AutoTerra : Operating System

AutoTerra : Operating System
Chapter 64 : Mengaktifkan Generator


__ADS_3

“Jadi, jangan coba-coba menghalangi jalanku, hama-hama bajingan!”


Kalimat itu terdengar bagai pemicu amarah para monster. Mengabaikan perasaan segan yang tiba-tiba muncul pada diri mereka, Barkata, Leechesta, maupun Illusionist-E kembali menyerang Astan.


Illusionist-E berusaha menyerang dari jauh menggunakan pengaruh ilusi dari mata di mulut mereka. Namun kali ini, Astan sama sekali tidak terpengaruh dengan efek ilusi itu walau sempat melihat mata mereka. Dengan mudah Astan menembak mata para Illusionist-E sampai menghancurkan kepala monster-monster.


Rombongan Barkata semakin padat mengepung Astan, beberapa di antaranya sempat menerjangnya, tapi masih bisa ditembak hancur sebelum mencapai tubuh Astan.


Astan menembak mereka secara membabi buta, berusaha membersihkan jalan jembatan di depannya agar bisa segera menyusul Tenma ke Bilik E.


“Kalian kira ini lagi ngantri sembako, apa?!” Astan menekan tombol pemicu granat di tangannya. “Rombongan kalian terlalu berhimpitan! Menghalangi jalanku saja! Mengger!!!”


Astan melemparkan granat itu, menimbulkan terjadinya ledakan berskala sedang, membuat beberapa monster terpental cukup jauh hingga jalan di jalur jembatan itu lenggang.


“Sekarang, aku bisa lewat.”


Dia mulai berlari melewati jalur jembatan, menembaki setiap monster yang menghalangi jalannya, bahkan para Illusionist-E tidak mampu lagi menghipnotis pikirannya. Setiap kali mereka berusaha melakukan hal tersebut, otomatis seluruh tubuh mereka mengalami luka dari serangan debu-debu hitam yang entah berasal dari mana.


“Hrrrrah!!!”


Satu Barkata berukuran besar menerobos rombongan monster, berusaha menyerang Astan menggunakan cakar-cakar kedua tangannya.


“Egh!”


Astan menahan serangan cakar-cakar panjang itu menggunakan badan senapan. Sekuat tenaga, ia dorong tubuh sang Barkata sampai lepas, memukulnya menggunakan bagian popor senapan. Dan ketika monster itu terdorong mundur, Astan menembak kepalanya sampai hancur.


Pria itu kembali berlari menuju Bilik E di mana Tenma masih tertahan di sekitar. Namun, Astan berusaha menghentikan laju larinya gara-gara hampir mendekati satu jenis monster.


“Eh! Eh…!”


Hampir saja Astan menabrak dan hendak menembak monster Leechesta. Kalau saja ia tembak, maka lintah-lintah pada tubuh sang monster akan menyebar ke tubuh Astan pula, seperti yang dijelaskan Wirma sebelumnya.


“Hampir saja…. Jangan ditembak yang satu itu, Astan…. Lewati saja.”


Kakinya dengan cepat kembali berlari, menembak monster-monster yang harus ia tembak, seperti Barkata dan Illusionist-E, serta mengabaikan monster Leechesta. Beruntung jumlah monster lintah itu jauh lebih sedikit dari jumlah monster lainnya.


Senapan serbu itu memuntahkan lebih banyak peluru, menusuk, mengoyak daging-daging dari tubuh para monster. Sesekali Astan mengisi amunisi sambil terus berlari, menembak lagi, menghindari berbagai serangan dengan cara melompat, salto, dan berbagai gerakan akrobat lainnya.


“Astan, cepatlah! Tenma sekarang dalam bahaya. Ia mulai dipengaruhi oleh hipnotis monster Illusionit-E.”


“Apa?”


