan sempat saling tukar pandang.


“Aku sendiri juga tidak mengerti. Kadang saat aku melakukan pertarungan sehebat tadi, aku merasa seperti pernah dalam situasi sesulit itu bahkan jauh lebih sulit lagi. Dan aku juga baru sadar kalau data statistik sistemku tidak stabil setelah kau memberi tahuku, Grim.”


Arni diam sambil berpikir. Entah mengapa pikirannya mulai teringat akan sesuatu yang pernah diceritakan Suda padanya, tapi cerita itu sama sekali tak lengkap. Mungkin karena Arni tak patut ikut campur akan urusan pada cerita Suda tersebut. Yang jelas, cerita itu berhubungan dengan masa lalu Astan.


Astan menggosok wajahnya. “Berasa sudah terbiasa dalam pertempuran hebat, heh…? Padahal aku baru enam bulan jadi pemburu dan jarang sekali ambil misi. Tapi sekalinya bertarung, aku seperti sudah mengalami pertarungan selama ribuan kali.”


Kedua mata heterokrom Astan melihat ke langit di tengah hutan dengan pandangan kosong. Pandangan yang nampak menerawang, berusaha mencari-cari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang perlu ia cari.


“Aku sama sekali tidak ing—.”


Hembusan angin kembali menerpa, terasa sejuk di kulit kasarnya. Seketika memori di otaknya tiba-tiba kosong. Apa yang ingin ia ungkapkan, ingatan….


Ingatan….


Apa Astan punya ingatan semacam itu?


Astan menggelengkan kepala pelan. “Tidak. Aku sama sekali tidak tahu.”


Tentu Arni dan Grim bingung dengan setiap ucapan Astan. Semuanya sulit mereka mengerti, tapi terkesan ambigu, menyimpan makna lain yang mungkin hanya alam bawah sadar Astan saja yang tahu.


Semua itu terus menjadi misteri. Dan Astan muak ketika dia tidak bisa mencari tahu apa yang perlu ia ingat tentang dirinya, mimpi, dan sesuatu yang muncul saat di tengah pertarungan tadi.


“Wah, wah, wah…. Rupanya kau di sini…?”


Arni, Grim, dan Astan serempak mengalihkan pandangan mereka ke arah tiga orang pemburu yang baru saja tiba di hadapan mereka.


“Tu-tunggu dulu!” Arni menyadari sesuatu. “Mereka bertiga ‘kan…?”


Sontak Arni dan Astan memandang ke arah Grim yang kini mukanya nampak lebih pucat. Grim gugup kalau harus berhadapan dengan tiga pemburu ini. Mereka ‘lah sebab mengapa Grim luntang-lantung sendirian di tengah hutan sampai bertemu Squad Astan.


Satu pria pemburu yang diduga pemimpin Squad itu memutar-mutar pistolnya, menampakan seringai yang cukup memuakan tuk dipandang.


“Akhirnya ketemu juga kau, Pecundang….”

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2