AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 35 : Melamun


__ADS_3

Masih di meja resepsionis. Ketika Noah sibuk membaca semua data terkini tentang Guild lewat tabnya, Tessa teringat akan laporan Astan kemarin. Mumpung sang wakil ketua Guild ada di sini, sebaiknya diberi tahu sekarang saja.


“Wakil Ketua.”


“Hm?” Yang dipanggil masih fokus ke monitor tab.


Tessa pun membuka data yang didapatnya dari Astan kemarin lewat komputer hologram.


“Kemarin Tuan Astan menyampaikan laporan soal misi yang ia jalankan.”


Noah menurunkan tabnya, mulai penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Tessa.


“Laporan seperti apa?”


Tessa membuka data soal portal kecil misterius kemarin, memutar monitor hologram komputer sampai bisa dilihat jelas oleh Noah.


Kedua mata perak Noah menyipit, memperhatikan dan membaca dengan seksama setiap informasi yang ada walau terbatas karena kendala sistem tak mampu mengidentifikasi portal misterius itu lebih lanjut.


Tessa menjelaskan, “Kemarin Squad Tuan Astan menjalankan misi Tingkat D yang berisi perburuan para Mutant Frog. Semua musuh berada di Tingkat Easy dan satu Bos di Tingkat Hard. Namun tidak seperti biasanya, musuh-musuh ini jadi lebih kuat. Kekuatan mereka tidak sesuai dengan peringkat asli. Saat itulah, mereka menemukan portal ini. Sistem AutoTerra tidak mampu mengidentifikasi lebih lanjut tentang portal itu, tapi yang jelas portal tersebut memberi peningkatan kekuatan pada para musuh dan diduga sebagai obyek buatan.”


“Hmm…. Aku tidak pernah tahu akan hal ini sebelumnya. Ini juga baru pertama kali tahu.” Noah menggosok dagunya. “Kirimkan data portal tersebut, Resepsionis Tessa. Mungkin aku akan menyerahkan data ini pada pihak Asosiasi Pemburu.”


“Baik, Wakil Ketua.”


Saat keduanya sibuk merundingkan permasalahan tersebut, tiba-tiba ponsel canggih Noah berbunyi. Pria pemilik rambut kemerahan itu segera mengangkatnya.


“Iya. Halo, Kapten?”


Rupanya yang menghubungi merupakan kapten Kapal Thornic 035, sosok yang paling bertanggung jawab atas seluruh kapal.


Noah nampak serius mendengarkan setiap penjelasan dari sang kapten. Sampai pada suatu pemberitahuan, Noah terbelalak tak percaya.


“A-apa? Koman—.”


Spontan Noah membekap mulutnya sendiri. Sempat ia curi-curi pandang ke arah sekitar. Syukurlah, Tessa dan orang-orang sekitar masih tidak sempat mendengarkan apa yang hampir spontan ia ucapkan.


Noah tersenyum simpul, memberi aba-aba pada Tessa bahwa ia perlu menjauh, membicarakan masalah penting. Tessa pun membalas dengan senyum ramah disertai anggukan.


Setelah pamit, Noah menjauh dari meja resepsionis, berhenti di bagian pojok area lobi sambil memperhatikan pemandangan luar angkasa lewat jendela sekitar. Namun, pemandangan seindah itu tak bisa menghilangkan keterkejutan ketika mendengar kabar ini.


“Ko-komandan batalion dari Pasukan Orbit Ribelo bakal kemari?”


...~*~*~*~...


“He-hentikan! Jangan memberikanku misi apapun! A-aku masih di dunia nyata….”


[Saya akan membimbing Anda menjadi makhluk terkuat]


[Anda akan menjadi Dewa di dunia ini]


[Terima misi, atau Anda akan mendapatkan hukuman]


“Ti-tidak…! Tolong…. Tolong aku. Dia terus menggentayangiku….”


“Kumohon…. Kembalilah….”


“Dan tolong aku!”


“ASH!!!”