Tepat setelah Wirma memberi peringatan lewat komunikasi, Astan sampai di dekat Bilik E, melihat sosok Tenma tengah berdiri diam, tak bergerak sama sekali ketika ada Illusionist-E berusaha mempengaruhinya. Sedangkan monster lain menyusul tuk menyerang.


Segera Astan menembak Illusionist-E hingga tewas, menghampiri Tenma, dan sempat memukul jauh sosok Barkata di dekat Tenma.


“Tenma! Tenma, sadarlah!” Astan berusaha mengguncangkan bahu prajurit itu. “Kau tidak apa-apa?”


“Eh?”

__ADS_1


Tenma akhirnya sadar dari pengaruh Illusionist-E. Rasa sakit di tubuhnya yang hampir mengalami luka dalam sudah hilang. Namun, kepalanya masih terasa cukup pusing.


Tenma beberapa kali menggelengkan kepala. “Ak-akh…. Aku… cuma merasa pusing. Apa yang terjadi padaku tadi?”


“Kau hampir terpengaruh oleh hipnotis Illusionist-E. Beruntung aku sempat menyelamatkanmu.”


“Astaga…!”


Tenma menghembuskan nafas kasar, merutuki dirinya yang ceroboh karena bisa dengan mudah terpengaruh oleh kemampuan monster ahli ilusi itu. Kalau saja Astan tidak menolongnya, mungkin ia akan mati terkena luka dalam akibat pengaruh hipnotis aneh.


“Terima kasih, Astan. Aku baik-baik saja. Tapi….”


Mata Tenma menatap lurus ke arah Bilik E. Dari tatapannya sendiri, Astan mengerti jika saat ini pikiran Tenma masih belum bisa fokus akibat bekas pengaruh Illusionist-E. Tenma musti mengistirahatkan pikirannya sejenak. Jadi, belum tentu dia bisa memasang Inti Kristal ke generator atau memperbaiki generator itu sendiri.


“Baiklah. Biar aku saja yang memasang Inti Kristal di sini,” saran Astan, “Kau masih bisa menembak monster-monster itu agar tidak mendekat ke Bilik E?”


Tenma berpikir sejenak, berusaha meyakinkan dirinya sendiri sampai ia mengangguk membalas Astan. “Akan kuusahakan.”


“Bagus.”


Keduanya menaiki tangga menuju Bilik E. Tenma berjaga di pintu, menembaki monster-monster yang hampir mendekati bilik, sedangkan Astan lari menuju mesin generator di tengah-tengah bilik. Seperti yang terjadi pada Edrick dan Sadin saat berusaha mengeluarkan tabung Inti Kristal dari generator, tabung tersebut mengalami macet tidak bisa dikeluarkan.


“Macet.”


Tangannya membuka pintu kecil generator, melihat beberapa kerusakan kecil yang dialami mesin pembangkit tenaga tersebut.


“Kau bisa menahan mereka agak lebih lama, Tenma? Aku berusaha memperbaiki mesin generator ini.” Astan mulai memperbaiki mesin tersebut.


Hanya perlu waktu beberapa menit saja, Astan selesai memperbaiki generator. Ia berdiri dan kembali berusaha menarik tabung Inti Kristal.


Kali ini berhasil. Astan segera memasukan satu Inti Kristal ke dalam tabung itu. Ketika suara mendesir dari putaran kristal terdengar dan cahaya putih keunguan mulai muncul, Astan langsung memasukan kembali tabung ke dalam generator.


“Ketua, aku sudah memasukan Inti Kristal ke generator Bilik E! Berikan izin akses generator ke Inti Kapal!” pinta Astan lewat komunikasi helm.


Edrick yang sempat membantu menembaki para monster di balik tembok besi menjawab singkat, “Baik, Astan.”


Edrick memberi aba-aba pada Bery dan Lavisto untuk terus menembak selagi ia kembali ke ruang kontrol.


Sesampainya di ruang kontrol, Edrick mengetikan beberapa kode akses yang ia retas pada komputer kontrol di sana, kemudian menarik tuas yang terhubung pada generator Bilik E.