__ADS_1


“Agh!”


Dari yang awalnya merupakan mimpi belaka, kini pandangan kedua mata heterokromnya tepat melihat ke arah plafon kamar.


Astan baru saja bangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Setelah misi kemarin ia selesaikan bersama Arni dan Grim, Astan kembali digentayangi oleh mimpi aneh seperti sebelumnya, mirip halusinasi aneh yang tiba-tiba muncul di tengah pertarungan hingga menyebabkan ia kehilangan senjatanya.


Entah mengapa mimpi itu jadi makin jelas. Terdengar seperti rintihan putus asa dari seseorang dan suara elektrik.


Kenapa Astan selalu menjadi orang dungu ketika dihadapkan oleh mimpi ini?


Kenapa Astan merasa bahwa dirinya memiliki ingatan, tapi di saat itu pula dia yakin bahwa dia tidak memiliki ingatan yang ia cari?


Apa maksudnya?!


“Aish…!” Astan memijit kepalanya. “Kenapa semua ini jadi nampak lebih membingungkan…?”


….


Di jam pagi ini, Astan duduk merenung di bangku koridor kabin Jalur 5, masih di dekat pintu kabinnya. Otaknya masih kepikiran dengan mimpi tadi dan mencoba untuk mengaitkan dengan halusinasi yang muncul saat menjalankan misi kemarin.


Kalau dipikir-pikir lagi, memang keduanya memiliki konsep serupa, yaitu suara rintihan minta tolong, suara elektrik yang kedengarannya bukan makhluk hidup, dan glitch yang terjadi oleh beberapa panel misterius.


Entah panel macam apa yang muncul saat itu, yang pasti bukan panel Sistem AutoTerra karena warnanya lebih buram.


Saat masih merenung, Astan sama sekali tak menyadari jika di dekat bangku koridor, sosok Grim baru saja keluar dari kabinnya. Pria berkacamata itu sempat agak terkejut saat mendapati Astan tengah melamun di sana.


“Oh! Halo, Tetangga.”


Grim menyapa dengan ramah. Sayangnya, tidak ada respon sama sekali dari yang disapa.


“Tetangga Astan?”


“Ketua Astan…?”


Iseng-iseng Grim duduk di samping Astan, memperhatikan raut wajah datarnya, tatapan mata kosong seakan-akan tidak nampak tanda-tanda kehidupan.


Grim mencoba menjentikan jarinya beberapa kali di depan wajah Astan, tetap tidak ada respon. Menoel-noel lengannya juga tak membuahkan hasil. Bahkan Grim sampai menepuk keras tangannya di hadapan Astan, tetap saja pria itu masih setia melamun.


Entah apa yang dipikirkan Astan sekarang, Grim jadi bingung sekaligus cemas. Mungkin saja saat ini Astan sedang sakit, atau malah banyak pikiran karena krisis ekonomi.


Maklum saja, sudah satu kapal dilanda krisis, akhir bulan pulak.


Grim jadi bingung harus apa. Ketika melihat mulut Astan sedikit menganga, Grim mulai membuka bungkus permen, lalu menyuapkan permen rasa mint yang sensasinya sangat kuat ke mulut Astan.


Mulut Astan merespon, mengantup dan menikmati permen rasa kuat itu. Tapi tetap saja, Grim dicuekin.


“Ya, sudah. Aku permisi dulu. Mau belanja ke bagian pasar modern. Semoga aja masih ada keperluan yang dijual di sana.”


Karena terlalu lama dicuekin dan mungkin saja Astan perlu waktu sendiri, Grim pun pergi meninggalkannya.


Setelah kepergian Grim, Astan baru sadar dari lamunannya. Dari awal Astan memang tidak menyadari keberadaan Grim karena masih banyak pikiran. Sejak permen itu dimasukkan ke mulutnya baru Astan sadar, tapi sengaja ia cuekin karena enggan berurusan dengan Grim.


“Aisssh….” Astan mendesis gara-gara sensasi permen di mulutnya. “Ini permen rasa mint atau rasa cabe, sih? Pedes bener…!”