[Akses : Diterima]


[Sistem Generator E : Aktif]


[Inti Kapal bagian E : Aktif]


[Memulai Proses Pergerakan mesin]


Dari mesin raksasa Inti Kapal, terlihat bagian-bagian mesin perlahan berputar, memulai proses pengolahan energi dari Inti Kristal dan akan disalurkan ke seluruh kapal.

__ADS_1


“Oke, kita sudah selesai mengaktifkan generator Bilik E. Sekarang saatnya kita— Oh, Astaga?! Apa lagi ini?!”


Astan sudah capek dengan serangan ribuan monster Barkata, Illusionist-E, maupun beberapa Leechesta. Sekarang, malah muncul satu jenis monster baru lagi berlari sangat cepat ke bilik mereka.


[Julukan : Poison Spider]


[Jenis : Monster]


[Sifat : Masif]


[Status : Normal]


[Peringatan : Menyerang dengan menyemburkan racun]


“Syukurlah, tingkat statusnya normal,” ucap Astan setelah panel sistem notifikasinya lenyap. “Tenma, kita tinggalkan bilik ini! Langsung pergi ke Bilik D!”


“Baik, Astan.”


Keduanya segera keluar dari Bilik E lewat pintu sebelahnya, harus kembali berlari menuju ke bilik selanjutnya, yaitu Bilik D. Di jalur jembatan menuju Bilik D ini, jumlah monsternya agak berkurang. Namun sialnya, mereka harus berhadapan dengan jenis monster laba-laba beracun dengan gerakan yang cepat dan menembakan cairan-cairan racun ke arah mereka.


Selama menembak sambil berlari menuju Bilik D, beberapa peluru senapan runduk juga ditembakan ke arah berbagai monster yang menghalangi jalan Tenma dan Astan. Tentu saja, Wirma masih senantiasa membantu mereka dari jauh.


“Hati-hati, Astan, Tenma. Semua monster laba-laba itu mudah saja dikalahkan, tapi jangan sampai terkena racunnya. Itu bisa merusak dan menurunkan daya pertahanan dari zirah yang kalian gunakan,” peringat Wirma.


“Tentu, Wakil Ketua.”


[Akses : Diterima]


[Sistem Generator B : Aktif]


[Inti Kapal bagian B : Aktif]


[Memulai Proses Mengekstrak Energi]


Di waktu yang sama, Sadin juga berhasil mengaktifkan generator Bilik B. Tujuannya sekarang adalah pergi ke Bilik C. Sadin cukup kewalahan menjalankan misi ini sendirian tanpa Daren dan tidak ada prajurit lain yang bisa membantu karena dihambat oleh jumlah monster yang teramat banyak.


“Grrrm….”


“Ah?”


Dalam langkah larinya, Sadin tak sengaja mendengar sesuatu yang aneh di dasar mesin Inti Kapal. Ketika melihat ke dasar tersebut, dia bingung mendapati suatu objek misterius samar-samar terlihat di sana.


Ada sesuatu yang tidak beres. Dasar mesin Inti Kapal itu cukup panas, tidak mungkin ada objek atau suatu makhluk berdiam diri di sana. Namun anehnya, objek tersebut nampak seperti tentakel-tentakel, bergerak tak karuan.


“Be-benda apa itu…?”


...~*~*~*~...


Sorry, akhir-akhir ini update jadi ga stabil. Aku puyeng sama urusan di RL dan mulai suntuk ama nih novel (makanya, aku ngerasa ceritanya jadi makin ga karuan. Bukannya terhibur sama hobi, malah kerasa jadi beban).

__ADS_1


Aku bakal tetap usahakan update walau ga teratur lagi (bodo amat'lah sama level novel, oe cuma kepo sama sistem kontrak di sini). Dan seusaha mungkin bakal tamatin season 1-nya.


__ADS_2