...~*~*~*~...


Di kafetaria juga Astan kembali melamun memikirkan hal yang sama, sampai-sampai Mak Rudah yang berjaga di sekitar meja prasmanan jadi heran melihatnya.


“Tong, kau kenapa?!”

__ADS_1


“Eh, copot! Eh? Apa, copot?!”


Spontan Astan latah mendengar suara ngebas Mak Rudah yang hampir membuat mereka jadi pusat perhatian orang-orang di kafetaria.


“Ada apaan sih, Mak…? Teriak, teriak aja,” ucap Astan bete sambil menggaruk kepalanya.


“Dari kemarin sampai sekarang kerjaanmu melamun aja. Kesambit apa kau, Tong? Kelamaan jomblo?” tanya asal Mak Rudah, gemas dengan perilaku aneh Astan akhir-akhir ini.


Astan makin bete disinggung begitu. “Ish! Itu ‘mah enggak usah ditanya.” Astan mulai mengambil piring di meja prasmanan.


“Lah, terus kenapa?” Mak Rudah berkacak pinggang, satu tangan masih memegang centong sayur.


“Urusan pemburu, Mak. Situ ‘mah enggak bakal ngerti.” Astan mengambil dua lembar roti.


“Ya, udah. Sekarang, mau sarapan apa?”


Astan mengulurkan piring berisi rotinya. “Roti isi, Mak. Pakai selada sayurnya.”


“Oke, selada.”


Mak Rudah menaruh beberapa lembar selada di atas roti.


“Tempe.”


Wanita paruh baya itu menyipitkan mata heran, tapi tetap menaruh tempe sesuai keinginan Astan.


“Sayur genjer.”


Mak Rudah melotot, tapi tetap pula menaruh sayur genjer di atas roti itu. Makin aneh aja dirasa pesanan sebiji laki ini.


“Sama sambel terasi.”


Meledaklah Mak Rudah karena tak tahan dengan pesanan abstrak itu.


“Tong, kau itu mau sarapan roti isi atau pecel pakai roti? Ngaco amat isian rotinya. Kemarin juga gitu,” omel Mak Rudah. “Kalau misalnya ada masalah, cerita. Kelamaan dipendem, entar jadi gila.”


Dengan santai Astan menjawab, “Aelah, Mak…. Udah kubilang, ini cuma masalah pemburu. Enggak ada hubungannya sama isian rotiku yang aneh-aneh. Mau kasih kagak, nih? Kalau kagak, ya enggak apa-apa. Aku bawa bubuk cabe juga nih buat jaga-jaga.”


Mak Rudah hanya menggelengkan kepala memaklumi, dan lebih memilih untuk memberikan sambel terasi sesuai pesanan.


Emang begitu Astan. Setiap sarapan, menunya kagak pernah nyambung. Yang jaga kafetaria jadi pusing sama pesanannya.


“Ya, sudah. Aku langsung ke meja. Nanti bakal aku bayar.” Astan pun berbalik pergi setelah mendapatkan isian roti isi anehnya.


“Sehat-sehat kau, Tong! Cari bini sono, biar ada yang ngurus.”


“BoMat!”


Lagi-lagi Mak Rudah menggelengkan kepala setelah Astan menjauh. Keadaan pria itu nampak makin memprihatinkan saja setelah kehadirannya di kapal ini tiga tahun yang lalu.


Semoga saja Astan selalu dilimpahkan kesehatan, doa Mak Rudah.


Tiba-tiba seorang koki keluar dari ruang dapur di belakang kafetaria.


“Mak Rudah! Aldebaran kesurupan, Mak!”


Sontak Mak Rudah kaget mendengarnya. “Astaga! Apa lagi yang dilakukan entu anak? Buang ajalah dia jadi sampah tata surya!”


Buru-buru Mak Rudah pergi menuju dapur yang dimaksud. Terpaksa Mak Rudah harus jadi pawang dadakan.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2